Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXVIII


__ADS_3

Tok Tokk tokkk..


"Pak, itu diluar ada ulat bulu. Dibiarin masuk apa gimana?" Reegan sudah terbiasa, dengan ucapan absurd sekretaris nya tersebut.


"Siapa?" Singkat, padat dan jelas.


"Namanya ibu Miranda, tapi gak mau dipanggil ibu, katanya, memangnya saya ini ibu kamu apa. Terus saya panggil mbak juga gak mau, katanya, apa kamu pikir saya ini waitress, enak aja." Nindy selalu berkeluh-kesah pada bosnya tersebut, pasal para wanita yang mendekati atasannya tersebut.


"Sudah kamu tanya keperluan nya apa?" Reegan bertanya masih dengan tatapan mata, fokus ke berkas didepannya.


"Sudah pak. katanya, Kepo. Urus kerjaan kamu aja, urusan bos kok kamu ikut campur." Jelasnya lagi membuat kepala Reegan makin pusing.


"Sudah sudah, itu kamu bawa masuk aja. Seperti biasa kamu duduk di meja itu, pura-pura sibuk dan ..."


"Tuli. Ngerti pak, asal tidak ada lembur hari ini. Akan saya lakukan dengan suka rela." Wanita itu tersenyum sumringah, kemudian berlalu dari hadapan Reegan, untuk menjemput ulat bulu versi dirinya.


"Mari nona, maaf lama, Pak Reegan nya habis boker. Beliau diare, sebenarnya tidak ingin terima tamu, tapi kasian sudah berkunjung. Takut mubasir. Jadi tidak perlu Salaman, toilet pak Reegan kerannya macet, jadi cuma pake tisu. Biar lebih estetik, katanya." Ucap wanita itu sekenanya.


Jika semua alasan yang lebih halus stoknya sudah habis, maka gunakan alasan yang lebih bisa langsung dicerna tanpa harus dikunyah terlebih dahulu. Itu lebih masuk akal. Begitulah pikir Nindy, si otak kreatif dibelakang seorang Reegan.


Wanita itu mendengus kasar, mendengar info tidak faedah dari sekretaris itu. Kemudian masuk keruangan Reegan melewati Nindy.


"Siang Gan, ganggu gak nih. Aku kebetulan lewat jadi mampir. Gak apa-apa kan, kata sekretaris kamu itu, kamu diare. Berobat yuk, aku temani." Ingin sekali Reegan melempar kepala Nindy dengan laptopnya, namun mengingat otak cerdik Nindy yang berguna, dia mengurungkan niatnya.


"Ya, salah makan aja. Gak apa-apa, kamu mau ngapain mampir kesini. Aku lagi sibuk kalau kamu gak liat." Selalu se to the point itu.

__ADS_1


"Ck, kamu ini gak pernah berubah. Selalu saja dingin dan datar. Pantas aja Sasa gak Betah sama kamu." Ujar wanita itu sok tau.


"Memang kenapa dengan si micin? Kenapa dia harus betah sama aku. Aku juga gak betah berada didekat dia atau wanita manapun." Ucap pria itu lagi tanpa menoleh pada wanita itu.


"Issh, untung aja aku udah biasa sama sikap ketus kamu yang kaya gini. Makan siang yuk, aku traktir. Udah jam makan siang kan, itu sekretaris kamu kenapa malah duduk di sana, pasti mau nguping. Kamu kok betah punya sekretaris begitu, kaya suka kepo gitu sama atasan, pasti kamu risih banget ya, sama kelakuannya." Cerocos wanita itu seperti petasan, ingin sekali Reegan menyumpalnya dengan tisu toilet.


"Kamu sudah selesai ngomong nya, dia memang mejanya ganda, kadang diluar kadang didalam. Pekerjaan nya juga ganda, makanya, bayarannya mahal. Termasuk juga mengurus makan siang aku, pakaian yang aku pakai baju, dasi, sepatu bahkan dalaman apa yang harus aku kenakan. Itu urusan Nindy, namanya Nindy kalo kamu tadi gak sempet kenalan. Sampai disini kamu paham kan, dengan pekerjaan ganda yang aku maksud." Ujar pria itu datar, membuat wajah Miranda pias. Pikiran kotor sudah berkelebat di otaknya, lalu melirik kearah Nindy yang seolah-olah sedang Sangat sibuk di laptopnya. Padahal wanita itu tengah mengisi TTS.


"Nindy, kamu pesan makan siang buat kita, aku lapar. Dan kamu kalo udah gak ada yang mau diomongin lagi, boleh keluar. Aku mau ada pekerjaan tambahan sama dia, kamu pasti paham kan. Jadi gak perlu aku usir dua kali." Pria itu berkata sambil menunjuk Nindy, dengan dagunya seraya membuka jas yang dia pakai, lalu melonggarkan dasinya.


Membuat pikiran picik wanita itu semakin tidak menentu, tidak mungkin kan mereka akan melakukan itu diruangan Reegan. Dia yang sudah mengejar Reegan dari masa sekolah sampai kuliah saja, belum berhasil hingga sekarang. Lalu kenapa wanita yang penampilan dan kecantikan nya, tidak seberapa itu bisa membuat Reegan menyukainya.


"Aku sekalian dipesankan juga ya, mbak. Gak apa-apa kan, Gan. Nanggung juga, tadinya kan aku niat ajak kamu makan siang. Biar aku aja yang bayarin. Mbak tolong pesankan makanan sekalian buat saya juga." Perintah nya seenak dengkul.


Nindy menatap Reegan, begitu juga sebaliknya. Seperti nya mereka berdua harus menggunakan rencana B. Namun otak Miranda yang sudah terlanjur terkontaminasi, berpikir lain ketika melihat keduanya saling bertatapan. Dia merasa senang, bisa menggagalkan rencana kedua orang itu, untuk berbuat mesum, begitulah pikiran kotor wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini serius kamu yang pesan semuanya, sebanyak ini Siapa yang makan." Ujar Miranda kesal, bisa-bisanya wanita itu memesan makanan porsi 5RT seperti ini.


"Kamu liat nya gimana? Jelas dia yang pesan lah, Nindy itu kalau makan memang banyak, segini nih, paling baru setengah lambung nya yang terisi." Reegan melirik Nindy yang sedang sibuk menata makan siang mereka, ingin sekali pria itu tertawa keras melihat reaksi Miranda, yang keki dengan tingkah sekretaris nya.


"Makan mas Reegan, ini udah aku taruh lauknya. Mau disuapin seperti biasanya, apa makan sendiri." Hampir saja kedua mata Miranda loncat keluar, karena melotot terlalu keras.


Apa dia tidak salah dengar, sekretaris itu memanggil Reegan dengan sebutan, mas.

__ADS_1


"Heh, kamu itu yang sopan dong kalo sama atasan. Bos kamu panggil seenaknya begitu." Ucap wanita itu tidak terima.


"Loh, memang salah saya dimana nona? Kan ini sedang jam istirahat, lagian mas Reegan aja tidak keberatan saya panggil, mas. Ya kan kan, mas Qq." Nindy berucap dengan gaya dibuat malu-malu, membuat Reegan benar-benar ingin terbahak keras sekarang.


"Kamu kalo mau ikut makan jangan banyak Protes, itu tagihannya bayar dulu, kamu gak lupa kan tadi kamu bilang kamu yang traktir." Ujar pria itu lalu duduk disamping Nindy.


"Duduk sini aja, Gan. Kamu mau di suap kan, sini sama aku aja. Nanti kalo ada yang masuk, liat kalian suap-suapan bisa nimbul kesan buruk buat kamu. Ingat, Gan. Perusahaan kamu baru mulai merangkak naik, kalo ada gosip tentang kalian keluar, bisa bahaya kan buat perusahaan kamu." Ucap wanita itu sok bijak, dia tidak rela Reegan disuapi oleh Nindy.


"Aku jalan sama Nindy itu udah lama, kamu aja yang baru tau, orang-orang juga udah pada tau semua. Lagian urusan perkembangan perusahaan aku itu urusan aku, bukan kamu. Kalo sekiranya tidak bisa membantu, tidak usah membebani aku dengan stigma-stigma negatif kamu itu." Ketus Reegan menatap tajam kearah Miranda, membuat wanita itu langsung kicep.


"Suap Nin, aku masih banyak kerjaan abis ini. Kamu makan nya nanti aja, biar kamu bisa fokus makan yang Banyak. Kamu itu kurus banget, kebanyakan di sedot sih kamu. Jadi menciut gini." Tidak mungkin Reegan bergantian sendok dengan Nindy. Nindy Kurus? Yang benar saja, wanita itu bahkan semakin montok semenjak menjalin hubungan dengan Abdi, asisten nya. Abdi memang benar-benar lihai membuat wanita itu "berisi".


Suapan pertama sudah membuat asap di kepala Miranda mengepul. Miranda meletak kan sendok nya dengan kasar, lalu beranjak mengambil tas, dia sudah tidak tahan lagi melihatnya. Dia menatap tubuh berisi Nindy dengan tatapan sinis, otak piciknya berpikir, pasti Reegan yang sudah membentuk tubuh montok Nindy tersebut.


"Aku pulang, Gan. Kamu jangan lupa dengan acara kumpulan alumni kita ya, kamu salah satu panitia nya juga. Aku balik dulu." Ucap wanita itu ingin mencium pipi Reegan, secepat kilat Nindy mengarahkan sendoknya menyamping, hingga mengenai hidung silikon milik Miranda. Wanita itu kesal bukan main, namun harus tetap menjaga image nya didepan Reegan.


"Maaf nona, saya sengaja, eh maksudnya gak sengaja." Ujar Nindy seraya menyodor tisu bekas pakai ditangannya. Nindy memang sebaik itu, hingga mau berbagi kepunyaannya dengan suka rela.


Miranda mengambil tisu nya sendiri, mengelap hidungnya kemudian beranjak keluar. Setelah pintu tertutup dengan suara keras.


Tawa kedua manusia mines akhlak itupun pecah.


Klek


"Ck, malah pada ketawa, lama banget sih, basmi satu serangga juga." Dumel pria itu duduk disamping sang kekasih.

__ADS_1


"Aku laper yang, ini punya pak Reegan ya. Nih pak makan sendiri, drama-dramaan nya sudah kelar." Ujar pria itu sewot, kemudian menaruh piring didepan bosnya. Semenjak kasus sang kakek, Reegan tidak ingin dipanggil tuan lagi. Baginya panggilan itu mencerminkan kediktatoran kakeknya, dan dia tidak ingin ada bayang-bayang sang kakek dalam hidupnya lagi.


"Asisten gak ada akhlak." Reegan lanjut memakan makanan nya sendiri, karena memang dia sudah sangat lapar. Setelah selesai makan, Reegan melakukan panggilan video pada Sarah. Kegiatan rutinnya selama sebulan ini.


__ADS_2