Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXXVII


__ADS_3

Suasana pagi di rumah besar Reegan tampak rusuh, si kecil Killa ingin membawa semua jenis mainan yang dia punya. Tentu saja itu membuat Reegan sedikit dongkol.


"Pokonya Killa mau bawa semua, nanti Daniel yang jemput bawa mobil gede." Ujar gadis kecil itu keras kepala.


"Bawa ini aja dek, yang dikoper ungu tinggal aja ya." Si sulung pun berusaha memberikan penawaran, dengan nada selembut mungkin.


"Gak ya gak! Pokok Killa mau bawa semuanya, titik. No debat!" Teriakan mulai menggema di seluruh penjuru ruang keluarga itu.


"Oke, oke. Bawa aja, sudah gak apa-apa. Ayok kak, bantu ayah bawa ke mobil, bawa aja semuanya." Reegan akhirnya menyerah, anak itu semakin dilembutin makin menjadi. Apa kabar jika dikerasi.


"Ini mau dibawa semua yah? 4 koper lo, kalo ayah kurang jelas liatnya." Ujar si sulung ragu. Dia jadi merasa tidak enak pada keluarga pamannya itu.


"Ya ayah tau, ayah liat semuanya. Ayah belum setua itu, enak aja." Balas Reegan sewot.


"Ck, harus ayah jangan iya iyakan aja. Kerasin dikit kenapa. Itu jadinya ngelunjak. Beda banget sama Keyra, gak tau turunan siapa yang kaya gitu." Ujar si sulung tak kalah sewot, seraya melirik kilas pada sang ayah.


"Eh, itu maksudnya gimana kak? Kenapa kamu ngomongnya sambil ngelirik ayah kaya gitu, ayah gak gitu ya. Enak aja." Lalu melirik ke arah tangga dimana ibu dan ayahnya sedang duduk disana, memperhatikan kelakuan anak dan cucunya yang 11-12.


"Kamu kenapa ngeliatin mama sama papa gitu, Gan?" Ujar sang ibu juga ikut menyolot.


"Ya itu kelakuan aku semua. Sudah kan, sudah bisa berangkat belum. Ayo kak, bantu angkat."


"Mukanya jangan ditekuk gitu kak, gak enak liatnya." Ujar Reegan lagi memancing masalah.

__ADS_1


"Ya sudah, jangan diliat." Jawab Keenan Acuh.


"Mobilnya yang ini? Mana muat yah, ganti. Ini nanti aku yang pake sama adek." Lanjut Keenan protes.


"Ck, kamu ini. Apa-apa yang ayah buat selalu salah Dimata kamu, heran ayah. Kaya ada dendam gitu sama ayah." Ujar Reegan mulai mendrama.


"Ck, gak usah drakor. Ganti dulu ini mobilnya. Ayah gak liat 4 koper itu gede semua." Balas Keenan menunjuk dengan dagunya. "Mang, tolong mobilnya ditukar dulu."


"Tar lulus mau kuliah dimana kak?" Tanya Reegan menatap sang anak.


"Belum tau, ikut adek aja." Jawab Keenan sekenanya.


"Kok ikut adek, kalo Keyra gak lanjut kuliah. Kamu mandek, gitu?" Balas sang ayah sedikit nyolot.


"Eh, jabawaban kamu kok ambigu gitu? Awas aja ya kalo sampe gak lulus. Malu ayah." Balas Reegan tak terima, mendengar jawaban ambigu sang anak membuatnya sedikit emosi.


"Lagian ayah belum apa-apa udah nanya kuliah aja. Perjuangan nuju kesitu masih lama, aku masih kepikiran adek. Lulus nanti aku mau dia kuliah, cita-citanya pengen jadi dokter itu harus terwujud." Ujar Remaja itu sendu, tatapan menuju ke ujung kaki yang sedang dia mainkan ke ubin.


"Kemaren aku kerumah sakit lagi, nanya soal donor mata buat adek, katanya masih belum ada. Aku udah nawarin mata aku, pasti cocok. Dokternya bilang, aku nya mati dulu baru bank mata mau nerima donor mata aku. Apa harus gitu ya yah." Lanjut Keenan Menatap ayahnya dengan tatapan gusar, dia ingin adiknya dapat melihat sebelum mereka lulus SMA.


Untuk itu dia tidak suka, jika sang ayah selalu menyinggung soal kuliah, dia tidak ingin melukai hati adik kesayangannya itu.


"Gak lah, sembarangan aja kalo ngucap. Becanda itu, mana ada gitu. Gak, jangan dengerin. Becanda itu dokternya, kamu udah sering nanya gitu, jadi mungkin dia udah gak tau mau jawab gimana lagi." Ujar Reegan sedikit emosi, enak aja dokter itu berbicara sembarangan pada putranya.

__ADS_1


"Udah, kamu fokus sekolah aja sama jagain adek. Urusan donor mata itu biar ayah sama om Satria yang mikirin, kamu jangan. Maaf kalo ayah suka mendesak kamu soal kuliah, ayah hanya mau cepat pensiun. Pengen banyak waktu dirumah sama kalian. Umur gak ada yang tau, makanya sebelum Tuhan memanggil, ayah mau menemani bunda jaga kalian." Ujar Reegan melanjutkan.


"Bunda kasian, harusnya gak boleh banyak capek apalagi lelah pikiran. Ngurus Killa aja udah capek banget, belum lagi kita semua. Bunda sering mijit pinggang nya diam-diam pake minyak urut, yang bunda sembunyikan di dapur. Trus langsung dibilas lagi biar ayah gak nyium aromanya. Tengah malam suka keluar kira ayah udah tidur. Ayah suka sedih liatnya, gak pernah mau bilang kalo lagi sakit. Milih mendem biar kita gak kepikiran." Ujar pria itu berkaca-kaca.


Itulah alasannya, Reegan tidak pernah bisa menduakan sang istri. Pengorbanan nya sudah melewati limit, tinggal dirinya saja yang harus tau diri sebagai suami. Biarlah orang lain menganggapnya cemen, atau bucin akut. Nyatanya memang dia secinta itu pada sang istri, mau gimana lagi.


"Ya yah, maaf juga udah sering kesal sama ayah tanpa sebab. Aku sakit hati setiap melihat adikku, Selalu dihina bahkan dikerjain habis-habisan sama orang lain. Aku gak terima, kenapa gak aku aja yang buta. Atau sama-sama buta sekalian, biar adil." Ujar Keenan dengan suara serak. Setiap kali membahas adiknya, Keenan selalu mellow.


"Gak nak, jangan ngomong gitu. Nanti bunda dengar bisa sedih. Bunda itu sensitif, tapi diam. Disyukuri aja, artinya Tuhan tau yang terbaik bagi umat-nya. Kamu itu dikasih sehat sempurna, tujuannya agar bisa jadi pelindung adek. Udah jangan sedih-sedih lagi, nanti bunda liat." Reegan mengusap air matanya sendiri, lalu bergegas menuju mobil yang sejak tadi sudah menunggu.


Rupanya kang Ujang mengerti, jika anak dan ayah itu sedang membahas hal yang serius, jadi sengaja tidak dia ganggu.


"Bilangin om Bintang, semua maunya dedek jangan dituruti. Gak enak, malu sama tante Sinta. Kalo ngamuk-ngamuk disana, suruh langsung antar pulang aja. Nanti malah bunda kepikiran kalo dedek banyak berulah disana." Selalu sebijak itu anak sulung Reegan tersebut.


"Ya, nanti ayah bilangin om Bintang. Kamu sama adek hari ini mau kemana selain beli buku, uang masih ada. Nanti ayah transfer lagi, belikan adek baju yang bagus sama aksesorisnya sekalian. Gak pernah mau minta apa-apa itu, kalo gak dibelikan. Jangan nanya, langsung beli aja klo menurut kamu bagus." Titah nya pada sang anak. Yang hanya dibalas anggukan kepala tanda sepakat.


"Ayah berangkat dulu, abis antar dedek langsung otw pemancingan sama personil ayah sambal. Dedeknya panggil dulu, pasti lagi dramaan itu didalam. Pamit kaya orang mau berangkat perang itu pasti." Ujar Reegan Suudzon.


Setelah si tuan putri duduk manis didalam mobil, Reegan pamit pada anak sulungnya. Tentu saja, Setelah memberikan banyak ultimatum pada sang anak, Reegan berangkat menuju rumah Bintang Bersama putri bungsunya.


Sementara Sarah hanya mengintip dibalik tirai dilantai atas, ini bukan yang pertama kalinya Killa pergi untuk menginap. Paling sering dirumah Angga karena memang dekat. Namun mengingat kali ini bukan hanya pergi menginap saja, melainkan ada misi dibaliknya. Sarah merasa gagal menjadi seorang ibu.


Dia sengaja tidak turun, karena rasanya berat, saat yang seharusnya menjadi tanggungjawab nya, malah seolah dilimpahkan pada orang lain. Itu membuatnya malu pada dirinya sendiri. Sarah mengusap air mata nya, ada perasaan campur aduk dihatinya. Namun seperti biasa, wanita itu lebih memilih untuk memendamnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2