
"Pagi, ma. Mama mau ke toko lagi hari ini, nggak cape. Suruh Amel aja yang handle pekerjaan di toko, kan biasa nya juga gitu. Mama mending istrahat aja di rumah, aku nggak mau mama kecapean. Bukan nya apa, Reegan hanya tidak ingin jika ibunya terus berusaha mencari keberadaan sang ayah.
Sementara sang ibu melongo tidak percaya, anak nya yang biasa sangat irit bicara itu, kini berbicara panjang lebar pada nya.
"Mama kesepian dirumah, Gan. Kalau di toko, anak-anak selalu rame, ada aja ulah atau cerita mereka yang bisa bikin mama ketawa." Ucap sang ibu dengan binar bahagia di wajahnya. Membuat Reegan pun tak tega untuk melarang nya.
"Iya sudah, hari ini mama sama aku aja, aku yang antar ke toko. Nggak usah di antar sama pak Danar, pulang nya juga aku yang jemput." Ucap Reegan dengan nada yang tak ingin di bantah.
"Loh, kenapa? Bukan nya, mama biasa kemana-mana sama pak Danar?".. Protes sang ibu, pasal nya dia hari ini Inging ke rumah sakit, menjenguk ayah nya Sarah. Dia juga sangat merindukan wanita muda itu, meski setiap hari mereka berkirim pesan, namun tetap saja dia merasa tidak cukup.
"Memang beda nya apa, kalau di antar sama aku, ma? Sama aja, kan? Apa karna mobil nya beda? Nanti aku tukar sama pak Danar. Beres kan?".. Bukan Reegan nama nya jika tidak bisa mengintimidasi lawan bicara nya hingga tak mampu bersuara lagi.
__ADS_1
"Terserah kamu deh, mama ikut aja." Ucap bu Maya lesu, suara nya sudah tak se-semangat tadi. Dia menyudahi sarapan nya yang belum setengah itu, pikiran nya melayang, jika dia tidak bersama pak Danar sopir nya. Akan susah sekali untuk keluar, apa lagi naik taksi. Dia tau putra nya itu telah menyediakan bodyguard bayangan untuk nya, untuk itulah dia butuh pak Danar yang selalu bisa dia andalkan untuk membuat kan alibi jika dia keluar dari toko roti nya.
"Mama sudah selsai, ayo?.. Aku ada meeting pagi ini." Ucap Reegan sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.
"Eh, ya ya, ayo. Mama udah siap kok, yuk." Lalu berjalan mengiringi langkah putra nya menuju pintu keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sudah sus, ini mau di pindahin ke brankar yang ini ya." Tunjuk Sarah pada brankar yang di bawa oleh perawat tadi.
"Iya, mba. Bapak bisa pindah sendiri atau di angkat, di angkat juga nggak papa, nanti saya panggil kan perawat laki laki." Ujar perawat itu.
__ADS_1
"Nggak usah, sus, tapi terimakasih sebelumnya, saya masih bisa sendiri. Masih kuat gini kok." Seloroh pak Ramdhan. Membuat perawat itu dan Sarah tersenyum.
"Biar saya bantu dorong, sus. Suster arah kan di depan aja." Ucap Sarah sopan.
"Baik, mbak." Jawan si perawat lalu memutar langkahnya ke depan, arah ujung kaki pak Ramdhan.
"Ayah jangan mikirin apa apa ya, cukup fokus pada kesehatan ayah aja. Setelah ini, kita akan memulai hidup kita yang baru. Sarah akan jaga ayah, rawat ayah dan kita bisa melakukan hal yang dulu belum sempat kita lakuin. Ayah masih pengen ke raja Ampat, kan. Maka nya ayah harus sehat, biar Sarah makin giat lagi nyari uang buat kita liburan." Ucap Sarah terkekeh pelan di ujung kalimat nya.
"Iya, ayah akan selalu sehat asal anak ayah juga sehat dan yang terpenting, anak ayah selalu bahagia. Hanya itu yang ayah inginkan."
"Kita sudah sampai, mbak. Tunggu di sini aja ya, ayah nya akan aman di dalam, dokter Reza sudah menjamin nya. Beruntung bapak bisa di tangani sama calon menantu sendiri." Ucap perawat wanita itu terkekeh pelan.
__ADS_1
Sarah hampir saja tersedak saliva nya sendiri, calon menantu? Emang calon nya siapa? Dia lalu menatap ayah nya dengan tatapan bertanya, mungkin saja sang ayah tau sesuatu yang dia tidak ketahui. Namun sang ayah hanya menggeleng pelan, menandakan bahwa beliau juga tidak tau menahu.