Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CVIII


__ADS_3

"Gila tu perempuan, masih sanggup aja layanin lo bedua. Masih bisa Gigit gak, apem nya." Tawa kedua ketiga pria itu menggema di ruangan tersebut.


Tejo baru saja menyaksikan adegan live, kedua Temannya baru saja selesai menggagahi tawanan mereka. Wanita itu bahkan sampai mendesah tak karuan, membuat tejo ngeri sendiri. Tadinya saat melihat awal adegan itu, membuat dirinya pun sedikit gelisah. Wajarlah, namanya juga dia pria normal. Namun Ketika adegan itu berlangsung, adik kecilnya langsung lesu.


Wanita itu seolah sedang berada di hotel bintang tujuh, dengan kedua tangan terikat, wanita itu begitu bersemangat ketika digagahi oleh kedua temannya. Desahannya begitu berisik, hingga memenuhi ruangan tempat nya disekap. Bahkan meneriaki berbagai nama pria, yang mungkin pernah berkencan dengannya. Seketika birahi tejo langsung anjlok total.


"Lo gak mau nyicip, lumayan lah walau udah kendor. Buat buang ampas, cocok." Lalu kedua teman tejo itu kembali tertawa.


"Gak, makasih. Nanti aja tunggu sampe rumah, di jamin kebersihan nya. Gue takut ketular penyakit, gue yakin tu perempuan kalo main gak pernah make pengamanan." Seketika raut wajah puas kedua tamannya itu berubah jadi cemas.


"Kok gue gak kepikiran sampe kesana ya, tadi. Tar gue mau nyuciin dulu barang gue, ayuk Dul. Nyuci juga punya lo." Kedua orang itu bergegas menuju toilet diujung lorong ruangan tersebut. Membuat Tejo tersenyum geli.


"Untungnya gue masih waras, makasih ya Allah. Walau tadi sempat ngeliat, cuma ngeliat aja kok, gak ikutan. Beneran deh, sumpah." Pria itu bermonolog sendiri. Dia jadi sedikit menyesal, karena sudah terlanjur melihat apem kerisut milik wanita itu.


"Joo?!" Seru seseorang dari ujung tangga. "Lo di cariin bos noh, di atas. Kesono dulu gih, ini gue yang jaga, lagian kenapa juga kita mesti repot jagain. Orangnya dirantai gitu. Abdul sama Somad mana?" Pria itu nyerocos panjang lebar.


"Lagi nyuciin batangan ke toilet, abis garap apem kerisut barusan." Jelas Tejo terkekeh pelan.


"Ck, selera aja tu bedua. Kena penyakit baru tau." Udah lo naik keatas gih, bos mau ngomong sesuatu sama lo. Ini kopi baru kan yang di teko? Belum ngopi gue seharian." Ujar pria itu lagi sambil menuang kopi ke dalam gelas plastiknya.

__ADS_1


Gue bilang lama juga lo udah nuang gitu. Ya udah gue naik dulu, sekalian nyuruh si Asih buat bersihin tu apem. Gak kebayang gue gimana aromanya." Ujar Tejo tertawa pelan.


Sasa memang di rantai kedua tangannya, karena wanita itu sering mengamuk dan melempar apa yang bisa dia raih. Wanita itu di rantai dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, namum ada toilet nya didalam. Satria tidak sekejam itu membiarkan wanita itu buang air sembarangan.


"Kenapa bos, kata Udin bos manggil saya?" Tanya Tejo pada bosnya.


"Itu perempuan kamu suruh Asih bersihkan, mandiin trus baju ini suruh Asih pakekan sekalian. Rapiin itu dandanannya, saya mau bawa dia keluar, rantainya jangan dilepas duluan, pasang borgol dulu baru rantainya di lepas. Tar perempuan itu ngamuk-ngamuk lagi cakar si Asih."


Kini Satria mengerti kenapa tingkah laku Killa bisa seagresif itu, wong ibunya juga begitu. Turunan tetap gak bisa tergantikan, walau di cuci puluhan kali, dikasih pewangi, yang namanya tabiat. Susah mau di bentuk, kalo orang nya sendiri gak ada niat untuk berubah.


"Baik bos, ini juga mau nyari si Asih. Buat bersihin sisa ampasnya si Abdul sama Somad." Ujar pria itu berlalu dari hadapan Satria. Membuat Satria bergidik ngeri, masih bisa berdiri aja ngeliat apem kisut begitu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Buggh


Beres, paling tidak untuk beberapa menit ke depan, wanita itu tidak membuat nya pusing dengan ocehan nya. Satria melirik sekilas wanita yang baru saja, dia hadiahi hantaman ganggang pistolnya. 'Diamkan lo, berisik amat kaya petasan' . Dengus Satria kesal.


Sopir dan satu anak buahnya hanya melirik sekilas dari arah spion tengah. Tanpa ada yang berani berkomentar. 'Gila aja, mau mati sia-sia apa kalo berani ngebacot sama bos', masih untung tu perempuan dikasih gagangnya doang. Lah, kalo langsung selongsong nya kan, langung tamat.'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Killa sudah siap nak, ayo. Ada yang mau ketemu sama Killa." Sarah baru selesai membantu anak itu memakaikan pakaian serta aksesoris nya.


"Killa yakin kakinya udah kuat di pake jalan,? Kalo masih sakit, jangan maksa nak. Pake Tongkat aja dulu." Killa sudah membuka gips di kaki kirinya, 3 hari yang lalu. Setelah mendapat kan hasil DNA Killa dan ibunya, mereka sepakat untuk menunda dulu pertemuan Killa dan ibu kandungnya. Setidaknya tunggu sampai kaki anak itu kembali pulih.


"Gak, aku gini aja. Nanti aku gak keren dan cantik lagi kalo make tongkat. Lagian udah gak sakit. Itu perawat aku langsung pecat aja, bun. Kerjaan nya lelet, suka bantah dan gak becus. Killa gak suka sama dia. Mulai sekarang, bunda yang rawat aku full kaya dulu. Kira sudah besar, gak perlu diurus lagi. Aku juga mau pindah ke kamar bawah, Kira biar di kamar ini. Kita tukaran." Sarah tercengang mendengar apa yang di ucapkan Killa padanya.


Sarah menggeleng pelan kepala nya, ini sudah jadi keputusan bersama dia tidak boleh mengacau nya.


"Liat nanti ya, Kiranya udah nyaman di kamar bawah. Tanya Kira dulu, mau apa gak nya." Sarah rasa, itu adalah jawaban terbijak yang bisa dia berikan pada Killa sekarang.


Keduanya berjalan menuju lantai bawah, dimana sudah ada Reegan menunggu bersama Kira. Kira memakai pakaiannya sendiri, Reegan hanya membantu sedikit, menyisir dan memakai kan aksesoris. Meski tidak seheboh aksesoris milik Killa, namun putri nya itu tetap terlihat lucu dan menggemaskan. Tentu saja selalu cantik dimata sang ayah.


"Sudah siap, yuk. Gak enak di tungguin lama. Kira yuk ayah gendong." Tanpa menunggu persetujuan sang anak, Reegan menggendong Kira. Membuat anak itu melirik kilas ke arah Killa, yang terlihat kesal bukan main.


Reegan bukan tak tau kalau Killa melangkah ke arahnya, pasti anak itu minta dia gendong. Entahlah, hati Reegan sudah kehilangan respek pada gadis kecil itu. Hingga hampir satu bulan ini, pasca anak itu merusak barang-barang milik Kira, putrinya. Reegan mendiamkan Killa, bahkan sekedar bertanya tentang keadaan nya pun tidak.


Satu minggu belakangan ini, sikap anak itu sedikit melunak. Tidak pernah mengamuk lagi, bahkan tidak pernah berteriak atau marah-marah tidak jelas. Namun itu tidak merubah sikap Reegan pada gadis kecil itu, tidak ada yang bisa mengubah keputusan nya untuk mengembalikan Killa pada ibu.

__ADS_1


Akan dia kirim kedua orang itu sejauh mungkin dari keluarga nya. Dia tidak ingin tinggal di kota yang sama, karena akan memudahkan keduanya mengganggu ketentraman keluarga nya.


__ADS_2