Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Daniel-Asha S2


__ADS_3

Sarah menatap heran saat melihat putranya yang mengekori Atun dari arah belakang.


"Abis dari mana, Vin? Kok bisa sama-sama Atun," tanya Sarah penasaran.


"Anu bu..."


"Aku abis bantuin Atun jemuran, bun." Potong Kavin cepat. Atun melotot tak percaya, bisa-bisa dia akan di pecat kalau begini.


Dapat Sarah lihat wajah pias dan panik Atun, namun sebisa mungkin dia tahan agar tidak tertawa. Gadis itu pasti ketakutan setengah mati, karena ulah putra nya yang terlalu jujur.


"Oh," ujar Sarah seolah apa yang di lakukan Kavin, biasa saja. Setitik cahaya cerah di wajah Atun kembali terlihat, Sarah merasa lucu sendiri.


"Memang nya Atun gak bisa jemuran sendiri, sampe harus di bantuin segala." Ujar sarah lagi dengan santai, tangan nya masih sibuk memotong wortel.


Wajah Atun kembali pias, "maaf bu, lain kali Atun gak minta tolong mas Kavin lagi." Ucap Atun dengan suara bergetar takut.


Sarah akhirnya tak kuasa menahan tawanya, niat hati mengerjai Atun berujung dengan hati tak tega.


"Gak apa-apa, Tun. Lain kali minta tolong saja sama Kavin, dia itu gak punya pekerjaan kalau hari libur begini. Game online melulu. Sesekali di ajak buat nyuci baju juga gak masalah. Biar dia tau, baju bersih, rapi dan wangi miliknya ada orang lain yang kelelahan mengerjakan nya." Ujar Sarah sambil melirik putranya, yang salah tingkah sendiri mendengar ungkapan jujur sang ibu.


"Bun?" rengek Kavin tak terima, " malu ih, sama Atun." Ujarnya melirik Atun yang pura-pura sibuk, mengisi panci kecil dengan air, untuk membuat mie rebus.


"Main game tapi aku sambil kerja loh bun," bela Kavin meluruskan perkataan ibunya. Entah kenapa dia jadi merasa was-was, jika Atun berpikir dirinya masih belum dewasa dan masih suka bermain-main hal semacam itu.


"Ya, mas Kavin ini gak cuma maen game, kerja juga. Buat masa depan, sayangnya..." Sarah menggantung kan kalimat nya lalu menatap Atun, yang tengah memotong sayur sawi dan perintilannya untuk isian mie kuah.


"Sayang kenapa, bun?" desak Kavin tak sabar.


"Sayang, pacar aja sampe sekarang gak punya." Jawab Sarah enteng.


"Bunda?" rajuk pria itu dengan wajah pias.


"Udah ada bun, otw pacar. Masih usaha, doain ya supaya bisa di lancarkan sampe altar." Balas Kavin penuh maksud, lalu melirik Atun yang masih tak mau menoleh ke arahnya.


Sarah hanya menggeleng kepala melihat tingkah putranya yang sedang kasmaran. Baginya tidak masalah jika Kavin menyukai Atun, toh Atun anak yang baik. Dia pun menyukainya, gadis itu tidak banyak tingkah dari sejak pertama kali, bekerja ikut mbok Darmi setahun yang lalu.


"Pasti bunda doain, kecuali Tuhan berkehendak lain. Si dia otw jodoh orang lain, bunda bisa apa. Ya kan, Tun?" pertanyaan Sarah membuat Atun salah tingkah.

__ADS_1


"Heh? ya, bu." Jawabnya polos sambil menunduk dalam, karena tak mengerti arah pembicaraan dua majikan nya itu.


Kavin mendelik sebal mendengar jawaban gadis pujaan nya itu, "kok ya ya aja sih, Tun," ujar Kavin kesal.


Sementara Atun melongo mendengar protes dari tuan mudanya. Namun tak bergeming, hingga suara bi Surti mengagetkan nya.


"Tun? itu mienya lembek sudah kelamaan mendidih" selorohan bi Surti menambah panik Atun, dia merasa sial. Pagi ini, kinerja jantung nya di buat kerja keras berkali-kali lipat lebih ekstra dari biasanya.


"Aduh!" pekik Atun, saat melihat nasib mie rebusnya yang sudah melebar, hampir menyamai ukuran pelepah batang sawi yang dia campur di dalamnya.


Gadis itu segera mengangkat nya lalu menaruh di dalam mangkuk, ditatapnya mie kuah itu dengan perasaan miris. Kemudian beralih menatap Kavin yang pura-pura sibuk, memilah potongan wortel ibunya. Dia hanya tak ingin Atun semakin merasa bersalah padanya.


Dengan masih kura-kura makan tahu pura-pura tidak tau, Kavin menghampiri Atun yang masih merenungi nasib mie majikannya itu.


"Udah Tun? wah, enak nih kayanya," ujar Kavin bersemangat lalu mengambil sendok dan garpu, namun sebelum dia sempat mencoba nya. Atun dengan sigap, meraih mangkuk itu membuat Kavin bengong.


"Kenapa Tun? mau juga, barena aja makanya aku gak apa-apa, suka malah. Yuk!" Cerocos Kavin masih pura-pura tak paham arti sikap Atun.


"Ini gak layak mas, nanti Atun buatkan yang baru. Yang ini biar Atun aja yang makan, mas jangan, takut malah sakit perut." Jelasnya takut-takut sambil meremas pinggiran mangkuk.


"Astaga Tun! aku pikir kenapa, layak ini mah, siiniin Tun aku laper. Tar kalo sakit perut, kita bareng-bareng aja, biar romantis. Sakit berdua, bukan cuma sepiring berdua aja." Terjadilah aksi perebutan mangkuk hingga tanpa sadar, kuahnya sampai berceceran di lantai dapur.


"Atun di sini aja, mbok. Ini salah Kavin bukan Atun." bela Sarah tegas.


"Tapi bu..." ucapan mbok Darmi langsung di pangkas oleh Sarah.


"Itu biar Kavin sama Atun yang bersihin mbok. Mbok di sini lanjutin sayur ini aja, aku mau bangunin bapak dulu." Ujar Sarah lagi membuat mbok Darmi tidak dapat berkata apa-apa selain menuruti nya. Namun masih sempat dia melirik tajam pada keponakan nya, hingga Atun semakin merasa bersalah dan tak nyaman.


"Tun?"


"Ya bu?" jawabnya cepat lalu menatap Sarah meski pun hatinya ketar ketir.


"Itu kamu bersihin sama Kavin ya, jangan sendirian. Dia juga ikut andil dalam menumpahkan kuahnya, di ajarin kalo gak paham. Ngerti kan?" tanya Sarah dengan suara lembut namun terdengar tegas di telinga Atun. Sebuah perintah tak langsung, namun lugas dan tak terbantah.


"Ngerti bu," jawab Atun pasrah.


Setelah mendapat jawaban dari Atun, Sarah meninggalkan area dapur menuju lantai atas.

__ADS_1


"Tun?" suara Kavin membuat Atun menoleh.


"Ya mas? Ini kalau mas tidak bisa, gak apa-apa biar Atun saja." Ujarnya Atun cepat tanpa memberi peluang Kavin untuk berbicara. Gadis itu langsung melenggang pergi menuju gudang, untuk mengambil alat pel lantai.


Kavin berdecak kesal lalu menyusul Atun kearah gudang, "Ck! Atun, hei tungguin!" Seru Kavin yang berusaha mengejar langkah lebar Atun.


"Siapa bilang aku gak bisa, biar aku aja yang kerjain. Jangan meremehkan mas mu ini, Tun. Gini-gini aku tu serba bisa," seloroh Kavin mengerling penuh makna.


Namun gadis polos itu tidak bisa menangkap maksud tersembunyi, di balik kedipan mata tuan mudanya. Membuat Kavin mendesah pasrah, resiko jatuh cinta sama pucuk batinnya meringis miris.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daniel tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang terus bertumpuk, tak kenal waktu istirahat.


tok tokk tokkk


klek...


"Maaf pak, didepan ada yang ingin bertemu." Ujar sang sekretaris sopan.


"Udah buat janji, siapa memangnya?" tanya Daniel melirik pada sekretarisnya sekilas, lalu kembali fokus kembali pada berkas nya.


"Namanya nona Asara, pak. Apa di suruh datang lain kali saja atau bagaimana?" jelasnya ragu-ragu, bos nya terlihat tidak sedang santai untuk menerima tamu, yang modelnya seperti wanita yang berada di luar ruangan ini.


Daniel tampak tengah berpikir sejenak, lalu menghela nafas kasar. Bertambah satu lagi pekerjaan nya hari ini, pikir nya.


"Suruh masuk saja, tapi kau tetap di ruangan ini," perintah mutlak Daniel tanpa bisa di ganggu gugat.


"Baik pak," balasnya kemudian kembali keluar.


"Hai Dan, apa kabar?" Asara mencoba basa basi yang memang terdengar basi ditelinga Daniel.


"Aku baik, ada apa menemuiku?" tanya Daniel to the point.


Asara melirik sekretaris Daniel yang masih tak bergeming di tempat nya, "apa dia memang harus berdiri di sana mengawasi seperti aku akan mencuri, aku tidak nyaman" Terang Asara kembali menatap Daniel memohon pengertian pria datar itu.


"Dia memang sengaja aku suruh di sini, aku tidak nyaman jika berduaan saja bersama tamu wanita. Aku tak ingin istri ku tiba-tiba datang dan berujung salah paham, meski aku yakin istri ku cukup bijak menilik situasi. Tetap saja aku tak suka," jelas Daniel setengah menyindir wanita tak tau situasi tersebut.

__ADS_1


Asara berdecih jijik dalam hati, mendengar penuturan Daniel membuat nya ingin muntah saat itu juga. Menjijikkan batinnya mengumpat kesal.


__ADS_2