Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXI


__ADS_3

"Sarah suka bi, sayang Sarah tidak bisa ke sana." Ucap Wanita itu dengan wajah sendu. Kejadian dua bulan yang lalu, telah merenggut kebebasan kakinya.


Benturan keras dua bulan yang lalu, telah mengakibatkan Sarah mengalami cedera saraf tulang belakang. Kini, wanita itu hanya bisa melakukan aktivitas di atas kursi roda, dan juga melalui bantuan orang lain.


"Nanti bibi minta si Rojak, ngantar kita ke desa. Non Sarah pengen sekali liat pasar kan, disana kalau pagi begini masih rame. Banyak jual jajanan pasar, yang biasa bibik belikan buat non Sarah, kalau turun ke pasar." Ujar wanita paruh baya itu, menghibur nona muda nya.


"Boleh bi? Oya, ayah dimana bi? Dari tadi Sarah belum ada liat." Tadi sehabis mandi dan berganti pakaian dibantu oleh bi Ninik, Sarah meminta sarapan di balkon kamarnya. Dia ingin sarapan Sambil menikmati udara pagi, serta pemandangan Desa dan sawah di bawah perbukitan villa mereka.


"Tuan Adnan sedang di depan non, lagi sama Bahtiar dan Andro. Si Rojak sama Ifah lagi ke perbatasan kota, mengambil persediaan buat obat dan kebutuhan non Sarah." Jelas bi Ninik pada nona muda nya.


" berarti masih lama ya bi? Minta tolong Andro atau Bahtiar aja antar kita jalan-jalan, gimana bi?" Ucap Sarah tak sabar, dia sangat bersemangat. Untuk pertama kalinya setelah dua bulan, dia bisa keluar rumah.


" Boleh, ini sudah selesai non, susunya dihabisin dulu, ini vitamin nya. Biar si utun sehat dan kuat seperti non Sarah." Ujar bi Ninik tersenyum lembut. Sarah sudah seperti putri nya sendiri, sejak kejadian dua bulan lalu, Sarah lebih banyak diam dan murung.


Siapa yang tidak sedih jika kehilangan anak nya, bahkan dia tidak sempat menggendong atau sekedar melihat nya.


"Sudah bi, bisa minta tolong ambilin Sarah topi rajut warna kuning sama cardigan yang warna biru ya bi. Dingin banget cuaca nya." Ujar Sarah sambil mengusap lengannya sendiri.


Bi Ninik mengambil semua yang Sarah minta, dan juga sebuah ponsel jadul di atas nakas. Mereka semua menggunakan ponsel bahari, semenjak pindah ke sana. Dengan begitu keberadaan mereka, tidak akan bisa dilacak dengan mudah.

__ADS_1


Wajah Sarah tampak begitu bahagia, saat bi Ninik mendorong kursi roda nya keluar kamar menuju pintu depan.


"Loh, Sarah. Mau kemana nak, sini dekat ayah. Ayah lagi nyantai, sambil main catur sama mereka berdua. Tadi malam ayah ditelpon sama kang Ujang, katanya orang-orang Prayoga mendatangi pak lurah. Hampir saja tertangkap, untuk warga kooperatif, saling membantu mengusir mereka. Sekarang pak lurah sekeluarga pindah untuk sementara waktu ke desa, masih kang ujang yang mantau dibantu kang Sadin." Jelas pak Adnan panjang lebar.


"Kamu ingat Memet nggak, yang sering kerumah dulu waktu dia masih sekolah. Yang suka minta bawa sayur ke sekolah, buat dijual keguru-guru yang tinggal di mess.?" Ujar pak Adnan lagi.


"Yang Memet cungkring itu ya yah, kenapa dia. Kawinan?" Tanya Sarah penasaran.


"Dia kang Ujang masukkan kerja di mansion Reegan, ada juga si Puput anak pak Jamal. Kerja di sana juga lebih dulu, tugas si Memet tukang kebun, sama perbaiki kalau ada pipa bocor atau pendingin yang rusak. Jadi dia bisa mantau bagian luar, kalau Puput di bagian bersih-bersih, jadi dia punya akses leluasa dalam rumah itu." Jelasnya lagi.


"Apa mereka masih mencari kita yah?" Tanya Sarah cemas.


Satu minggu sejak kejadian tragis yang dialami Sarah, media dihebohkan dengan beredarnya video pembunuhan, yang dilakukan oleh pengusaha sukses negeri ini. Semua media menyorot kasus itu, dan keluarga Prayoga mendapatkan kecaman dari masyarakat. Membuat perusahaan yang dipimpin oleh Reegan, nyaris gulung tikar.


Hampir semua pemegang saham menarik saham mereka kembali, namun berkat tangan dingin Reegan, dan juga bantuan para sahabatnya, perusahaan itu kembali bangkit. Dua bulan ini adalah masa terberat untuk pria dingin itu, selain disibukkan dengan urusan perusahaan, dia juga sedang berusaha keras mencari informasi tentang keberadaan Sarah.


Penyesalan yang di rasakan Reegan sungguh teramat sangat menyiksanya, setelah kebenaran tentang kebohongan sang kakek terungkap. Reegan menjalani hidupnya dengan siksaan batin yang tak terkira, bayangan tentang putri kecilnya yang tak berdosa, terus hadir dalam ingatan Reegan. Bayi mungil itu hanya dapat dia lihat melalui sebuah foto, yang dikirim oleh Satria padanya. Dan juga sebuah makam kecil yang biasa dia kunjungi setiap hari minggu, selama dua bulan terakhir ini, untuk sekedar mengobati kerinduan pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Ck, lo gak bosan apa, bolak-balik ke rumah gue kaya ini?" Ujar Angga kesal, pasalnya selama dua bulan ini, Reegan selalu datang kerumah nya. Bertanya tentang Sarah dan juga kadang bermain dengan kedua anaknya, yang baru berumur 3 bulan tersebut.


Angga menghempaskan tubuhnya ke sofa diseberang Reegan, yang sedang bermain dengan Alisya dan Altaf anak kembar nya. Kemarahannya sudah sedikit berkurang pada pria itu, dua bulan ini dia tau, apa yang sudah Reegan lakukan untuk mencari keberadaan Sarah dan ayahnya.


"Gue cuma pengen main sama baby Cia dan baby Al, pelit amat lo." Ucap Reegan tanpa menoleh pada sang pemilik anak-anak itu.


"Ck, alasan lo basi. Ujung-ujungnya juga pasti nanya soal Sarah sama gue." Decak Pria itu kesal. "Udah hapal gue, belakangan ini hampir tiap hari lo kerumah gue dengan alasan yang sama. Udah kaya tukang kredit panci nya istri gue aja lo." Ujar Angga lagi sambil melirik kiri kanan, takut-takut jika istri nya mendengar.


Istri Angga itu punya hobby baru, yaitu belanja berburu kreditan. Jika dulu Sarah hanya membeli apa yang dia rasa perlu saja, karna keungannya yang terbatas. Tidak dengan Lusi, semenjak hamil dan menikah, jiwa emak-emak nya keluar semua. Dia sudah memenuhi dapur nya dengan berbagai alat masak, dan hampir semuanya yang dia beli, melalui metode perkreditan.


Dan itu membuat Angga uring-uringan, bukannya dia malu, justru senang dengan perubahan signifikan istri itu. Hanya saja mau dia apakan, uang yang setiap bulan Angga kirim ke rekening nya itu. Setiap di tanya alasannya, kenapa Lebih suka membeli dengan cara mencicil, jawabannya pasti kaya lagi dengerin kotbah dua pasal. "Kita punya anak mas, dua. Kedepannya nanti akan banyak kebutuhan, biaya sekolah dan lainnya. Lagi pula kalo aku belanja nyicil gini, sensasi nya itu lo mas, kamu gak akan ngerti. Fokus kerja aja, urusan rumah, biar istri yang handle, uang mengalir lancar, masa depan mas aku jamin aman. Nanti aku beli daster macan lagi, yang tali satu, biar mas makin dapat sensasi nya."


Begitulah istri Angga tersebut, hampri semua koleksi baju tidurnya adalah daster dengan berbagai model, kadang dia jahit khusus untuk menyenangkan sang suami.


"Gue emang lagi kangen si kembar, lo gitu amat ama gue. Gak kasian gitu, liat gue gak keurus gini. Gue sering tidur di kantor belakangan ini, jarang makan, mandi apa lagi. Males gue, gak ada juga yang protes kalo gue bau." Ujar Reegan seraya menyadarkan kepalanya di sandaran sofa, sambil memejamkan kedua matanya. Bisa Angga liat, raut wajah lelah pria itu, dia juga salah satu orang yang membantu menanam modal, untuk perusahaan yang hampir bangkrut itu.


"Itu, si Nindy. Bukannya lo lagi jalan sama dia, gak risih gitu kalo deket lo. Udah kaya preman pasar lo, potong rambut gih. Tar anak gue sawan lagi, liat tampang lo." Ujar Angga seraya menelisik penampilan pria di depannya itu, lalu dia seperti teringat akan sesuatu. "Eh, lo bilang jarang mandi kan? Jauh-jauh gih dari anak gue." Usir pria itu lalu menarik bouncer kedua anaknya, menjauh dari Reegan.


"Ck, segitu nya sama gue. Pinjamin baju lo lagi, gue mau mandi." Ujar Reegan seenak jidat.

__ADS_1


__ADS_2