
Seorang sedang mengintai rumah milik Angga, mereka membawa sebuah paket berukuran sedang, lalu menghampiri pos satpam.
"Permisi pak, saya mau antar paket, tapi paketnya harus dikasih langsung pada pemesannya. Boleh saya masuk?" Ucap pria yang memakai baju dengan logo sebuah expedisi ternama itu ramah.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya penjaga rumah itu mempersilahkan pria yang membawa paket itu masuk. Dia ingat, akhir-akhir ini sang majikan lebih sering berbelanja online, mungkin itu adalah salah satu pesanan majikannya.
"Permisi, paket!".. Seru pengantar paket itu pada pemilik rumah.
klek
"Ya, mas. Ada apa ya?" Lusi bingung, pasalnya paket pakaian bayi nya sudah sampai semua, bahkan paket yang dikirim Sarah pun sudah tiba dirumah kemarin sore.
" paket bu." Lalu pria itu melirik pada perut wanita hamil itu. "Paket pakaian bayi dan kebutuhan ibu menyusui, sudah dibayar sama pengirim nya. Ini saya taruh dimana bu?".. Ucap pria itu lagi pada Lusi.
"Eh, hmm. Coba tarok di meja itu aja, mas." Tunjuk Lusi pada kurir tersebut.
" Sudah bu, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang, maaf mengganggu waktu anda." Ujar pria itu tersenyum ramah, kemudian meninggalkan rumah tersebut.
"Ya mas, makasih banyak." Walau masih kebingungan, Lusi tetap berusaha seramah mungkin pada sang kurir.
"Bi Sitii... Tolong bawa gunting atau pisau kecil ya, aku mau buka paket." Seru Lusi pada ARTnya.
"Ini bu, ini paket apa bu. pakaian si dede montok dua lagi ya." Bi Siti sangat kesulitan menyebut, twins, jadi nya dia memanggil janin Lusi dengan sebutan, 'Dede montok dua'.
"Nggak tau bi, ini nama pengirimnya, Ramdhan Herlambang. Eh, kok nggak asing ya, bibik pernah dengar nggak?".. Tanya Lusi penasaran, pasalnya nama itu pernah disebut oleh suaminya, pria yang resmi dia nikahi sebulan yang lalu, setelah resmi bercerai dari Sarah.
__ADS_1
"Pernah bu, kaya nama Ayahnya bu Sarah." Ucap bi Siti tidak enak.
"Ah, ya bibi benar. Kok ngirim paket kesini. Apa buat si dede montok dua ya bi." Seloroh Lusi pada bi siti, membuat wanita berumur 35tahun itu tersenyum malu.
"Mungkin bu, coba di buka. Bibi juga jadi penasaran." Ucap wanita itu dengan wajah penasaran. Tiga bulan lebih tinggal serumah dengan nyonya barunya, sudah tidak membuat bi Siti canggung. Mereka malah sering menghabiskan waktu bersama jika Angga pergi bekerja.
Wanita hamil itu sudah tidak hobi keluar rumah atau menghamburkan uang, dia malah lebih suka belanja sayur di penjual sayur keliling atau ke pasar. Lebih murah dan segar katanya, ke supermarket hanya untuk mempertahankan gengsi saja buat apa. Wanita hamil itu menjadi sangat irit sekarang, tiap bulan dia akan membuat list belanja, agar tau kebutuhan apa saja yang harus dibeli.
Sungguh manusia itu memang tempatnya salah dan dosa, namun Tuhan itu baik, menciptakan kata yang ajaib, yaitu kesempatan kedua. Jangan pernah menghakimi masa lalu seseorang, karna dari kesalahannya, kita juga diberi banyak pelajaran berharga. Jangan menjadi bodoh untuk mengulangi nya, di kehidupanmu. Karna saat dia sudah menjauh dari dosa nya kamu justru tercemplung masuk kesana karna ketamakan pikiranmu.
"Sini bu, saya aja. Kok saya deg-degan gini ya. Siniin guntungnya bu." Entah kenapa perasaan wanita itu tidak tenang.
"Yee, si bibik mah. Nih, ati-ati." Lusi memyerahkan gunting tersebut pada ARTnya.
"Sudah bu, tinggal buka dus nya aja. Biar saya aja ya bu, kok perasaan saya nggak enak ya." Tawar bi Siti lagi.
"Ya sudah buka gih, aku juga penasaran." Ucap Lusi pada ARTnya.
"Bismillah." Kata itu kembali dia gumamkan.
"aaaaaaaaaaa..." Teriakan bi Siti dan Lusi menggema di ruang tamu itu, hingga ke pos yang berjarak hampir 50meter dari rumah tersebut. Membuat penjaga rumah tersebut, berlari tunggang langgang mencari sumber suara yang dia dengar.
"Kenapa bu, Siti. Kalian kenapa, kamu apa kan ibu Lusi. Ini kenapaa ada darah dan gunting? Astagfirullah, Siti! Kamu apakan ibu Lusi, hah! Ya ampun, ibu Nggak apa-apa, sebentar saya hubungi bapak." Cerocosan penjaga rumah itu panjang lebar, tapi tidak mampu menyadarkan Lusi dan bi Siti dari keterkejutan dan juga ketakutan dalam waktu bersamaan.
"Halo bapak dimana? Oh, baik pak sebentar saya buka pagarnya." Ternyata sang majikan sudah ada didepan gerbang, Yono berlari keluar membuka pagar, lalu menggedor jendela mobil majikannya dengan tidak sopan.
__ADS_1
"Pak turun pak, ibu pak. Sama Siti berdarah didalam, ada gunting ditangan Siti pak, cepat pak." Sontak membuat pria itu dilanda kepanikan, Angga membuka mobilnya lalu berlari masuk.
"Sayang, sayang dimana yang luka bilang sama aku, Yono kamu urus Siti, telpon polisi. Sayang dengar aku kamu tenang ya, kita kerumah sakit sekarang." Angga mengangkat tubuh istri nya hendak membawa kerumah sakit, seketika kesadaran Lusi kembali.
"Paket mas, ada kaki mas, kaki! " Seru lusi menangis histeris seraya menunjuk paket didekat kaki Angga.
Seketika Angga menoleh, karna terlalu panik dia sampai tidak memperhatikan isi paket tersebut. Angga dibuat hampir terkena serangan jantung, dia mendudukan Lusi di sofa, karena dirinya sendiri juga butuh sandaran.
"Siapa orang gila yang sudah mengirim paket mengerikan ini kerumah saya, Yono! Kenapa kamu bisa seceroboh ini, hah!" Sungguh Angga ingin mencincang-cincang, orang yang sudah berani mengganggu ketengan keluarga kecil nya.
"Saya juga tidak tau pak, katanya paket pesanan ibu, jadi saya biarkan masuk. Karna biasanya juga begitu." Jelas Yono ketakutan.
Angga melihat nama pengirim nya, dahinya mengernyit. Mantan ayah mertua nya? Ini tidak mungkin, dia tau pak Ramdhan bukan orang yang suka iseng. Tidak mungkin pria paruh baya itu dendam padanya, karna sudah menghianati putrinya.
Tapi akan tetap dia datangi, bagaimana pun masalah ini harus selesai secepatnya. Ini akan merusak ketenangan sang istri yang sedang hamil itu.
"Yono, kamu bungkus lagi paketnya, kita datangi rumah Sarah, bawa itu kemobil saya. Sayang kamu tenang ya, aku akan selesai kan masalah ini. Kamu dirumah aja sama bi Siti. Yono, apa kamu sudah sempat menghubungi polisi tadi?"...
"Tidak pak, waktu ibu bilang kaki, saya nggak jadi manggil. Saking terkejutnya, maaf pak." Kembali Yono merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, sudah benar kamu. Sudah? Itu kamu bawa kemobil saya sekarang." Perintah Angga.
"Aku ikut mas, aku takut orang-orang jahat itu masih mengincar rumah kita." Ucap Lusi ketakutan.
"Ya sudah, ayo." Mereka meninggalkan bi Siti dirumah sendirian, membuat wanita itu mengunci seluruh pintu rumah, dan masuk ke kamarnya.
__ADS_1