Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLV


__ADS_3

Lima hari sudah mereka lalui dengan berbagai cerita. Hari ini mereka semua akan kembali ke kota. Pada kehidupan nyata dan tidak perlu bersembunyi lagi.


"Kok senyum-senyum sendiri nak. Kamu lagi mikirin apa, keliatan nya kaya lagi seneng banget? Bagi dong bahagia nya sama bunda." Asha hanya nyengir menampilkan gigi kelinci nya yang tersusun rapi.


" Hehehe, gak ada bun. Asha lagi seneng banget, karena keinginan Asha buat ke kota bisa kesampaian juga sekarang. Udah lama Asha pengen ikut abang Danu jalan-jalan, kalo pas abang ke kota beli persediaan. Tapi sama papi gak di bolehin. Banyak polusi, gak baik buat kesehatan Asha katanya." Ujar gadis itu bersemangat dengan sedikit mengadu pada sang ibu.


Sarah hanya tersenyum menanggapi celotehan sang anak, karena dia tau benar alasan nya.


"Ya di sana banyak polusi, udaranya udah gak sesehat di sini. Udah tercemar. Jadi, nanti setelah kita sampai di kota, Asha gak boleh sering-sering keluar rumah ya nak. Itu gak bagus untuk kesehatan mu, kamu tidak terbiasa dengan udara kotor dan berdebu, tidak seperti orang kota pada umumnya. Itu kenapa orang yang tinggal di kota, jadi lebih gampang sakit." Sarah menjelaskan dengan hati-hati agar bisa di pahami oleh sang anak. Biar bagaimanapun, Sarah ingin putrinya punya kehidupan yang normal layaknya gadis seusianya. Mengekangnya hanya akan membuat Asha tertekan dan semakin penasaran. Dia tidak ingin sang anak melakukan sesuatu dengan diam-diam, karena takut di larang atau di marahi. Itu akan lebih tidak baik lagi.


"Ya bun, Asha tau. Tadi abang Niel udah ngasih tau, kalo mau jalan gak boleh sendirian, harus selalu di temani."Balas Asha menurut. Walau ingatan nya belum pulih, namun tidak merubah sifatnya yang penurut dan baik hati.


"Pinter anak bunda, ya sudah turun yuk. Yang lain pasti udah pada nungguin di bawah." Sarah membawa tas ukuran sedang milik putri nya, lalu menuntun Asha turun ke lantai bawah.


"Udah pada siap belum, gak ada yang ketinggalan kan. Penjaga villa nya udah datang belum mau nitip kunci soalnya." Satria sibuk sejak subuh tadi, mengepak barang-barang Mereka.

__ADS_1


Peralatan medis yang masih ada di sana sudah di antar semua ke klinik di desa. Dan itu membuat seluruh desa antusias dan bahagia. Begitu juga dengan desa-desa tetangga, mereka tidak akan jauh-jauh ke kota kabupaten selama 4 jam hanya untuk berobat. Peralatan yang lumayan lengkap untuk ukuran klinik di sebuah pedesaan terpencil. Bagi ibu hamil pun tidak perlu khawatir, alat untuk USG pun sudah ada. Jika ada pasien yang harus melakukan tindakan operasi kecil. Di klinik pun sudah bisa. Bram, dokter bedah itu memilih tinggal di sana, namun tidak di villa. Tapi di rumah dinas, yang hanya berupa rumah petakan, yang mereka buat setahun lalu sebagai rumah dinas, bagi para perawat dan dokter yang bekerja di sana.


"Udah semua. Yuk. Rel, kita duluan ya, mau buka jalan dulu." Seloroh Bintang pada ketiga sahabat yang nampak masih cepika cepiki di teras villa tersebut.


"Siap, tolong jalan nya disisain, pak. Jangan di makan semua. " Balas Varel berkelakar. Yang hanya di balas acungan jempol oleh Bintang.


"Yakin tinggal? Masih ada beberapa menit untuk merubah pikiran mu." Danu tak henti hentinya, berusaha merubah keputusan Bram untuk menetap di desa tersebut. Sejak pria itu membuat keputusan untuk tinggal, Mereka hanya menganggap sebagai bualan belaka. Tidak mungkin pikir mereka, Seorang Bramantyo Ibrahim mau tinggal di sana apalagi tanpa para sahabatnya.


Namun rupanya, keputusan pria lajang tersebut sudah final dan tak bisa di ganggu gugat lagi. Walau terlihat raut kesedihan di wajahnya, atas kepergian para sahabat nya dari desa tersebut dan entah kapan lagi mereka akan bertemu kembali. Namun Bram tetap kukuh untuk tinggal. Tekadnya untuk menjadi pelopor bagi para tenaga medis, agar tidak hanya Mengejar gaji yang fantastis, namun juga mau mengabdikan diri bagi desa-desa terpencil seperti desa tersebut.


"Aku sih rela aja, cuma takut aja pas kita udah setengah perjalanan, tiba-tiba kamu nelpon nangis bombay minta di jemput balik. Kan jatohnya jadi ngerepotin." Danu bersungut tak terima. Walau di hatinya sebenarnya dia juga tak tega, meninggalkan Bram di sana sendiri. Meski tidak sendiri-sendiri amat, ada 2 orang bidan, 3 perawat dan ada dua dokter selain Bram. Tetap saja merasa kasihan, Mereka adalah sahabat sejak kecil. Tak pernah sekalipun berpisah, dan ini akan menjadi kali pertama nya bagi mereka. Tentu saja hatinya merasa sedih.


"Ck, ngaku aja kenapa sih. Gengsian amat." Decak Bram kesal.


"Udah, udah. Yang lain udah pada di mobil sudah nunggu. Bram, aku sama yang lain balik dulu, bulan depan aku kesini lagi bawa persediaan obat-obatan. Pembangunan penambahan bangunan klinik aku serahkan ke kamu. Kalo ada apa-apa yang di butuhkan, segeralah kabarin. Oke?" Varel menengahi dua insan, yang sebenarnya sedang sama-sama mellow, namun berusaha terlihat tegar dengan cara mereka sendiri.

__ADS_1


"Oke, gampang mah itu. Pak kades udah udah bilang sama yang punya molding soal bahan baku nya. Udah di bayar setengah nya juga, jadi tinggal lunasin kalo udah kelar semua dan di antar." Balas Bram menjelaskan.


"Sip dah kalo gitu. Yuk Dan, kok lesu gitu. Masih gak ikhlas nih, ninggalin si Bram. Pelukan gih tar udah di jalan kamu uring-uringan sendiri." Ujar Varel terkekeh lucu melihat raut wajah keduanya, yang lebih membesarkan gengsi masing-masing.


"Ck, ini karna varel yang nyuruh ya." Sungut Danu dengan decak gengsi nya. Lalu keduanya pun berpelukan, diam-diam keduanya mengusap sudut mata masing-masing.


"Baik-baik di sini, jangan suka tebar pesona. Kalo di rasa ada yang cocok, langsung di halalin, jangan suka nebar benih sembarangan. Di sini susah nyari karet balon rasa blueberry." Nasihat nyeleneh dan ngeselin itu berhasil membuat suasana haru jadi buyar.


"Aku gak gitu ya, udah gak lagi maksud nya." Bram menyangkal kesal lalu segera meralat Ucapan nya dengan cepat.


"Ya, udah gak lagi. Karena belum nemu aja yang sefrekuensi, coba kalo ada. Itu rumah dinas akan menjadi area mendesah, penuh peluh dan aroma anyir di setiap sudut nya."Balas Danu ketus.


"Udah, yuk Dan. Kami balik Bram." Varel memeluk sahabatnya kilas, menepuk pelan pundak pria itu lalu bergegas ke mobil yang sudah sejak tadi di klakson oleh Selo. Anak pecicilan dan tengil itu memilih untuk ikut mobil Varel. Membuat Varel uring-uringanan sejak semalam. Bukannya tak suka, masalah nya Selo anak yang cerewet, dirinya harus menjawab setiap menit pertanyaan anak itu, seperti ujian lisan kelulusan sekolah. Dan itu membuat nya pusing.


Dan itu berhasil mendebar kan jantung dokter spesialis kandungan tersebut. Pasalnya, setiap jabawaban nya selalu di mintai penjelasan serinci-rincinya. Benar-benar berbeda sekali dengan sang ayah yang jika buka suara, hanya akan membahas hal yang dirasa penting saja. Sangat mengherankan sekali, apa-apa jangan itu anak, anak nemu di di rumah sakit. Varel bergidik ngeri membayangkan, jika saja Satria tau apa yang di pikirkan nya, bisa-bisa laras senjata pria itu sudah nongky gemes di keningnya.

__ADS_1


__ADS_2