
Daniel gelisah sejak kembali ke rumah sakit sore tadi, ada saja alasan Tiara untuk menahannya di sana. Padahal putri nya sama sekali tidak rewel.
"Tiara, aku akan keluar sebentar. Makanlah makananmu, aku akan kembali ke rumah, semoga saja istri ku sudah pulang." Daniel berbicara sambil mengenakan jaketnya, lalu meraih kunci mobil setelah nya dia mencium kening sang anak dengan sayang.
"Apa kau tidak bisa membiarkan nya saja, Daniel. Tidak bisakah kau menerimaku dan Misha dalam hidup mu, dan melepaskan istrimu yang mandul itu." Seru Tiara sambil menangis.
Daniel mengepal kan tangan kuat, rahangnya mengeras menahan diri untuk tidak balas meneriaki wanita itu.
"Aku sudah jelaskan padamu, Tiara. Hubungan kita hanya sebatas karena adanya Misha, tidak lebih. Jika aku bisa memilih, aku akan memilih istri ku yang mengandung dan melahirkan anak-anak ku. Bukan kau!" Balas Daniel menahan gemuruh emosi didadanya.
"Dan ya, hanya karena istri ku belum bisa memberikan ku keturunan, bukan berarti dia mandul. Jaga ucapan baik-baik, Tiara. Tidak ada hubungan apapun diantara kita, tidak akan pernah ada, sampai kapanpun." Tegas Daniel sedikit meninggi kan suaranya.
Lalu bergegas meninggalkan ruangan putri nya, "jika kau lebih memilih istri mu, maka Misha tidak akan aku berikan padamu. Ingat Daniel, kau tidak punya hak atas dirinya, hanya aku. Aku ibunya, aku yang mengandung dan melahirkan nya dengan bertaruh nyawa. Bukan istri mu!" lagi-lagi perkataan Tiara menyulut emosi Daniel.
"Kau lupa, Tiara. Aku lah ayah kandung nya, bahkan di surat keterangan lahir juga akta kelahiran nya. Semua atas namaku Juga Asha. Aku bisa dengan mudah mengambil Misha darimu, namun aku masih punya hati nurani. Memikirkan perasaan mu dan membiarkan kau merawat nya, hingga kau sendiri yang melepaskan nya padaku." Daniel menekan suaranya agar tak membangun kan putri nya.
"Jangan bermain-main dengan ku, Tiara. Kau tidak ada apa-apa nya di bandingkan istri yang segala-galanya." Tukas Daniel tak berperasaan.
Tiara semakin terisak, hingga terduduk di lantai dingin itu. Berharap Daniel akan iba dengan nya, namun Daniel acuh dan malah pergi meninggalkan nya dalam perasaan terluka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daniel memukul kemudi nya berkali kali, untuk melampiaskan amarahnya. Sudah sejak hamil 7 bulan, Tiara selalu menekannya. Mengatasnamakan calon anaknya sebagai alasan agar bisa menguasai nya, hingga tak jarang. Daniel terpaksa mangkir dari pekerjaan nya untuk menemani wanita itu meski hanya sekedar jalan-jalan atau makan di luar.
Dia lemah apapun yang menyangkut Misha, namun juga tidak ingin di manfaat kan untuk dikuasai oleh Tiara.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Daniel menoleh pada ponselnya yang bergetar di atas dasbor, diraihnya lalu membuka pesan yang dikirim seseorang menggunakan nomor baru.
Terlihat foto seorang wanita tengah menangis diam-diam diatas kursi ayun, sambil memeluk sebuah pigura di sudut balkon. Matanya terpejam menekan perasaan sesak di dadanya.
Itu istri nya, hati Daniel terasa tertusuk pisau berkali kali. Perih, hatinya nya sakit melihat keadaan wanita yang sangat dia cintai itu, dalam keadaan yang sangat rapuh. Namun berusaha setegar mungkin didepan orang lain.
__ADS_1
Daniel segera menelepon nomor tersebut, sayangnya, sudah tidak aktif lagi. Dia yakin, pasti itu kerjaan Lumina. Wanita itu selalu iseng padanya, ketus dan tak bersahabat.
"Sial sial..." kembali Daniel meninju kemudinya yang tak bersalah.
Dia belum pernah melihat model balkon dan kursi rotan itu, hingga sulit baginya untuk menebak, dimana istri nya berada sekarang. Ponselnya pun tak bisa di lacak. Daniel berpikir keras, ponsel istri nya sudah dia lengkapi dengan alat pelacak. Namun kini sama sekali tak terdeteksi dimana-mana. Bagaimana bisa? itulah yang menggangu pikiran nya sejak tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarah nampak gelisah, sejak sore tadi wanita itu uring-uringan tak jelas. Reegan hanya bisa menenangkan sang istri sebisanya. Pria itu masih belum mengetahui apapun, sekembalinya Sarah dari rumah sang anak. Wanita itu jadi begitu pendiam, sesekali Reegan mendapati istrinya mengusap sudut matanya.
Namun tak berani menanyakan apapun.
"Apa sudah bisa menghubungi Asha, yah?" tanya Sarah tak sabar, lagi-lagi Reegan hanya menggeleng pelan.
"Ya Tuhaan. Dimana putriku sekarang, jaga dia untukku. aku Mohon," Isak Sarah sudah tak mampu membendung kecemasan nya lagi.
Saat dia mulai kepikiran akan putri bungsunya, Sarah berinisiatif mendatangi rumah anak-menantunya. Namun sesampainya disana, hanya ada bi Surti yang tengah makan siang seorang diri di dapur.
"Anu.. bu.. itu.. tadi sehabis abang pergi, adek juga pergi di jemput oleh seseorang. Tapi bibi gak tau, soalnya cuma nunggu di luar gerbang, itupun dalam mobil." Jelas bi Surti takut-takut.
"Asha gak bilang mau kemana, gitu?" tanya Sarah masih penasaran, tidak biasa nya putrinya seperti ini. Apalagi penjagaan ketat oleh Daniel, tidak mungkin menantu nya itu membiarkan istrinya keluar rumah tanpa ditemani.
Sarah berinisiatif menghubungi Daniel, setelah dua kali panggilan akhirnya panggilan Sarah di jawab. Namun bukan oleh Daniel, melainkan seorang wanita.
"Ya halo,"
Sarah mematung, dilihat nya kembali, dia tidak salah nomor. "Ah, maaf. Apa ini nomor Daniel?" tanya Sarah memastikan.
"Ya benar, Daniel maaih di kamar mandi, apa ada pesan yang harus segera disampaikan. Katakan padaku saja, akan aku sampai kan nanti." Tawarnya dengan suara ramah.
Jatung Sarah mulai bekerja tak senormal tadi, rasa penasaran mulai memenuhi hatinya.
"Oh, tidak terlalu penting. Maaf jika aku mengganggu, selam...."
__ADS_1
"Siapa yang menelepon, kenapa kau mengangkat nya Tiara." Terdengar suara gusar Daniel di ujung telepon walau samar, namun Sarah dapat mendengar nya dengan jelas.
"Maaf kan ibu, daddy. Misha terbangun karena suara ponsel daddy tadi, jadi aku berinisiatif mengangkat nya. Lagi pula seperti salah sambung, katanya tidak ada yang penting"
Degh!
Jantung Sarah seperti di tusuk ribuan pisau, mendengar suara seorang wanita yang memanggil menantu nya, dengan begitu mesra.
Misha, siapa? daddy? Daniel sudah punya anak? dengan Siapa? jelas itu bukan suara Putri nya.
Sarah berinisiatif mematikan panggilannya, dia yakin, Daniel tidak menyadari jika telpon nya masih tersambung. Jika tidak, pria itu pasti akan kalang kabut menjelaskan padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daniel mencoba menghubungi Kavin, dia akan beralibi jika dirinya sedang mencari villa untuk berlibur bersama sang istri.
Saat menggulir kontak, tanpa sengaja Daniel menggeser nya ke menu panggilan. Jantung Daniel seakan berhenti bekerja saat itu juga, bagaimana tidak. Panggilan dari ibu mertua nya, masuk hingga beberapa menit. Dan itu tadi siang, artinya, panggilan yang dijawab oleh Tiara. Adalah panggilan ibu mertua nya.
Daniel benar-benar gusar dan ketakutan sekarang, dia ingat tadi Tiara hanya sebentar berbicara di telpon. Lalu saat dia melihat durasi panggilan itu, dia yakin, Tiara tidak mematikan panggilan tadi.
Jelas sekarang, jika mertuanya mendengar jelas percakapan dengan Tiara tadi siang. Daniel meraup wajahnya kasar.
Kini dirinya dalam masalah besar. Dan bisa dipastikan, siapa yang akan lebih dulu mengeksekusi nya nanti. Tentu saja sang ayah. Terekam jelas di ingatan Daniel, nasihat-nasihat sang ayah menjelang pernikahan nya.
Pria paruh baya itu bahkan sanggup melenyapkan nya, jika berani melukai menantunya. Kini dia hanya berharap, mertuanya belum mengatakan apapun pada keluarga besar mereka.
Dan yang paling penting, menemukan sang istri dan menjelaskan semuanya. Bahkan Daniel sudah putus asa memperjuangkan putri nya, biarlah dia Tiara yang merawat nya. Jika itu bisa mengembalikan keutuhan rumah tangga nya.
Kembali pada rencana awal, mengadopsi akan lebih baik. Tidak akan menyakiti siapapun tentunya. Kini dia sadar, sikap egoisnya mempertahankan Misha, hingga rela membohongi sang istri terus menerus.
Dia merasa sangat bersalah, istri nya yang malang, telah dia bohongi berkali kali. Daniel menyesalinya, sangat. Andai dia bisa memutar waktu, dia tidak akan menerima wanita itu masuk dalam kehidupan nya. Walaupun Tiara sedang mengandung anaknya.
Namun sayangnya, harapan untuk bisa memiliki anak kandung. Membutakan mata hatinya hingga tak bersisa, kini dia harus menanggung akibatnya dengan harga yang mahal.
__ADS_1