
Rick memilih memasang earphone ditelinga nya meski sebenarnya, tidak ada apapun yang sedang dia dengar disana. Hanya untuk mengalihkan suara-suara sumbang, yang menggangu pendengaran nya. Remaja itu keluar dari mobil, dan memberikan pengarahan pada adik-adik nya.
Sekolah elit tersebut mencakup semua jejang, Mulai TK, yang berada paling depan, SD, SMP hingga SMA. Jadi mereka tidak perlu berpisah sekolah.
"Ya ampun, makin cakep aja sih calon imam aku"
"Astaga, ciptaan Tuhan paling sempurna.."
"Lirik aku dong, my future husband.."
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat genit lainnya. Rick pria dingin, datar dan tak tersentuh. Namun tidak membuat para gadis menjauhi nya, sifatnya tersebut malah semakin membuat para gadis bagai di magnet ke arahnya. Bebeda dengan Bram yang pecicilan dan suka iseng, Lea yang jutek dan doyan adu jotos. Ketiga nya memiliki kepribadian yang bertolak belakang.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi baru. Ibu harap kalian bisa berbaur dengannya dan mau berteman baik." Bu Wina memanggil siswi yang tadi masih menunggu instruksi dari calon wali kelasnya tersebut didepan pintu masuk.
"Ana, masuk nak." panggil Bu Wina oada siswi baru tersebut. "perkenalkan dirimu" titahnya dengan suara yang ramah. Sangat bertolak belakang dengan sikap nya selama ini.
"Selamat pagi semua" tidak ada satupun yang menyahut, membuat Ana kikuk dan malu.
"Anak-anak? apa kalian lupa sarapan tadi pagi, jadi pendengaran kalian sedikit terganggu." Ujar bu Wina mulai di mode yang membuat siswanya ketar ketir.
"Pagi juga anak baru!" seru para siswa menyambut sapaan Ana meskipun terlambat, fokus mereka lebih ke wajah cantik Ana, dan itu sungguh mengganggu para gadis dikelas tersebut.
Ana sedikit gugup melanjutkan perkenalan nya "Nama saya Analisa Antarisya, saya pindahan dari SMA XX, senang berkenalan dengan kalian semua, mohon bantuannya" Ana segera mengakhiri sesi perkenalan singkat tersebut agar terbebas dari tatapan penuh intimidasi para siswa dikelas itu.
"Baik Ana, karena di kelas ini hanya ada satu kursi kosong. Jadi kau duduk dengan Rick saja. Rick tidak keberatan, bukan?" ucapan Bu Wina lebih ke arah pernyataan daripada pertanyaan.
"Baik bu, asal tidak cerewet saja. Silahkan!" Balas Rick kembali fokus pada lembar buku di hadapan nya.
Ana duduk dengan perasaan tak enak, pasalnya yang duduk disampingnya bahkan tidak menoleh apalagi membalas sapaan nya.
__ADS_1
"Maaf, bisa pinjam tipp_x tidak?" tanya Ana was-was, dirinya memang belum membelinya lagi. Karena uang hasil jualan nya, baru saja dia pakai untuk membeli kebutuhan nya juga bahan kue pengantin pesanan tetangga nya.
Rick melirik tajam pada gadis yang baru saja menjadi rekan sebangku nya itu. Kemudian menggeser tipp_x milik nya dengan tak berperasaan. Untung saja Ana sigap menangkap nya.
Setelah menghapus beberapa kata yang salah, Ana lekas mengembalikan penghapus tersebut.
"Makasih banyak, ya" ujar nya ramah meski hatinya tidak baik-baik saja. Ketakutan lebih mendominasi dirinya, apalagi melihat sikao tak bersahabat yang di tunjuk kan oleh Rick.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hei, kau!" Tunjuk seorang siswi pada Ana yang kini tengah membuka kotak bekalnya di samping gedung kelasnya, aturan di sekolah tersebut tidsk boleh makan dalam kelas, juga tidak boleh makan makanan dari luar di kantin sekolah. Ana lebih memilih makan di samping gedung sekolah yang berdekatan dengan tembok pagar sekolah baru nya.
"Ya?" Ana menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, kau! memangnya siapa lagi orang miskin yang lagi makan di pojokan sekolah kaya gini." Balas Maura sadis. Ana sudah menyangka hal ini anak terjadi, untuk itu dia tidak lah kaget mendapatkan perlakuan tak menyenangkan seperti ini.
"Kau jangan terlalu percaya diri hanya karena bisa duduk satu meja dengan Rick. Kau itu bukan selera nya, udah miskin, jelek, hidup lagi. Jadi tidak usah mencari perhatian Rick dengan meminjam barang-barang miliknya!" Oh, Ana mengerti sekarang, ini perkara dirinya meminjam penghapusan tadi rupanya.
"Oh, maaf kak. Aku memang membutuhkan penghapus tadi, kebetulan milikku sudah habis. Maaf kalau sikapku lancang dan mengganggu kakak-kakak semua. Lain kali aku tidak akan meminjam atau meminta apapun lagi pada Rick." Balas Ana masih berusaha santai, padahal tangannya sudah berkeringat sejak tadi.
"Baguslah kalau kau sadar diri, ingat! Rick itu kekasih ku. Jadi jauhkan pikiran konyolmu jika berpikir Rick akan menoleh padamu. Atau kau akan berhadapan denganku!" Hardik Maura memperingatkan.
"Baik, kak." Ana pikir jawaban nya akan memuaskan para senior nya itu, namun salah, Maura masih belum puas mendengar jawabannya. Dengan tanpa perasaan, Maura membanting kotak bekal milik Ana ke lantai hingga berhamburan. Ana hanya bisa melongo, melihat nasi juga sambel teri miliknya berhamburan. Ingin Ana melawan tindakan Maura saat itu juga, namun mengingat status nya yang masih terlalu dini untuk memberontak pikirnya.
"Ingat ini baik-baik, anak baru! ini adalah peringatan untuk mu, jangan pernah sok kecakapan dengan mencari perhatian kekasih ku, atau kau akan tau akibatnya!" Maura dan kawan-kawan meninggal kan Ana yang masih menatap miris makanan sederhana miliknya.
Ana mengangkat kotak bekalnya, masih tersisa sedikit makanan yang tidak ikut tumpah. Ana memakan sisanya dengan lahap, dia belum makan sejak semalam. Uang hasil jualan nya dari warung tidaklah seberapa, anak pak RT tetangga memesan kue pengantin dua tingkat. Dan itu membuat uangnya terkuras banyak, hingga Ana lebih memilih mengenyangkan perut nya dengan air tajin yang dicampur sedikit gula merah. Agar asam lambung nya tidak berontak marah.
Dan kini dia harus kembali menahan lapar, meski sudah terisi sedikit makanan.
__ADS_1
"Dasar anak orang kaya, mereka bahkan tidak tau berapa harga beras dan susahnya mencari uang. Seenaknya saja membuang-buang makanan seperti ini" Gerutu Ana sambil membersihkan kotoran dari ceceran makanan nya tadi. Bisa-bisa dirinya berakhir di ruang BK dihari pertama nya, itu sungguh memalukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi gimana dek? bisa?" Joi melirik sebal pada kakak perempuan nya. Sejak tadi meneror nya via chat juga telpon beruntun. Sungguh mengganggu batinnya kesal.
"Tidak bisa kak, sudah berapa kali aku bilang." Balas Joi akhirnya buka suara. Kakaknya sungguh menyebalkan.
"Pleasee!" rengek Delia tak mau menyerah.
"No, no, no!" Joi tetap kukuh pada pendiriannya, tanpa peduli wajah memelas sang kakak yang nampak sangat putus asa.
"Joi, ih! ini kakakmu loh, tidak kasian gitu" rajuk Delia membuat Joi tersenyum samar, Joi melengos agar sang kakak tidak melihat dirinya yang sedang tersenyum.
"Memangnya kakang mu mana, kak? kenapa tidak minta kang Zero aja sih, aku sibuk loh ini. Kerjaan aku banyak, kasus aku bejibun gini. Kakak lagi buat kasus baru, ngerepotin banget" gerutu Joi kesal.
"Kali ini, kakak janji. Bisa kan? ya, yaa?" Delia memperlihatkan wajah imut nyanyang sama sekali tidak imut dimata Joi.
Joi menghentikan pekerjaannya lalu fokus pada sang kakak dengan tatapan sebal.
"Oke, tapi dengan satu syarat. Setelah ini kakak selesai kan masalah kakak sendiri, aku tidak mau lagi ikut campur. Lagian punya suami Kenapa tidak di manfaatkan sebagai mana mestinya sih!" Wajah Delia berbinar cerah, lalu memeluk sang adik sebagai ungkapan rasa terimakasihnya.
"Aduh, senangnya kakak kalau gini. Makasih ya dek, kakak tunggu di restoran Kumala jam 7:30 nanti malam. Jangan telat yah, ini tuh urgent soalnya. Kalau kakang mu tau, kakak bisa jadi janda. Tidak kasian, gitu, suami kakak masih muda, kakak udah tua ini. lihatlah anak kalian sudah pada dewasa. Kasihanilah kakak mu ini" Joi mencebik mendengar penuturan sang kakak, yang selalu membandingkan dirinya dengan para saudaranya.
Delia baru menikah di usianya yang terbilang cukup bahkan terlalu matang untuk menikah. Yaitu 39 tahun. Seorang CEO muda pemilik perusahaan IT melamar nya, Zero pria keturunan Inggris-sunda tersebut jatuh cinta pada pandangan pertama pada Delia. Zero yang saat itu berusia 29 tahun, merengek pada kedua orangtuanya untuk melamar kan Delia untuk menjadi istri nya. Dan kini keduanya di karuniai 3 orang anak, Delia yang kini berusia 51 tahun sering merasa insecure pada diri nya jika berjalan berdua bersama sang suami.
Walau pun Zero selalu mengatakan jika Delia tetap lah wanita nya yang paling cantik. Tetap saja jiwa tua Delia berontak. Untuk itu dia lebih suka meminta sang adik untuk menemani nya kemana-mana.
Setelah kepergian kakaknya, Joi menghubungi sang suami, nakun sejak tadi belum tersambung. Pesannya pun hanya di baca lalu kemudian tidak aktif lagi. Joi mulai cemas, jika bertanya soal curiga, Joi bukanlah tipe istri yang suka mencurigai pasangan nya. Hanya saja, lebih ke arah khawatir yang suka berlebihan. Itu lah sikap mutlak seorang Joi.
__ADS_1