Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXXVI


__ADS_3

"Maaf, Sarah lama. Tadi sekalian sarapan di bawah." Ucap Sarah tak enak, pasti sang ayah menunggu nya untuk sarapan bersama.


"Iya sudah, nggak apa apa. Ayah juga sudah sarapan tadi, udah makan obat juga. Gimana tadi hasil temu sama dokter Reza?"..


Sarah sampai hampir lupa menjelaskan bahwa ayahnya sudah bisa pulang hari ini. "Ayah sudah boleh pulang hari ini, senang nggak. Pasti kangen kebun sama main catur dengan kang Ujang sama kang Sadin." Ujar Sarah terkekeh pelan.


"Senang lah, ayah. Udah urus administrasi nya belum? Uang kamu cukup nggak? Kamu ada bawa ATM yang ayah minta kemaren? Itu kamu cek nanti ada berapa saldonya, pake aja semuanya buat nambah biaya rumah sakit. Uang kamu simpan aja buat keperluan lain." Jelas pak Ramdhan panjang lebar.


"Nggak usah yah, uang Sarah banyak. Ayah tenang aja, anak ayah ini kaya sekarang." Seloroh Sarah sambil terkekeh pelan. Terlalu kejam jika dia sampai menggunakan uang sang ayah, dia masih sanggup jika hanya untuk membayar biaya rumah sakit ayah nya.


"Iya sudah, tas Sarah mana, yah? Sarah mau ke bagian administrasi dulu."


"Itu ayah taruh di laci, kamu jangan naruh sembarangan, apalagi kalau ada duitnya, takut ayah ketiduran nggak merhatiin. Hati orang mana tau." Nasehat pak Ramdhan.


"Siap, ayah. Maafkan anakmu yang ceroboh ini." Ucap Sarah nyengir. " Sarah kebawah dulu ya, ini barang-barang nanti sarah aja yang simpun, lagian tinggal selimut sama yang ini aja." Tunjuk Sarah pada mangkuk dan gelas yang belum sempat dia cuci.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Coba di cek lagi, mbak. Kasian kalau sampai salah bayar, pasti lagi kebingungan sekarang. Uang segitu nggak sedikit, biar nanti aku gantikan." Ucap Sarah tampak gelisah, pasalnya biaya perawatan sang ayah sudah di bayar, entah oleh siapa.


"Tapi sesuai data di komputer kami, atas nama pak Ramdhani Herlambang sudah dibayar lunas, mba. Ini tanda terimanya atas nama mbak Sarah. Mungkin mbak nya lupa, udah deposit jadi dikira belum bayar." Jelas pegawai administrasi itu pada Sarah panjang lebar.


"Aduh nggak ada gitu, mbak. Ini uang saya masih utuh, belum ada kepake sepeserpun." Ucap Sarah mulai tak sabar, dia memperlihatkan uang di amplop coklat yang dia bawa.

__ADS_1


"Trus, masa mbak nya mau bayar kalau sudah dinyatakan lunas. Nanti kami malah di tuduh korupsi lo, mbak. Bisa di bui semua, kami yang dinas hari ini. Mohon kerja sama nya, mbak, kasianilah kami." Ucap pegawai administrasi tersebut dengan wajah yang memelas.


Sarah terdiam memikirkan sesuatu, apa suaminya yang membayar biaya rumah sakit ayahnya. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin, mengingat sifat pelit sang suami. Mana mau dia rugi puluhan juta, hanya untuk biaya berobat sang ayah.


"Iya, sudah deh mbak. Makasih ya, maaf sudah membuat kekacauan." Ucap Sarah tak enak, dia baru sadar jika dia sudah membuat antrian membludak dibelakang nya.


Sementara seorang pria menatap Sarah dari kejauhan dengan penuh kekaguman, jika orang lain di posisi Sarah, mungkin mereka akan tampak sangat senang. Namun Sarah justru sebaliknya, wanita itu begitu ngotot ingin membayar biaya berobat sang ayah dengan uang nya sendiri.


"Halo, Abdi. Sudah kamu urus sekalian sama obat nya, saya tidak mau Sarah harus ikut mengantri."


("Sudah, tuan. Nanti akan ada perawat yang mengantar obat nya, langsung keruangan ayah nya, nona muda.")


"Baiklah, terimakasih banyak. Lanjutkan pekerjaan mu."


("Baik, tuan muda.")


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sarah berjalan gontai dilorong rumah sakit itu, pikirannya lelah memikirkan kemungkinan, tentang siapa yang sudah membayar biaya rumah sakit sang ayah.


"Sar, Sarah tunggu. Akhirnya aku ketemu juga sama kamu. Duduk sini dulu, sar. Aku mau ngomong, please. Sebentar aja, aku janji." Pria itu menarik lengan Sarah, menuju kursi yang ada didekat taman rumah sakit itu.


"Mau ngomong apa lagi sih, mas." Ucap Sarah kesal, dia sedang banyak pikiran kini sang suami malah datang tanpa di undang.

__ADS_1


"Sebentar aja, Sar. Kamu nggak liat penampilan aku gini amat. Dari kemarin aku belum ada mandi, makan dan juga istrahat. Kasihanilah aku, Sar. Duduk sini dulu." Ucapa Angga menepuk kursi disisi nya dengan wajah memelas.


Sarah baru sadar, jika pakaian yang dipakai suaminya masih yang kemarin. Darimana saja pria itu, tidak mungkin keliling mencarinya dan baru sampai sekarang.


"Ngomong aja, mas. Nggak usah basa-basi. Aku mau urus administrasi ayah." Sarah sengaja mengatakan itu, karena ingin memancing reaksi suaminya.


"Ayah udah mau pulang hari ini? Ya udah kita urus administrasi nya dulu, yuk." Angga mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan kartu yang kemarin ditolak oleh Sarah. "Kamu yang pegang mulai sekarang, kamu atur aja pengeluaran kamu, nanti aku isi tiap bulannya." Ucap Angga dengan harapan setinggi langit.


"Nggak usah mas, aku ada uang. Uang ayah maksudku, masih cukup. Lebih malah, kamu simpan aja, atau kasih Lusi atau calon istri kamu." Tolak Sarah lagi, membuat Angga benar-benar frustasi dibuatnya.


"Sar, kamu itu istri aku. Akan selamanya seperti itu, nggak akan ada Lusi atapun Miranda sekalipun." Ucap Angga tanpa sadar, telah menyebut nama calon istri pilihan ibunya tersebut.


"Jadi, Miranda namanya. Bagus, pasti orang cantik dan yang pasti nggak mandul kaya aku." Sarkas Sarah membuat Angga gusar.


"Nggak gitu, Sar. Aku nggak mau nikah sama dia, itu pilihan mama, biar mama sendiri yang urus


Semalam aja aku nggak datang kesana karna sibuk ngurus Lus..." Angga sadar dirinya telah begitu banyak ceroboh dalam berucap, langsung bungkam. Ditatapnya netra istrinya itu, tampak begitu tenang, justru semakin membuatnya ketakutan setengah mati.


"Maksud aku, Lu...."


"Ya mas, Lusi lebih penting untuk kamu urus, aku ngerti, aku nggak marah. Asal jangan ganggu aku lagi dan segera urus perceraian kita, atau aku sendiri yang mengurus nya." Ucap Sarah kemudian berbalik meninggalkan suaminya yang masih mematung.


"Sar, nggak gitu maksud aku. Dengar dulu, please. Lusi digrebek sama istri dari pria yang dia kencani, trus diantar oleh sesorang yang mengaku menemukannya dijalan. Lusi pendarahan, tapi untungnya... Kandungannya masih selamat."

__ADS_1


Angga memelankan suaranya diujung kalimat.


"Wah, selamat mas. Akhirnya impian kamu sama mama kamu akhirnya terwujud, nikahi dia, ceraikan aku. Secepatnya mas." Ucap Sarah dengan perasaan campur aduk.


__ADS_2