
"Wuaaaa... Istana nya bagus yah, besar sekali. Rumah ayah sama bunda ya, Kira suka yah, boleh ikut tinggal disini gak. Nanti Kira nyuciin baju sendiri, bersih-bersih rumah juga bisa. Apa aja Kira bisa kok yah, boleh tidak?" Kira sebegitu senang nya Melihat kediaman kedua orangtuanya. Bahkan menawarkan diri, untuk membersihkan rumah besar tersebut agar bisa ikut tinggal.
Sungguh hati pria itu seperti luka yang disirami air garam. "Boleh banget, ini rumah Kira sama kakak-kakak, ayah sama bunda cuma menumpang. Karena apa yang kami punya, itu milik anak-anak kami yang baik hati ini." Reegan mencium gemes pipi Kira, membuat gadis kecil itu tertawa geli.
" Ayuk masuk, kita langsung ke taman belakang aja, nanti baru keliling rumah trus liat kamar Kira. Oke."
"Okeee, Kira tetap digendongan ya yah, takut Kira nyasar di dalam." Ujarnya malu-malu.
"Siap princess."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hallooo semua, maaf sedikit telat. Udah pada oke semua kan bro?"
"Sedikit telat, lama ya. Kamu itu lam...."
Mulut oma Maya menganga dengan kedua mata yang melotot sempurna, begitupun dengan anggota keluarga dan para pekerja dirumah besar tersebut.
"Reegan?"
"Yah?" Seru Sarah dan Keenan begitu juga dengan kedua mertua nya.
Sarah berjalan pelan menuju arah suaminya, dengan perasaan yang tak menentu. Gadis kecil itu mengingatkan nya, pada putrinya Keyra ketika seusianya.
"Yah, ini? Kamu... Astagaa yah, dia mirip sekali sama Keyra kita. Dia..?" Reegan hanya mengangguk pelan. Air mata Sarah sudah tak terbendung lagi, diraihnya tubuh mungil Kira dari gendongan sang suami.
Sarah menciumi seluruh wajah Kira dengan perasaan yang campur aduk, senang sekaligus sedih. Melihat tubuh mungil nya bisa Sarah tebak, putrinya itu pasti tidak hidup dengan baik.
"Nama kamu siapa sayang?"
__ADS_1
"Kira bunda, bunda cantik sama seperti di hp ayah. Cantik banget malah." Tangan mungil Kira, mengusap lembut pipi sang ibu yang basah oleh air mata.
"Jadi cuma bunda yang cantik, oma tidak cantik ya." Ujar sang nenek menghampiri anak dan ibu yang sedang berpelukan, lalu mencium lembut pipi dan kening cucunya dengan perasaan haru.
"Eh, oma. Oma juga cantik, eh masih cantik maksud nya." Gelak tawa tercipta di tengah suasana haru tersebut.
"Kira?"
"Kak Ken, loh kok bisa ada di rumah ayah sama bunda. Ayah kasih tau ya, Kira anak ayah sudah ketemu. Kakak cantiknya mana, kak?" Kira begitu senang bisa bertemu Keenan, pasalnya Keenan lah yang sering memberikan nya nasi bungkus dan banyak roti serta susu kotak.
"Yah? Ini maksudnya gimana?" Mata Keenan sudah berkaca-kaca. Pantas saja dia begitu peduli pada gadis kecil itu selama ini. Setiap melihat wajah kusam Kira yang sedang berdiri di lampu merah, dengan karung kecil yang disampir ke bahunya. Membuat hati Keenan merasa tidak nyaman. Seperti ada yang tidak benar, karena hanya pada Kira sajalah rasa itu berbeda.
"Dia Kira adik bungsu kalian. Om Satria yang menemukan nya." Jelas Reegan pada anak sulungnya itu.
"Kira, astaga. Sudah hampir 2 tahun kakak mengenalmu, tapi kakak bahkan tidak menyadarinya. Pantas saja setiap melihat Kira lagi mulung atau ikut ngamen. Hati Keenan sesakit itu melihatnya." Ujar Keenan dengan suara serak, remaja super dingin itu menangis haru, seraya meraih tubuh kecil Kira dari pangkuan ibunya.
"Kamu mau nyapa teteh gak, ayuk" Keenan menggendong adiknya menuju kearah Keyra, yang masih duduk di kursi dekat meja kue lumayan jauh dari tempat orangtuanya.
"Teteh?"
"Eh, kok kaya kenal sama suaranya. Kira nya teteh ya?" Tebak Keyra dengan wajah sumringah.
"Hehehe, benar teh. Kira kangen sama teteh." Gadis kecil itu duduk disamping sang kakak, lalu Meraih kedua tangan Keyra. Dengan sangat khusuknya Kira mencium telapak tangan sang kakak.
"Nanti Kira bagi satu mata kira buat kakak, kakak jangan takut lagi, mulai sekarang kalo kakak mau jalan-jalan, Kira temenin. Kira akan jadi mata kakak sementara mata Kira belum dicopot buat kakak. Kakak sabar dulu ya, nanti pasti Kita bagi ko, Kira sudah bilang sama ayah." Keyra menangis haru mendengar kebaikan hati Kira, ini pertama kalinya Keyra diperlakukan sebaik dan semanis ini, oleh orang yang bahkan bukan siapa-siapa nya. Killa bahkan sering memukuli dan berbuat nakal kepadanya.
"Gak usah, kakak gak apa-apa. Sudah ada Kira yang nuntun kakak kalo jalan, kok Kira bisa kesini. Di ajak kak Ken ya?" Rupanya Keyra masih belum menyadari situasi yang ada, maklumlah dia kan tidak melihat, jika semua yang ada disana, pada berurai air mata.
"Dek, ini adik kita. Kira kita ini adik kandung kita. Om Satria yang ketemu. Kamu senang gak, punya adik yang manis dan baik hati kaya Kira ini?" Tanya Keenan lembut sambil mengusap air mata adiknya itu.
__ADS_1
"Maksud kakak gimana, Killa punya kembaran juga kaya kita begitu?" Keyra masih bingung dengan penjelasan Keenan yang begitu tiba-tiba.
"Teh, ini beneran adiknya teteh. Adik kandung teteh. Adek hilang diculik orang waktu baru dilahirkan, trus di tukar sama Killa." Reegan merasa perlu berkata jujur dan lugas, agak anak-anaknya paham akan situasi sekarang.
"Kira kita selama ini jadi pengamen sama mulung loh yah, emang siapa yang nukar dia sama Killa. Tangkap aja yah, penjara kan. Atau suruh om Satria tembak mati sekalian." Suara Kalla si pecicilan keluarga Reegan tiba-tiba berubah dingin, tidak lupa kata-kata sadis yang dia ucapkan. Sangat bertolak belakang dengan sifatnya selama ini.
"Jadi Kira ini beneran adik kandung kita yah, Kavin senang banget. Akhirnya ada yang temenin Kavin nge-game bareng." Suasana haru dan sedikit tegang itu seketika buyar, oleh celotehan si gamers, Kavin.
Semua mata memandang Kavin dengan berbagai arti tatapan masing-masing, Keenan mendelik tajam pada sang adik.
"Dasar Perusak suasana." Gerutu Keenan kesal.
"Loh, kan Kira adik aku. Nanti main game sama kakak mau dek?" Ujar Kavin membela diri.
"Udah udah, adek baru datang udah diajak main game aja, kamu itu. Sat, anak-anak mana? Suruh pada keluar sekarang, kamu undang sekalian orang-orang dirumah kardus itu kan?"
"Beres, lagi ngumpet mereka didalam. Mereka Kira ultah gitu. Pada bawa kado seru, tar liat aja apa." Balas Satria menahan senyum.
"Kiraaaa, hepi.. apa tadi ya... Gus?
"Oh, hepi tu yu. Ya bener, itu yang diajarin sama om Bos tadi. Kalau gak salah sih, heheee." Ujar anak yang bernama Agus cengengesan, sambil garuk-garuk kepalanya yang memang sangat gatal itu.
"Ah, kamu. Kok bisa lupa sih, kan jadi gak seru momennya, ini ultah Kira Pertama lo dirayain pake kue gede dirumah gedong pula. Malu-maluin aja." Ujar si Dayat, anak pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Kira.
"Ck, bukannya kamu juga lupa tadi. Kok malah nyalahin aku sih Yat." Ujar Agus tak terima.
"Sudah, malu tu pada dilihatin. Kira, maaf mbok gak tau ulang tahun kamu dirumah semewah ini. Mbok cuma dibilangin Kira nya ulang tahun, dirayain dirumah sodaranya, gitu. Jadi si mbok cuma bawa ini, maaf. Mbok jadi malu." Ujar wanita paruh baya itu menyerahkan plastik putih yang berisi Semacam baju atau apa lah, hanya kira yang tau kalau sudah dibuka🤭
"Ini juga dari aku, maaf cuma oake dus bekas sepatu, gak sempet beli kertas kado. Om bosnya udah nunggu pake mobil mahal, yang sering kita hitung dilampu merah kalo lagi ngamen." Jelas anak itu tanpa diminta.
__ADS_1
"Ini dari aku sama Wulan, semoga kamu suka ya, Kira. Itu gak mungut digunungan sampah kok, beli baru ditoko depan gang kita itu." Gadis yang sedikit lebih besar dari Kirapun memberikan kado, hasil patungan berdua nya.
Begitupun dengan yang lain, bahkan ada yang membawa sekardus besar singkong muda. Semua membawa sesuatu untuk gadis kecil itu. Disana Reegan bisa menilai, bahwa selama ini Kira nya begitu disayang oleh orang-orang itu. Maka diapun berjanji, akan memberikan mereka tempat yang layak. Beberapa orang yang masih produktif, akan di beri pekerjaan dan anak-anak itu akan dia sekolahkan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih nya yang tak terhingga.