Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXII


__ADS_3

"Jadi gimana itu Killa nya, yah? Kenapa Kak Tria malah menawarkan Killa tinggal bersamanya. Anak itu bisa bebas bolak balik ke rumah kita, kapan saja dia mau dan dengan alasan apa saja." Sarah berbicara dengan nada kesal. Wanita itu tampak gelisah.


Dia mulai mencemaskan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depannya nanti. Dia tidak ingin Killa masih berada di sekitar mereka lagi. Sarah hanya ingin Kira dan anak-anaknya yang menjadi fokus utama nya sekarang. Anak itu bisa saja mengacaukan kehidupan tenang mereka kelak, jika masih berada dalam kota yang sama.


"Itu biar jadi urusan Satria, sayang. Kita tidak harus ikut memikirkan nya, Satria hanya spontan. Dan ayah yakin, dia pasti punya ide lebih baik dari sekedar merawat Killa. Sudah, jangan di pikirkan lagi." Balasan Reegan tidak membuat Sarah tenang. Memikirkan anak itu akan ada di sekitar keluarga nya, membuat pikiran Sarah tidak karuan.


"Baiklah, jika kak Tria bisa menangani nya dengan baik, itu bagus untuk nya. Sudah saat Killa di asuh oleh orang yang membuat nya takut, bukan oleh orang yang bisa selalu menyenangkan hatinya." Sarah berucap seraya membuang pandangannya keluar jendela. Pagi yang begitu cerah dan ramai, namun tidak dengan suasana hati Sarah.


Seperti ada sesuatu yang salah dengan perasaan nya, ketakutan yang suatu saat akan menjadi sebuah kenyataan. Dan akan menjadi penyesalan terdalam, untuk kesekian kalinya bagi Satria dan juga Reegan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana pagi di kediaman Reegan tampak begitu ramai, polah tingkah si kembar Ednan dan Edeline Keenu Sudibyo. Anak bungsu Keenan dan Arumi tersebut, Selalu Berhasil menciptakan riuh tawa keluarga besar Sudibyo. Ditambah lagi jika si kecil Bintang Alkey Agam juga turut berkumpul, maka akan semakin ramai lah rumah besar Reegan tersebut.


Sebagai yang terkecil, mereka selalu menjadi pusat perhatian oleh keluarga Reegan dan Angga, begitu juga para sahabatnya.


15 tahun berlalu dengan begitu banyak kisah yang mereka lewati. Kesedihan akan kehilangan, Juga kehadiran anggota baru dalam keluarga mereka. Seolah saling menggantikan peran dan posisi masing-masing.


Ditengah riuh nya suasana rumah tersebut, seorang pria paruh baya sedang menatap potret seorang gadis cantik, yang sedang tersenyum bahagia. Dengan menggunakan baju kebaya kelulusan Sekolah Menengah Atas, dan sebuah piala serta piagam penghargaan dari sekolah nya atas prestasi gadis tersebut. Senyum manis itu hanya bisa Reegan lihat melalui potret dan beberapa video kenangan, tanpa bisa menyentuh atau memeluknya lagi.

__ADS_1


Tiga tahun berlalu, terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin mereka merayakan ulang tahun nya yang ke setengah abad. Bersama kelima anak mereka serta cucu-cucunya. Kini semua hanya bisa dikenang dalam sebuah pigura besar, yang menggantung di dinding ruang keluarga tersebut.


Reegan mengusap air matanya, tak pernah habis dia menyesali setiap keteledoran nya di masa lalu. Andai. Adalah kata yang sering terlintas dibenak nya. Andai waktu bisa diputar kembali, andai dia bisa lebih peka terhadap keadaan, andai waktu itu dia tidak mengijinkan putri nya pergi. Andai.... Andai.... Andai.... Dan masih banyak andai andai lainnya yang pria itu sesali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, seorang pemuda tengah menabur bunga di atas pusara makam dari orang terkasih nya. "Hai malaikat surganya abang... Apa kabar? Pasti sudah bahagia, kan? Maaf abang baru bisa datang lagi. Doa kan abang agar bisa cepat lulus, serta mendapatkan nilai terbaik dan segera pulang kembali kesini." Pria itu menjeda ucapannya dengan menghela nafas berat.


"Kangen gak sama abang, hmm?...... Abang kangen, pake banget malah." Lalu pria itu terkekeh pelan, dengan air mata yang tak henti mengalir di kedua pipinya. "Ingat gak, tahun lalu, abang pernah cerita. Kalau di kampus abang, ada mahasiswi baru, yang setiap melihat wajahnya. Abang selalu teringat padamu."


"Namanya, Asara. Orangnya jutek dan galak. Setahun berada dalam satu kelas yang sama, tidak membuat kami akrab. Gadis itu suka sekali mencari masalah sama abang, terakhir sebelum abang pulang kesini. Di menumpahkan minumannya, dibuku diary kamu yang selalu abang bawa kemanapun abang pergi." Pria itu kembali menjeda ucapannya, seraya menyeka air matanya yang tak henti-hentinya keluar dari kedua matanya.


"Mami nitip salam, salam kangen katanya, buat putri cantik nya ini. Princess Kirasya Resar Sudibyo. Mami belum bisa kembali kesini, terlalu berat untuk mami, semua kenangan yang ada di kota ini. Seperti ribuan anak panah, yang setiap saat siap menancap tepat di jantungnya. Mami masih belum sanggup melupakan, berdamai dengan kenyataan ternyata tidak semudah saat kita menasehati orang lain. Mami masih sama rapuh nya seperti tiga tahun yang lalu. Setiap hari mami hidup dengan mengunci semua kenangan indah, dari orang-orang yang dia sayangi. Yang kini sudah tertidur lelap dalam mimpi panjang, dan tak akan pernah terbangun kembali." Daniel mengakhiri sesi curhat nya pada pusara sang pujaan hati.


Daniel kembali tergugu diatas pusara Kira, dengan perasaan bersalah yang teramat dalam dan tidak akan pernah usai dia sesali. Kenapa Tuhan begitu kejam, pada orang sebaik gadis kesayangan nya, Kirasya. Hingga memanggil nya pulang dengan cara yang begitu tragis.


Alam seakan ikut larut dalam kesedihan mendalam pemuda itu, rintik hujan mulai membasahi setiap helai kelompok bunga yang baru saja Daniel tabur. Namun itu tidak membuat nya segera pergi dari sana, pria itu masih larut dalam kesedihannya sendiri.


Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah, ketika kita menyadari kesalahan yang kita lakukan, namun waktu tidak memberikan kita kesempatan meski hanya sekejap. Untuk memperbaiki keadaan dan meminta maaf, bahkan hanya sekedar untuk melihat nya saja, kita sudah tidak bisa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reegan menatap miris pada sisi ranjang, yang sudah tiga tahun ini tidak pernah ditiduri oleh pemiliknya. Rupanya, kesalahan fatalnya dimasa lalu, telah berhasil memporak porandakan, keutuhan cinta yang dirinya bangun bersama sang istri.


Tga tahun ini hidup nya terasa begitu kosong, kehadiran anak cucunya lah sebagai penyemangat dalam sisa umurnya yang entah kapan. Akan dipanggil pulang untuk bersua kembali, dengan orang-orang terkasih nya, yang sudah lebih dulu berpulang.


Klek


"Yah, belum tidur?"


"Ini, baru akan tidur. Kenapa nak?


"Gak, mau liat keadaan ayah aja. Aku baru pulang, gak sempet ikut makan malam. Umi bilang, ayah makannya sedikit banget, ayah gak enak badan atau gimana?" Keenan mencemaskan keadaan sang ayah, yang belakangan terlihat sedikit kurang sehat. Lebih banyak melamun dan sering terlihat sedih.


"Ayah gak Apa-apa, Biasalah namanya penyakit orang tua. Jangan terlalu dipikirkan, kamu sudah makan? Mau ayah temani tidak?" Tawar sang ayah. Tentu saja di sambut gembira oleh Keenan. Walau dirinya sendiri sudah makan malam.


"Ayo, aku malas kalo makan sendiri, Umi nya anak-anak lagi dalam mode ngantuk berat. Tadi cuma bergumam pelan, bilang ayah belum makan. Yuk!"


Keenan merasa sedih melihat keadaan orang tuanya, kejadian tiga tahun lalu, telah meninggal kan bekas luka yang tidak pernah pulih di hati keduanya. Masing-masing hidup dengan menyimpan luka hatinya sendiri, tanpa ada satupun yang berniat untuk saling menyembuhkan. Seperti nya berdamai dengan kenyataan itu, lebih sulit sari sekedar memaafkan.

__ADS_1


#Mohon dukungan dan komen yang membangun author nya agar tidak down, ya. Readers ku terkasih 😘🙏🙏🙏😘


__ADS_2