
Mobil yang di kendarai Kalla kini telah tiba di ujung desa, Mereka di sambut oleh Keenan dan Daniel. Setelah berbincang sebentar, mereka mulai melanjutkan perjalanan, dengan mobil Daniel sebagai penunjuk jalan.
25 menit perjalanan akhirnya mengantarkan Kalla dan sang ibu ke sebuah villa yang mewah dengan dua villa di kiri kanannya.
Saat hendak turun, kembali Kalla mengingat kan sang ibu. Agar tidak salah menyebut nama sang adik dan bersikap seolah ini bukan pertemuan pertama mereka.
"Bun?"Kalla menoleh pada sang ibu dan menahan tangan wanita itu, yang akan menarik handle pintu mobil.
"Asha, ya, namanya Asha. Bunda sudah ingat dengan baik, dan menyimpan nya disini." Sarah menepuk pelan dadanya dengan mata berkaca-kaca. Lalu mereka turun dari mobil dan disambut oleh para wanita, yang sudah sejak tadi menunggu dengan harap-harap cemas. Ada kerinduan mendalam yang membuncah di dada para wanita itu, namun berusaha mereka redam. Akan aneh jika Asha melihat mereka yang seolah tak bertemu dalam waktu yang lama, Sementara yang Asha tau. Mereka secara bergantian menjaga Sarah selama wanita itu berada di rumah sakit.
"Sar?" Nabila menjadi orang pertama yang sudah tak bisa menahan diri. Wanita itu melangkah cepat menyongsong Sarah yang masih mematung ditempatnya berdiri. Pelukan erat penuh kerinduan itu menyadarkan Sarah dari lamunannya.
"Bil?" Hanya kata itu yang Sarah ucapkan. Jika dia meneruskan nya, maka bisa dipastikan, air mata yang sudah di tahan sejak tadi, akan meluncur bebas diwajahnya.
"Mi? Biarlah Sarah masuk dulu. Reegan bahkan belum menyambut nya, udah mimi ada yang nyosor duluan." Ujar pria itu mencoba mencairkan suasana, istri nya itu memang tidak tau situasi pikirnya.
__ADS_1
Sementara Sarah kembali mematung, tubuhnya membeku mendengar nama seseorang yang sangat dia rindukan selama ini. Matanya benpendar sekeliling, mencari pria yang namanya baru saja di sebut oleh Revan.
Akhirnya dia menangkap sosok yang dia cari di tambah bonus satu lagi. Putrinya, yang kini tengah berdiri di samping sang ayah dan menatap nya dengan tatapan asing. Hampir saja Sarah menangis keras melihat pemandangan itu, putrinya benar-benar tidak mengenalinya, dan itu membuat hatinya mendadak pilu.
Dengan langkah pelan sarah menghampiri sang anak dan... Suaminya. Entah lah, rasanya asing saat kata suami terlintas di kepala nya, sudah sangat lama sekali dia menghapus kata itu dari pikiran nya.
"Hai, sayang. Maaf, bunda baru bisa datang. Bunda..." Kalimat Sarah terjeda oleh pelukan hangat sang anak. Tubuh sarah seakan tersengat listrik jutaan watt. Perasaan hangat menjalar dihatinya, ketakutan akan sikap diam Asha kini sirna sudah. Sarah benar-benar sudah tak lagi mampu, untuk membendung air matanya. Tangis wanita itu pecah, bahunya bergetar hebat. Reegan yang peka akan situasi, segera ikut memeluk tubuh kedua wanita kesayangan nya. Dia tau apa yang sedang wanita itu rasakan, diamnya selama ini, hanya untuk mengalihkan semua rasa sakit yang coba dia pendam seorang diri.
Setelah tangis haru penuh kerinduan itu mereda, Reegan menuntun keduanya ke dalam rumah menuju ruang keluarga. Disinilah mereka sekarang, duduk dalam diam dan sisa tangis yang berusaha mereka redam agar tak kembali keluar.
Asha merasakan hatinya menghangat mendengar pertanyaan sang ibu, kelembutan dan ketulusan wanita itu terpancar dari wajah teduhnya.
"Gak apa-apa bun, aku udah baikan. Malah aku gak tau kapan aku merasa kan sakit." Jawab Asha nyengir, memamerkan gigi kelinci nya. "bunda gimana? Kaki nya udah kuat jalan lama belum? Kenapa gak pake kursi roda aja, nanti kaki bunda sakit.." Pertanyaan beruntun Asha membuat Sarah tersenyum. Putrinya tak berubah, masih tetap putrinya yang dulu. Yang selalu cerewet padanya, namun akan banyak diam jika berada di luar.
"Bunda gak apa-apa, ini udah sehat, sehat banget malah. Bunda cemas sama kamu, maaf bunda tidak bisa merawat mu selama ini." Sarah menangkup wajah bulat putrinya dengan perasaan bahagia juga sedih. Sedih karena tidak bisa merawat putrinya selama ini. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang ibu.
__ADS_1
"Gak apa-apa bun, ayah sama bunda kan juga lagi dalam keadaan yang gak baik-baik aja. Papi Bintang, papa Satria sama Daddy Bastian udah jaga aku dengan baik. Mimi, mama sama mommy juga kan bolak balik kesini jenguk aku, gantian abis jaga bunda di Singapura." Hibur gadis itu dengan wajah ceria. Oh, Asha. tidak taukah kalau kata-kata mu itu membuat hati semua orang merasa sakit dan sedih. Membohongi gadis polos itu, bukan kehendak hati mereka. Namun keadaanlah yang memaksa. Dan ke depan nya nanti, akan ada banyak kebohongan demi kebohongan lagi, yang akan mereka ciptakan pada gadis tak berdosa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keheningan kini lebih mendominasi kedua insan, yang baru di pertemuan kembali setelah kurun waktu hampir 4 tahun lamanya. Berkali kali keduanya menghela napas panjang, namun belum satupun dari mereka ada yang memulai pembicaraan. Reegan sudah tidak tahan lagi dengan situasi canggung itu, pria itu nampak gelisah dalam diamnya.
"Kamu apa kabar?" Akhirnya dirinya menyerah kalah pada perasaan rindu yang membuncah dalam hatinya. Reegan menatap sendu pada wanita di samping nya, yang masih bertahan dalam diamnya. Hatinya sedikit kecewa, namun tetap diam tanpa mendesak lagi dengan mengulangi pertanyaannya.
Sarah menarik napas panjang lalu menghembus nya perlahan, seolah sedang melepas beban yang menghimpit hatinya.
"Aku baik." Lalu kembali terdiam. Tanpa ada pertanyaan yang sama seperti yang Reegan katakan sebelumnya. Pria itu merasa sesak di dadanya, masih sebenci itukah sang istri kepadanya walau faktanya, putri mereka masih hidup.
"Aku juga, baik. Walau tidak sebaik saat istri ku ada di samping ku." Kelakar pria itu, Kemudian Reegan terkekeh hambar, dia merasa konyol karena menjawab pertanyaan yang sama sekali tak di tanyakan padanya.
"Mungkin dia masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada. Keadaan yang mendadak berubah, bisa membuat seseorang mengalami perubahan dalam mencerna situasi yang ada. Atau mungkin lukanya sudah terlalu parah untuk bisa di pulihkan kembali." Sarah menjeda Ucapan lalu berbalik meninggalkan Reegan yang masih mematung seorang diri. Kalimat terakhir sang istri seakan menampar telak dirinya.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata yang sejak tadi dia tahan, mengalir tanpa bisa dia hentikan. Ternyata, wanita itu masih menyimpan lukanya seorang diri dan berusaha untuk memulihkan dirinya dengan cara nya sendiri. Tanpa ada satupun orang yang berusaha untuk menarik nya keluar dari rasa sakit itu. Kini dia semakin sadar, tak akan mungkin bisa meraih kembali hati sang istri, dan membawa nya kembali untuk merangkai hidup bersama nya. Jika hati itu masih di penuhi oleh rasa sakit yang sama dan tak terobati.