
Sepergi nya Tiara, Riri bergegas ke kamar nya. Wanita itu mengemasi semua barang nya, yang memang sengaja dia bawa seadanya. Dia tidak berencana akan menjadi pengasuh di sana dalam waktu yang lama, susah sekali menunggu wanita itu pergi dari rumah itu.
Setelah selesai dengan semua barang-barang nya, Riri menghubungi seseorang.
"Aku sudah siap, pak."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Daniel merenung di balkon kamarnya, hati nya sedikit tak rela jika putrinya di bawa oleh Bryan. Namun dia juga tak bisa berbuat banyak, sudah seharusnya seperti itu.
"Masih memikirkan anakmu?" suara Dion mengalih kan perhatian Daniel.
"Sedikit, seiring berjalannya waktu, aku akan terbiasa kembali." Jawab Daniel tanpa menoleh pada sang kakak.
Dion tau apa yang dirasakan oleh adiknya, melepaskan anak kandung nya pada orang lain, memanglah berat. Namun Daniel tau resiko nya sejak awal, dan adiknya sama sekali tidak keberatan. Jadi bukan salah Bryan jika dia menginginkan Misha, dengan atau tanpa Tiara di samping nya. Misha adalah anaknya, sah secara hukum yang berlaku.
"Ikhlaskan" Satu kata Dion berhasil membuat Daniel akhirnya menoleh.
"Aku tau ini berat untuk mu, tapi sejak awal, kau sudah tau ini akan terjadi. Kau hanya seorang pendonor, sama seperti saat seseorang membutuhkan darahmu, dan kau memberikan nya. Kau di sebut sebagai pendonor darah, maka setelah darah itu masuk ke tubuh seseorang, kau tidak akan bisa memintanya kembali. Apapun alasannya dan bagaimana pun caranya. Karena darah yang kau berikan itu, sudah tidak murni milikmu lagi." Dion menjeda ucapannya dan berbalik menatap sang adik.
"Sama halnya dengan Misha. Dia tidak murni hanya milikmu, melainkan juga milik Tiara, karena di setiap proses dari terbentuknya hingga menjadi seorang bayi mungil yang terlahir ke dunia ini. Ada bagian Tiara di dalamnya, jika kau menginginkan Misha menjadi milikmu, maka kau juga mengakui, jika kau menginginkan Tiara di dalam hidup mu. Sederhana nya seperti itu." Daniel menatap sang kakak dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Cobalah memahami ini dari sudut pandang Bryan dan juga Kira. Mereka lah korban yang sesungguhnya. Keduanya di korbankan demi memuaskan hati mu dan Tiara. Kau dengan harapan mu untuk bisa memiliki anak kandung, Tiara dengan obsesi nya untuk dapat memiliki mu. Aku tau, nasihat ku terdengar bulshit bagimu. Aku berbicara panjang lebar dengan begitu mudah, karena aku tidak mengalami nya. Hanya saja, cobalah untuk merenungi nya. Siapa yang mencurangi dan siapa yang merasa di curangi. Kau pasti mengerti maksud ku," Dion menepuk bahu adiknya lalu meninggalkan Daniel dalam diamnya.
Daniel mencoba mencerna nasihat sang kakak dari sudut pandang Kira. Akhirnya setelah merenung, Daniel pun sadar. Dia mengorbankan perasaan Kira, karena menganggap wanita itu akan dengan suka cita menyambut putrinya. Hanya karena Kira tak kunjung hamil dan nasib penerus nya yang masih abu-abu. Daniel mengabaikan ketulusan istrinya. Dia menukar cinta dan kepercayaan wanita baik hati itu, dengan kehadiran anaknya. Berharap Kira akan merasa senang, karena meski tidak bisa memberi kan Daniel keturunan, namun kehadiran Misha, dapat mengobati kerinduan Daniel akan anak darinya.
Ternyata persepsi Daniel keliru, dia telah melukai hati suci sang istri. Yang menunggu kejujuran dengan kesabaran tak terbatas, namun dia sama sekali tidak peka. Kira membebaskan nya berbohong untuk waktu yang tak sebentar, namun wanita itu masih bertahan dengan sabar. Hingga akhirnya, pertahanan itu runtuh juga. Barulah dia mengerti, kesabaran sang istri, sudah mencapai limit akhir. Wanita itu memilih melepaskan nya, dan pergi tanpa membawa apa-apa, kecuali hati yang penuh luka juga kecewa.
Daniel terduduk lesu, bahunya berguncang hebat. Tangisnya tak terbendung, penyesalan nya datang terlambat dan kini dia sudah kehilangan semuanya.
Istri yang tulus dan sabar, kepercayaan, juga putri yang pernah dia perjuangan hingga membuat nya harus kehilangan segalanya. Kini dia mengerti, arti kata serakah yang sesungguhnya. Ya, dia serakah, sangatlah serakah. Dia menginginkan dua hal dalam waktu bersamaan bisa menjadi miliknya, tanpa sadar, dia telah melukai salah satunya.
Sinta dan Bintang hanya bisa saling menguatkan, melihat Daniel berada dalam keterpurukan. Membuat mereka merasa gagal menjadi orang tua. Andai mereka bisa tegas pada keadaan, mungkin Kira mereka masih bertahan. Sayangnya, mereka lupa, Kira baik hati mereka, hanyalah manusia biasa.
Hatinya miris, bagaimana persahabatan orang tua nya, berakhir begitu saja. Sakit rasanya, saat hanya bisa menatap dari jauh, orang-orang yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
Dewi mengelus lengan Dean penuh perhatian, wanita itu adalah sandaran Dean disaat pria berwatak keras itu rapuh. Dean mengusap air matanya, lalu membawa sang istri masuk ke dalam rumah. Hari ini, dia akan merendahkan harga dirinya, untuk meminta maaf pada keluarga Reegan. Memohon pengampunan untuk adik dan juga ayah ibunya. Meski dia sadar, kesalahan ketiganya, sudah sangat fatal.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Disebuah villa di tepi pantai, seorang wanita tengah menikmati sorenya, ditemani deburan ombak dan angin yang menerbangkan helai-helai rambutnya.
Wanita itu nampak sangat menikmati waktu nya tanpa beban apapun. Meski nyatanya, tidak lah begitu.
__ADS_1
"Segelas susu coklat panas untuk tuan putri," suara seorang pria membuat lamunan Kira teralihkan.
"Terimakasih" lalu meraih gelas dan meletak kan di atas meja kaca di sampingnya.
"Hanya terimakasih? ishh, jahat sekali." Rajuk pria itu melipat bibir nya.
Kira terkekeh lucu, "kau tidak cocok bertingkah seperti itu, Tintin." lalu kembali fokus pada deburan ombak di depan mereka.
"Ck, pujilah aku sedikit" omelnya kesal.
"Aku hanya berusaha untuk jujur, harus nya kau berterima kasih padaku." Bela Kira mempertahankan statement nya.
"Dasar tidak punya perasaan, pantas saja Mina lebih banyak menghabiskan waktu nya bersama Bryan dan Ryana." Oceh Justin lalu duduk bersama Kira di kursi ayun.
"Kau betah disini?" tanya Justin memecahkan kesunyian.
"Jika tidak, aku sudah kabur sejak beberapa bulan yang lalu." Sungguh jawaban yang menjengkelkan. Namun Justin tak pernah bisa marah pada wanita itu. Perasaan yang dulu pernah ada, kini hadir kembali, bahkan lebih kuat melebihi rasa nya pada Killa, yang lebih memilih mengakhiri hidupnya karena tak bisa bersama Daniel.
Wanita yang tak kalah gila dari Tiara itu, memilih bunuh diri dengan menegak racun dan membawa serta bayi di dalam perut nya. Justin jelas terpukul, bagaimana pun, itu anaknya. Namun seiring berjalannya waktu, Justin sudah mengikhlaskan nya. Dia anggap itu adalah karmanya, karena pernah berbuat jahat di masa lalu.
Hingga pertemuan nya dengan Kira yang tak disengaja, wanita itu berada di titik terendah dalam perjalanan pernikahan nya, beberapa bulan yang lalu. Justin datang bak pahlawan, mereka saling menguatkan hingga akhirnya terdampar di pulau pribadi milik Justin.
__ADS_1