Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXXII


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, namun tidak bagi Reegan dan Sarah. Selama 5 tahun ini mereka sudah melakukan berbagai cara, untuk bisa menyembuhkan sang putri.


Dimulai dengan pemeriksaan mata Reegan untuk mengetahui kecocokannya dengan sang anak, sampai Sarahpun demikian. Dokter tidak menyarankan pendonor yang masih hidup, melainkan orang yang sudah meninggal, yakni usia 17 keatas. Dan untuk balita sebaiknya, pendonor dari rentang usia yang tidak jauh. Mengingat jika selaput kornea orang dewasa lebih tebal, sementara untuk bayi dan anak-anak lebih tipis.


"Bunda, Adek pecahin guci yang ada didekat tangga, jangan dimarahin ya, adek gak sengaja kok bun. Kakak yang salah, tadi asyik gambar gak perhatiin adek jalan kemana." Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun itu, mengadu pada Sarah sekaligus memberikan pembelaan bagi sang adik.


Keenan Resar Sudibyo, bocah lima tahun, anak sulung dari pasangan, Reegan dan Sarah. Dan adik perempuan nya, Keyra Resar Sudibyo. Bayi perempuan, yang mengalami kebutaan bawaan lahir, akibat kerusakan saraf pada kedua matanya sejak dikandungan sang ibu.


"Ya gak apa-apa, bunda gak marah kok. Sini bunda liat ada luka gak, adeknya." Sarah menarik pelan tangan putrinya yang tampak ketakutan, padahal selama ini tidak ada yang pernah memarahi nya.


"Udah dibersihin belum, pecahan nya kak?" Tanya Sarah lagi.


"Sudah bun, sama kang Mamat." Anak-anak pasangan Reegan dan Sarah itu, memang terdidik sangat sopan. Mereka memanggil pengasuh nya dengan sebutan teteh Puput dan tukang kebun mereka dengan sebutan kang Mamat. Dirumah Sarah sudah memiliki 7 orang pekerja sekarang, semenjak keuangan mereka mulai membaik, Reegan menambah ART dirumahnya. Dan membangun paviliun dibelakang rumah, untuk para pekerja nya.


"Bu, maaf. Tadi Puput kebelakang sebentar, gak liat kalau si adek jalan ke dekat tangga sana." Puput datang dengan sedikit berlari kecil dari arah dapur.


"Gak apa-apa put, itu pagar ditangga jangan lupa di tutup aja ya, kalo pas liat lagi kebuka." Tangga Menuju lantai atas sengaja Reegan pagari, dia takut anaknya naik kesana saat tidak dalam pengawasan.


Pria itu sangat ketat menjaga sang anak, bahkan dia akan membawa anak perempuan nya kekantor jika anak laki-laki nya sedang tidak enak badan. Dia tidak ingin fokus Sarah terbagi, tidak masalah baginya jika sang anak ikut dirinya bekerja. Bahkan pernah beberapa kali, Reegan memboyong sang anak ikut serta dirinya bertemu dengan klien. Dan untung nya, putri nya bukan tipe anak yang tantrum dan banyak tingkah seperti anak seusianya. Sikap manisnya justru membuat pertemuan Reegan berjalan lancar. Rejeki anak orang bilang, kata-kata itulah yang selalu Reegan aminkan.


"Put, mbok Darmi udah masak buat makan malam belum. Nanti tambah menunya ya, buat tar malam. Mas Angga sekeluarga mau makan malam disini kaya biasa." Ujar wanita itu pada pengasuh anak-anaknya.

__ADS_1


Angga sekeluarga memang sudah memiliki jadwal rutin, untuk berkunjung kerumah Sarah, diluar kegiatan melegenda sang istri, tentunya.


"Tadi lagi metik sayur dikebun belakang bu, sama tuan Adnan dan bu Maya. Mau ditambah menu apa bu, biar puput sampein ke mbok Darmi. Kalo bi Surti tadi lagi ngaron nasi, mau di kasih tau juga gak bu, apa nasinya mau ditambah di magicom aja." Tanya gadis itu lagi.


"Ya, kalo udah terlanjur di aron biarin aja, nanti tambah di magicom. Banyakin aja, gak mubasir juga." Begitulah Sarah, dia memperlakukan semua pekerja dirumahnya seperti keluarga.


"Ya bu, titip adek sama kakak dulu." Gadis itu berlari kecil menuju dapur.


"Kak, sini." Sarah memanggil anak sulungnya yang dari tadi lebih banyak diam. "Tadi di sekolah belajar apa nak? Miss Widya nya udah turun mengajar belum?" Sarah ingat guru anaknya tersebut baru saja habis kecelakaan.


"Udah bun, tadi kakak belajar tentang nama-nama binatang sama menggambar gajah bun." Jelas Keenan dengan suara pelan. Dia tidak ingin sang adik sedih, karena tidak bisa ikut bersekolah seperti dirinya.


Sarah yang tanggap langsung menimpali. "Wah, hebat. Nanti adeknya diajari juga ya, ada ayah beli buku baru buat adek, ada banyak. Nanti sama teh Puput juga diajarin sekalian ya, kak." Sarah tau putranya itu sangat peka terhadap perasaan sang adik.


"Ada, banyak, sama kaya punya kakak. Nanti bisa gambar sama-sama ya." Ujar Sarah lembut.


"Nanti kakak ajarin bikin gambar bunga, mau? Kasih warna pink sama ungu, kayak warna kamar adek." Ujar Keenan menimpali sang ibu.


"Memangnya bunga ada yang warnanya pink sama ungu ya, kak. Itu warna nya bagus tidak, Key pengen banget melihatnya. Pasti cantik banget ya bun?"


"Cantik, tapi lebih cantik lagi anak ayah. Sudah cantik, baik lagi. Suka temanin ayah kerja, anak ayah ini hebat. Hebat-hebat semua, ya kan bun?" Sejak obrolan sang anak sulung nya tadi dengan sang istri, Reegan sudah mendengar nya. Dia sengaja diam untuk melihat reaksi anak bungsu nya itu.

__ADS_1


"Ayaah, yee... Ayah sudah pulang, adek ada dibawain apa yah?" Seru Keyra pada sang ayah namu menatap ke arah yang salah, Reegan segera berpindah kearah tatapan putrinya. Selalu seperti itu, dia tidak ingin putranya merasa sedih.


"Ada, ada coklat sama roti kesukaan adek. Ini ada banyak, kakaknya dibagi tidak?" Ujar Reegan sambil memangku sang anak.


"Bagi dong, kan adek baik. Ini roti apa yah, yang adek pegang? Selai strawberry bukan?" Celoteh Keyra, sambil mengendus aroma roti yang dia pegang.


" Ya, itu roti selai strawberry. Ada yang coklat juga sama tiramisu. Kakak mau dibagi yang mana, dek?" Lanjut Reegan lagi.


"Yang Tiramisu aja, kan kesukaan kakak yah. Sini mana roti nya, adek bagi kaka." Tangan kecilnya menengadah pada sang ayah.


"Nih, bagi baginya dua bungkus ya kaya biasa." Reegan meletak kan dua bungkus roti, selai tiramisu tersebut ditangan Keyra.


"Nih kak, adek bagi. Yuk makan sama-sama." Lagi-lagi Keyra mengarahkan rotinya kearah yang salah. Namun sang kakak yang selalu tanggap, segera berpindah tempat. Kearah sodoran roti yang diberikan oleh sang adik. "Bun, adek mau makan roti sama teh hangat, boleh tidak?" Ujarnya lagi, setelah roti ditangannya diraih oleh sang kakak.


"Makasih dek, yuk makan sama-sama. Nanti kakak suapin roti punya kakak, sambil dicelupin teh." Ucchh, anak sulung Reegan dan Sarah selalu semanis itu pada sang adik.


"Boleh, kakak sekalian mau dibuatin teh hangat tidak nih, sama bunda?" Tanya Sarah beralih menatap anak sulung nya itu.


"Boleh hun, biar samaan adek." Sarah tau anaknya itu tidak suka teh, dia lebih suka susu coklat. Namun apapun yang sedang dimakan atau diminum oleh sang adik, dia akan menyamai nya atau memakan apapun yang adiknya berikan.


Pernah sekali dia meminta susu coklat pada sang ibu, ternyata penciuman adiknya itu sangat tajam. Membuat nya merajuk dan tidak jadi memakan roti miliknya itu, karena sang kakak sudah ketahuan berbohong padanya. Mereka sama-sama pesan teh atas rekomendasi darinya, namun kakaknya malah memesan susu coklat.

__ADS_1


"Ya sudah, ayah sekalian dibuatkan juga. Nanti ayah bisa merajuk manja sama bunda, kalo gak dibuatkan sekalian." Ujar Sarah menatap sang suami, yang sejak tadi terus memperhatikan, apa yang dilakukan oleh putrinya.


Keyra tengah berusaha membuka bungkusan rotinya, namun belum berhasil. Dan belum ada diantara mereka, yang menawarkan diri untuk membantu. Mereka akan membantu, jika sudah mendapat titah dari princess kecil itu sendiri. Bukan apa-apa, mereka tidak ingin Keyra selalu merasa tidak bisa melakukan apapun. Seperti yang selalu dia katakan, jika dirinyalah tidak bisa melakukan apa yang kakaknya lakukan.


__ADS_2