
Suasana makan malam di kediaman Reegan tampak berbeda, malam ini mereka sedang menjamu tamu langganan mereka. Yaitu Angga sekeluarga, hubungan mereka sudah seperti keluarga.
Mereka selalu bergantian untuk saling mengunjungi, jika dua Minggu pertama dirumah Reegan maka, di dua minggu kedua dirumah Angga. Seterusnya akan selalu seperti itu.
Tuan Adnan dan Bu Maya memutuskan untuk kembali bersama, mereka juga ikut tinggal di mansion baru Reegan dan Sarah itu. Rumah lama tuan Adnan diberikan pada kang Sadin dan istri, mengingat keduanya yang masih ngontrak. Mereka membuka warung sayur dan sembako, di bekas garasi yang mereka rombak untuk dijadikan tempat jualan.
Sementara kang Ujang Bekerja pada Reegan, menjadi sopir pribadi pria itu sudah selama 4 tahun lebih. Namun dia tidak ikut tinggal di paviliun pekerja, setiap hari selalu pulang pergi. datang jam 6 pagi dan pulang jam 6 sore, karena Reegan selalu berusaha agar dirinya tidak lembur. Dia tidak ingin saat dirinya pulang, anak-anak nya sudah tidur. Meski Sarah sudah bisa berjalan lagi, tetap saja, dia tidak ingin istrinya itu terlalu lelah.
4 tahun lalu Satria memberanikan diri mendatangi Sarah, untuk sekedar meminta maaf atas perbuatannya dimasa lalu. Dia merasa sangat bersalah, apalagi saat tau putri Sarah itu mengalami kebutaan yang dia tengarai, akibat ulah nya. Satria pun ikut andil dalam usaha pengobatan Keyra, dia juga menawarkan kedua matanya, namun dokter menolak dengan alasan yang sama, dengan Reegan dan juga Sarah.
Satria juga mencari alternatif lain untuk kesembuhan Sarah, melihat wanita itu lumpuh. Rasa bersalah Satria semakin menumpuk, hingga akhirnya dia menemukan tempat terapi tradisional. Yang akhir nya bisa membuat Sarah kembali berjalan lagi.
Hubungan mereka perlahan membaik, Satria bahkan sudah dekat dengan anak-anak Sarah tersebut. Tidak jarang pria itu datang kesana, hanya untuk bermain bersama Keyra, jika anak itu sendirian saat sang kakak kesekolah. Meski harus menghadapi sikap protektif Reegan pada Sarah dan juga putrinya, pria itu selalu pura-pura tuli. Jika Reegan sudah mengomeli nya, karena berkunjung disaat dirinya sedang bekerja.
"Adek jangan lari-larian, sini sama abang Al aja. Abang ada download lagu naik-naik ke puncak gunung sama balonku. Yuk sini abang pasangin headphone nya dulu." Ujar bocah laki-laki itu, dia adalah Al, anak sulung Angga dan Lusi. Al memang sangat menyayangi Keyra. Begitupun dengan Cia, bocah perempuan itu akan dengan suka rela berbagi mainan yang dia punya pada Keyra, meski gadis kecil itu tidak meminta nya.
"Bagus tidak, nanti abang download lagi sama mama yang banyak" Al memutar suara dengan pelan, agar Keyra mendengar nya berbicara.
__ADS_1
"Bagus, abang bikin lagu lihat kebunku juga ya. Adek suka, kata kak Ken, didepan banyak bunga bunda. Ada yang warna pink sama ungu, abang sudah liat belum, bagus tidak?" Celotehan Keyra membuat Al tersenyum lembut, dia mengusap sudut bibir Keyra yang ada sisa selai coklatnya.
"Sudah, abang sudah liat. Bagus, sama kaya warna baju yang adek pake sekarang. Pink trus ada pita ungunya juga, cantik. Abang suka." Ujarnya lagi seraya mencium lembut, pipi gadis kecil kesayangan nya itu.
Al selalu gemas dengan tingkah Keyra, jika sudah pulang sekolah, dia akan mampir sebentar hanya untuk memberikan Keyra sebungkus roti. Gadis kesil itu punya selera yang sama dengan sang kakek, yaitu pecinta roti.
"Keyra cantik ya bang, cantik dari Selin tidak?" Selin adalah anak bu Indah, wanita yang menjadi personil KPP ibu nya Al.
"Cantik, lebih cantik. Eh salah, cantik nya banyak, kalah jauh Selin mah." Memang benar, Keyranya sangat cantik, Al selalu tidak suka pada Selin. Bocah perempuan itu jika ikut sang ibu arisan kerumah Keyra, selalu berbuat nakal pada Keyranya. Dan Al benar benar-benar membenci nya.
"Benar ya bang." Ujar Keyra sumringah, namun kemudian senyum itu redup kembali. "Tapi Selin sama Andin bilang, Keyra ini jelek, hitam dekil. Emang dekil itu apa bang? Kakak bilang Keyra gak dekil, Key ini cantik, putih kaya salju. Benar ya bang?" Tanya nya lagi dengan wajah yang semakin membuat Al gemas.
"Keyra gak dekil, Andin sama Selin yang dekil. Mereka gak seputih Key, makanya mereka iri. Keyra itu cantik kaya boneka Barbie, yang abang Al kasih pas ulang tahun tempo hari, Key masih nyimpan gak?
"Masih, yang kalo Key pegang ada bando gedenya itu kan? Ada Key tarok di atas tempat tidur." Ujarnya senang.
"Ya, yang ada bandonya. Nanti abang belikan boneka hello Kitty yang gede ya, biar bisa Key peluk kalo tidur." Al selalu suka saat pemberian nya, pada Keyra selalu gadis kecil itu simpan dengan baik.
__ADS_1
Dia sedang menabung uang jajannya, agar bisa membelikan Keyra boneka hello Kitty yang besar, yang pernah dia lihat dimall waktu itu. Bisa saja dia langsung minta untuk dibelikan, namun dia lebih suka jika membelikan sesuatu dengan uang hasil tabungannya sendiri.
"Mau, yang warna pink ya bang. Nanti Key bawa tidur, biar kakak gak usah temani Key dulu kalo mau tidur."
"Eh, gak bisa tetap harus kakak temani dulu kalo mau tidur. Kakak mana bisa kalo mau tidur gak baca buku cerita dulu buat adek. Nanti boneka nya temani pas adek udah bobo aja." Tiba-tiba Keenan datang dengan protes, dia tidak bisa jika tidur tidak menemani sang adik terlebih dahulu.
Itu sudah dia lakukan sejak ukur 3 tahun, mereka tidur di satu kamar yang sama, namun di ranjang yang terpisah. Kamar itu terhubung ke kamar orangtuanya. Keenan mengambil alih peran, membacakan buku cerita saat dia berumur 4 tahun hingga sekarang. Bahkan Sarah dan Reegan hanya akan melihatnya saja, dibalik pintu penghubung yang memang tidak pernah mereka tutup. Agar bisa mengawasi kedua anaknya.
"Ya deh, nanti bonekanya temani Key kalo udah bobo aja." Ujar gadis kecil itu mengalah. Dia tau sang kakak sangat menyayangi dirinya.
"Nanti abang belinya kalo tabungannya udah banyak ya, yang warna pink kan? kalo tidak ada, ungu saja boleh?" Tawar Al lagi.
"Boleh, asal cantik seperti Key, Key mau deh." Uajrnya dengan mimik wajah yang lucu.
Membuat kedua anak laki-laki itu, serempak mencium kedua pipi gembulnya dengan sayang.
Para orang tua yang sedari tadi, tanpa sengaja menguping obrolan ala bocah 5 tahun tersebut, menitikkan air mata haru. Mereka bersyukur, anak-anak mereka bisa saling menyayangi seperti itu. Dan berharap kasih sayang mereka tidak akan pernah berubah hingga besar nanti.
__ADS_1