
Sarah mengendap-endap masuk ke dalam rumah, seperti seorang pencuri yang takut ketahuan. Tadi dirumah sakit, dia harus berdebat dengan dokter modus itu, yang ngotot ingin mengantar nya pulang. Dan sekarang Sarah harus terlambat pulang ke rumah.
Klek.. Tiba tiba lampu ruang tamu menyala, dan memperlihat kan seorang pria tengah berdiri sambil bersandar di dinding dengan melipat kan kedua tangan nya. Menghadap persis ke arah Sarah berdiri, menatap nya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apakah rumah ini sudah berganti fungsi menjadi kos-kosan, sehingga kamu bisa dengan bebas keluar masuk tanpa tau aturan. Apa kamu ingin menjadi ja*la*ng, dengan berkeliaran bebas di luar sana!?.." Sarah Mematung, mendengar ucapan menyakitkan dari suami nya.
"Apa ponsel mu rusak, sehingga kamu tidak bisa menghubungi ku meski hanya sekedar mengirimi atau membalas pesan pesan ku?!.." Tanya Angga lagi, masih dengan emosi yang meluap luap. Namum Sarah terdiam di tempat dia berdiri tanpa mengucapkan apa pun.
"Apa kamu tuli, sehingga tidak bisa mendengar suara ponsel mu berdering berkali kali? Hah!.." Angga berteriak sangat keras, lalu berjalan perlahan menghampiri Sarah.
Plakk. Tamparan Angga mendarat sempurna di pipi mulus Istri nya, dengan suara yang begitu nyaring terdengar, menggema di seluruh ruang tamu yang sunyi itu.
__ADS_1
Pipi Sarah memerah meninggal kan bekas jejak telapak tangan besar milik Angga, dan telinga nya terasa mendengung. Sejenak Sarah merasa linglung, hingga hampir saja dia terjungkal ke lantai. Untung saja bi Siti segera memegang pundak Sarah dan membawa dia duduk di sofa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bi Siti tidak sengaja menguping pertengkaran majikan nya, saat dia akan mengambil air minum di dapur. Entah apa yang menahan nya untuk tetap berada sana, sehingga dia sama sekali tidak beranjak dari dapur itu. Malah berjalan pelan mendekati ke arah pembatas antara ruang tamu menuju dapur.
Saat melihat sang majikan di tampar dengan sangat keras, bi Siti sampai terjangkit kaget. Pasal nya, terdengar dari suara nya saja pipi nya terasa sangat ngilu. Apalagi majikan perempuan nya itu. Di tampar sekeras itu, pasti sakit sekali rasa nya.
Saat bi Siti akan berbalik kembali ke kamar, dia menangkap siluet majikan perempuan nya seperti akan jatuh. Tanpa pikir panjang, bi Siti langsung berlari dan memegang kedua pundak majikan nya lalu membawa nya duduk di sofa.
"Bu, apa ibu baik baik saja?.." Kembali bi Siti bertanya, namun Sarah masih terdiam tanpa bicara apa pun. Membuat bi Siti semakin cemas di buat nya.
__ADS_1
"Bibi kembali saja, sudah malam, ibu biar sama saya saja. Akan saya bawa ibu ke kamar." lalu Angga mendekat ke arah Sarah dan berjongkok hendak menggendong nya. Namun belum sempat Angga menggendong istri nya, Sarah langsung menolak nya.
"Aku bisa sendiri.".. Sarah berdiri lalu menoleh kepada bi Siti. " Makasih bi, bibi boleh istirahat sekarang, aku sudah tidak apa apa." Ucap Sarah sambil tersenyum lembut ke arah bi Siti.
Kemudian Sarah berjalan melewati Angga, tanpa menoleh sedikit pun. Perlahan Sarah menaiki tangga menuju kamar, kepala nya terasa sangat sakit, pandangan mata nya mulai mengabur. Namun dia tetap memaksa untuk berjalan.
Sesampai nya di dalam kamar, Sarah langsung bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaian nya. Sejenak di tatap nya bekas telapak tangan suami nya, pipi nya mulai membiru. Ini bukan tamparan pertama nya, tapi ini rasa nya jauh lebih sakit dari yang sebelum nya. Bukan hanya pipi nya yang sakit, tapi juga hati nya.
Saat Sarah keluar dari kamar mandi, dia menoleh sekilas pada suami nya yang sedang duduk di sisi ranjang sambil terus menatap ke arah nya.
Tanpa mempedulikan Angga, Sarah naik ke sisi lain tempat tidur menarik selimut hingga batas leher nya. Dia ingin segera mengistirahatkan tubuh lelah nya, ah, bukan hanya fisik nya saja yang lelah, tapi juga hati dan pikiran nya.
__ADS_1
"Maaf kan aku, Sarah. Aku sungguh tidak bermaksud menampar mu tadi, aku hanya sedang di kuasai emosi. Kamu tidak membalas pesan ku dan bahkan tidak mengangkat panggilan ku, aku mencemaskan mu di luar sana. Tapi kamu sama sekali tidak menghargai nya. Sekali lagi maafkan aku sayang, aku sungguh menyesal." Ucap Angga panjang lebar sambil menatap punggung istri nya, kemudian dia menarik Sarah ke pelukan nya.
Namun Sarah tak bergeming, namun juga tak menolak ketika Angga menarik nya masuk kedalam pelukan suami nya itu. Dia hanya tidak bertenaga lagi untuk memberontak.