
"Bagaimana keadaan nya? Apa dia merespon sekitarnya dengan baik?"
Tiga hari pasca gadis itu tersadar dari tidur panjangnya, dia tidak mengenali siapapun termasuk dirinya sendiri.
Dia tampak linglung dengan keadaan yang ada di sekitar nya. Dokter menduga, mungkin efek koma yang terlalu lama juga peristiwa traumatis yang dialami pasien tersebut. Gadis itu juga mengalami benturan kepala yang cukup hebat. Dicekoki obat perangsang berdosis tinggi dan alkohol. Sungguh bia*da*b perlakuan para ba*ji*ng*an itu.
Saat pertama kali dibawa, kondisi nya sungguh sangat memprihatinkan. Gadis itu mengalami gagal jantung akibat dosis obat yang terlalu tinggi, luka lebam juga luka robek dibeberapa bagian tubuh nya. Berkat usaha para dokter dan team medis yang tak kenal kata lelah, jantung gadis itu bisa berdetak kembali, setelah hampir 2 jam usaha yang mereka lakukan.
Bahkan diantara nya sudah ada yang hampir menyerah. Mereka pikir, mustahil bisa membawa gadis itu kembali, setelah dinyatakan tak bernyawa hampir 5 jam. Sepanjang perjalanan membawanya ketempat terpencil itu, sepanjang itu pula mereka terus berusaha, membuat jantung gadis itu kembali berdetak. Hingga akhirnya, campur tangan Tuhan mulai bekerja, keajaiban itu hadir disaat mereka sudah hampir menyerah dan tak punya harapan lagi.
Namun perjuangan mereka tidak berhenti sampai disitu, sesaat sampai ditempat tujuan, setelah perjalanan yang memakan waktu hampir 11 jam penuh itu. Gadis itu kembali dalam kondisi kritis. PR Mereka dimulai saat itu. Setiap hari, gadis itu diperlakukan layaknya porselen, dirawat dan dijaga sedemikian rupa. Banyak hal yang harus diperbaiki dari tubuh gadis itu, terutama bagian vitalnya yang dalam kondisi sangat tidak baik.
Akibat pemerko*saan yang dilakukan secara brutal layaknya binatang, dan diklaim lebih dari satu pelaku itu. Gadis itu mendapat kan kerusakan parah diare intimnya. mereka harus melakukan beberapa operasi pada gadis itu dengan alat seadanya, saat bantuan belum berdatangan dari para sahabat dan kenalan yang mereka percaya.
Kini kondisi gadis itu jauh lebih baik, hanya saja, ingatan nya yang tidak bisa mereka perbaiki. Dan mereka semua berharap, memori itu tidak perlu kembali lagi, agar segala ingatan buruk itu, tidak menjadi masalah baru bagi gadis malang itu dikemudian hari.
"Dia masih seperti orang linglung, bahkan sampai sekarang, belum mengucapkan satu patah katapun. Tatapan matanya kosong, kadang Tiba tiba menangis, tertawa dan melempar apa saja yang berada didekat nya." Huuzzzhh Pria itu belum tidur sejak gadis itu sadar, entah apa yang membuat nya terus memikirkan kondisinya.
__ADS_1
"Makan, minum?" Tanya rekannya lagi, dia belum berinteraksi langsung dengan gadis itu, dirinya punya pasien khusus yang harus dia tangani.
"Masih mau, walau tidak banyak. Tapi cukup untuk memberikan nutrisi pada tubuhnya. Tuan Wijaya dan teman-temannya menangani gadis itu dengan baik, walau tidak merespon. Paling tidak, dia masih bisa mendengar apa yang tuan Wijaya katakan. Itu bagus untuk menstimulasi perkembangan otaknya." Pria itu mengusap wajahnya dengan lelah.
"Kupikir bisa memulangkan mu saat gadis itu terbangun. Maaf, sepertinya kau harus bekerja lebih ekstra lagi. Mengobati trauma tidak semudah menyembuhkan luka fisik." Ujar nya menimpali perkataan rekannya tersebut. Dia berjanji hanya sampai kondisi semua pasien itu stabil, namun siapa sangka hingga tiga tahun lamanya. Rekannya itu harus terikat pada pekerjaan, yang awalnya hanya berusaha untuk menolong seorang teman.
Dokter Danu menatap tak enak pada temanya itu. Tidak satupun diantara mereka digaji untuk melakukan pekerjaan itu, semua mereka lakukan hanya atas nama, sebuah balas budi juga rasa perikemanusiaan.
"Ck, kaya sama siapa aja. Gak masalah, bukankah sumpah kita adalah menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Jangan menatap dengan tatapan seperti itu, geli gue liatnya. Yuk, mending kita nyari makan yang enak, bukanya Susi si seksi sudah masak rendang. Uuhh pasti nikmat banget, makan sambil menghayal mengusap bokong nya yang seksi itu." Kelakar Dokter Varel, langsung mendapatkan hadiah tinjuan maut dipunggung nya, dari sang sahabat laknat.
"Enak aja, benih gue aman terkendali dalam balon merah muda rasa strawberry. Serampangan lo kalo ngomong, Susi dengar, kelar image gue. Lagian gue baru 35 tahun tau." Ujarnya kesal, dirinya tak terima jika gadis ranum itu disebut cocok sebagai anaknya. Walau sepak terjangnya dalam dunia perlendiran sudah dia lakoni sejak usia belasan, wajar memang jika Danu mengatakan demikian. Andai benihnya bocor, bisa jadi, sekarang dia sudah punya anak yang usianya sekitar 17 tahunan.
"Eh? Mas Danu sama mas Varel mau makan ya, silahkan duduk biar Susi siapin." Ujar gadis remaja 18 tahun itu ramah. Dia bekerja disana sudah dua setengah tahun, ikut bersama sang bibi, mereka tinggal tidak jauh dari villa itu. Mereka bekerja atas perintah seseorang, dan hanya orang-orang terdekat mereka saja yang boleh ikut bekerja disana.
Termasuk Susi sang keponakan dari bi Murah dan mang Arau. Kampung mereka berada di sebuah desa terpencil, jarak dari perkotaan sekitar 11 jam. Dari kecamatan saja jaraknya masih lumayan jauh, 4 jam perjalanan melewati hutan dan jalanan yang curam. Hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja, jika ada mobil yang akan masuk, maka harus ada seseorang yang menunggu di ujung jalan, agar kendaraan yang akan masuk kesana berhenti terlebih dahulu.
Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan para dokter dan teamnya, membawa 5 mobil yang keempat mobil tersebut berisi pasien yang sedang dalam kondisi kritis. Mobil dengan ukuran yang tak kecil itu, melewati jalan berliku yang sisi kiri sepanjang hampir 17 kilometer, adalah jurang yang curam.
__ADS_1
Sungguh sebuah misi yang mulia, tanpa di gaji, tanpa iming-iming, Mereka tetap melakukan pekerjaan itu dengan suka rela. Bahkan mereka tidak segan merogoh kocek yang tidak sedikit, untuk memenuhi kebutuhan medis yang mereka butuhkan. Termasuk suplai obat-obatan, makanan dan lain-lain.
"Gak usah, kamu duduk sini aja makan sama-sama, kamu pasti belum makan juga kan? Ayuk, mas Varel bisa buat sendiri, gampang mah itu. Kamu juga sekalian juga bisa. Udah, duduk diam." Dokter yang digelari oleh teman-temannya dengan sebutan dokter c*a*b*ul itu, bergerak cepat menghalangi Susi yang akan menghidangkan makanan untuk mereka.
"Tapi pak dokter.... "
"Udah, kamu duduk aja, Si. Kalo dia udah kumat gitu, gak bisa kamu lawan. Nurut aja, kapan lagi kamu makan di layani sama dokter yang ganteng minimal gini." Ujar Danu dengan diakhiri ledekan, yang minta di tabok dandang nasi panas tersebut. Kemudian pria itu tergelak sendiri dengan ucapannya, seolah lucu, karna melihat raut wajah Varel yang seketika berubah jengkel maksimal.
"Teman gak ada akhlak lo." Ujarnya kesal. "Nih, dik Susi Darmawan, calon istri nya mas Varel yang ganteng nya maksimal ini, makan yang banyak ya, biar cepat besar." Ujar pria itu lagi, membuat wajah imut Susi merona merah menahan malu.
"Makan yang banyak ya dik, Susi. Biar bisa ngimbangin kegrangasan nya mas Varel Darmawan." Ujar Danu melanjutkan kata-kata sahabatnya itu. Lalu kembali tergelak, setelah mendapat kan delikan tajam dari Varel.
Begitulah keseharian mereka selama disana, setelah meninggalkan ibu kota, pekerjaan dan hidup nyaman yang mereka miliki. Demi sebuah pekerjaan mulia, untuk menyelamatkan orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup mereka dimasa lalu. Canda tawa, air mata dan ketegangan, seolah menjadi makanan mereka sehari-hari.
Namun tidak satupun dari kelima dokter itu pernah mengeluh, dua diantaranya masih sering bolak-balik ke ibukota, diantaranya dokter Danu dan Bagas. Sekedar untuk menyuplai obat-obatan dan kebutuhan lainnya. Namun tiga diantaranya lebih memilih menetap tanpa pernah sekalipun kembali.
Dokter Bram, Varel dan Levita. Ketiga sahabat itu lebih memilih membiarkan semua orang berpikir, mereka telah tiada. Dengan sengaja, mengorbankan satu mobil milik Levita, untuk dijatuhkan kedalam jurang tiga tahun yang lalu, dan berharap semua orang menganggap mereka tidak satupun yang selamat.
__ADS_1