Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXIX


__ADS_3

"Maaf pak Daniel, sudah membuat anda menunggu lama. Jadi siapa yang akan saya periksa?" Dokter itu menjelaskan alasan keterlambatan pada Daniel.


"Duduk saja dulu bu dokter." Balas Daniel ramah.


"Panggil saya dokter Willa, saya yang menggantikan dokter Varel sejak beliau pergi tiga tahun yang lalu." Jelas dokter itu lagi.


Membuat daniel mengernyit heran, lalu menatap sang dokter dengan tatapan bertanya. Apa yang sudah dia lewatkan selama tiga terakhir.


"Dokter Varel, dokter Levita dan Dokter Bram, Mereka bertiga mengalami kecelakaan tunggal tiga tahun yang lalu. Mobil mereka jatuh ke dalam jurang yang sangat curam, hingga kini jasad mereka tidak pernah ditemukan. Medan yang buruk dan dibawah nya ada aliran sungai yang cukup deras, membuat pencarian terpaksa dihentikan setelah satu minggu pasca kecelakaan. Itu terjadi dua minggu setelah kejadian tragis, yang di alami oleh tuan Bintang dan teman-teman nya."


Jelas dokter itu panjang lebar, kemudian merendahkan nada suara nya di ujung kalimat. Dia jadi tidak enak hati karna sudah mengingatkan Daniel, pada kejadian yang ingin dilupakan oleh semua orang tersebut.


Daniel tercengang mendengar apa yang dijabarkan oleh dokter Willa. Dirinya serta ibu dan kakak-kakak nya, memang memilih pergi dari negara ini, tiga tahun lalu seminggu setelah sang ayah dikebumikan. Dia syok sekaligus sedih, pasalnya dokter Varel dan kawan-kawan, adalah dokter sahabat keluarga mereka. Daniel sudah mengenal mereka semua sejak dia masih remaja.


"Kenapa tidak ada yang mengatakan nya pada ku." Daniel bergumam pada diri nya sendiri.


Mengesampingkan fakta yang baru dia ketahui, Daniel kembali fokus pada tujuan awalnya memanggil dokter tersebut.


"Maaf, dok. Saya jadi sedikit emosional." Pria itu menyeka sudut matanya. " Begini, maksud saya memanggil dokter kemari." Daniel kembali menjeda ucapannya, lalu menoleh pada Asara dan pamannya. "Untuk memeriksa wanita itu, saya dituduh melecehkan nya, oleh pak Hamdan selaku pamannya. Saya tidak ingin menyangkal yang hanya akan memperpanjang masalah, jadi supaya tidak buang-buang waktu. Maka saya ingin Dokter memeriksa kan wanita itu, sebagai bukti jika saya tidak melakukan apapun padanya. Dokter pasti mengerti arah pembicaraan saya bukan?"


Ucapan Daniel membuat gadis itu serta sang paman terperangah tak percaya, bukan begini akhir yang mereka inginkan. Wajah keduanya nampak pucat, jika begini maka akan terbongkar semuanya. Dokter itu pasti akan mengetahui, jika Asara sudah tidak perawan lagi. Dan tentu saja bukan karena ulah Daniel.


"Hei, kamu ingin berkelit ya." Hilang sudah rasa hormat pria itu pada atasannya. " Jangan main-main sama saya, anda memang atasan saya, tapi anda masih terlalu muda untuk bisa mengelabui saya. Saya bekerja di sini sejak mendiang Tuan Bintang masih ada, artinya, saya sudah lama bekerja disini. Kamu hanya anak kemarin sore, jangan sombong kamu." Pria itu mencecar Daniel dengan emosi yang terlihat menggebu-gebu. Jari telunjuk nya mengarah pada Daniel, yang hanya duduk diam sambil tersenyum sinis pada Hamdan.

__ADS_1


"Jadi bagaimana pak Daniel,? Apakah sudah bisa saya lakukan sekarang. Saya masih ada pasien Caesar yang akan segera saya tangani." Tanya sang dokter memastikan. Dia sudah bisa menangkap situasi yang ada, dan seperti nya dia juga harus mengambil bagian dari rencana Daniel.


"Keponakan saya tidak perlu diperiksa segala, dia tidak sakit. Lagipula saya hanya ingin meminta tanggung jawab dari pak Daniel, bukan yang lainnya." Hamdan menolak dengan tegas permintaan Daniel yang ingin melakukan pemeriksaan pada keponakan nya.


"Jadi bagaimana saya bisa bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak saya lakukan. Pak Hamdan, saya memang masih muda, tapi semua wewenang dan kebijakan perusahaan. Terletak sepenuhnya ditangan saya, saya bisa menendang pak Hamdan dari Perusahaan ini kapak saja, jika saya mau. Berpikir lah sebelum anda bertindak terlalu jauh. Keponakan anda bukan selera saya." Setelah berkata demikian, Daniel kembali menuju kursi kebesaran nya, lalu menelpon seseorang.


Tak lama datang dua orang security langsung masuk ke dalam ruangan Daniel.


"Permisi pak?" Keduanya menunduk sopan pada atasannya.


"Bawa sampah ini keluar dari perusahaan ku, ingat baik-baik wajahnya, jika lain kali dia datang lagi kemari. Apapun alasannya, jangan dibiarkan masuk. Usir dia dengan cara apapun juga." Perintah mutlak Daniel seraya menunjuk ke arah Asara.


Membuat wanita itu ternganga tak percaya, dirinya telah dipermalukan sedemikian rupa oleh Daniel.


Ini semua diluar perkiraan nya, ternyata dia terlalu menganggap remeh pemuda tersebut. Dia tidak ingin di pecat, tidak sekarang setelah segala usaha nya selama ini. Sekarang dia hanya perlu meminta maaf lalu berpura-pura tidak terlibat apapun dengan keponakan nya.


"Maaf kan saya pak Daniel, saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Melihat keponakan saya menangis, saya pikir sudah terjadi sesuatu padanya. Apalagi diruangan ini hanya ada anda berdua saja. Sekali lagi maafkan saya pak, saya benar-benar tidak tau apa-apa jika ada maksud tertentu dari keponakan saya. Sebagai paman tentu saja saya tidak ingin terjadi apa-apa padanya, apalagi mengingat dia hanya anak yatim-piatu."


Ujar pria itu panjang lebar, dirinya bahkan sampai berlutut di kakai Daniel dan memohon maaf dengan tangis irisan bawang. Dia ingin Daniel merasa iba pada Asara, jika tau gadis itu sudah tak punya orang tua. Untuk itu, dia mencoba memancing sisi kemanusiaan dalam diri atasannya tersebut.


"Harusnya dia bisa bersikap lebih baik, apalagi kami tidak pernah dekat ketika dikampus atau dimanapun. Kami bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain, apalagi punya hubungan pertemanan yang akrab. Pastikan keponakanmu tidak menggangu ku lagi, aku ingin dia berada jauh dari radiusku mulai sekarang." Ucap Daniel lugas, lalu mengode pada petugas keamanan untuk membawa gadis itu keluar.


"Aku bisa jalan sendiri, gak usah sentuh-sentuh. Dasar satpam rendahan." Maki Asara pada kedua security itu dengan lantang.

__ADS_1


Plakk


"Jaga ucapan kamu Asara, hampir saja paman terpengaruh oleh mu barusan. Jangn membuat ulah lagi, pergilah sekarang." Hardik sang paman setelah memberi kan sapaan hangat, dipipi mulus gadis itu.


Asara melotot tak percaya, bagaimana pamannya bisa setega itu menampar nya didepan orang lain. Gadis itu melirik sinis pada sang paman, terlihat sekali, jika dia sedang menahan amarah nya.


"Pergilah, temui kakakmu. Jangan membuat paman malu lagi dengan melakukan mu itu. Maaf kan saya dan keponakan saya pak Daniel. Saya benar-benar malu dengan kelakuan nya itu. Saya merasa gagal menjalankan amanat mendiang kedua orang tuanya." Ujar pria itu dengan wajah sendu yang terlihat menjijikkan bagi Daniel.


"Baiklah, tapi tidak lain kali. Keluarlah, lanjutkan pekerjaan anda." Usir Daniel halus.


Lalu beralih menatap kearah dokter Willa. "Terimakasih, dan maaf sudah membuang waktu anda dokter. Saya tidak tau jika dokter Varel sudah tiada. " Ujar Daniel tulus dengan wajah yang terlihat sendu.


"Tidak apa-apa, pak Daniel. Ini merupakan tugas saya, kapanpun anda membutuhkan bantuan saya, maka jangan sungkan untuk langsung menghubungi. Ini kartu nama saya. 24jam, kapan saja. Saya selalu siap." Balas sang dokter tidak kalah ramah. Lalu pamit undur diri dari sana.


Kini daniel seorang diri, namun kejadian recehan yang baru saja terjadi, sudah membuat mood kerja nya menurun drastis. Daniel merogoh sakunya lalu mengeluarkan ponselnya.


"Hai bro, lo udah balik dari goa belom. Gue butuh teman."


"................."


"Oke, gue otw sekarang." Setelah berbincang tanpa basa-basi ala Daniel, pria itu merapikan berkas diatas mejanya. Lalu meraih kunci mobil dan bergegas keluar dari ruangannya.


"Win, kalo ada yang nyari gue, bilang gue gak enak badan. Gue lagi malas di ganggu siapapun termasuk kerjaan. Udah, gue cabut duluan ya. Lo yang akur sama Candra." Daniel meninggalkan sekretaris sekaligus sahabatnya sejak SMP hingga kuliah tersebut, yang menampilkan wajah cengo. Daniel tau pasti Winda sedang kesal padanya, sejak dirinya mengambil alih perusahaan. Pekerjaan gadis itu semakin bertambah banyak, dan lembur sudah menjadi makan malam nya setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2