
Reegan baru saja pulang, saat dia menaiki menuju kamarnya. Telinga nya menangkap sebuah suara, seperti seseorang yang sedang berbicara atau lebih seperti sedang memarahi seseorang. "Cari sampai dapat, saya sudah membayar mu dengan uang yang tidak sedikit. Temukan juga beserta putrinya, bawa mereka kehadapan ku. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, pakai cara paksa.")
Reegan berdiri di pintu ruang kerjanya yang sedikit terbuka, terlihat sang kakek sedang berada di dalam sana. Untuk apa kakeknya berada di dalam ruang kerjanya.
Tok tokk tokkk...
"Kakek sedang apa di sini?" Tanya Reegan datar.
"Kakek sepertinya butuh ruang kerja juga dirumah ini, bagaimana dengan ruangan yang ada diujung lorong itu." Sang kakek terlihat tampak berpikir. "Atau ruang kerja ini saja yang kakek gunakan, ruangan di ujung lorong itu terlalu kecil. Kakek butuh ruang yang luas, bagaimana menurut kamu?".. Reegan mengeraskan rahangnya, sifat diktator sang kakek ternyata tidak pernah berubah. Itu rumahnya yang dia beli dengan uangnya sendiri, namun sang kakek masih saja ingin menguasai semua didalam kendalinya.
"Maaf kek, jika kakek ingin ruang kerja yang lebih luas, bukankah kakek bisa tinggal di mansion utama. Kakek bebas mengatur apa yang ingin kakek lakukan di sana, tapi tidak di rumahku."
"Kamu lupa darimana semua yang kamu dapatkan sekarang? Ingat Reegan, kakek yang sudah memungut kalian, setelah di buang seperti sampah oleh Adnan. Ayahmu yang bajingan itu!".. Seru Tuan Prayoga dengan suara tinggi. Ingin sekali dia menampar cucu kurang ajar nya itu, namun Reegan bisa dia jadikan sebagai pion nya.
"Dan sampah ini sekarang, telah menjadi orang yang berguna bagi kakek. Bukankah kita impas!".. Ucap Reegan datar. Beginilah setiap kali dia bertemu dengan sang kakek, hanya ada perdebatan yang akan terjadi.
"Kita lihat saja, apa yang bisa kakek lakukan. Bukan hanya ruang kerja ini yang akan kakek kuasai, tapi seluruh hidup mu. Hidup mu ini adalah hutang yang tidak akan pernah bisa kamu bayar lunas pada kakek! Ingat itu!".. Tuan Prayoga kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja cucu nya itu, sementara Reegan menatap punggung sang kakek, mengepal kan tangannya menahan amarah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi, ibu nya anak aku. Lagi ngapain sih ini sibuk bener. Sampe aku datang nggak nyadar dia." Sapa Angga pada Lusi yang sedang sibuk menata sarapan pagi untuk mereka dibantu oleh bi Siti.
Beginilah keseharian mereka, Angga yang meski belum seutuhnya mencintai calon ibu dari anaknya itu, namun tidak bisa dipungkiri. Selama hampir satu bulan mereka tinggal bersama, membuat hati Angga sedikit melunak, ada sedikit benih-benih cinta tumbuh dihatinya pada wanita hamil itu.
"Udah kamu duduk aja sini, aku ngeri liat kamu terlalu banyak gerak gitu. Biar bi Siti aja, tinggal nata aja kan?"..
"Nanti siang jadi ke dokter kan? Kamu siap-siap aja nanti aku jemput, kita berangkatnya sama-sama. Aku mau liat perkembangan Si montok di dalam sini." Ucap Angga sambil mengelus pelan perut Lusi. Pasalnya perkembangan perut Lusi yang seperti orang hamil 5 bulan itu, mereka menduga jika si jabang bayi pastilah sangat gemuk. Mengingat hobby wanita hamil itu pada makanan yang manis, wajar jika bayinya montok di dalam sana.
"Iya, mas. Abis dari rumah sakit jadi ketemu sama Sarah, kan? Aku ikut apa gimana? Soalnya aku rada nggak enak kalau ketemu langsung." Ucap Lusi terdengar ragu, dia masih malu untuk bertemu langsung dengan Sarah, meski sudah dua kali wanita itu menghubungi nya membahas tentang perceraiannya dan Angga.
"Iya, jadi. Tapi nggak tau jam berapa, bukannya dia bilang mau hubungi kamu lebih dulu. Coba kamu telpon, bilang kita mau kerumah sakit dulu, habis itu baru ketemuannya. Berkasnya udah lengkap, Sarah nggak mau apapun sebagai harta Gono gini."
"Dia bilang rumah ini sudah ada pemilik barunya, dan selamanya akan menjadi punyamu dan anak kita. Aku pun nggak berhak atas rumah ini, dia meminta aku mengubah nama atas sebagian aset yang aku punya atas namanmu dan anak kita nanti. Dengan begitu dia akan tenang." Jelas Angga panjang lebar, terbersit senyum di bibirnya kala mengingat pertemuan mereka kemaren di pengadilan.
Wanita yang akan resmi menjadi mantan istrinya itu, menolak semua harta gono-gini pernikahan mereka. Wanita itu bilang jika Lusi dan anaknya lah yang berhak atas semua itu, bahkan Angga pun tidak boleh mengotak atik kan semua aset yang ada.
__ADS_1
"Aku semakin merasa bersalah sama Sarah, mas. Kita sudah menyakiti nya dengan sangat dalam, tapi dia masih memikirkan bagaimana nasibku dan anakku." Ucap Lusi dengan wajah sendu.
"Anak kita sayang, kita yang gotong royong membuatnya." Goda Angga pada wanita hamil itu.
"Issh, apaan sih mas. Efek kelamaan puasa jadi gini nih kamu, kalo ngomong mesti ngarah kesitu mulu." Lusi pura-pura kesal.
"Kamu juga pasti kangen kan, sama rudal sakti aku. Hayoo ngaku, liat tuh mukanya udah merah gitu. Pasti kangen kan, aku juga kangen dengar suara kamu yang ah mas, ya mas, disitu mas, terus mas, lag....." Cepat-cepat Lusi membungkam mulut Angga dengan potongan perkedel jagung sisa gigitannya.
"Nyebelin kamu, awas aja nanti minta tolong aku buat nidurin rudal kamu itu." Rajuk Lusi memanyunkan mulutnya. Pasalnya walaupun mereka sudah lama tidak melakukan hubungan intim, pria itu sering memintanya memotret dalaman yang sedang dia pakai. Pria itu lebih memilih bersolo karir sementara mereka belum menikah. Lusi memang tidur dikamar tamu, sementara Angga tidur dikamar utama yang dulu dipakainya bersama Sarah.
"Eh, jangan dong. Montok bantuin ayah dong, bunda lagi merajuk nih. Bisa kelar masa depan ayah tar malam, nggak bisa intip dalaman bunda."
"Mas udah ah, tar si montok denger. Kamu ini ngajarin anak nggak bener, mending kamu kerja sana. Minyak mahal nanti kamu ngomel kalo aku masak nya dikuah mulu."Semenjak hamil, Lusi lebih suka masakan yang berkuah, membuatnya makan lebih banyak dan tidak mual.
"Siap nyonya, kasih uang bensin dulu dong." Angga menengadah kan tangannya, dia lupa menarik uang saat pulang kemarin. Semenjak perpisahan nya dengan Sarah membuatnya belajar banyak hal, menjadi suami yang pelit itu memalukan. Semua kartu debitnya dia berikan pada Lusi, walau wanita itu sudah menolak namun dia tetap memaksa.
"Kamu denger nak, ayah kamu itu udah kere. Jadi nggak bisa macam-macam sama kita, tar kita miskin kan ayah sampe compang camping kalo berani nakal lagi." Ucap Lusi pada janinnya, kemudian mengeluarkan uang merah sebanyak 10lembar dari dompet belanjanya.
__ADS_1
"Kebanyakan sayang, segini aja cukup." Angga mengembalikan 5lembar uang merah itu kedalam dompet Lusi. "Kamu jangan lupa bayar gaji bi siti, sopir sama satpam kita ya, hampir lupa aku udah waktunya mereka gajihan. Aku jalan dulu." Lalu mencium kening Lusi, dia membiasakan diri melakukan itu semenjak 3 minggu terakhir ini.