
Mobil Daniel melaju menjauhi pusat kota, hati pria itu sedang dalam kondisi baik. Bagaimana tidak baik, putri cantiknya baru saja lahir seminggu yang lalu. Tentu saja dia sangat bahagia. Kini kehidupan nya sudah sempurna, maka tidak ada alasan untuk merasa sedih.
Hampir satu jam perjalanan nya, Daniel akhirnya tiba di sebuah pelataran rumah minimalis berlantai dua. Kedatangan nya ternyata sudah disambut oleh sang buah hati, di teras rumah bersama ibunya.
Senyum Daniel berkembang sempurna melihat pemandangan indah itu, dari balik kaca mobil yang tidak terlihat dari luar. Dia segera keluar dari mobil, lalu mengambil beberapa kantung plastik dari jok belakang.
Seorang Wanita menghampiri nya dengan senyum sumringah, "aku pikir kau benar-benar lupa pada kami, lihatlah daddymu sudah datang sayang." Setelah mengatakan itu, dia mengikuti langkah Daniel masuk ke dalam rumah.
"Mana bi Mina? masih ada beberapa barang di bagasi mobil, tolong suruh diambil dulu. Aku mau cuci tangan, sebentar ya sayang." Daniel bergegas menuju wastafel didapur untuk mencuci tangannya, dia sudah tidak sabar untuk menggendong putri kecilnya. Terakhir dia menggendong nya, saat anaknya lahir di klinik bersalin seminggu yang lalu.
Setelah selesai Daniel kembali ke ruang tengah, "sini sama daddy, ibumu pasti lelah menggendong tubuh mu yang..." Daniel menatap takjub pada bayi berumur satu Minggu itu, "ya ampun, kenapa kau sudah seberat ini, lihat pipimu semakin berisi seperti bolu." Ujar Daniel terkagum-kagum pada pertumbuhan bayinya.
"Dia kuat sekali minum susu, satu Minggu ini sudah hampir sekaleng besar itu habis." Tunjuk Tiara pada kaleng susu ukuran 900 gram tersebut.
"Apa tidak apa-apa jika dia minum susu terlalu banyak?" tanya Daniel khawatir lalu kembali fokus pada bayi cantik nya.
"Tidak masalah, yang penting masih sesuai porsi dan takaran. Aman-aman saja," jelas Tiara yang nampak berpengalaman soal itu.
"Hanya saja, harus extra menyetok popok yang banyak," lanjutnya terkekeh pelan.
"Tidak masalah, Daddy bekerja keras untuk mu. Jadi apapun yang kau butuhkan akan daddy penuhi." Daniel terus menciumi pipi gembul putrynya dengan sayang.
"Daddy sangat merindukan mu, Misha. Apa kau tidak rindu pada daddy, hmm? bangunlah, lihat daddy yang tampan ini mengunjungi mu." Ujar Daniel gemas, namun Misha hanya menggeliat dalam gendongan sang ayah.
"Astaga sayang, lihatlah kau bahkan tak ingin melihat daddy barang sejenak saja." Keluh Daniel merajuk, lalu menoel-noel hidung mungil Putri nya.
__ADS_1
"Dia memang masih dalam fase yang lebih banyk tidur sekarang, setelah berusia diatas 2 bulan. Kebiasaan nya mulai berubah, akan mulai belajar begadang dan mengoceh." Jelas Tiara menatap Misha yang masih enggan membuka matanya.
"Istirahat lah di kamar, aku akan membuat makan malam. Makan malam disini kan?" sebelum benar-benar ke dapur Tiara bertanya untuk memastikan.
"Ya, aku akan malam disini saja. Aku masih merindukan Misha, kami akan ke kamar dulu. Dadaa ibu, Misha dan daddy ingin bermain di kamar," ujar Daniel meniru suara khas anak-anak.
Tiara hanya tersenyum mendengar celotehan Daniel yang terdengar lucu ditelinga nya, lalu berjalan menuju dapur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Asha merasa gelisah, sejak sore ponsel Daniel sulit sekali di hubungi. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tidak biasanya Daniel sulit dihubungi. Biasanya jika pria itu terlambat pulang, akan segera menghubungi sebelum jam makan malam.
Asha menatap miris pada makanan yang sudah mulai dingin. Selera makannya sudah tidak ada, bahkan rasa laparnya hilang begitu saja.
Bi Surti hanya bisa menatap iba majikannya, dari balik pintu penghubung ke arah dapur. Dia pun merasa heran, biasanya jika Daniel pulang terlambat, pasti akan menghubungi ke rumah. Namun sekarang malah tidak ada kabar sama sekali.
Tentu saja dia tidak bisa melakukan nya, namun dia berpura-pura akan makan di dapur saja, karena merasa tak enak jika makan sendiri dimeja makan besar itu. Sementara majikannya tidak ikut makan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Krek
Daniel masuk rumah dengan mengendap-endap, namun saat akan menaiki anak tangga menuju lantai atas. Dia terkesiap melihat siluet seseorang yang sangat dia kenali, istri nya tertidur dengan cara menelungkup kan wajahnya di atas meja makan.
Hati Daniel berdesir merasa bersalah, dia tidak sempat menghubungi sang istri karena ponselnya lupa di charger. Daniel memutar langkahnya menuju ruang makan, perlahan dia mengangkat tubuh mungil sang istri untuk membawanya kekamar.
__ADS_1
Asha menggeliat, perlahan dia membukakan kedua matanya. Ternyata dia sudah berada didalam kamar, pasti suaminya. Diliriknya jam dinding menunjukkan pukul 12 lewat 37 menit. Sudah tengah malam dan dia sama sekali tidak sadar kapan Daniel tiba di rumah.
Terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Daniel menatap pada sang istri yang terbangun sisi ranjang.
"Kenapa bangun, hemm? maaf kan aku, aku lupa mengisi daya ponselku seharian. Pekerjaan ku sangat banyak hari ini, sampai lupa mengabari mu. Kau sudah makan, sayang?" Daniel berusaha menjelaskan agar istri nya tak marah atau salah paham padanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa aneh saja. Ini pertama kalinya kau pulang larut malam dan sama sekali tidak bisa di hubungi." Tutur Asha menyentil hati kecil Daniel.
Daniel mulai salah tingkah namun segera menguasai diri. "Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat mu menunggu ku sampai selarut ini. Lain kali tidak akan Begini lagi, aku janji. Ayo, aku temani makan," ajak Daniel membujuk. "Aku juga belum makan malam," dusta Daniel lagi.
"Aku sudah tidak lapar, lagipula sudah tengah malam. Kita tidur saja, aku sangat mengantuk," tolak Asha halus, dia sangat lapar, hanya saja selera makannya yang tidak ada. Dia tau, jika Daniel sedang berbohong kepadanya. Namun dia diam saja seolah tak tau apa-apa.
"Baiklah, ayo tidur. Aku juga sangat lelah sekali, hari ini pekerjaan ku benar benar menumpuk tak kenal lelah." Asha diam saja, biasanya Daniel akan membujuk nya hingga dia mau makan. Sekarang sepertinya pria itu mulai berubah.
Asha berusaha memejamkan matanya, hingga akhirnya kembali terlelap dalam perasaan campur aduk.
Daniel membuka matanya saat merasakan helaan nafas teratur sang istri, dirinya merasa sangat bersalah karena untuk kedua kalinya dia harus berbohong pada Asha. Pertama saat dia pulang subuh dengan alasan yang sama, namun sebenarnya, dia sepanjang hari hingga subuh berada dirumah sakit.
Daniel yang antusias menyambut kelahiran putrinya, sampai lupa mengabari istrinya. Saat pulang dia mendapati sang istri, tertidur di sofa ruang keluarga padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Asha meringkuk dalam kedinginan seorang diri, karena menunggu nya pulang.
Daniel mencium pucuk kepala istri nya dengan perasaan bersalah, namun belum siap untuk mengutarakan sebuah kejujuran, yang pasti akan membuat Asha merasa sedih. Mengingat hingga bulan kelima pernikahan mereka, istri nya itu belum kunjung hamil. Pasti perasaan wanita itu akan terluka, juga merasa tak berguna sebagai seorang istri.
Daniel tidak siap dan tidak sanggup, melihat guratan kekecewaan tercetak di wajah cantik sang istri. Biarlah waktu mengalir dengan sendirinya, setelah dirinya punya cukup keberanian, maka dia akan membawa putri nya, Misha. Pulang kerumah, maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Daniel berharap, Asha dapat menerima putrinya dengan tangan terbuka, serta bisa mencintai nya layaknya anak kandung. Perlahan matanya mulai meredup, sesaat kemudian Daniel menyusul sang istri ke alam mimpi. Namun sebelum benar-benar terlelap, Daniel melafalkan doa dalam hatinya, agar hari esok saat dia terbangun. Dia sudah dibekali nyali yang cukup, agar dirinya tidak harus terus menerus berbohong pada istri nya.
Dan akhirnya Daniel benar benar terlelap, dalam banyak harapan indah yang coba dia rangkai, bersama sang istri dan putri kecilnya.