
"Maaf, udah nunggu lama ya." Ucap Sarah tak enak, dia harus berdebat dengan Reegan di parkiran. Pria itu ngotot ingin ikut masuk.
"Nggak apa-apa, Sar. Santai aja, duduk." Balas Angga ramah, dia berbicara pada Sarah sambil mengusap bahu Lusi, dia tidak ingin wanita itu merasa tidak nyaman.
"Apa kabar, Lusi? Dedek nya sehat?".. Tanya Sarah basa-basi.
"Baik, dedek nya juga sehat." Jawab Lusi tersenyum canggung.
"Udah tau jenis kelaminnya belum? duh, kok aku yang jadi nggak sabar ya. Lahirannya masih lama nggak ini, gede udah ini aku liat." Balas Sarah antusias, membuat Angga dan Lusi melongo. Mereka pikir Sarah tidak akan sepeduli itu pada kehamilan Lusi, yang tidak lain adalah wanita yang sudah ikut andil menghancurkan rumah tangganya.
"Baru satu yang keliatan, Sar. Yang satunya masih ngumpet, mau kasih kejutan kayanya." Balas Angga tak kalah antusias. Pasalnya saat di USG tadi, dokter mengatakan bahwa Lusi sedang mengandung bayi kembar, Tentu saja kabar bahagia itu di sambut gembira oleh Angga dan Lusi.
"Wah, selamat yaa. Akhirnya kamu sebentar lagi jadi seorang ayah, mas. Jaga mereka baik-baik, jangan sampai kamu sakiti lagi, aku yang bakal bawa mereka pergi dari kamu, mas." Ujar Sarah penuh peringatan.
Kedua mata Lusi berkaca-kaca, perhatian Sarah pada nya membuat nya sangat terharu sekaligus malu, akan perbuatannya dimasa lalu.
"Nggak akan, Sar. Aku udah belajar banyak dari pengalaman rumah tangga kita yang dulu. Nggak akan aku ulangi lagi, dan makasih juga sudah mau memaafkan aku dan Lusi. Kami berhutang banyak kata maaf sama kamu." Ucap pria itu sungguh-sungguh, dia tidak bodoh hingga mengulangi kesalahan yang sama.
"Ehmmm... Boleh ikut gabung nggak, kursi sudah pada penuh soalnya." Suara bariton itu mengintrupsi obrolan mereka, membuat Sarah seketika menegang.
__ADS_1
"Eh, nggak. Di sana masih ada kok, yang di sudut sana, mas nya di sana aja duduk nya." Suara panik Sarah membuat Angga dan Lusi terheran, namun tidak dengan Reegan. Pria itu duduk persis di samping Sarah, dengan menggeser kan kursinya hingga mendekat pada Sarah.
"Nggak apa-apa,Sar. Masih kosong juga itu, di samping kamu." Angga berusaha menengahi, pasalnya dia sangat mengenal pria di samping Sarah tersebut.
"Tuh, kamu denger kan. Kamu aja yang keberatan, udah duduk lagi sini, ngapain kamu berdiri." Sarah yang memang reflek berdiri, ketika melihat Reegan berada di samping nya tadi. Kini hanya bisa menurut, saat pria itu seenak jidad memegang tangannya,menuntunnya duduk kembali.
tak lama makanan yang mereka pesan datang, belum ada yang memulai pembicaraan, suasana di meja itu nampak hening dan canggung.
"Ehmmm, tuan Reegan. Anda mengenal Sarah? Maaf bukan maksud saya lancang, itu, tidak usah di jawab saja." Angga jadi kikuk sendiri dengan pertanyaan nya, apalagi saat melirik ke arah Lusi. Dia takut wanita itu salah paham, mengira dirinya sedang cemburu pada Sarah. Hati nya sudah mantap memilih Lusi, ketika melihat ada dua nyawa yang sedang bertumbuh di perut kekasihnya itu.
Dia berjanji dalam hatinya sendiri, akan menghapus nama Sarah dan menggantikan nya dengan nama Lusi dan kedua anaknya.
Angga dan lusi hanya melongo mendengar ucapan pria itu, Angga sangat mengenal Reegan. Salah satu pebisnis muda yang sangat di perhitungkan, sepak terjangnya sudah tidak di ragukan lagi. Menjadi satu-satunya cucu laki-laki dari tuan Prayoga, yang merupakan orang terkaya seasia itu, membuatnya semakin di segani oleh semua kalangan. Belum lagi pesona nya, yang mampu membuat banyak wanita rela mengantri, hanya untuk bisa naik ke atas ranjangnya.
"Ck, kamu itu. Aku suruh tunggu di mobil kok, ngeyel." Bisik Sarah kesal, bukankah tadi pria itu sudah sepakat akan menunggu nya di mobil saja.
"Aku lapar sayang, kamu lupa tadi kita nggak sempat makan di apartemen. Kamu sibuk nempelin aku terus kaya perangko, aku loh sampe nggak bisa berangkat kerja." Balas pria itu melunjak. Dia menyendok kan makanan di piring Sarah ke mulutnya lalu bergantian ke mulut sang kekasih.
"Maaf tuan Angga, sudah mengganggu obrolan penting kalian. Lanjutkan saja, anggap saya tidak ada." Ucap pria itu datar.
__ADS_1
"Eh, tidak masalah. Tidak menganggu, dan ya, panggil saja Angga, tuan Reegan." Balas Angga kikuk, ini pertama kalinya dia berhadapan dengan pengusaha nomor satu di negara ini. Rasa senang membuncah di dalam hatinya begitu pun dengan rasa penasarannya.
"Baiklah, kalau begitu panggil saya, Reegan saja tidak perlu memakai embel-embel tuan di depannya. Anda sudah Sarah anggap sebagai kakak laki-laki nya, benar begitu kan, sayang?" Ucap Reegan, dengan tatapan yang mengintimidasi pada kekasihnya itu.
"Eh, ya benar. Mas Angga sudah aku anggap kakak ku sendiri mulai sekarang, kamu tidak keberatan kan, Lusi?".. Balas Sarah meminta persetujuan Lusi, bagaimana pun wanita itu akan menjadi istri mantan suami nya tersebut.
"Tentu saja tidak, aku malah senang dan juga berterimakasih, sudah di terima dengan baik tanpa melihat diriku yang dulu." Balas wanita itu dengan senyum sumringah.
"Itu sudah berlalu, tidak jadi masalah lagi. Aku lega tidak menjadi egois memisah kan seorang ayah dari anak-anaknya. Kamu sangat beruntung, mas, jaga mereka dengan baik. Apa Lusi sudah tau soal... Maaf tidak usah dibahas saja." Ucap Sarah tidak enak
"Aku sudah tau, makanya saat tau kami di karuniai dua anak sekaligus, kami sangat bahagia. Tuhan sudah begitu baik, dengan memberi kami anugerah seindah ini, dan juga dipertemukan dengan orang baik sepertimu, Sarah. Terimakasih banyak." Balas wanita hamil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah jangan sedih-sedih, wanita hamil harus happy terus. Satu bulan lagi sudah bisa masuk gereja kan? Sabar sebentar lagi, kalau mas Angga ngeyel kamu kunciin dia di kamar mandi." Seloroh Sarah membuat suasana kembali santai.
"Jangan ngajarin Lusi jadi kaya kamu, sayang. Yang mau ngunciin aku di apartemen sendirian." Omel pria datar itu, merajuk.
"Kamu itu suka ngotot, nggak bisa diajak kompromi. Salah sendiri." Ujar Sarah tak mau kalah.
Angga dan Lusi hanya tersenyum, melihat perdebatan pasangan yang ada di depan mereka tersebut.
__ADS_1