
"Permisi pak, putrinya nya bisa di bangun kan dulu. Saya ingin mengecek tensi ibu Sarah sebentar." Seorang perawat berucap ramah pada Reegan, yang baru saja dia bangunkan.
Reegan masih berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya, semalam dia tidak bisa tidur nyenyak. Dan sekarang harus terbangun pagi-pagi sekali, di saat dirinya mulai bisa terlelap nyaman.
"Ah, ya. Sebentar." Balas Reegan setelah meregang kan otot-ototnya. Kemudian pria itu berjalan menuju brankar sang istri. Reegan memperhatikan posisi tidur keduanya, pantas saja perawat tersebut meminta nya untuk membangun putrinya. Pasti perawat tersebut tidak enak, jika membangun kan kedua orang yang tidur dalam posisi yang saling berpelukan seperti itu.
"Sayang, Asha? Ayo bangun sebentar nak, bunda mau di periksa dulu." Ujar Reegan lembut, pria itu Merapi kan anak rambut Asha yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya.
"Hmmm.. Ngantuk yah, jam berapa memang nya?" Gadis itu menggeliat tanpa berniat untuk bangun. Asha bahkan bertanya dengan kedua mata yang masih terpejam sempurna. Sarah yang merasa tidur nya terusik pun terbangun, dengan mata yang masih sayu. Wanita itu menatap sang anak yang sedang berada di dalam pelukan nya. Hatinya menghangat, sudah lama sekali hal seperti ini tidak pernah dia rasakan. Kemudian Sarah menoleh pada sang suami yang nampak masih berdiri d samping ranjang nya.
"Ada apa?" Tanya Sarah dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Itu, ada perawat mau cek tensi kamu. Tapi bayi tua kita ini gak mau bangun." Ujar Reegan terkekeh kecil, melihat bagaimana sang anak masih setia memeluk Sarah, tanpa sedikitpun terusik.
Sarah kembali menoleh pada anak gadisnya itu, dia pun tersenyum melihat tingkah lucu sang anak. Yang malah semakin merapat kan tubuh nya pada dirinya.
"Sayang, bangun sebentar yuk. Nanti di lanjut lagi tidur nya, hmm?" Ujar Sarah lembut. Dan itu berhasil membuat mata Asha sedikit demi sedikit terbuka sempurna.
"Udah pagi ya bun? Cepet banget." Keluh gadis itu manja.
"Udah jam 6, bangun dulu. Kasian suster nya kelamaan nunggu." Lanjut Reegan seraya membantu sang anak duduk. Dengan telaten pria tersebut menuntun Asha menuju bed khusus penunggu pasien, yang letaknya sekitar Satu meter dari ranjang sarah.
__ADS_1
Setelah selesai menyelimuti sang anak, Reegan kembali menghampiri istri nya yang sedang di tensi oleh perawat. Kegiatan Reegan sejak tadi, ternyata menyita perhatian sang perawat. Wanita muda itu sangat mengagumi apa yang telah Reegan lakukan. Sangat jarang di dunia dewasa ini, ada pria yang begitu lembut dalam memperlakukan anak istrinya. Dan tidak malu memperlihatkan nya di hadapan orang lain.
"Berapa tensi istri saya sus?" pertanyaan Reegan membuat perawat tersebut tersentak kaget, pasalnya sejak tadi dia melakukan tugasnya sembari menghayal. Jika saja dirinya yang sedang berada di posisi sebagai istri dari pria di hadapannya ini, pasti akan sangat membahagiakan. Begitulah batinnya.
"Heh?.. Ini?... Emmm... Sebentar, saya ulang lagi." Ujar perawat tersebut terbata. Sungguh konyol, sempat-sempatnya dia berkhayal sampai sejauh itu. Dia jadi malu sendiri, imajinasi gilanya telah membuatnya jadi ceroboh. Sungguh memalukan pikirnya.
"110/70 Pak. Bagus ya pak, bu. Nanti akan ada dokter yang akan menjelaskan secara detail mengenai kondisi ibu Sarah." Ujarnya lagi pada suami pasien. "Ibu ada keluhan?" Tanya sang perawat sambil tersenyum ramah pada Sarah.
"Tidak ada, sus. Apa hari ini yang visit, dokter Akbar?" Ucap Sarah kembali bertanya.
"Benar bu." Jawab seramah mungkin. "Masih ada yang ingin ibu tanyakan?" Perawat tersebut kembali bertanya.
"Tidak ada, terimakasih suster Alifa." Balas Sarah dengan senyum yang tak kalah ramah. Setelah mengeja nama sang perawat di dalam hatinya, yang tertera pada name tag tersebut. Tertulis, 'Alifa A. G'. Alifa, nama yang indah pikirnya. Dan seperti tidak asing, namun dia benar-benar lupa, di mana dia pernah begitu familiar dengan nama gadis itu.
"Mau ke kamar mandi tidak?" Tawar Reegan. Dia bisa melihat istri nya nampak sedikit gelisah sejak tadi. Barangkali sang istri ingin ke toilet, pikir nya.
"Ya." Jawab Sarah tak enak. Pasalnya dia sangat ingin BAB sekarang, bisa di pastikan, sang suami yang akan membersihkan nya. Bukan perkara malu, hanya saja dia merasa kasian melihat sang suami harus membersihkan kotoran nya.
"Ya sudah, ayo. Bentar, aku turunin botol infus nya dulu." Sebelum sempat menurunkan botol tersebut, Reegan kembali bertanya. "Mau sekalian mandi tidak? Biar aku siapkan ganti nya." Reegan bertanya sambil menatap sang istri yang nampak tak enak hati padanya.
"Boleh deh, kemarin aku gak ada mandi sorenya. Gak enak banget ku rasa." Ujar Sarah sembari membaui dirinya sendiri, membuat Reegan terkekeh geli melihat nya.
__ADS_1
"Bunda itu, biar gak mandi seminggu pun tetap wangi kok." Kekehnya lagi sambil mencari dalaman yang istri di dalam tas yang di taruh dalam lemari nakas, sedangkan baju luar nya sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Sementara Sarah membeku mendengar Reegan memanggil nya dengan sebutan 'Bunda', di saat hanya mereka berdua yang terlibat obrolan. Dia sangat merindukan panggilan itu.
"Ini udah, yuk." Reegan menuntun Sarah menuju kamar mandi. Wanita itu menolak untuk di gendong, kedua kaki nya baik-baik saja. Begitulah yang dikatakan oleh sang istri, jika dia ingin menggendong nya ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi princess nya abang Niel." Daniel sengaja datang lebih awal, dia sudah mengatakan pada sang kekasih, jika dirinya akan membawakan sarapan ke rumah sakit.
Meski tak bisa ikut menjaga 24jam calon ibu mertua nya itu, namun Daniel selalu menyempatkan diri untuk datang. 3 kali dalam sehari, pria itu bolak balik ke rumah sakit membawakan makanan untuk sang kekasih dan calon ayah mertua nya.
"Abang... Kok udah di sini aja, jam berapa sekarang.?" Asha mengucek kedua matanya membuat Daniel gemas. Di cium nya pipi kekasihnya sekali lagi.
"Ih abang, aku belum mandi. Masih bau iler nih. Jangan di cium-cium, aku malu." Ujar Asha malu. Pasalnya, Daniel sudah terlihat rapi juga sangat wangi. Kontras dengan dirinya yang bahkan baru bangun tidur.
"Gak apa-apa lah, sama aku loh ini. Kamu wangi kok, biar gak mandi sebulan. Aku tetap sayang." Ujar Daniel sambil merapikan rambut kekasihnya.
"Cuci muka di wastafel dulu gih, baru sarapan. Kamar mandi ada ayah sama bunda make." Pria itu kemudian beranjak menuju sofa, seraya melipat ujung lengan kemeja nya.
"Mau lauk nya apa nih? Ada daging, ayam ati-ampela?" Daniel menatap sang kekasih untuk bertanya, dia terlihat sedang membuka bungkusan nasi kuning, juga sedang memilih bungkusan lauk yang akan dia buka.
__ADS_1
"Daging boleh, ayam juga, ati juga gak nolak." Balas Asha nyegir polos dengan wajah menggemaskan. Daniel terkekeh renyah mendengar nya. Lalu membuka bungkusan lauk yang di sebut oleh kekasihnya itu.
Sementara Asha menuju wastafel untuk mencuci wajahnya sekaligus berkumur. Nyicil dulu batinnya, tubuh nya masih belum bisa berkompromi untuk di ajak mandi pagi-pagi begini. 4 Hari pasca dirinya kembali ke kota, selama itu pula waktu nya dia habiskan hanya di lingkungan rumah sakit. Dia tak ingin jauh dari ibunya, rasa khawatir akan kehilangan sang ibu membuat nya tak ingin kembali ke rumah. Di rumah sakit pun dirinya tetap bisa beristirahat. Begitu lah jawaban yang selalu dia berikan pada kedua orangtuanya juga kakak-kakaknya, jika mereka memaksa nya untuk pulang, istrahat di rumah.