
Joi sebenarnya sudah bangun saat Jovan terus mengoceh tadi namun dia sengaja diam. Joi ingin tau, seberapa menyesal nya Jovan atas perbuatannya. Joi melirik nakas, melihat jam weker sudah menunjukkan pukul 1 lewat 17 menit. Sudah siang pantas saja dia kelaparan.
Joi grasak-grusuk mencari tasnya, dia ingin mengambil ponselnya, Joi khawatir orang tua nya menelpon Dimas.
Klek
"Nyari apa?" suara bariton Jovan membuat Joi kaget dan terjeduk pinggir meja. Gadis itu meringis kesakitan, Jovan segera berlari kecil dan membawa Joi ke sofa.
"Kenapa tidak hati-hati sih" Jovan mencium kening Joi yang tergores kecil. "Aku ambil salep dulu" Jovan bergegas mengambil salep yang semalam dia pakai, lalu kembali mengolesnya di kening Joi.
"Udah" Jovan menatap manik Joi yang sejak tadi menatap nya tanpa berkedip. "Kenapa? aku tampan ya?" goda Jovan menaikkan alisnya.
Joi melengos malas, "aku mau pulang" ujar Joi meremat ujung kemeja yang dia pakai.
Jovan meraih tangan Joi, lalu berjongkok di depan gadis itu. Joi hanya menatap nya datar.
"Ya, nanti aku antar pulang. Tapi kita bahas masalah kita dulu, ya?" Jovan berbicara sangat lembut dan menatap Joi penuh harap.
"Tidak perlu, aku tidak akan minta tanggung jawab apa-apa" sudah Jovan tebak, pasti begini jawabannya.
"Tapi tetap saja aku harus bertanggung jawab, bagaimana jika kau hamil? apa yang akan kau katakan pada orang tua mu?" Jovan mencoba meruntuhkan dinding pembatas diantara mereka.
"Tinggal bilang aja, aku diperkosa orang gila" balas Joi ketus. Jovan menarik nafas dalam-dalam, harus sabar batinnya mengingat kan.
"Joi, aku menyukai mu sejak hari pertama aku mengajar, lalu perlahan-lahan aku mulai jatuh cinta padamu. Kau pikir aku hanya menghukum mu saja diantara banyak siswa itu tanpa alasan. Itu agar aku bisa dekat dengan mu, dan menjauhkan mu dari Dimas. Aku cemburu melihat kedekatan kalian, aku ingin marah tapi aku tidak punya alasan. Aku kesal sendiri" Jovan membuang segala rasa gengsi nya, dan menjatuhkan harga diri nya untuk mengungkapkan perasaan nya selama ini.
"Aku akan menikahi mu dengan atau tanpa persetujuan mu. Aku akan melamar mu hari ini juga pa ...."
"Tidak, jangan!" potong Joi cepat, dia tidak ingin kehilangan orang tua nya karena perbuatannya.
"Joi?" Jovan memohon dengan iba.
"Ibuku bisa terkena serangan jantung kalau bapak tiba-tiba muncul ke rumah melamar ku." Joi menunduk dalam. Dia pun takut jika benar yang di katakan oleh Jovan. bagaimana jika dirinya hamil.
"Ya, sudah kita pikirkan nanti saja. Tapi aku minta jangan menghindari ku, kita jalani saja dulu. Tapi aku akan berusaha membuat mu juga jatuh cinta padaku. Bisakah kau menjanjikan itu, tolong beri aku kesempatan, lihat dan nilai perjuangan ku." Jovan mengangkat dagu Joi agar menatap nya.
"Aku tidak tau, aku belum pernah pacaran. beda sama bapak yang katanya sudah berpengalaman" ketus Joi melengos. Jovan terkesiap, dia menyesal sudah mengatakan hal itu semalam. Pasti Joi akan berpikir buruk tentang nya, akan sangat susah lagi dia meraih hati Joi.
"Maaf" cicit Jovan malu sendiri. "aku hanya reflek saja, aku sedang sangat marah dan cemburu semalam." Elak Jovan berusaha menyelamatkan dirinya.
"Itu hak bapak" tukas Joi, membuang pandangan ke balkon "aku mau pulang sekarang, dimana ponsel ku?" Joi menatap Jovan yang masih betah menatap nya dalam posisi jongkok.
__ADS_1
"Aku cas tadi, ada di luar. Ponselmu lowbat, ayo kita makan dulu, aku udah buatkan iga bakar madu untuk mu, semoga kau suka" senyum cerah di wajah Jovan mulai terlihat, saat memamerkan masakan yang bahkan belum Joi rasakan, enak atau tidak.
Joi hanya menurut saja, diri nya pun kelaparan.
"Duduk sini," Jovan dengan cekatan memasukkan nasi dalam porsi kuli ke piring besar Joi, lalu memasukkan iga bakar beserta perintilannya. "Semoga kau suka" lalu Jovan duduk di samping Joi.
Joi mengernyit heran, Jovan tidak menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.
"Tidak makan? risih sama cara makan aku?" rupanya Joi masih ingat kejadian kemarin malam.
"Tidak, aku mau lihat kau makan. Aku ingin memastikan kau makan yang banyak, ayo makan. Mau aku suapi tidak?" tawar Jovan mulai mengambil piring Joi.
"Eh? tidak perlu, aku tidak suka di suap. Tidak kenyang" Joi meraih kembali piring nya. Lalu mulai makan tentu saja menggunakan sendok 5 jari. Jovan mulai terbiasa, ternyata cara makan Joi yang apa adanya, tidak menyurutkan etika yang gadis itu punya. Hanya saja, Jovan terbiasa di keluarga nya, tidak pernah ada yang makan menggunakan tangan langsung. Kecuali sang nenek tentunya, namun karena sang nenek jarang mengunjungi mereka. Jovan jadi tidak terbiasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa harus pulang ke rumah Dimas sih" ujar Jovan sewot, pria itu kembali ke mode cemburu gelap.
"Aku pamit nya nginep disini ya harus pulang nya dari sini juga" jelas Joi jengah.
"Lain kali jangan menginap di rumah laki-laki lain, aku cemburu Joi" Jovan menekan kata-katanya.
"Aku tu cuma boleh nginepnya di sini kalau keluar rumah, mana bisa aku tidak ke sini" belas Joi tak mau kalah.
"Lah?memang nya kenapa dengan bapak?" balas Joi pura-pura bodoh. "bukain pak, aku mau keluar" ujar Joi memohon.
Jovan yang kadung kesal mulai tak waras, pria itu membuka gesper nya dan mengeluarkan miliknya. "Ini, aku udah keluarin sesuai permintaan mu" Jovan menaruh tangan Joi di milikinya yang mukai menegang.
Joi terbelalak sempurna, "dasar maniak!" teriak Joi kesal, pipinya memanas menahan malu.
"Tadi kan kau sendiri yang minta di buka dan dikeluarkan" ujar Jovan ngawur, otak'nya sedang dilanda cemburu akut.
"Bapak saraf" umpat Joi kesal.
"Udah ngerasain juga" gerutu Jovan tak mau kalah. "lihat dia dulu, kasihan. Nanti dia sedih" ucap Jovan dramatis, lalu kembali meletakkan tangan Joi dan menahan nya kuat.
"Bapak sudah gila ya, kita ini kagi di depan rumah orang. Dasar tidak waras!" Joi berteriak marah namun Jovan yang terlanjur cemburu memilih acuh.
"Diam Joi, atau aku keluar dalam keadaan kaya gini biar orang tau kalau kita sedang berbuat mesum" ancam Jovan sudah kehilangan akal.
"Bapak benar-benar sakit jiwa" umpat Joi kesekian kalinya. Jovan menatap manik yang menatap nyalang padanya.
__ADS_1
"Ya aku gila Joi, aku gila karena aku tergila-gila padamu. Aku benci di buat cemburu terus menerus, aku marah, kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya ini yang bisa aku lakukan, membuatmu hamil anakku dan mengikat mu" Jovan berbicara dengan nada tinggi, lalu tergugu menyandarkan kepalanya dikemudi. Dia tidak pernah jatuh cinta sedalam ini sebelum nya, boleh dikatakan hubungan nya semasa kuliah hanya sebatas saling membutuhkan. Dia tidak pernah benar-benar mencintai wanita yang dipacarinya.
Namun Joi berbeda, dia begitu ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Menjadi kan Joi hanya milik nya, dia tidak reka melihat Joi menginap di tempat pria lain. Yang dia tau sama bejatnya seperti dirinya. Bisa jadi Dimas khilaf, Pria itu sudah pernah merasakan nikmatnya bercinta. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal yang tak di inginkan. Jovan frustasi menghadapi Joi yang keras kepala.
Joi terdiam, dia jadi merasa bersalah telah membuat seseorang serapuh itu karena nya. Perlahan Joi membenahi celana Jovan. Setelah selesai, Joi menarik bahu Jovan dan memeluk nya. Dia tidak tau, Kenapa dia melakukan itu. Namun pelukan itu terasa sangat nyaman, dia menyukainya.
Keduanya berpelukan beberapa menit, setelah situasi tenang kembali, Joi melepas kan pelukan nya.
"Aku mau pamit sama Dimas dulu, buku sama baju aku masih ada di kamar Dimas" ujar Joi hati-hati, dia tidak ingin memancing kemarahan Jovan lagi.
"Ya sudah, aku tunggu di sini. Cepat, jangan basa basi, langsung keluar kalau sudah siap." Ujar Jovan mengingatkan. Pria itu terlihat begitu posesif pada Joi.
Joi hanya mengangguk pelan, mau apa lagi memangnya.
Jovan menatap tubuh kecil Joi yang masuk dakam rumah Dimas, dia tidak tau kenapa dirinya bisa begitu posesif pada Joi. Yang dia tau dirinya mencintai gadis kecilnya itu, dan tidak ingin Joi dekat dengan pria manapun.
"Nih, udah aku siapin sesuai perintah sang Baginda raja" Dimas ternyata sudah mengemas barang Joi atas perintah Dimas. "Leher mu Kenapa? banyak serangga nakal ya, di apartemen bapak guru." Ledek Dimas seakan sudah katam dengan jejak merah di leher Joi.
Joi meringis malu, "kaya udah pengalaman aja anda" ujar Joi meremehkan.
"Oh, anda jangan salah. Mamas Dimas udah unboxing sama yayang mbeb, rasa.. beuhhh surga dunia." Dimas tergelak melihat wajah sangar Joi.
"Dasar laki-laki, semua sama" umel Joi kesal.
"Jelas sama lah, sama-sama bisa tegang dan nyoblos enak" Dimas kembali terbahak-bahak. Lalu mengantar Joi keluar, alamat tidak naik kelas kalau gini. Padahal tadi sudah di ultimatum jangan ngobrol lama dengan Joi.
"Haloo pak!" seru Dimas berteriak dari arah teras. "Joinya saya kembali kan dalam keadaan utuh, silahkan pertimbangan untuk memperbaiki nilai fisika saya ya pak, makasih." Cengir Dimas mengangkat dua jarinya.
Joi mendengus mendengar ucapan sahabat nya.
Jovan hanya menatap datar pada Dimas.
"Mau langsung pulang?"
"Hmm, cape mau istirahat" Joi masih memandang keluar jendela sementara satu tangan nya digenggam oleh Jovan.
"Beli apa dulu gitu, ini pertama kalinya aku mampir, tidak enak kalau tidak bawa apa-apa." tawar Jovan.
"Tidak langsung pulang saja" Jovan menoleh cepat, Joi langsung salah tingkah. "Kan cuma nanya, kenapa gitu amat sih?" gumam Joi kesal.
"Itu bukan nanya, tapi menolak kehadiran ku secara halus." Omel Jovan tak terima. Setelah mampir membeli kan beberapa jenis makanan untuk keluarga Joi, Jovan kembali singgah membeli beberapa jenis mainan. Itu dia belikan untuk keponakan Joi, karena Joi bilang dirumah nya ada 3 keponakan nya yang masih balita.
__ADS_1
Joi menatap miris jok belakang yang di jejali oleh banyak barang. Dasar tukang nyari muka batin Joi merutuki lelakuan Jovan.