
Di tempat lain, terlihat seorang wanita sedang duduk menghadap sebuah Easel yang menjepit kanvas yang akan dia lukis. Sambil memegang sebuah palet di tangan kiri nya dan kuas si tangan kanan nya, dia tampak sedang berpikir.
Wanita itu adalah, Sarah. Setelah dia sampai di rumah ayah nya, Sarah memutuskan untuk membersihkan rumah terlebih dahulu, sebelum dia mulai melakukan pekerjaan nya.
"Neng Sarah, ini kang Sadin, neng" Seseorang berteriak dari arah pintu belakang rumah Sarah.
Sarah berjalan menuju sumber suara dan membuka pintu belakang, dia melihat kang Sadin sudah selesai memanen bermacam-macam jenis sayur, yang di tanam oleh ayah nya.
"Sudah semua nya, kang?.. Ini langsung mau di antar semua ke pengepul, kang? Banyak juga ya, mau di pesanin pickup nggak kang, nggak muat ini kalau pake satu motor soalnya." Sarah nampak berpikir, melihat ada 3 karung besar di depan nya, tidak mungkin bisa di bawa sekali dengan satu motor pikir nya. Jika bolak balik, rumah mereka lumayan jauh dari pasar.
"Nggak usah neng, akang sudah minta tolong sama kang Ujang, nanti bagian kang Ujang biar akang aja yang kasih. Cukup uang bensin aja, gitu katanya tadi." Jelas Kang Sadin. "Ini akang mau pamit ke pasar dulu, takut nya neng Sarah sudah mau balik ke rumah sakit, makanya akang manggil. Biar tau uang hasil jual nya nanti mau di antar kerumah apa langsung ke rumah sakit aja." Jelas kang Sadi lagi.
"Owh, gitu. Kata ayah nggak usah bagi dua hasil nya kang, tar semisal laku semua 100rb akang ambil 70rb sisa nya baru kasih ayah, gitu pesan ayah tadi."
"Eh jangan neng, kebanyakan. Akang nggak enak, ini aja udah syukur, cuma pergi jual dapat bagian setengah nya. Kaya biasa aja, bagi dua." Ucap kang Sadin merasa tidak enak, pasal nya hanya pergi menjual saja di kasih setengah bagian, walau kadang dia sering nolak namun pak Ramdhan selalu memaksa. Rejeki jangan di tolak katanya, pamali.
__ADS_1
"Nggak apa kang, jadi nanti akang ngasih kang Ujang seperempat dari hasil penjualannya, setengah nya buat kang Sadin, sisa nya baru kasih ayah. Kata ayah manen itu juga pake tenaga, cape, Tadi kang Sadin manen nya sendirian, ayah nggak bantuin. Nurut aja kang, kasian tar ayah malah kepikiran, ya kang." Ucap Sarah memohon setengah memaksa. Dia tau, orang seperti kang Sadin tidak akan serta merta menerima sesuatu yang bagi mereka tidak pantas mereka terima.
"Iya udah deh, neng. Jadi tar hasil nya langsung bagiin aja gitu ya, kang Ujang seperempat nya. Soalnya dia nggak langsung balik, masih mau nanya kerjaan ngampas barang, di toko grosir sembako depan pasar." Ujar kang Sadin pada Sarah.
"Iya, kang. Akang atur aja buat bagian nya kang Ujang, kalau bagian ayah tar antar kerumah aja, aku sore baru balik ke rumah sakit." Jelas Sarah.
"Baik, neng. Kalo gitu akang berangkat ke pasar dulu, sekalian manggil kang Ujang di sebelah."
"Iya, kang hati-hati." Sarah kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Iya, pak. Ada apa?".. Bi Siti berjalan tergesa-gesa dari belakang, tadi sehabis masak dia kembali ke kamar karna merasa kurang enak badan.
"Sarah belum pulang?".. Tanya Angga tanpa basa basi.
__ADS_1
"Belum, pak. kemarin katanya mau nemenin ayah mertua nya bapak di rumah sakit sampe keluar." Ucap bi Siti takut-takut.
"Gila apa dia, trus aku gimana? Dasar istri nggak punya otak! Angga berkata dengan nada marah. "Liat aja, kamu akan nyesal udah mengabaikan aku seperti ini." Angga berkata sambil meninggalkan bi Siti yang masih mematung mendengar ucapan majikan nya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hallo mas, udah kangen ya sama Lusi..." Terdengar jawaban dengan nada manja di seberang telpon.
"Kamu memang yang terbaik, tau aja apa yang mas rasain." Ucap sang pria sambil terkekeh pelan, dengan segala rayuan ala buaya buntung.
"Nanti malam mas nginap di apartemen lagi, ya. Mas lagi sumpek di rumah. Kangen kamu kelonin kaya semalam." Ucap nya lagi dengan jurus seribu jalan menuju ************ eh maksudnya, menuju roma.
"Tuh kan, aku bilang juga apa, mas nginep aja lagi. Mas Angga, pasti bakal kangen sama elusan manja tangan nya Lusi, yaa kan. Lagian Lusi juga masih kangen sama mas." Ucap nya dengan suara manja yang di buat mendayu-dayu.
Pria otak ************ itu pun tertawa bangga, pria itu adalah Angga. Sudah satu tahun ini, dia menjadi kan Lusi, sekretaris nya sebagai partner ranjang. Pekerjaan tambahan yang tentu saja Lusi sukai, bagaimana tidak, pundi-pundi di rekening nya terus mengalir bagai air.
__ADS_1
"Iya sudah aku siap-siap dulu, kamu pake lingerie yang aku belikan kemaren ya, yang warna merah." Angga kemudian mengakhiri panggilannya.