Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Peran ganda


__ADS_3

Kira terlihat gelisah, sejak tadi wanita itu mengeluh mau bab, mengeluh mau pipis, namun setiap ke kamar mandi, selalu tidak jadi katanya.


Daniel dengan sabar menuntun sang istri kemana pun wanita itu mau. Seperti sekarang duduk di sofa, dan meminta Daniel duduk di lantai. Pria itu menuruti nya saja, dengan telaten tangan kekarnya memijit kaki "besar" sang istri meski tak di minta.


"Aduh pa, bisa pelan dikit tidak, sakit." keluh Kira.


"Astaga, kenapa mijitnya seperti tidak ada tenaga gitu sih, keras dikit ih, tidak berasa" Daniel hanya mengiya kan apapun yang istrinya minta tanpa protes.


"Udah, papa mijitnya tidak enak. Aku kok ngantuk ya pa, tidur yuk, udah tengah malam nih" dengan tanpa berdosa wanita itu beranjak dari sofa, menuju ranjang lalu merebahkan dirinya dengan nyaman.


Daniel lagi-lagi menurut saja, tidak enak? setelah hampir 20 menit lebih di pijit. Istri nya ini benar-benar, uji kesabaran pikir Daniel.


Daniel naik ke ranjang namun belum sempat merebahkan tubuhnya, suara protes sang istri kembali terdengar.


"Pah, kalau naik ranjang itu pelan-pelan, jangan sampe goyang kasurnya, aku nya tidak nyaman." Daniel terdiam di tempat nya tidak berani bergerak lagi, posisi yang sangat tidak nyaman, namun demi sang ratu, tidak masalah.


Setelah hampir 5 menit duduk dalam posisi tak enak, Daniel akhirnya bernafas lega. Suara dengkuran halus sang istri memerdekakan pergerakan nya. Daniel mengambil posisi paling aman, yaitu di sisi paling pinggir. Walaupun was-was takut terjatuh, lebih baik dari pada membuat tidur nyenyak ibu negara terganggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pa? papa? bangun ih?" Kira menggoyang lengan kekar suaminya yang terlihat begitu menikmati mimpi indah nya.


"Paaa!" Kira sedikit menaikkan volume suara nya, Daniel mengerjab kaget.


"Ya kenapa, mau roti, cake atau susu?" kata-kata reflek Daniel mendapat pelototan tajam dari istri nya. "Maaf, papa kira ibu lagi laper, mau makan. Jadi ini mau apa hmm?" tanya Daniel lembut lalu mengusap perut sang istri.


"Aku mau melahirkan deh, seperti nya. Mulas nya semakin jadi dari yang tengah malam tadi." Ujar Kira sesekali meringis jika kontraksi kembali datang.

__ADS_1


"oo.. mau lahiran, ya udah, besok pagi ya, ayo tidur lagi.." ucap Daniel kembali merebahkan tubuhnya di kasur lalu menarik selimut.


Kira terdiam melihat suaminya yang menyuruh nya melahirkan besok pagi saja. Apa bisa begitu, pikir nya?


Namun tak lama, Daniel kembali terbangun dan terlihat sangat panik.


"Ibu mau lahiran?, Astaga kenapa ngomongnya tidak jelas begitu sih, ayo bersiap, papa manggil anak-anak dulu" Daniel keluar kamar tanpa menunggu jawaban sang istri.


Suara langkah kaki yang berlari-lari kecil ke kamarnya, membuat Kira menatap horor pada suaminya.


"Kenapa anak-anak di bangunkan sih? aku ini mau lahiran, bukannya lagi sakit." Omel wanita itu lalu beranjak menuju lemari nakas.


"Eh, ibu ngapain? sini biar abang aja, papa bawa ibu duluan kemobil. Aku nyusul sama adik-adik," titah Kirel yang jauh lebih tanggap dari pada sang ayah.


"Oke, pakaian adek di lemari itu semua. Bawa semua ya," perintah Daniel lalu menuntun sang istri keluar kamar, di bantu oleh Delia dan Debya yang mengekori dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Operasi itu sembuhnya lama, nanti aku jadi manja. Apa apa papa semua, aku jadi ngerasa tidak berguna." Kukuh Kira tak mau di bantah.


"Tidak begitu, ada obat bagus katanya. Seminggu udah bisa joging, angkat besi, mikul galon. Pokoknya obatnya hebat. Aman, kita langsung pake obat paten nya." Bujuk Daniel absurd.


Delikan galak sang istri membuat nya sedikit terkekeh. "Mau ya? papa takut ibu kenapa-kenapa, kasian papa, udah tua, tidak ada lagi wanita yang mau merawat papa nanti. Pesona papa udah di ambil semua sama anak-anak kita." Kelakar Daniel meredakan kecemasan di hatinya.


"Papa mau nyari perempuan lagi, berani sekali ya. Awas aja, ibu potong jagoan papa itu jadiin sate madu." Ancam Kira dengan emosi meledak-ledak. "Aku mau operasi sekarang, awas saja kalau nanti pulihnya lama. Papa aku masukin botol, biar jadi jin" Seru wanita yang sedang menahan sakit kontraksi tersebut menggebu-gebu.


Daniel tersenyum samar, akhirnya, istri keras kepala nya mengalah kalah.

__ADS_1


Dokter segera bertindak setelah mendapat kan kode dari Daniel. Rupanya mereka sedang sekongkol agar wanita itu mau operasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ya ampun, cantik sekali sih cucu oma" Nabila menatap gemas pada bayi mungil ditangannya. Wanita itu sudah tidak berani menggendong, hanya duduk di sofa bersama Sinta dan dara. Hanya ketiga perempuan itu yang masih bertahan, untuk menyaksikan kebahagiaan Daniel dan Kira.


Juga Bintang dan Bastian, keduanya masih berjuang di ujung usia yang sudah mulai rikuh. Keduanya, sering menghabiskan waktu berdua di tempat dimana dulu mereka sering berkumpul. Mengenang masa muda yang penuh lika liku. Hati keduanya hampa, terutama Bastian. Istri tercinta nya memilih menyerah, pada penyakit gula darah yang di deritanya selama beberapa tahun terakhir.


"Muka nya kaya mirip oma Sarah, pasti ibu nya ini sering mikirin oma pasti" seloroh Dara, di benarkan oleh kedua Oma itu.


Kira hanya tersenyum, benar memang, dirinya sering menangis diam-diam karena tiba-tiba merindukan ayah ibunya.


"Makan dulu ya," tawar Daniel dengan membawa piring bubur di tangan nya. "Makan yang banyak, biar cepat sehat, galon di rumah kita tidak ada yang bisa mengangkat nya selain ibu." Kelakar Daniel mengundang tawa semuanya.


"Ishh, jahil banget sih. Istri nya lagi kesakitan malah mau di tinggal nyari perempuan lain." omel Kira masih kesal mengingat momen dirinya meracau bebas karena terbawa suasana. Dia jadi malu sendiri, seperti bukan dirinya saja.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Terlihat seorang gadis kecil tengan memandikan anak ayam nya di kolam renang, dan itu bukan yang pertama kalinya. Semenjak Joi berumur satu tahun, keaktifan nya terlihat lebih waw. Kira yang kalem mulai rajin mengolah vocal setiap hari.


"Astagaaa! Joice! ini kenapa ayamnya di mandiin lagi sih, naak. Tadi pagi kan sudah, ya ampun. Papamu mana lagi?" Omel Kira memijit pelipisnya.


Daniel segera bergegas menghampiri dua wanita kesayangan nya, yang terlihat tengah akan memulai perang.


"Joi, ayam nya bisa mati nak, kalau di mandiin terus. Lihat dia mulai kuyu, suruh kakak kasih hair dryer, biar hangat dan cepat kering bulunya, ya." Daniel mencium pucuk kepala bocah 5 tahun itu, lalu mendorong nya pelan agar segera pergi dari sana.


"Nanti kolamnya biar papa yang bersihin, ibu istirahat gih, yuk. Di dalam Wati lagi buat lapis gula merah, kesukaan ibu. Ayo," Daniel menggandeng tangan sang istri dengan lembut.

__ADS_1


Kalau sudah begini, perannya ganda. Menjadi wasit juga menjadi tameng anak bungsunya. The real bungsu.


__ADS_2