
Jovan berkali kali melempar polpen nya, dan sudah hampir habis stok yang ada dalam kotak polpen dilaci mejanya. Pria itu mengeram kesal, pasalnya, sudah beberapa kali menelpon Joi dan mengirim pesan pada gadis itu. Namun tak satupun pesannya di balas, boro-boro mengangkat panggilan nya.
"Joi kemana sih? ngeselin banget tu bocah" gerutu Jovan tak tenang. Waktu istirahat sudah tinggal 9 menit lagi dan Joi belum terlihat batang hidungnya. Entah di mana gadis bar-bar itu berada.
Tok tok tok
Suara ketukan mengalihkan perhatian Jovan, "masuk!" ketus pria itu tanpa sadar, entah-entah siapa yang mengetuk ruangannya di saat yang tidak tepat.
Klek
Joi melongokan kepalanya sedikit, Jovan yang melihat itu segera menarik Joi ke dalam ruangan nya.
"Lama banget sih! kemana saja tadi?" omel Jovan menciumi wajah Joi bertubi-tubi, lalu berakhir di bibir Joi. "Ssshhhh, kok pedes? abis makan apa tadi di kantin?" tanya Jovan merapikan rambut Joi yang berkeringat. Pasti gadis itu habis makan sambel level akhir pikir nya.
"Abis makan bakso setan pake sambel iblis neraka paling sadis" ujar Joi nyengir, memamerkan deretan gigi kelinci nya yang putih bersih.
Jovan menatap bibir Joi yang memerah dan sedikit jontor. "Lain kali jangan makan pedes-pedes lagi, tidak baik buat proses pembuahan zigot aku di sini." Ujar Jovan mengingat kan sambil mengelus perut rata Joi.
"Ih, bapak. Kata-kata itu doa loh, tar aku hamil beneran bagaimana? masih kelas dua ini" omel Joi protes.
Jovan terkekeh pelan "aku memang mendoakan nya, yang. Aku tidak sabar mau di panggil papa. Pasti keren kalau aku punya anak, apalagi kalau anak cewek. Aku bakal jadi hot papa yang paling keren sejagat raya." Tutur Jovan bangga, senyum sejuta hanyalan nya sudah terpatri dibibir nya.
"Isshh, tidak jelas." gerutu Joi mendudukkan dirinya di sofa, dasar tuan ruangan tidak punya manner, masa ada tamu tidak disuruh duduk sih.
Jovan juga ikut duduk kemudian membaringkan kepalanya dipaha Joi.
"Elus yang, aku kangen" tangan Joi mengelus kepala Jovan sesuai perintah Pria itu. "Ck! bukan rambut aku, ini yang" decak Jovan kesal kemudian memindahkan tangan Joi ke atas celana nya.
"Ishhh.. mesum banget sih" Joi menarik kembali tangannya namun di tahan okeh Jovan.
__ADS_1
"Dia kangen yang, dua hari tidak bertemu." Jovan menampilkan wajah memelas nya.
"No no noo! 5 menit lagi masuk jam nya ibu Wina killer" tolak Joi tegas.
Jovan bangun dari baringnya, lalu duduk di sisi Joi, pria itu sibuk membuka gesper nya berikut kancing celana kainnya.
"Bentar yang, 5 menit cukup, aku bakal cepat keluar kalo lagi pengen banget" Jovan menarik Joi hingga duduk di pangkuan nya kemudian mengangkat rok gadis itu.
"Udah tegang banget yang," Jovan menyelipkan jarinya untuk menyingkap celana d*al*am Joi ke samping.
Joi hanya bisa pasrah dengan kelakuan guru cabul nya, untung udah mulai sayang batinnya.
"Angkat dikit yang, aku mau masuk" suara Jovan mulai berat. Joi menurut Jovan mulai menggesek pelan.
"Dudukin yang" titah Jovan Joi bergerak pelan, Jovan memejamkan kedua matanya. Menikmati penyatuan mereka.
5 menit sudah terlewati, kini setelah hampir 20 menit, keduanya mengerang panjang. Nafas Joi dan Jovan ngos-ngosan. Posisi Joi kini terbaring diatas meja kerja Jovan.
"Makasih yang, enak banget.." Jovan menarik Joi hingga duduk lalu mencium kening gadis itu dalam. "Enak tidak tadi?" pertanyaan Jovan membuat Joi sebal.
"Kalau tidak enak aku tidak mendesah enak" Jovan terkekeh pelan lalu meraih tisu dan mulai membersihkan area inti Joi.
"Nanti pulang ikut aku ke rumah ya, mau kenalin sama mommy dan daddy." Mohon Jovan sambil membenahi baju Joi.
"Cepet banget, nanti di kira anak sekolah mau les privat lagi." Joi menatap Jovan yang baru selesai membenahi pakaiannya sendiri.
"Tidak cepat juga, tapi aku sudah tidak sabar, jadi nanti kalau aku bilang mau nikah. Udah jelas mau nikahnya sama siapa" jelas Jovan masih berharap Joi akan ikut dengannya, pasalnya dia sudah mengabari kedua orang tua nya jika dia sudah melamar seorang gadis. Dan respon sang ayah di luar perkiraan nya.
"Alah bilang aja kalau kau ingin segera kembali mendapatkan semua fasilitas VVIP mu kan? Pokok nya daddy tidak akan percaya sampai kau datang membawa gadis malang yang kau jadikan tamengmu itu." tegas Edwin tanpa mau mendengarkan penjelasan lanjutan dari Jovan.
__ADS_1
Sungguh tidak berakhlak bukan? bukannya senang si anak sudah bertobat ke jalan yang benar. Jovan hanya bisa menggerutu menatap ponselnya yang dimatikan sepihak oleh sang ayah.
"Galak tidak?" tanya Joi cemas.
"Tidak lah, nanti aku bakalan marah kalau berani galak sama calon mommy anak aku ini. Orang akunya sayang banget sama dia" Ujar Jovan apa adanya, pria yang paling anti dengan kata romantis dan cinta. Kini jadi pria bucin dengan tingkat kegilaan yang luar biasa.
Pipi Joi merona mendengar pengakuan Jovan. Pria itu selalu mengungkapkan perasaan nya tanpa malu pada Joi.
"Ya deh, pulang sekolah tar aku mau ke rumah Dimas dulu tapi, tadi aku nitip tas pakaian dimobil Dimas. Aku bakal nginap 2 hari, ada acara baksos kan dua hari besok. " Ujar Joi mengingat kan.
"Ah ya, kau benar. kenapa aku bisa lupa, efek mikirin selangka*ng*an mu terus ini" Ucap Jovan frontal. Dan di hadiahi cubitan diperut nya.
"Astaga! aku telat setengah jam nih, mampus deh" Ujar Joi panik.
"Udah biarin aja, sekali-kali bolos tidak masalah. Aku sudah chat ibu Wina. Kalau kau lagi sakit perut dan sedang di UKS sampe jam pulang." Ujar Jovan santai.
"Wah wah! anda keterlaluan pak Jovan. Guru yang tidak patut di contoh ini, padahal aku udah bela-belain ngerjain tugas beliau tadi waktu baru datang, upss!" Joi menutup mulutnya karena keceplosan.
Jovan memicing kan matanya tajam "jangan bilang sibuk main sampe lupa ngerjain tugas sekolah?" tanya Jovan mengintimidasi.
Joi memamerkan deretan gigi kelinci nya, dia memang lupa. Keasyikan main di keramba dan di kebun. Bahkan bajunya tidak sempat dia setrika, untung kakak nya mengingat kan sekaligus menyetrika seragam sekolah gadis itu.
"Aku sibuk di kebun, tidak liat ini kulit aku jadi eksotis gini" pamer Joi memperlihatkan tangannya yang sedikit belang, meski sangat samar untuk terlihat.
"Bantu di kebun apa pergi mancing?" Jovan masih tak percaya, mengingat aduan para calon kakak ipar nya, jika Joi yang jika dirumah akan kembali pada kelakuan aslinya. Tomboi.
"Bener, aku cuma mancing di keramba papa yang kemarin itu. Buat barbeque an pas malam Minggu kemarin. Benar, sumpah, aku tidak bohong!" Joi mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.
Jovan hanya bisa menghela nafar panjang, sabar batinnya komat kamit baca mantra.
__ADS_1