Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part C


__ADS_3

Reegan Menatap Putri nya yang sedang makan dengan lahap, terlihat sekali anak itu tidak pernah makan makanan seperti itu. Berkali-kali Kira bertanya nama makanan yang akan dia makan.


"Yah yang ini enak, ayah mau Kira suap tidak? Pake sendok baru ini ya, ini bekas Kira udah clemotan semua sama minyak warna-warni. Hihihi." Celoteh gadis kecil itu menawarkan makanan nya pada sang ayah.


Reegan mencium pipi tirus anaknya dengan gemas. "Pake sendok yang Kira pakai aja, gak apa-apa. Pasti lebih enak, mana, sini suapin ayah coba." Reegan membuka mulutnya lebar-lebar, agar anaknya segera menyuapi nya dengan cake yang Reegan beli tadi. Lebih tepatnya dibeli oleh Nindy dan Abdi. Dia hanya memesan saja, karena tidak ingin berjauhan dengan putrinya.


"Aaaa... amm.. Enak gak yah, pasti asin yaa.. Ada liur Kira tadi di sendok nya." Gadis kecil itu kembali tertawa lucu, melihat sang ayah yang mengunyah dengan keuwuan yang dibuat-buat.


"Enak kok, ini habis. Kira suka tidak, nanti ayah beli lagi. Ini susu nya di minum dulu, biar Kira cepat tinggi kaya Daniel." 'Biar kamu gak sekurus ini lagi nak, makan yang banyak ya.' Itu yang ada di dalam hati Reegan, namun lain di hati lain di mulut.


"Abang Daniel bilang Kira harus makan yang banyak, biar nanti sama tingginya. Susu ini bisa bikin tinggi tidak yah?" Pertanyaan polos Kira membuat Reegan terkekeh pelan.


"Bisa tapi harus di minum terus, gak boleh malas makan juga. Nanti harus banyak makan sayur sama buahnya juga, ayah akan belikan yang Banyak. Biar anak ayah ini lebih tinggi dari abang Daniel." Reegan menusap sisa mentega, yang anaknya sebut sebagai minyak warna-warni tersebut. Minyak mahal nak, jangan bahas soal dia dulu. Masalah ini aja masih buat kepala ayah Reegan pusing keliling-keliling.


"Oke, Kira suka buah apel. Dulu kalo ada truk sampah baru datang, kami suka berebutan nyari plastik yang katanya abang Devan. Plastik makanannya orang kaya. Didalam nya pasti banyak buah-buahan yang mereka buang, padahal masih bagus loh yah, baru keriput dikit kulitnya. Orang kaya itu boros ya yah, kita gak usah kaya aja ya, biar gak suka buang-buang makanan. Abang Devan bilang kalo orang kaya itu suka buang-buang makanan." Celotehan polos Kira kembali membuat mata Reegan berkaca-kaca.


Hanya Untuk bisa makan buah yang bahkan sudah tidak layak, putrinya harus masuk ke kubangan sampah. Reegan berjanji dalam hatinya, apapun yang putrinya inginkan, akan dia penuhi semuanya. Tak peduli sebanyak apapun uang yang akan di keluarkan.

__ADS_1


Resgan tidak tau saja, gadis kecilnya yang sudah pintar menghitung jumlah uang tersebut. Anak yang Sangat menghargai setiap lembar rupiah yamg dia dapat.


"Nanti kita beli buah sama makanan yang banyak, kita bagikan sama abang Devan sama teman-teman yang lain. Kira harus sehat dulu ya, biar bisa cepat pulang. Semua orang udah gak sabar mau ketemu sama Kira, semua sayang Kira."


Sejatinya, Reegan belum memberitahu kan pada keluarga nya perihal Kira. Dia ingin membuat kejutan bagi keluarga nya juga sang istri. Belakang ini istri nya itu semakin banyak diam. Jika kemarin Reegan akan semakin tertekan dengan keadaan itu, namun sekarang tidak lagi. Bukan berarti dia sudah tidak peduli pada istri nya. Namun hati Reegan sedang dalam suasana yang sangat bahagia.


Biarlah nanti, dia akan membagi kebahagiaan nya pada seluruh keluarga nya juga. Tunggu sebentar lagi. Setelah Kiranya pulih dan bisa dia bawa pulang. Reegan diam-diam menyuruh Satria, mendekorasi kamar yang yang terhubung dengan kamarnya dan Sarah. Untuk anak bungsunya itu.


Kali ini benar-benar anak bungsu. The real, the little one keluarga Sudibyo. Princess Kirasya Resar Sudibyo.


"Ya, nanti ayah beli beras yang banyak. Kira jangan khawatir lagi teman-teman kira gak makan nasi, nanti ayah juga bikin kan tempat tinggal yang bagus. Biar kalo kena ujan, rumahnya gak rubuh karena kardus nya basah. Sekarang Kira bobo dulu, mau pipis dulu tidak. Ayah gendong kedalam kamar mandi." Reegan menggendong tubuh kecil anaknya, setelah mendapat anggukan kecil tanda setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Maaf sayang, aku kelamaan dikantin sama anak-anak, nih aku bawain nasi Padang rendang daging." Reegan menyerahkan plastik nasi pada istri nya yang terlihat sudah begitu kelelahan.


"Bunda pulang dulu gantian, istrahat dirumah lebih nyaman. Kasian anak-anak, terutama teteh, kemaren ayah pulang tukar pakaian bersih. Ditanyain terus sama teteh, bunda kok gak pulang-pulang. Emang mami Sinta sakitnya parah banget ya. Gitu dia nanya, ayah jadi kasian kita bohongin dia terus."

__ADS_1


Bintang sepakat untuk menjadikan istri nya sebagai alasan, tidak bohong banget juga. Istrinya sempat sakit beberapa hari, panas tinggi karena nyeri luka di bahunya. Sebaik itu para sahabat Reegan tersebut. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Begitulah semboyan persahabatan mereka.


"Bunda kaya berat mau pulang, tigaa hari ini kaya ada sesuatu, yang menahan bunda ketika kepikiran akan pulang kerumah. Entahlah, mungkin karena keadaan Killa yang masih gini-gini aja." Wanita itu mendesah berat. Dirinya bukan hanya lelah fisik namun juga lelah batin. Apa kabar putrinya yang ada diluar sana.


Reegan terdiam, sehebat itu ikatan batin antara ibu dan anak tersebut. Sekarang Reegan baru mengerti, jika lelah batin itu ternyata lebih menyakitkan daripada luka fisik.


"Kalo adek sudah ketemu, bunda gimana sama Killa? Ayah nanya aja sih, gak maksud apa-apa. Itu masih seandainya, ayah juga masih berusaha keras buat nyari anak kita." Ternyata berbohong pada istri terasa begitu menegangkan, daripada mempresentasikan proposal proyek sebesar apapun.


"Ya gak gimana-gimana, hanya saja mungkin kita harus lebih keras lagi pada Killa. Bukan perkara dia anak kita atau bukan. Tapi lebih untuk mendidik nya, agar bisa bersikap lebih manusiawi dan senormal anak-anak pada umumnya." Sarah menatap kosong pada bungkusan nasi yang baru saja dia buka.


"Bunda ngeri sendiri jika membahas segala hal menyangkut Killa, seperti ada yang salah dengan kenakalan nya itu. Ini salah bunda, harusnya sejak awal Killa sudah bunda ajak ke psikolog, untuk mendapatkan pertolongan yang dia butuhkan."


Lagi-lagi, wanita dengan kesabaran setingkat dewi itu, menyalahkan dirinya sendiri. Reegan menatap iba pada sang istri, selama ini dia fokus mencari cara, agar anaknya bisa dikendalikan dengan caranya sendiri.


Berdiskusi pada para sahabatnya, menitip anak itu untuk sejenak menghindari kepenatan hati dan pikiran, memenuhi apa yang bisa membuat anaknya bungkam dari sikap tantrumnya. Dan masih banyak lagi yang Reegan lakukan, tanpa dia sadari dia hanya berusaha untuk menyelamatkan kan dirinya sendiri.


Sementara sang istri didorong masuk ke benteng musuh, untuk menyelesaikan perangnya sendiri sekaligus menyelamatkan mereka semua. Tanpa mereka tau, berapa banyak luka yang wanita itu alami.

__ADS_1


__ADS_2