Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXXIII


__ADS_3

Sarah menarik handle pintu mobil, namun tidak terbuka dia lalu menoleh kearah Reegan, yang tampak diam melihat apa yang dia lakukan.


"Ini pintunya buka, dong." Ucap Sarah memelas.


"Kamu itu sudah diantar, malah nggak ngucapin apa-apa, nggak sopan banget." Lagi-lagi pria itu berucap datar.


"Makasih, tuan Reegan yang budiman, baik hati, suka menolong dan rajin menabung. Bukain pintunya dong, adek mau turun akang sayang." Ucap Sarah melemah lembut kan suaranya, membuat diri nya sendiri ingin muntah setelah mengucapkan kalimat menjijikkan itu.


Lain hal nya dengan Reegan, pria itu mematung mendengar ucapan Sarah yang luar biasa itu. Ada gelayar aneh yang tiba-tiba dia rasakan, namun segera dia tepis.


"Udah turun sana, atau kamu mau ikut saya pulang. Masih kangen sama saya?" Lagi-lagi tingkat kepercayaan diri pria itu, benar-benar layak di acungi jempol.


Sarah keluar terburu-buru dari mobil Reegan kemudian menutup nya dengan kencang. Reegan menatap punggung Sarah lalu menarik sudut bibirnya, niat hati ingin mengerjai wanita itu di depan ibu nya. Malah membuat nya terjebak dalam perasaan yang sulit jelaskan, dia menggeleng pelan kemudian memutar kemudi mobilnya melaju pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayah? Kok belum tidur?".. Lalu melirik jam tangan nya.


"Kamu kok jam segini baru nyampe, ayah sangat khawatir. Seharus nya kalau kamu cape, istrahat aja dirumah, bahaya kalau sudah malam begini. Naik ojek, kan? Aduh, nak. Besok-besok jangan gitu lagi, ya." Pak Ramdhan terlihat begitu khawatir dengan anak nya itu, untuk pertama kali nya sang ayah mengomeli nya.


"Iya, yah. Maaf, nggak akan Sarah ulangi lagi. Nih, Sar..." Sarah tidak jadi melanjut kan kalimat nya, setelah melihat kedua tangan nya yang tidak memegang apa pun.


"Ada apa, nak? Kamu ketinggalan sesuatu?".. Melihat gelagat Sarah, pak Ramdhan yakin, anak nya pasti ketinggalan sesuatu.

__ADS_1


"Anu yah, tadi Sa..."


drrttt ddrrrtt drrrttt....


"Reegan?".. Gumam Sarah pelan hampir tak terdengar, namun telinga tajam sang ayah ternyata mendengar nya, meski tak terlalu jelas.


"Siapa, nak?"..Tanya pak Ramdhan sedikit penasaran.


"Owh, ini... Ojek yah, aku angkat dulu ya." Pamit Sarah lalu keluar ruangan sang ayah.


"Iya, kenapa?".. Jawab Sarah tanpa basa-basi


"Kasih salam kek, nggak sopan banget kamu ini sama pacar sendiri." Ucap Reegan tak tau malu.


"Udah deh, aku cape, laper, mau tidur. Kamu mau apa?".. Tanya Sarah ketus.


Sarah hanya bisa melongo, pria itu kembali hanya untuk membelikan nya makanan. Dia sedikit tersentuh, namun tidak sampai terharu seperti yang di ucapkan oleh Reegan tadi.


Sarah kembali masuk untuk pamit pada sang ayah.


"Yah, Sarah keluar dulu. Ojek yang kebawa plastik makanan Sarah balik, lagi nunggu di parkiran." Biarlah dia berbohong kali ini pada ayahnya, tidak mungkin dia mengatakan seorang pria membelikan nya makanan.


"Iya, sudah. Minta maaf nanti sama ojol nya, kasih ongkos bensin nya juga. Kasian, udah bolak balik. Pasti cape itu, udah narik seharian." Ucap sang ayah selalu dalam mode yang bijak, tidak tau saja bahwa anaknya itu sedang dalam mode berbohong.

__ADS_1


"Baik, yah. Sarah turun dulu." Ucap Sarah buru-buru, dia tidak ingin, ada kebohongan lain lagi yang keluar dari mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ck, nggak usah menggerutu begitu. Besok aku belikan sama gerobak sate nya sekalian biar kamu cepat besar. Makan yang ada aja dulu, nanti di rumah sate yang kamu beli aku makan. Trus aku videoin, kirim ke kamu, supaya kamu bisa ikut merasakan juga walau cuma ngeliat." Pria itu mengoceh panjang lebat, karna niat baiknya malah mendapat gerutuan dari Sarah. Karna bukan sate yang dia bawa melain kan masakan padang yang dia beli tidak jauh dari rumah sakit.


Reegan teringat tadi ketika di memutar mobilnya untuk pulang, dia teringat bahwa tadi Sarah membeli makanan. Pasti wanita itu sedang bingung, mencari sate yang dia beli tidak ada dia bawa. Reegan akhirnya berinisiatif untuk membeli makanan, matanya tertuju pada sebuah rumah makan padang yang sudah hampir tutup. Namun masih ada sedikit lauk yang tersisa, akhirnya Reegan memborong semua sisa makanan itu.


"Makasih, aku langsung balik aja ya. Udah malam, kamu pasti cape juga mau cepat pulang..."


"Makan disini aja kenapa sih, buru-buru banget." Ucap Reegan menarik pergelangan tangan Sarah.


"Nanti mobil kamu bau, Ree. Udah kamu balik gih, udah malam tar di cariin bu Maya loh." Ucap Sarah kemudian menarik lagi handle pintu mobil.


"Aku bilang makan disini, Sar. Aku juga lapar. Tadi siang cuma sempat makan roti sepotong, itu banyak loh. Kamu jangan pelit gitu, aku lho yang beli tadi susah payah." Susah payah menahan malu, batin Reegan.


"Iya, udah nih bawa pulang semua. Tau gitu aku nggak turun tadi, bikin cape aja bolak-balik." Gerutu Sarah merajuk.


"Ck, gitu aja ngambek. Sini aku bukain." Reegan menarik plastik dari tangan Sarah, kemudian mengambil satu bungkus nasi yang sudah dicampur dengan lauk.


"Buka mulut kamu, cepat Katanya lapar." Ucap Reegan tak sabar, sambil menyuap paksa Sarah dengan menggunakan sekop 5 jari miliknya. Mau tak mau Sarah membuka mulutnya, dia tidak tahan dengan aroma rendang daging kesukaan nya itu.


"Suka banget maksa, aku bisa makan sendiri, itu tangan kamu bersih nggak." Ucap Sarah dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


"Bersih, tadi aku nyuci disana waktu beli makanan ini. Makan aja, enak kan, itu udah suapan kedua kamu loh. Ucap Reegan sambil menyuapi dirinya sendiri. Tampaknya kedua anak manusia itu, memang sangat lapar.


"Ck, ya enaklah. Tapi kalo tangan kamu kotor juga bisa jadi penyakit." Meski berbicara begitu mulut Sarah tetap lancar jaya mangap ketika di suapi oleh Reegan.


__ADS_2