Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Mempersiapkan dirimu


__ADS_3

Kira menatap dalam netra yang tertutup rapat itu, suaminya terlihat sangat tampan dengan setelan yang dia pakai. Walau sedikit sesak, karena tubuh Justin membengkak dengan cepat. Wajahnya sedikit berbeda, efek bengkak. Namun bagi kira, suaminya tetaplah yang paling tampan dimatanya.


Diciumnya seluruh wajah Justin sebagai salam perpisahan. Matanya sudah membengkak, hampir satu jam dirinya menangis dalam diamnya.


"Aku akan menjaga anak-anak kita dengan baik, aku akan menjadi ibu sekaligus ayah yang membanggakannya bagi kelima anak kita. Kelak, aku akan menceritakan betapa hebatnya ayah mereka. Ayah yang luar biasa, pria yang sangat sabar dan penuh kasih sayang." Kira menjeda kalimat nya, dadanya sesak, nafasnya tercekat.


Kira menghela nafas panjang, untuk sedikit meredakan sesak di dada nya.


"Kau adalah panutan anak-anak, Triplets tumbuh sempurna dibawah pengasuhan mu. Aku ragu aku bisa mendidik mereka, sehebat kau yang sabar mendidik Ketiga anak kita. Namun aku akan berusaha, aku mencintaimu. Maaf jika terlambat mengatakan nya. Aku tau kau melihat ku entah dari sisi mana, aku mencintaimu, Justin Drew. Selamat jalan, tunggu aku disana, kosongkan tempat sisi mu. Karena itu akan menjadi tempat ku nanti, saat aku pulang menyusul mu." Setelah untaian panjang isi hati Kira, wanita itu kembali mencium wajah Justin untuk terakhir kalinya.


Tangan kekar memegang pundak nya, Bram meraih kira dalam pelukannya. Membawa wanita itu keluar kamar. Karena Justin akan dibawa keluar oleh para pelayat. Diluar sudah banyak Para pelayat, juga para sahabat yang baru saja tiba.


Mereka memandang Kira dengan tatapan pilu, wanita itu terlihat tegar meski sedang berada dalam kerapuhan.


Kira duduk disamping ke-tiga anaknya. Tak lama, tubuh Justin di baringkan diatas sebuah ambal kecil. Disana ada sebuah kotak yang entah siapa yang memesan nya. Namun dia yakin, para sahabatnya lah yang membawanya.


Lumina menggenggam tangan Kira, menyalurkan kekuatan pada wanita rapuh itu. Tidak ada lagi Suara isakan, hanya ada air mata yang terlihat tak berhenti mengalir dari mata Kira. Wanita itu berusaha meredam kesedihan nya demi anak-anak nya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Rintik-rintik hujan seakan mewakili kesedihan yang masih menyelimuti hati Kira dan anak-anak nya.


Pemakaman itu dihadiri oleh seluruh warga desa, keluarga Justin terkenal murah hati pada para penduduk. Meski mereka adalah pemilik pulau tersebut, namun tidak sombong.


Kira masih betah memeluk foto Justin, sambil menatap kosong pada gundukan tanah basah didepannya.


"Kita pulang yuk, kasian anak-anak. Gerimis nya sudah mulai besar, mau hujan lebat kayanya." Suara lembut Varel membuat Kira menoleh pada anak-anaknya yang mulai misuh-misuh. Secerdas apapun Mereka tetap saja jiwa anak-anak nya lebih mendominasi.


Kira meletak foto suami diatas gundukan tanah, suaminya terlihat sangat tampan di foto itu. Senyum nya akan Kira rindukan setiap hari mulai hari ini. Hati nya kembali berdenyut sakit.


"Aku pulang, aku akan kesini setiap hari untuk bercerita padamu tentang kegiatan anak-anak kita. I love you and i will always miss you." setelah mengatakan ucapan perpisahan itu, Kira pulang bersama anak-anak nya.

__ADS_1


Kira memakamkan suaminya tak jauh dari villa, hanya 5 menit jalan kaki. Itu agar dia tidak kejauhan untuk mengunjungi suaminya jika hatinya merindu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Kira masih belum beranjak dari sana, meski kakinya sudah mulai kesemutan, dia tidak peduli. Kehamilan nya yang sudah memasukii usia 9 bulan, membuat ruang geraknya terbatas. 2 bulan menjadi janda, dengan mengasuh 3 orang balita. Dirinya kesulitan, dulu Justin selalu melarang nya melakukan banyak hal. Pria itu selalu memenuhi kebutuhan dirinya, Melakukan banyak hal untuk nya. Kini, semua harus dia lakukan sendiri.


"Ki..raa? Kira!? benar, ini kau. Astaga! kemana saja kau selama ini, nak?" Nabila menangis meraung hingga mengalihkan perhatian semua orang.


Reegan membeku ditempat, putri nya masih hidup. Lagi-lagi, Tuhan membawa kembali putri. Reegan berjalan dengan langkah gemetar, setelah mendekat, Reegan memperhatikan penampilan putri nya yang tak biasa. Putrinya sedang hamil besar. Berarti putri nya sudah menikah lagi, tapi dengan siapa? Batin Reegan bertanya-tanya.


"Nak, kau baik-baik saja?" lain di hati lain dimulut, Reegan mengucapkan pertanyaan konyol yang tidak ada dalam hatinya nya.


"Aku baik, yah. Maaf Meninggal kan kalian selama ini," Kira memeluk sang ayah dengan perasaan rindu. hampir 5 tahun berpisah, semua sudah berubah. Ibunya pergi tanpa sempat dia saksikan.


"Dek?" Keyra ikut memeluk sang ayah dan adiknya. Tangis semakin menjadi. Kesedihan akan kehilangan juga tangis haru akan kehadiran Kira kembali.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Rumah Reegan nampak ramai oleh para tetangga yang berdatangan untuk melayat. Kira duduk didampingi para saudaranya juga sang ayah. Situasi ini serasa Dejavu, dua bulan yang lalu dia pernah berada di situasi ini. Dia mengerti rasa sakit yang dialami oleh sang ayah sekarang.


Pria itu ingin menghabiskan waktu nya yang tersisa, bersama istri dan anak-anak nya sampai akhir nafasnya.


flashback


Drrrttt drrrttt drrrttt


Daniel nampak acuh, dia jera mengangkat nomor baru. Karena istri sakit jiwa nya itu sering menerornya melalui nomor baru.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Dengan hati kesal, Daniel mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Jika kau ingin meminta uang lagi padaku, maka kau benar-benar sakit jiwa. Aku sudah memberikan uang yang sepantasnya kau terima, jangan meminta lebih!" klik


Daniel mematikan panggilannya sepihak, tanpa memberikan kesempatan pada orang diseberang sana untuk berbicara.


Drrrttt drrrttt drrrttt


"Shittt..!" maki Daniel kesal.


"Apa lagi Tiara..!"


"Apa mood mu sedang tidak baik, Daniel Wardhani?" Daniel mengernyit, suara itu nampak familiar. Namun dia lupa.


"Siapa?" ketus Daniel tak sabar.


"Ucap kan salam jika seseorang menelpon mu," kekeh Justin di seberang sana. "Kau melupakan ku, kejam sekali." Rajuk Justin pura-pura marah.


"Justin?" tanya daniel ragu-ragu, "ku pikir kau sudah tiada," canda Daniel.


"Tidak lama lagi" balas Justin membuat Daniel tak enak hati, "untuk itulah aku menghubungi mu, waktu ku tidak banyak. Namun untuk sekarang aku ingin menghabiskan sisa-sisa waktu ku ini, bersama istri dan anak-anak kita." Ujar Justin terdengar ambigu.


"Ck! kau ini bicara apa" kesal Daniel.


"Aku serius, aku ingin kau mempersiapkan dirimu, jika kelak aku tiada, maka seluruh tanggung jawab ku, akan aku serahkan padamu. Aku harap kau tidak keberatan," lanjut Justin menggelitik rasa penasaran Daniel semakin dalam.


"Jelaskan yang benar, Justin! kau membuat ku bingung," cecar Daniel tak sabar.


"Siapkan hati mu, aku khawatir jantungmu sudah tak sesehat dulu. Mengingat jika kau punya istri yang menjengkelkan," kekeh Justin meledek.


"Ck! kau ternyata suka mengikuti kisah hidup ku, tidak ada yang menarik disana. Wanita itu saja yang tidak tau malu, aku stress menghadapi nya." Adu Daniel tanpa sadar, telah mencurahkan isi hatinya.


"Bersabar lah sedikit lagi," balas Justin iba.

__ADS_1


"Katakan apa maksud mu tadi, jangan membuat ku penasaran." Daniel kembali mencecar Justin.


"Baiklah, dengar kan ini baik-baik. Cerna dan pahami dengan cepat, aku menelpon mu dengan mencuri-curi kesempatan." Justin pun mulai bercerita awal mula dirinya bertemu Kira yang sedang terpuruk dan putus asa. Kemudian membawa wanita itu pergi sesuai keinginan nya. Ke ketempat yang jauh dan menghilang selama nya.


__ADS_2