Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXI


__ADS_3

Tin tiin tiin...


Suara klakson mobil membuat pak Adnan meninggalkan gorengan singkong dan ubi jalar kesukaan di wadah kecil, di depannya.


Lalu membuka pagar itu lebar-lebar, dia mengernyit melihat mobil tidak asing itu.


"Loh, nak Angga. Tumben kesini, Sarah nya lagi keluar tadi sama Nabila dan Revan. Ayo masuk aja nanti ayah telpon. Oh ada nak Lusi juga, sini nak, maaf ini lagi nyantai sama kan Ujang. Silahkan duduk, apa kita di dalam aja, mari." Sungguh sambutan yang sangat bertentangan, jika pria paruh baya ini adalah orang yang mengusik ketenangan keluarga kecilnya.


"Disini aja yah, Angga mau ketemu ayah. Ada hal penting yang mau Angga bicarakan. Yono, kamu ambil paketnya sini." Perintahnya pada Yono.


"Loh, repot-repot bawa paket segala. Datang ke sini tidak usah bawa apa-apa, kalian datang saja ayah sudah senang." Ujar pak Adnan tanpa tau isi paket tersebut.


"Ini pak saya tarok dimana?"..


"Disini aja, aduh ayah jadi nggak enak ini. Kang Ujang tolong mana pisau tadi, sekalian buka." Ujar Pak Adan pada kang Ujang.


"Wah gede nih, pasti isi nya banyak ini. Kalo sembako, bisa lah bagi-bagi saya, mas Angga." Seloroh kang Ujang dengan mata berbinar.


Namun tidak dengan Angga, ada keraguan dihatinya pada mantan mertuanya itu, melihat mereka yang begitu antusias. Membuat Angga tidak tega.


"Jangan di buka kang!" Seru Angga tanpa sadar. Membuat kang ujang yang sudah hampir membuka paket tersebut, berhenti. Dia menjadi salah tingkah, apa Angga marah karna dia meminta bagian dari isi paket tersebut.


"Maaf mas Angga, saya tadi cuma becanda kok." Ujar kang Ujang cengengesan menutupi rasa malunya.

__ADS_1


"Bukan itu kang, sini biar saya buka sendiri. Aku harap jantung ayah baik-baik saja setelah melihat isi paket ini. Kang apa itu air minum ayah?" Tanya Angga pada kang Ujang.


"Eh, ya mas Angga. Ini punya pak Adnan eh maksud saya pak Ramdhan." Ujang semakin salah tingkah karena keceplosan.


"Baiklah, mari kita lihat isinya sama-sama, sayang kamu nggak usah liat ya, masuk aja, duduk diruang tamu. Boleh Lusi masuk yah?" Tanya Angga sopan.


"Oh silah kan, dikamar Sarah juga tidak apa-apa, itu kamarnya yang paling ujung, pintu kamarnya warna coklat. Istirahat saja disana, jangan sungkan, Sarah sudah menganggap mu seperti adiknya sendiri." Ujar pak Adnan penuh perhatian, membuat Lusi terharu.


"Baik, Kita akan buka paket ini sekarang." Ucap Angga tegang.


"Astagfirullah...!" Seru pak Adnan sambil mengusap dadanya pelan, Angga yang tanggap segera menyerahkan air putih pada pria paruh baya tersebut.


"Apa ini, nak? Kenapa ada yang begini, siapa yang mengirimnya? Darimana kamu mendapatkan paket ini, Angga?".. Pertanyaan beruntun itu juga tidak bisa di jawab oleh Angga, karena dirinya pun tidak tau, darimana paket itu berasal.


Pak Adnan berjongkok untuk melihat apa isi paket dengan jelas, jantungnya seperti di tikam belati saat melihatnya. Di telapak kaki tersebut ada sebuah tato, tato itu hanya orang-orang tertentu yang memiliki nya. Itu adalah simbol, dari orang-orang yang bertugas dalam sebuah misi penyamaran. Dan setiap tato akan ada inisial nama dari pemiliknya, yang hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.


Dia tau persis siapa pemilik potongan kaki tersebut, diangkatnya potongan kaki itu, lalu memeluknya seperti memeluk tubuh seseorang. Pak Adnan menangis tersedu-sedu, orang yang dia sangka sudah tiada, ternyata masih hidup dan berada dalam cengkeraman pria tua jahat itu.


Kang ujang mulai tanggap, dia segera menghubungi seseorang. Lalu berjongkok mengusap bahu pak Adnan.


"Sudah saatnya pak, Kita harus segera bertindak. Pad Adnan dan non Sarah sudah dalam bahaya besar sekarang, Saya sudah menghubungi orang-orang yang bisa membantu kita. Saya akan hubungi non Sarah sekarang." Ujar kang Ujang panjang lebar, membuat Angga dan Yono keheranan. Siapa pak Adnan, kenapa kang Ujang yang biasa memanggil Sarah dengan sebutan neng, berubah menjadi, non.


"Sebenar nya ini ada apa, yah?" Tanya Angga bingung, melihat bagaimana mantan mertua nya itu, memeluk potongan kaki itu dengan tangisan yang sangat memilukan. Itu artinya, potongan kaki itu milik orang yang sangat dikenalinya, atau bahkan mungkin keluarga nya.

__ADS_1


"Nak Angga, terimakasih sudah mengantar potongan kaki ini kerumah, ayah kira tidak akan pernah lagi melihat nya. Tapi hari ini, ayah senang dan juga sedih. Potongan kaki ini adalah milik ayah kandung Sarah." Ucap pak Adnan sambil menyeka air matanya.


Jawaban itu, hampir saja membuat jantung Angga meloncat keluar. Lalu siapa ayah Sarah yang sekarang. Hati dan pikirannya diliputi banyak pertanyaan.


"Lalu ayah ini, Siapanya Sarah kalau Angga boleh tau? Maaf jika terdengar lancang, tapi saya sangat penasaran siapa wanita yang pernah saya nikahi dulu." Tanya Angga meski tidak enak terlalu mencampuri, urusan yang bukan lagi ranahnya. Dia sudah bukan siapa-siapa lagi di keluarga itu.


"Ayah adalah Adnan Sudibyo, ayah kandung Sarah bernama Ramdhani Herlambang, beliau itu adalah orang hebat bagi ayah. Bekerja sebagai sopir pribadi ayah meski dengan pangkat seorang agen rahasia. Beliau menyelidiki kasus pembunuhan dari tiga orang paling berpengaruh pada masanya, 14 tahun yang lalu."


"Dan saat sudah mengumpulkan kan semua barang bukti, beliau ketahuan, begitupun dengan ayah yang terlibat dalam membantu misi rahasia itu. Kami dikejar oleh orang suruhan Prayoga hingga ketengah hutan, demi melindungi ayah, beliau merelakan dirinya sebagai umpan, waktu itu beliau terluka parah akibat beberapa tembakan."


"Sarah itu mengalami amnesia sejak usia sepuluh tahun, akibat kecelakaan saat kami berpindah-pindah tempat, mobil yang kami tumpangi ditabrak oleh orang suruhan Prayoga. Hingga Sarah mengira ayahlah ayah kandungnya mulai saat itu. Hidup Sarah tidak mudah nak, kami banyak berbohong padanya setelah dia amnesia, kami merubah usianya, juga namanya." Pak Adnan kemudian menghela napas berat.


Kemudian melanjutkan cerita nya, dan memohon pada Angga agar merahasiakan keberadaan mereka. Angga pun menyanggupi, mungkin inilah saatnya dia benar-benar menebus kesalahan nya pada Sarah selama ini. Dia juga menawari tempat sembunyi, disebuah villa miliknya yang jauh dari perkotaan.


"Gimana, kang. Sarah sudah bisa dihubungi?" Tanya pak Adnan pada ujang.


"Sudah tapi tidak diangkat, ini saya sudah kirim pesan saja." Dia juga cemas, anak istrinya sudah dia suruh berkemas, mereka akan ujang kirim ke kampung halaman istrinya terlebih dahulu. Bukannya apa, orang-orang Prayoga pasti akan menangkap habis, mereka yang mengenal pak Adnan dan Sarah untuk mencari informasi.


"Kang sudirman? Sudah menghubungi orang-orang yang ada di buku kecil itu?" Tanya pak Adnan tidak sabar.


"Sudah, Adnan. Kalian sudah bersiap? Sarah bagaimana, anak itu kunci semua ini. Jangan sampai tertangkap, mungkin ingatan belum kembali, namun tetap saja itu tidak baik untuk kita semua." Ujar kang Sudirman yang merangkap Lurah tersebut.


" Ini mereka sudah tau?" Pak lurah tersebut mengarah kan jari telunjuk nya pada Angga dan Yono.

__ADS_1


"Sudah kang. Aman. Angga juga menawarkan tempat persembunyian sementara pada kami. Bagaimana menurut Akang?"...


__ADS_2