Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
XLIX


__ADS_3

Sarah membelai lembut rambut kekasihnya itu, sesekali menghirup aroma shampo di rambut pria itu. "Ree.. Boleh nanya nggak?"..


"Boleh dong, memangnya kamu mau nanya apa? Kalau nanya mantanku ada berapa, nggak ada dan nggak akan pernah ada. Aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan itu pun sama istri orang. Yang untung nya, doa aku di kabulin sama Tuhan." Ucap Reegan terkekeh geli, mengingat dia pernah mengatakan pada sang ibu, jika Sarah akan segera bercerai dan bagaimana dia memodusi Sarah beberapa kali di rumah sakit.


"Isshh, jangan di ingat-ingat lagi. Doa kamu manjur, juga karena memang dari sebelum nya sudah aku niat kan buat pisah. Hanya tunggu ayah pulih aja, jadi ketika kamu datang, kehidupan rumah tangga kami memang sudah di ambang perpisahan. Jadi nggak ada hubungan nya sama doa kamu itu." Balas Sarah kesal.


"Aku mau nanya soal lukisan yang kamu minta aku buat, sebelum nya lukisan yang asli, siapa yang buat Ree?".. Sarah ingin menuntaskan rasa penasaran nya tentang lukisan tersebut, yang sudah membuat sang ayah nampak begitu emosional.


"Kata mama lukisan itu hadiah kelahiran aku, dari seorang wanita yang sudah dia anggap seperti adik nya sendiri. Kalau nggak salah nama nya, Samira."


deg!


Jantung Sarah seperti Di siram air panas, inikah alasan sang ayah terlihat begitu emosional. Tapi kenapa sampai memarahi nya, perkara dia membuat lukisan yang sama. Apa karena dia menduplikasi kan nya, sehingga ayahnya marah.


"Kamu kenapa, sayang? Kok langsung tegang gitu, padahal belum aku apa-apain loh." Goda Reegan, sembari menggesek pelan hidung mancung nya di dada Sarah. Sejak mereka tiba di kamar, Reegan mengambil posisi wenak. Mereka berbaring saling berhadapan sambil berpelukan, posisi kepala Reegan hanya sebatas dada Sarah.


"Ck kamu itu, mesum mulu sih. Ngebet banget pengen kawin, palu pak hakim belum bunyi, sabar." Decak Sarah sebal, dia juga wanita normal, sudah pernah menikah, tentu saja akan sedikit merindukan sentuhan seorang pria. Bahkan sebelum berpisah, dia dan Angga sudah hampir dua bulan tidak pernah berhubungan. Mantan suami nya itu terlalu sibuk dengan kekasih gelap nya.


"Udah nggak sabar aku tuh, pengen nyicil duluan, boleh?".. Nego Reegan lalu menatap Sarah, dengan tatapan mata sendu. "Yang ini aja dulu, nanti sisa nya di lunasin kalo udah sah, boleh yaa, dikit aja." Ucap nya lagi dengan suara yang sudah mulai serak, Jari nakal nya sudah mulai menyusup, di balik baju kaos yang Sarah pakai.

__ADS_1


Reegan sering di goda oleh banyak wanita seksi, namun tidak memberi reaksi apapun padanya. Tapi bersama Sarah, hanya dengan mendengar suara manja wanita itu melalui sambungan telepon saja, adik kecilnya sudah berontak. Beda juga kalau pakai hati, koneksinya langsung tersambung, pikir nya.


"Ree, jangan gini. Kamu janji mau nunggu aku sampe kita nikah." Ucap Sarah juga mulai terlihat gelisah, pasalnya ujung jari kekasihnya itu, sudah hampir mencapai puncak dada nya.


"Nggak sampe ngelakuin nya Sar, kalo kamu nggak mau, aku nyicil ini dulu. Boleh yaa, aku bisa tuntasin sendiri nanti, yaa." Tatapan mata Reegan yang sudah berkabut gairah itu, seolah menghipnotis Sarah, sehingga wanita itu tanpa sadar telah mengangguk pelan.


Reegan melanjutkan kegiatannya, bermain-main di dada Sarah dengan jari nakalnya. Sarah bukan wanita munafik, tentu saja kegiatan itu memancing reaksi tubuhnya.


"Ree, nggak usah di buka ya, takut nanti kamu kelepasan." Ucap Sarah dengan suara yang juga mulai serak. Reegan berniat membuka bajunya, dia tidak ingin pria itu kelepasan. "Nggak Sar, aku janji, main nya di atas ini aja, aku buka yaa." Ucap Reegan kemudian, membuka kaos sarah sehingga wanita itu kini hanya tinggal menggunakan dalaman bra nya saja. Yang bagian sebelahnya pun sudah ditarik turun oleh Reegan, pria itu mulai memainkan benda kenyal itu dengan lidah nya.


"Ree..." Ucap Sarah tertahan. "Jangan di tahan sayang." Ucap Reegan lalu melanjutkan lagi kegiatannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hmmm..." Balas Sarah sambil mengusap pelan rambut kekasihnya itu.


Drrttt ddrrrtt drrrttt...


"Aku angkat dulu." lalu menggeser pelan tubuh Reegan ke sampingnya.

__ADS_1


"Iya, Lusi sudah dimana?".......... "Oke, aku ke sana sekarang." Sarah mematikan sambungan telponnya.


"Minggir dulu, Ree. Aku mau nyuci muka dulu, udah di tungguin, nggak enak." Sarah menggeser kembali tubuh kekasihnya, yang malah kembali menempel seperti cicak.


"Mau cuci muka apa cuci yang lain." Kekeh Reegan, dia tau kekasihnya itu pasti risih, pasalnya kegiatan mereka tadi pasti membuat bagian lain Sarah juga butuh untuk di bersihkan.


"Ck, kamu itu, omes mulu." Sarah beranjak dari ranjang menuju kamar mandi Reegan, dia memang sudah sangat risih sedari tadi. Namun Reegan selalu menempeli nya, membuat dirinya sulit bergerak bebas.


Sementara Reegan terbahak-bahak, melihat semburat merah di pipi kekasihnya, dia yakin Sarah pasti sangat malu. Sarah berhasil mendapatkan pelepasannya walau mereka tidak sampai menyatu, begitupun dengan diri nya. Begitu saja dia sudah cukup puas, dia harus bersabar sedikit lagi, sampai Sarah resmi bercerai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tunggu di mobil aja, ya?".. Tawar Sarah lagi, yang entah susah ke berapa kali nya.


"Aku ikut aja kenapa sih, biar kamu nggak keki aja kalo nggak bawa pasangan. Aku temenin sampe dalam pokonya titik, no debat!".. Putus Reegan tak ingin di bantah, membuat Sarah mencibir sebal.


"Ck, suka banget maksa kamu tuh. Untung udah mulai sayang, kalo nggak aku kunciin kamu tadi di apartemen." Gerutu Sarah pada kekasihnya itu.


"Ciee, yang lagi nyatain perasaan sama aku, duh, jadi makin cinta aku tuh sama kamu, besok nikah yuk." Canda pria itu, dia sangat suka menggoda Sarah. Baginya menggoda kekasihnya itu adalah hiburan tersendiri bagi nya.

__ADS_1


__ADS_2