Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXXVII


__ADS_3

Sarah kembali keruangan sang ayah, dilihatnya ayahnya itu tampak lebih segar. Pasti sangat senang sudah bisa pulang kerumah. Pikirannya sedikit teralihkan dari masalahnya dengan sang suami.


"Duuyy, ganteng nya ayah aku nih." Goda Sarah pada ayahnya.


"Ya dong, tar ayah kalah ganteng sama dokter Reza, kan malu ayah." Ucap pak ramdhan terkekeh pelan.


"Memang kenapa, dokter Reza dibawa-bawa yah?".. Tanya Sarah bingung.


"Owh, itu..."


"Wah, udah pada nunggu nih. Maaf pak tadi masih visit pasien sebentar, udah siapkan. Oya Sarah, tadi aku udah nyuruh perawat buat simpun barang-barang, obatnya juga udah nih, aku langsung ke apotik tadi, ngambilin." Sambil menyodorkan bungkusan obat milik pak Ramdhan pada Sarah.


"Eh, ngerepotin dokter jadinya. Makasih banyak pak dokter yang baik budiman ini." Ucap Sarah dengan senyum paksa, hari ini dia harus menghadapi tiga orang pria dengan berbagai karakter sekaligus.


"Nggak apa apa, buat Sarah apa sih yang nggak. Eh maksud aku, udah tugas kita saling menolong, bukan begitu, pak?".. Ujar dokter itu berusaha mencari dukungan dari pak Ramdhan.


"Dasar cari muka." Gumam Sarah pelan namun masih terdengar oleh dokter Reza.


"Sarah mau bawa barang nya turun duluan ya, yah. Ayah tunggu di sini aja dulu."


"Nggak usah, Sar. Percayakan semua sama mas Reza, sebentar ya." Ujar dokter itu penuh percaya diri.

__ADS_1


Sementara Sarah merasakan pahit di pangkal tenggorokan nya, dia ingin muntah darah rasanya. Mendengar dokter sok kecakapan itu, memanggil dirinya sendiri dengan sebutan, mas.


"Gitu tuh, ciri-ciri orang yang harus di hindari. Ayah jangan terlalu dekat, tar kemakan bujuk rayu buaya rawa kaya dia. Bisa bahaya." Sarah memperingatkan sang ayah dengan sedikit mengomel.


"Permisi pak, silahkan duduk dikursi rodanya. Nanti saya yang dorong turun kebawah." Ujar perawat wanita itu ramah.


"Eh, nggak usah, sus. Saya jalan saja sekalian olah raga, udah berapa hari ini kaki saya dimanjakan." Tolak pak Ramdhan sopan.


Perawat itu menatap dokter Reza, dengan tatapan bertanya. "Bapak naik kursi dulu, baru habis pasang ring sebaiknya jangan diajak lelah dulu jantungnya, kasian." Akhirnya dokter Reza memberi penjelasan agar pak Ramdhan mau duduk di kursi roda tersebut.


"Iya, yah. Ikuti aja saran dokter, nanti ayah kecapean." Bujuk Sarah lagi, akhirnya pak Ramdhan pun menuruti.


"Tas nya sini aku yang bawa, Sar. Kamu bawa plastik itu aja, berat nggak? kalo berat biar aku aja yang bawa, mas Reza kuat kok. Kamu mau di gendong sekalian, juga ayuk." Ucap dokter Reza jumawa.


"Sarah pesan taksi aja yah, nggak enak ngerepotin orang." Ucap Sarah berbisik pada ayahnya, namun telinga tajam dokter Reza mampu mendengarnya dengan jelas.


"Nggak ngerepotin, Sar. Aku sengaja ambil ijin pulang lebih awal agar bisa ngantar kamu, maksud aku pak Ramdhan. Lagian aku bukan orang lain, udah kenal juga kan." Ucap dokter Reza dengan wajah kecewa.


"Udah, Sar. Nggak baik nolak niat baik orang. Maaf, nak Reza maksud bapak dokter Reza. Sarah anaknya memang suka nggak enakan sama orang lain." Jelas pak Ramdhan, agar dokter tersebut tidak kecewa karna tawarannya sudah di tolak oleh Sarah.


"Panggil nak Reza juga nggak apa apa pak, lagian bapak sudah bukan pasien rumah sakit lagi. Saya lebih suka dipanggil dengan sebutan itu, dari pada pak dokter." Ujar dokter Reza sambil melirik Sarah disampingnya.

__ADS_1


Ting...


"Sus, dorong ke depan ya, saya ambil mobil dulu. Pak saya ambil mobil dulu sebentar."


"Iya, nak. Tidak usah buru-buru." Ujar pak Ramdhan tidak enak.


Drrtt drrtt drrtt...


"Iya, Ree."


("Jam berapa pulang, aku jemput.")


"Nggak usah, Ree. Maaf tadi lupa ngabarin. Ini udah mau pulang taksinya udah nyampe juga tuh. Tapi makasih sebelumnya."


("Kamu kok gitu, sih. Aku udah cepat-cepat mangkas meeting biar cepat kelar, supaya bisa jemput kamu kerumah sakit.") Ucap Reegan dengan nada kecewa. Bagaimana tidak, dia sudah terlambat meeting selama satu jam, lalu ketika meeting di mulai, dia harus memangkas waktu meeting itu agar cepat selesai.


"Iya, maaf. Namanya juga aku lupa, jadi aku harus gimana." Entah kenapa Sarah merasa sangat bersalah pada pria itu.


"Sar, ayo kok ngelamun. Kamu nelpon siapa itu. Taksi, batalin aku bilang aku yang ngantar kok, ngeyel banget kamu ini. Mari pak, saya bantu naik ke mobil." Sarah benar-benar kesal pada dokter caperan tersebut, pasti sekarang Reegan tau kalau dia sedang berbohong.


"Maaf, Ree. Itu dokter Reza nya maksa mau ngantar pulang, aku....." Panggilan terputus atau memang sengaja di putuskan sepihak.

__ADS_1


"Ck, bilang aku yang ambekan, tau nya sebelas dua belas." Gerutu Sarah kesal. Lalu menyusul masuk ke dalam mobil dokter Reza.


__ADS_2