Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XXVIII


__ADS_3

"Maksud kamu apa, bicara seperti itu. Seru Angga dengan nada sedikit tinggi. Lalu buru-buru dia mengubah ekspresi nya, kemudian memegang kedua tangan Sarah. Pria itu berjongkok di depan Sarah, dengan tatapan sendu, tatapan yang paling Sarah benci. Dia tidak ingin hati nya goyah, hanya karna rasa kasihan. Cinta di hati nya sudah menguap seiring waktu, sejak dia mengetahui jika suami nya bermain api di belakangnya.


"Aku serius mas, berpisah adalah keputusan paling tepat untuk kita sekarang. Agar kita berhenti saling menyakiti." Lebih tepat nya aku yang di sakiti, batin Sarah. "Mas butuh wanita yang bisa memberikan mas keturunan, dan wanita itu bukan aku. Aku mandul seperti yang sering mama kamu bilang, dan aku tidak akan pernah bisa ngasih kamu anak, mas." Ucap Sarah setenang mungkin. Ada rasa sakit di hati nya mengucapkan kata mandul itu.


"Ceraikan aku, mas, cari lah wanita yang sesuai dengan ekspektasi mas, nikahi dia, miliki anak yang banyak bersamanya dan hiduplah dengan bahagia." Mata Sarah sudah berkaca-kaca, sungguh dia tidak ingin terlihat rapuh di depan suami nya.


"Aku hanya bahagia sama kamu, Sar. Tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki diri, aku tau aku banyak salah. Aku ngekang kamu, aku tidak suka jika ayah datang kerumah kita, aku benci kamu yang peduli sama ayah dan aku sadar aku sudah menjadi suami yang jahat dan juga sangat pelit pada istriku sendiri." Ucap Angga putus asa, dengan memelankan suara di ujung kalimat nya. Dia malu sendiri mendengar ucapan nya.


"Bukan itu mas, nggak masalah berapapun nafkah yang jamu kasih ke aku, aku tetap mensyukuri nya. Hanya saja... Hubungan kita sudah terlalu toxic untuk bisa di lanjutkan lagi, mas. Mengertilah." Mohon Sarah juga tak kalah putus asa.


"Kamu sudah nggak cinta lagi sama aku, udah nggak sayang lagi?? Aku akan berubah, aku janji, ini." Angga membuka dompet nya, lalu menyerahkan semua kartu yang ada di dalam sana kemudian meletakkan nya di tangan Sarah. "Ambil, Sar. Kamu juga bisa kirimin ke ayah atau buat bayar biaya rumah sakit ayah, pake aja, berapa pun. Aku nggak akan marah." Ucap Angga setengah frustasi.

__ADS_1


Sarah menyodorkan kembali kartu-kartu itu pada Angga. "Ambil mas, Kamu bisa ngasih ke Lusi. Mungkin dia bisa lebih baik mengelola keuangan dari pada aku" Sarah berucap setenang mungkin, namun tidak bagi Angga. Ucapan Sarah seperti tamparan keras untuk nya.


"Kamu?".. Angga menatap netra sang istri dengan perasaan was-was, ada ketakutan besar di hati nya sekarang.


"Aku sudah tau mas, sudah lama. Aku hanya menunggu waktu di mana kamu kembali, benar-benar untuk pulang, bukan hanya sekedar singgah. Aku lelah hidup dalam kepura-puraan, aku lelah terlihat baik-baik saja. Aku tidak pernah baik-baik saja semenjak kita menikah. Kamu benar aku tidak lah secantik Lusi, memilik karir yang bagus dan juga tidak berasal dari keluarga kaya raya. Tapi aku juga tidak ingin menjadi beban siapapun termasuk, kamu mas." Ucap Sarah dengan emosi yang menggebu-gebu. Sudah cukup kesabaran nya selama ini, dia tidak ingin mengalah lagi.


Angga hanya bisa tergugu sambil mencium kedua tangan Sarah, dia sungguh menyesali semua perbuatan nya dan berharap Sarah akan memberi nya kesempatan untuk memperbaiki diri.


"Aku menyesal, Sar. Sangat! Tolong kasih aku kesempatan sekali aja, aku mohon. jangan tinggalin aku, tidak masalah kita tidak punya anak, kita bisa mengadopsi di panti asuhan. Jangan hirau kan mama, biarkan saja, nanti kita bawa ayah kemari agar kamu tidak kesepian. Aku mohon sayang, ampuni suami bejatmu ini, tolong." Angga terus memohon dengan menelungkup kan wajah nya dipangkuan Sarah. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi sekarang, dia hanya berharap Sarah luluh melihat keputusasaan nya.


"Maa!! Sudah, hentikan!!" Seru Angga dengan Nada tinggi pada ibunya, kemudian menolong Sarah dan membawa wanita itu menjauh dari sang ibu.

__ADS_1


"Kamu nggak papa, sayang. Sini liat mana yang sakit." Ucap Angga sambil terus memeriksa kepala sang istri.


."Nggak, aku nggak apa-apa" Ucap Sarah menahan denyut di kepala nya.


"Mama, apa-apaan sih. Datang-datang ke rumah orang malah berbuat onar. Ucap Angga marah, bagaimana tidak, nasib rumah tangganya sedang berada di ujung tanduk, sang ibu malah menambah masalah baru.


"Kamu ini mama belain nggak berterimakasih, lagian kenapa kamu sampe mewek mewek gitu. Malu-maluin aja kamu tuh, bisa GR dia kira kamu masih cinta sama dia." Bela wanita itu tak mau di salahkan.


"Mending mama pulang deh, please ma. Kali ini aja, tolong jangan dikte aku lagi. Aku bisa nyelesain masalah aku sendiri." Ucap Angga mulai tak sabar mengahadapi sikap keras kepal sang ibu.


"Mama cuma mau ingatin kamu, besok malam jangan lupa jamuan makan malam sama calon istri kamu di rumah mama." Ucap wanita itu tanpa perasaan di depan menantunya.

__ADS_1


"Mama!!".. Ucap Angga dengan wajah panik. "Pulang ma, Angga mohon." Kini dia yakin, Sarah pasti akan semakin membencinya.


"Terserah, malas juga mama lama-lama disini, liat wajah menantu yang mandul kaya istri kamu itu." Ujar nya lagi tanpa perasaan bersalah, kemudian berlalu pergi dari rumah itu.


__ADS_2