
"Katakan apa tujuan mu kemari, aku sedang sangat sibuk jika saja kau tidak bisa melihat nya." Tanya Daniel tak sabar. Dia ingin wanita itu segera pergi dari sana.
"Kau yakin membiarkan sekretaris mu, mendengar apa yang akan ku katakan padamu, Dan?" tanya Asara ambigu, membuat dahi Daniel mengerut penuh tanya.
"Katakan saja, tidak ada rahasia yang tidak boleh dia dengar. Kecuali rutinitas bercinta dengan istri ku tentunya, selebihnya tidak masalah." Balas Daniel enteng, membuat bola mata kedua wanita itu hampir meloncat keluar.
Asara semakin di dera rasa cemburu dan amarah yang semakin bertumpuk didadanya.
"Baiklah jika kau memaksa," ucap Asara menyerah.
"Aku hanya ingin membuat kesepakatan dengan mu," Asara menjeda kalimat nya untuk melihat reaksi Daniel, namun pria itu masih tak bergeming. "Aku ingin kau menikahi ku, maka rahasiamu dan seluruh keluarga mu aman dari istri mu." Ungkap Asara to the point, percuma berbasa-basi Dengan pria sejenis Daniel pikirnya.
Hampir saja, sekretaris Daniel menelan bulat-bulat polpen yang sedang di gigitnya, untuk mengurangi rasa bosan dan lelah berdiri.
Daniel melotot tak percaya dengan apa yang dia dengar, apa wanita itu sudah gila pikirnya.
"Kalau bicara yang jelas, jangan seolah kau tau segalanya tentang hidup kami. Apa aku mengenal mu dimasa lalu?" mata Daniel memicing penuh selidik, membuat Asara gugup.
"Ti...dak tentu saja tidak, aku hanya tau saja, seseorang yang memberikan semua informasi tentang masa lalu istri mu." Elak nya dengan terbata.
"Lalu apa yang kau ketahui?" tantang Daniel berusaha mengorek informasi seberapa jauh wanita itu mengetahui tentang istri nya.
"Kau yakin dia boleh ikut mendengarkan nya? bukankah informasi yang akan aku sampai kan ini, merupakan aib keluarga." Jawab Asara menyeringai puas.
Daniel terdiam sejenak, lalu menoleh pada sekretaris memberikan sebuah kode yang hanya mereka saja yang paham.
Setelah kepergian sang sekretaris, Asara mengambil tempat duduk di sofa dengan gaya sensual. Tidak peduli dengan perutnya yang terlihat membuncit, wanita itu tidak takut menggunakan dress ketat hingga menekan perut nya.
"Lanjut kan apa yang ingin kau sampai kan padaku, waktu ku tak banyak untuk di buang percuma." Ujar Daniel mulai jengah.
"Sabarlah sedikit, apa kau tidak ingin duduk disini bersamaku? Ayolah Daniel, aku tidak akan menggigit mu," ucapnya menanggapi perkataan Daniel dengan santai.
"Baiklah kalau kau tidak ingin duduk di dekat ku, aku saja yang duduk di dekat mu." Putus Asara sungguh tak tau malu, wanita itu bangun dari duduk nya kemudian menghampiri Daniel.
"Apa kau ingin aku duduk di pangkuan mu? Aku bisa bermain dalam gaya apa saja, ku jamin kau akan terpuaskan. Perutku ini tidak akan menggangu kinerja ku dalam memuaskan mu, Dan." Perlahan Asara bergerak semakin mendekat, Daniel masih belum bergeming.
Saat akan duduk di pangkuan Daniel, pria itu dengan kasar mendorong nya hingga terjerembab di lantai.
"Auwww.. Apa kau gila, aku sedang hamil, dan ini akan menjadi calon anakmu juga. Jangan kasar padaku, rahasiamu akan aku katakan pada Kira jika kau tidak menuruti keinginan ku." Teriaknya lantang, wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
Daniel tersentak kaget, lalu menatap wanita dihadapan nya dengan tatapan menyelidik. Siapa kah wanita itu sebenarnya, kenapa dia bisa tau nama Kira yang sudah mereka anggap mati.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Daniel dengan rahang mengeras, tatapan matanya begitu mengerikan di penglihatan Asara. Menyesal sudah dia bisa sampai keceplosan akibat emosi nya yang tidak stabil.
"A..ku.. aku Asara, ya Asara!" elaknya terbata-bata, Asara mulai merasa udara disekitarnya menipis. Dia mulai merasa sulit untuk bernafas.
"Katakan padaku, siapa kau? Atau aku akan membuat hidup mu berakhir dengan tidak baik, Asara." Tekan Daniel mencengkram pipi berisi Asara, hingga air mata wanita itu lolos dipipinya. Daniel tetap tidak peduli.
"Katakan!" Teriak Daniel mulai tak sabar, apapun yang berhubungan dengan istri nya, tidak akan dia biarlan begitu saja.
"A..ku.. ti..dak..tau Daniel, le.pas.kan aku, please!" mohon Asara dengan wajah penuh ketakutan.
"Katakan atau kau aku kirim ke neraka sekarang juga, siapa kau sebenarnya?!" lagi-lagi Daniel tak memberi celah wanita itu untuk bebas, bahkan tidak ada sedikit pun rasa iba dia perlihatkan di wajahnya.
"A.ku..Ki..lla," akhirnya wanita itu menyerah kalah, Daniel menyeringai penuh arti. Lalu beranjak dan menghubungi seseorang.
"Bawa dia dari kantor ku sekarang juga, atau kau akan melihat nya hanya tinggal mayat." Daniel memutuskan sambungan secara sepihak kemudian menatap nyalang pada Asara.
"Aku sudah tau sejak lama siapa dirimu, namun aku biarkan berkeliaran bebas bukan karena aku berempati padamu. Aku melakukan nya karena terikat sebuah kesepakatan, jika tidak, kau sudah ku jebloskan ke penjara hingga membusuk disana. Itu pantas untukmu, wanita menjijikkan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginan nya." Sederet kata-kata kejam Daniel seperti ribuan belati yang menghujam dada Asara.
Hati wanita itu sakit tak terkira, pria yang dia harapkan sebagai tumpuan nya, kini semakin jelas tak pernah menoleh sekalipun padanya.
"Topengmu sungguh tak membantu Killara, dalam wujud seperti apa dirimu, sama sekali tidak sedikit pun menarik perhatianku. Kau dan Justin adalah pasangan paling cocok, bedanya, Justin memilih untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Tapi kau, masih tenggelam di dasar jurang penuh lumpur, tanpa berusaha sedikitpun untuk keluar dari sana. Kau sungguh menyedihkan!" Papar Daniel panjang lebar, pria itu terlihat cukup puas melampiaskan amarahnya yang selama ini dia pendam.
Jika saja tidak berhutang kehidupan pada Justin, dia tidak akan mau melepaskan keduanya dari jerat hukum. Namum janji tetaplah janji, Justin pun akan menyerahkan dirinya pada polisi. Namun pria itu memohon kerendahan hati Daniel, agar diperkenankan untuk menemani Killa hingga melahirkan anaknya.
Bahkan Justin sampai memohon dibawah kaki Daniel, agar dirinya bisa menyambut kelahiran sang buah hati, tanpa terikat status sebagai seorang narapidana. Pria yang sudah babak belur itupun Daniel ampuni, dengan syarat, agar menjauh Killa dari kehidupan nya dan Asha. Namun nyatanya, wanita penuh ambisi itu tak bisa menerima kebaikan hati Justin untuk menikahinya.
Klek
Daniel menoleh ke arah pintu, terlihat seorang pria berjalan tergesa-gesa.
"Maafkan aku Daniel, aku gagal menjauhkan Killa dari kehidupan mu. Setelah ini aku akan pastikan, dia tidak akan menggangu hidup tenangmu lagi." Ujar Justin merasa bersalah.
"Ayo, berhenti permalukan dirimu, La.." ucap Justin lembut penuh permohonan, "apa dia tidak apa-apa?" Justin seketika tersadar akan posisi Killa, yang tidak duduk dengan benar kemudian melirik sekilas pada Daniel.
Daniel yang tersadar pun segera menjelaskan, "aku mendorong nya, reflek. Dia sudah seperti ******, hendak memperkosaku." Beber Daniel apa adanya.
Justin hanya bisa menghela nafas berat, entah apa kabar bayinya di dalam sana. Jatuh terduduk sangat tidak baik bagi wanita hamil, apalagi hamil muda.
__ADS_1
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ujar Justin dilanda kepanikan lalu menggendong Killa tanpa menunggu jawaban wanita itu.
Killa yang tak siap terpekik kaget akan perlakuan Justin, berusaha berontak. Namun pria itu seperti nya sudah tidak ingin memberikan celah apapun padanya.
Daniel sedikit merasa bersalah, dia hanya merasa kasihan pada Justin. Pria itu begitu tulus, dan sangat mengharapkan bayi nya, meski tau jika Killa sama sekali tak menginginkan nya.
Daniel memanggil sekretaris nya melalui pesan interkom.
Klek
"Ya pak?"
"Kamu ikuti pasangan yang baru saja keluar dari sini, urus semua biaya dirumah sakit. Berapa pun, dan rekomendasi dokter Bramantyo. Dia dokter kandungan terbaik dirumah sakit mertuaku," titah Daniel yang hanya di jawab anggukkan kepala tanda mengerti.
Setelah kepergian sang sekretaris, Daniel mengusap wajah dengan kasar. Dia sama sekali tak berniat jahat dengan menghilangkan bayi tak berdosa itu, hanya saja sikap ibunya yang menjijikkan. Membuat Daniel bisa berbuat setega tadi, dia hanya merasa bersalah juga sedikit menyesal. Kenapa harus selalu berhubung dengan orang orang, dari masa lalu yang sudah susah payah mereka lupakan.
Lalu dia kembali teringat dengan janjinya pada seseorang, segera Daniel menghubungi nya.
"Halo" jawab seorang wanita diseberang telpon.
"Maafkan aku, aku lupa jika kita ada janji. Aku akan segera kesana, apa yang harus aku beli untuk baby cantik nya?" tanya Daniel antusias, raut wajahnya berubah cerah saat membahas soal seorang bayi perempuan, dengan seseorang diujung telpon.
"Susu, popok, dan berjuta-juta cinta untunya. Itu saja," seloroh seseorang diseberang sana tertawa pelan dan menular pada Daniel.
"Baiklah. Tunggu daddy, Misha.." kekeh Daniel kemudian memutuskan sambungan. Suasana htinya sudah mulai membaik, bahkan dia langsung melupakan kejadian yang baru saja terjadi diruangan nya.
Bergegas Daniel meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan ruangan nya. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan putri cantik nya, Misha. Yang baru berumur satu Minggu tersebut. Pria itu tak henti menebar senyum pada para karyawan, yang dia jumpai sepanjang lorong kantor menuju basement. Membuat semua orang terheran-heran, pria dingin itu begitu ramah hari ini.
Banyak yang berasumsi, mungkin istri nya sedang hamil, jika mengingat pernikahan mereka yang sudah hampir 5 bulan tersebut.
"mungkin istri nya pak bos sedang hamil, makanya bos terlihat sangat bahagia sekali" ucap seorang wanita menduga-duga.
"Kau benar, sudah hampir 5 bukan, bukan?" Timpal temannya meyakinkan.
"Ah, aku juga ingin mengandung anaknya..." harap seorang karyawan wanita, mesem-mesem sendiri dalam khayalan tingkat akutnya.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, jatuh itu rasanya sakit." peringat seorang temannya.
Dan banyak lagi asumsi-asumsi yang masih terdengar jelas di telinga Daniel, namun pria itu memilih untuk mengabaikan nya. Hatinya terlalu bahagia untuk di kacaukan oleh asumsi para karyawan nya. Akhirnya, hidup nya sudah lengkap, memiliki putri yang cantik tentu akan menambah kebahagiaan nya.
__ADS_1