Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXIV


__ADS_3

Reegan tersentak oleh suara Daniel. ditatapnya wajah pria muda itu dengan perasaan tak menentu. Waktu begitu cepat berlalu, namun luka hati mereka seolah tak pernah bisa disembuhkan. Semua orang masih berkutat dalam luka yang sama, namun tidak ada yang benar-benar berusaha untuk menyembuhkan nya. Seakan luka batin itu adalah hukuman, yang wajib untuk mereka jalani.


"Ayah gak pesan sesuatu?" Terlihat seorang pelayan pria, berdiri disamping meja mereka dengan buku kecil dan ballpoint ditangannya.


Entah berapa lama dirinya kembali larut ke masa lalu, sampai tidak menyadari kehadiran pelayan tersebut.


"Ayah nasi goreng saja, nasi goreng ati-ampela petai. Minumnya ini aja lagi, tambah satu ya mas. Udah itu aja, makasih." Reegan selalu memesan makanan favorit sang istri, dimanapun dia makan. Dengan begitu, kerinduan nya pada istri nya itu, bisa sedikit terobati.


"Kamu tidak pesan sesuatu, nak?" Tanya Reegan heran.


"Sudah yah, ayah melamun tadi jadi gak liat. Betapa rakusnya aku kalo mesen makanan." Ujar pria itu terkekeh pelan, disambut Kekehan yang sama oleh Reegan. Lalu keduanya kembali larut dalam cerita, tentang banyak hal yang terlewati, selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Tampak nya, kedua pria beda generasi itu, benar benar saling merindukan satu sama lain.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


"Misi lo gimana? Lancar?" Tanya seorang pria pada gadis yang kini tengah duduk di depan nya. Sesekali pria itu menyemburkan asap rokok elektrik nya kesamping.


"Masih belum membuahkan hasil, pria itu sangat susah untuk didekati. Rasanya percuma usaha gue selama ini. Softlens ini juga tidak membantu banyak, malah bikin mata gue iritasi setiap kali make benda sialan ini. Dan topeng lo ini juga, gak bantu apapun. Bikin kulit gue gatel-gatel gak karuan." Gadis itu berdumel panjang lebar, dia selalu kesal setiap kali harus memakai atribut tersebut.


Pria itu melirik nya dengan tatapan tidak kalah kesal. "Harusnya lo usaha lebih gencar lagi. Gue udah bantu lo banyak, sekarang gimanapun caranya. Lo harus bisa dapat hatinya, uang gue udah gak banyak lagi. Kalo lo bisa dapatin pria itu, gue pengen semua kerugian gue, lo ganti dua kali lipat." Ujarnya dengan penuh penekanan. Tatapan matanya terlihat tak seramah tadi. Pria itu sama tertekan nya seperti gadis yang berada didepan nya.


Pria 31 tahun itu menerawang jauh ke masa lalu. Saat dimana dia mendapati sang ibu, gantung diri di dalam kamar nya. Akibat depresi bertahun tahun karena kepergian sang ayah, yang juga meninggal Meninggal dunia akibat depresi berat.


"Pastikan lo bisa mendapatkan hatinya, jika tidak bisa mendapatkan nya dengan cara baik'-baik, maka lakukan dengan cara cepat. Jebak dia, lo tau harus apa." Ujar pria itu lagi dengan nada dingin dan datar. Terlihat kelas jika pria didepannya, menyimpan dendam yang begitu dalam pada seseorang.


Akan dia singkirkan pria itu disaat semua keinginan nya sudah dia dapatkan. Gadis itu menoleh kearah jendela yang mengarah ke jalanan. Pikirannya menerawang entah kemana, semua rencana nya beberapa tahun lalu tidak membuat nya senang. Semua berjalan tidak sesuai dengan rencananya. Dan dia benci mengetahui seseorang yang dia harapkan mati, masih berkeliaran bebas menikmati hidup dengan nyaman. Gadis itu menghela napas nya dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan. Seperti nya dia harus berlapang dada sedikit lagi, untuk menerima kenyataan, bahwa dirinya harus terus memberikan tubuhnya secara suka rela pada pria dihadapannya ini.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

__ADS_1


"Nih." Seorang pria memberikan segelas kopi pada rekannya. "Jangan terlalu di porsir, kita sudah melakukan yang terbaik, sisa nya percaya kan pada kendali Tuhan. Dia lebih tau, apa yang terbaik untuk hambanya." Nasehat nya pada rekannya tersebut. Wanita itu tampak begitu serius meneliti hasil temuan nya. Hasil yang dia harapkan, bisa dia gunakan untuk orang-orang yang sedang berusaha keras dia selamatkan.


Wanita itu menghela napas berat. "Sudah bertahun-tahun, gue merasa kaya gak ada gunanya." Wanita itu menjeda ucapannya, matanya beralih pada kaca besar yang menghubungkan kesebuah ruangan. "Gue gak tau apa yang salah dengan dengan hasil penemuan gue sebelumnya, kenapa hanya mampu membawa satu orang untuk kembali. Sementara yang lainnya, masih belum bisa gue tarik ke dunia nyata. Gue merasa kecewa dengan diri gue sendiri. Gue menggunakan bahan dengan racikan dan takaran yang sama, dan sekarang pun begitu. Ramuan itu sudah di gunakan selama berabad-abad lamanya, oleh suku pedalaman itu untuk dijadikan sebagai obat."


Terlihat sekali, jika wanita itu masih belum mau menyerah pada penelitian nya. Dia sangat berharap, dengan apa yang di lakukan, bisa membawa semua orang itu, pada orang-orang yang menyayangi mereka. Dengan begitu, dia bisa sedikit membalas kebaikan pria, yang kini masih betah memejamkan kedua matanya. Apakah mimpi pria itu terlalu indah, hingga tidak ada niatnya untuk bangun kembali.


"Lo kapan balik ke kota? Gue mau nitip sesuatu." Tanya nya tanpa menoleh pada rekannya itu. Pikirannya masih menerawang tak tentu arah.


"Besok menjelang malam, apakah dari tuan Wijaya, atau dari lo sendiri?" Balasnya menatap manik wanita yang ada dihadapannya, namun pandangan nya mengarah ketempat lain. Bertahun mengenal nya, membuat rasa itu tumbuh tanpa bisa dia cegah. Dan itulah alasan nya, kenapa dia rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya, untuk membantu wanita itu. Dia tidak berharap cinta nya terbalas, dengan selalu di dekat wanita itu dan membantu nya dalam segala kesulitan, itu sudah cukup baginya.


"Dari gue, titip buat anak-anak. Gue masih belum bisa pulang sekarang. Titip salam kangen dari gue, bilang gue kangen banget sama mereka. Tolong beliin beberapa kebutuhan mereka, terutama yang baru masuk sekolah tahun ini. Pake kartu gue yang sama lo itu, dan pastikan semua kebutuhan mereka selama satu bulan ke depan tercukupi."


Wanita itu kemudian memejamkan kedua mata lelahnya, terang saja, wanita itu hampir menggunakan seluruh waktu, tenaga dan pikirannya, untuk melakukan banyak penelitian. Kegigihan wanita itu membuat sang pria semakin mengagumi nya, dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan.

__ADS_1


"Tenang aja, selama lo di sini, anak-anak akan gue urus segala kebutuhan nya dengan baik." Ujar pria itu seraya menelisik dalam, pada wanita yang bahkan sudah sejak kapan. Tidak pernah merawat dirinya sendiri. Namun itu tidak sedikit pun mengurangi kadar cintanya, faktanya, perasaan itu setiap hari kian bertumbuh subur dihatinya. Tanpa bisa dia kendali kan.


__ADS_2