Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXI


__ADS_3

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kira, gue gak tau gimana marah nya Sarah sama gue. Dia sudah berkali kali kasih tau gue, soal ketidaksukaan nya pada Killa selama ini. Dan gue selalu membantah argumen nya tersebut, dan sekarang gue benar-benar nyesel udah gak percaya sama istri gue sendiri." Reegan tampak semakin tertekan, berkali-kali pria itu mengusap kasar wajahnya.


"Doakan aja Kira kita baik-baik saja." Ujar Bintang mengusap pelan bahu sahabatnya itu, walau hatinya sendiri sudah gelisah sejak tadi. Namun harus ada yang menguatkan sahabat nya itu.


"Itu ada Villa diujung jalan sana." Seru Revan pada Satria, sontak membuat semua orang, serentak menoleh ke arah yang di tunjuk oleh sahabat mereka.


Satria memarkirkan mobilnya Dengan asal, lalu turun tanpa sempat menutup kembali pintu mobilnya.


Rumah itu tampak sepi, lampu taman yang redup juga lampu ruang tamu rumah itu terlihat mati. Menandakan tidak ada pesta apapun disana. Saat Mereka akan mengetuk pintu villa tersebut, Terdengar suara langkah dari arah samping rumah itu.


"Nyari siapa mas?" Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dengan mengucek matanya, tampaknya pria itu terbangun, saat mendengar suara decitan ban mobil Satria.


"Oh, ini pak. Cuma mau numpang tanya. Villa nya keluarga Bilmar yang mana ya, kita nyampenya kemalaman, tadi udah nelpon gak diangkat, mungkin sudah tidur. Jadi inisiatif mampir kesini mau nanya alamatnya." Bastian mengambil alih keadaan, jika Satria yang bertanya akan berbeda pertanyaan nya. Itu akan menimbulkan kecurigaan penjaga villa Tersebut.


"Bilmar ya mas?" Pria itu tampak sedang berpikir. "Oh, ya ya, saya baru inget. Bilmar Santoso, ya hanya ada satu nama Bilmar, yang saya tau punya villa gak jauh dari sini. Masnya nanti lurus aja, trus dapat pertigaan, belok kanan. sekitar 300 meter masuk, itu sudah villanya, gak ada yang lain selain villa itu." Penjaga villa itu menjelaskan cukup mendetail.


"Tapi mas, bukannya villa itu kosong ya sekarang? Eh, tapi coba aja, mungkin saya yang gak tau kalau keluarga Santoso udah balik dari luar negeri. Saya cuma dengar dari majikan saya, kalau keluarga itu liburan keluar negeri gitu. Jelasnya kemana kurang tau juga. Silahkan mas nya coba aja kesana, mungkin telinga tua saya yang salah denger." Ujar nya terkekeh tidak enak, pasalnya seolah tak percaya pada kelima pria di depannya itu. Jika mereka mengenal keluarga yang sedang mereka cari.


"Baik pak makasih kalau gitu, kami permisi dulu. Maaf sudah mengganggu, selamat istrahat kembali pak." Ujar Bintang tak kalah ramah.


Mereka bergegas menuju mobil, lalu memutar arah. Setelah mobil bergerak kurang lebih 20 menit, akhirnya mereka menemukan pertigaan, yang di maksud oleh penjaga villa itu.


"Ini kan, belok kanan berarti." Ujar Satria memastikan.


"Ya, ini pertigaan pertama yang kita dapat, berarti udah bener." Sahut Revan menimpali.

__ADS_1


Setelah menemukan villa yang di maksud, Satria membuka laci dasbor nya, lalu mengeluarkan beberapa buah senjata api dari sana. Namun kemudian dia mengernyit heran. Kenapa semua pistol yang dia pegang, terasa begitu ringan. Dan ya, pistolnya berkurang satu. Jelas sudah siapa pelakunya sekarang, beserta kecurigaan nya sejak di villa tadi.


"Anak itu, benar-benar serigala berbulu domba. Shiitt, kenapa gue bisa kecolongan kaya gini." Satria memukul kemudi mobilnya dengan perasaan kesal dan marah. Membuat para sahabatnya heran.


"Kenapa Sat?" Tanya Bastian tak sabar.


"Killa, anak set*an ja*l*ang itu, nyuri pistol gue, dan ini semua, kosong, semuanya kosong. Bre*ng*sek!! 12 tahun gue udah melihara musuh dengan memberikan hidup dan makan enak. Astaga, Kira. Semoga kamu baik-baik saja nak. Papa akan membunuhnya dengan tangan papa sendiri, jika dia berani berbuat macam-macam sama kamu." Satria bergegas turun menuju gerbang villa itu, dilihatnya pagar dalam keadaan tergembok. Villa itupun dalam keadaan sedikit gelap, hanya lampu teras dan lampu taman yang tidak begitu terang.


"Villa ini kosong, jelas sekarang mereka tidak pernah kemari. " Ujar Bintang Menatap para sahabatnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Sekarang kita nyari anak gue kemana lagi. Ya Tuhaan. Kenapa gue bisa seceroboh ini." Ujar Reegan semakin frustasi.


"Masih ada dua jalan di pertigaan itu, kita coba yang kiri dulu." Bastian memberikan ide.


"Ya, lo Bener. Ayo." Kelima pria itu memasuki mobil dengan tergesa-gesa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada orangnya, tapi hanya keluarga kecil yang sedang berlibur. Mereka bilang kalo kita lurus lewat jalan di pertigaan tadi, ada dua villa lagi, dan itu yang yang terakhir yang bisa kita kunjungi." Jelas Revan panjang lebar setelah napasnya kembali teratur.


"Yang gue datangi kosong." Timpal Bintang.


"Villa yang gue datangi, ada orangnya, sama, hanya orang yang sedang berlibur. Gak ada pesta apapun." Reegan berujar dengan nada yang sudah mulai putus asa, malam semakin larut, namun Putri nya belum kunjung ditemukan.


"Kita putar balik, lanjut ke satu-satunya jalan yang ada di pertigaan itu tadi." Satria bergegas menuju mobil, yang diikuti oleh para sahabatnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gue liat liat villa disebelah sana, kayanya abis ada acara atau apa gitu. Gue yakin ada liat dus dus bekas makanan ditumpukkan sampah didalam pagar rumah itu, gak jelas karena jauh tapi gue yakin. Pasti ada orang nya minimal." Bastian berbicara cepat seakan takut di sela.


"Ayo, kesana aja. Villa yang tadi juga gak ada penghuninya. Cuma lampu teras doang yang nyala." Jelas Revan lagi.


"Ayo, semoga Kira ada disana dan dalam keadaan baik-baik saja. Gue cuma punya satu senjata, lo semua ikut arahan gue. Killa itu sudah mahir dalam hal menembak, nyesel juga gue udah ngajarin anak s*e*t*an itu. Tau gini akhirnya nya." Setelah memberikan arahan pada para sahabatnya, Mereka bergegas menuju villa yang dimaksud oleh Bastian.


"Shutt, lo dibelakang gue aja. Inget jangan bertindak gegabah. Gue gak tau, berapa banyak orang-orang gue yang sudah dalam pengaruh anak s*t*an itu. Lebih baik waspada." Satria berbisik pada Revan, yang sudah nampak tak sabar ingin masuk begitu juga dengan yang lain.


Krriiiett


'Pintu sialan itu kenapa harus berbunyi disaat yang tidak tepat, sih' Dumel Satria dalam hati.


"bener, kayanya memang abis ada diadain pesta disini. Liat tuh, botol bekas minuman berserakan di meja." Ujar Bintang masih berbisik, rumah itu dalam keadaan remang-remang, hanya mendapatkan cahaya dari luar, melalui jendela-jendela besar yang tidak tertutup gorden.


"Kita mencar aja, biar cepat." Ujar Revan tak sabar.


"Tangan kosong? Gila lo. Gak, ikut gue, kita sisir semua ruangan dan kamar nya sama-sama." Balas Satria melotot tajam.


"Gue cuma khawatir sama Ki....."


Dorr doorr doorr


"Auw, sial. Bahu gue, kena nih. Anjiiiirrr." Revan merasakan bahunya panas dan basah. Darah mengalir deras dari sana.

__ADS_1


"Sial, lo pada jagain Revan. Biar gue yang ngadepin, peluru gue gak akan bisa buat nyelamatin kita semua, jadi gue akan pancing mereka keluar dari persembunyian, setelah gue kasih aba-aba lo sama Reegan naik ke tangga itu. Inget, merunduk. Dan lo pastiin mereka gak nemuin kalian. Trus tekan lukanya, kalo ada kesempatan lo berdua pergi kearah pintu belakang, ini kunci mobil, lo bawa aja." Setelah memberikan arahan pada para sahabatnya, Satria keluar perlahan.


Tak lama terdengar suara tembakan bersahutan diruangan tersebut, Bastian dan Reegan bergegas naik kelantai atas setelah mendapat kode dari Satria. Sementara Bintang dan Revan, masih menunggu dibalik tembok yang mengarah menuju toilet didekat dapur.


__ADS_2