
Setiba di parkiran rumah sakit, Sarah turun terlebih dahulu, lalu mengambil paper bag di bagasi, dan berjalan meninggal kan Angga yang masih terlihat sibuk membalas pesan di ponsel nya.
Sesampai di ruangan sang ayah, Sarah menyapa ayah nya yang terlihat sedang melamun sambil menggenggam ponsel di tangan nya. "Pagi yah." Sapa Sarah pada ayah nya.
"Pagi nak, kamu datang sendiri? Bawa apa itu?." Tanya pak Ramdhan pada putri nya dengan raut wajah senang.
"Sama aku yah." Belum sempat Sarah menjawab sudah di jawab duluan oleh suami nya.
"Eh, nak Angga. Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk ayah, seharus nya tidak usah repot repot memaksakan diri jika memang sibuk." Ucap pak Ramdhan basa basi, dia sengaja menekan kan kata "sibuk" pada menantu nya itu. Bukan kah itu adalah alasan yang biasa di ucap kan Sarah, jika diri nya bertanya kenapa Sarah lebih sering mengunjungi nya sendirian.
"Tidak apa apa, yah. Bagaimana keadaan ayah?.. Seharus nya sudah bisa pulang jika melihat keadaan ayah sekarang. Maaf, maksud ku keadaan ayah su...." Ucapan Angga terpotong di sela oleh Sarah.
__ADS_1
"Ayah sarapan dulu, ya. Sarah ada bawakan sup ikan mas kesukaan ayah, pake wortel sama jagung muda. Ayah pasti suka." Ucap Sarah pada ayah nya sambil melirik tajam pada sang suami. Bagaimana bisa suami nya berkata seperti pada ayah nya. Apa dia pikir ayah nya suka berlama lama di rumah sakit, lagi pula bukan dia yang membiayai pengobatan itu.
"Nanti saja, nak. Ayah baru saja minum obat lambung, setengah jam lagi baru boleh makan." Jelas pak Ramdan pada anak nya, itu hanya alasan nya saja. dia tau Sarah pasti tidak enak dengan ucapan suami nya. Meski hati nya sedih mendengar ucapan menantu nya itu, namun dia tidak ingin memperlihat kan nya di depan Sarah.
"Ya sudah, Sarah taruh dulu di sini." Ucap Sarah, sambil menutup kembali kotak makanan itu dan menaruh nya di atas nakas samping ayah nya.
"Sarah mau keluar sebentar, ayah mau nitip apa, nanti Sarah belikan?.."
"Toko roti, Ramaya Bakery, yah. Kalau ayah suka nanti Sarah beli kan lagi, pemilik nya bernama Bu Maya. Apa ayah ingat, Sarah pernah cerita tentang seorang wanita paruh baya yang di jambret di halaman sebuah butik. Yang Sarah tolong mengobati luka di lutut nya akibat jatuh terjerembab di aspal. Dia lah pemilik toko roti itu, Sarah juga baru tau ketika tanpa sengaja bertemu lagi di toko roti waktu itu." Jelas Sarah panjang lebar pada sang ayah.
Angga hanya menyimak apa yang sedang di perbincangkan oleh istri, dan mertua nya tanpa oaham arah pembicaraan keduanya.
__ADS_1
Ayah sarah seketika terdiam mendengar penuturan putri nya. Tidak mungkin itu dia pikir nya, bukan kah wanita itu sudah menikah lagi dan tinggal di luar negeri bersama suami baru nya.
"Yah? Ayah kenapa?.." Tanya Sarah, yang melihat ayah nya tiba tiba terdiam.
"Heh? nggak apa apa. Maaf ayah jadi melamun, tadi ayah keingat kang Ujang, dia bilang mau ke sini nengok ayah sama istri nya sehabis periksa kandungan." Elak Ramdhan berusaha menepis pikiran nya yang sedang kacau.
"Owh, ya sudah Sarah keluar dulu sebentar. Mas Angga juga sudah mau berangkat kerja, ya kan mas?.." Ucap Sarah melirik suami nya.
"Ah, Iya. Semoga ayah cepat sembuh. Maaf, tidak bisa ikut menjaga ayah di sini." Ucap Angga, tanpa menunggu jawaban ayah mertua nya, dia berjalan keluar di susul Sarah di belakang nya. Pria itu bahkan tidak mau mencium punggung tangan mertua nya. Terlihat sekali bagaimana dia begitu gelisah berada di dalam ruangan berisi penuh dengan pasien dan keluarga pasien tersebut.
Ayah Sarah menatap sendu punggung menantu dan anak nya itu. Entah apa yang sedang dia pikir kan. Pria paruh bawa itu kemudian membuka laci nakas, lalu mengambil sebungkus roti dan mengeluarkan isi nya, kemudian menggigit pelan sambil meresapi rasa nya.
__ADS_1
Rasa nya sama persis, seperti buatan mantan istrinya. Pak Ramdhan hanya berharap itu bukan orang yang sama, nama Maya bukan hanya mantan istrinya saja, pikir nya. Mungkin hanya kebetulan saja rasanya sama, atau karena dirinya sangat merindukan wanita itu.