Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLXIII


__ADS_3

"Duduk sini" Daniel menepuk sisi sofa di samping nya.


"Eh, beneran di tarok semua. Aku becanda loh tadi, tapi makasih lah udah pengertian banget." Kekeh Asha merasa konyol sendiri. Sang kekasih ternyata menanggapi serius ucapannya tadi.


"Kan, makannya berdua" ujar Daniel santai, lalu mulai memotong potongan daging kemudian menyuapi kekasihnya. " Enak gak? ini aku beli samping minimarket depan rumah sakit. Pelanggan nya banyak, antrian nya, beuuhh. Panjang kaya rel kereta." Cerita Daniel sedikit berkelakar. Membuat Asha tersenyum lucu.


"Enak, ini. Pantas aja pelanggan nya banyak." Asha pun tak kalah memuji.


"Mmm... Enak" ujar Daniel dengan mulut penuh.


klek


"Loh? Daniel udah lama datangnya?" Reegan bertanya, pasalnya melihat mereka sudah duduk makan, artinya dia dan sang istri cukup lama di dalam.


"Ya, yah. Lumayan, tadi bangunin putri tidur dulu" kekeh Daniel menatap kekasihnya yang merenggut manja.


"Abis dari sini langsung ke kantor? tanya Reegan lagi.


"Langsung mampir buat ketemu klien, di restoran kumala. Bahas soal proyek pembangunan resort yang di Bali." Jelas Daniel.


"Oh, itu." Akhirnya Reegan mengerti, kenapa putranya, Keenan. Menolak kerja sama dengan PT. Spin Black Company tersebut. Tidak lain adalah, agar Daniel berkesempatan untuk mendapatkan proyek besar tersebut.


"Ini aku bawakan sarapan sekalian buat ayah. Ayah Sarapan dulu, bunda udah di antarin makanan belum?" Daniel menunjuk plastik di atas meja pada Reegan, kemudian melirik meja nakas yang masih belum ada wadah makanan buat Sarah.


"Bunda gampang, ayah makan aja duluan. Bunda mau jus sari kacang aja, biar lambung gak kaget." Sarah mengerti arti diam sang suami, pasti tidak enak jika dia makan lebih dulu.


Reegan berjalan menuju sofa, kemudian mengambil bungkusan nasi tersebut. Lalu kembali berjalan menuju ranjang, sebelum duduk, pria itu membuka laci nakas untuk mengambil piring dan sendok.


"Aku suap pake telur ini dulu ya, nasi Kuningnya jangan dulu. Pake santan soalnya." Sarah hanya mengangguk, dia memang suka dengan telur rebus.


Reegan menyuapi sang istri terlebih dahulu, setelah dua sendok giliran istrinya, barulah dia mulai menyuapi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mau pake kecap asin gak, dikit aja. Biar gak hambar banget" tawar Reegan. Biarlah sedikit saja pikirnya, kasian melihat sang istri yang harus memakan makanan serba hambar. Untuk itu dia berinisiatif membeli kecap asin juga kecap manis request sang anak.


"Boleh, hambar banget. Aku juga enek" aku Sarah tak enak hati.


Reegan kembali membuka laci nakas, mengambil sebotol kecap asin. Dan itu tak luput dari pandangan dua insan, yang juga sedang sarapan di sofa dalam ruangan itu.


"Aku mau juga yah. Pake kecap mau gak, bang? Asha kembali menatap Daniel yang masih mengunyah makanan nya. Daniel hanya mengangguk saja. Tidak masalah, toh rasanya memang sedikit hambar.


Setelah mendapat kan botol kecap dari sang ayah, Asha menuang sedikit diatas lauknya. "Segini cukup bang?" Kembali Daniel mengangguk, kebetulan dirinya sedang minum.


"Tambah dikit ah" ujar Asha nyengir. Dirinya memang sangat suka makan makanan yang sedikit asin. Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan sang kekasih.


"Gimana rasanya? Daniel menyuapi Asha sambil bertanya.


"Enak bang. Suka, tadi hambar perasaan ku. Emang abang gak?" Asha bertanya dengan mulut penuh.


"Hambar dikit. Ini nasinya tambah gak, masih ada satu bungkus lagi itu" tunjuk Daniel dengan dagunya.


"Tambahin dikit, sisanya bagi ayah" Daniel membuka bungkusan nasi tersebut, kemudian membagi dua. Setelah menaruh di dalam tempat nasi mereka berdua, Daniel berjalan menuju brankar Sarah.


"Padahal ini sebungkus, porsi nya banyak loh. Tapi ya sudah, ini nasi putih ya? Boleh bunda makan lah kalo gini, lembut juga nasinya" balas Reegan lalu mengisi lauk di atas nasi tersebut. Dia menaruh nasi yang sedang dia makan tadi di atas nakas, menukar nya dengan dengan nasi yang di berikan oleh Daniel.


"Kok udahan makannya?" tanya Sarah heran, pasal nya baru setengah.


"Aku mau suapin kamu dulu" jelas Reegan. "Tumben hari ini telat di antar nasi, padahal udah jam 7 lewat" tanya Reegan heran.


klek


Terlihat seorang wanita masuk dengan mendorong troli makanan. "Maaf bu, kami sedikit terlambat. Ada sedikit insiden ketika akan kemari, tapi sudah tidak apa-apa. Hanya masalah kecil" jelas wanita muda tersebut tidak enak, namun tetap tersenyum ramah. Kemudian meletakkan nampan makanan sarah di atas meja dorong.


"Tidak apa-apa" balas Sarah tak kalah ramah.

__ADS_1


"Silahkan di makan sarapan nya, bu. Sekali lagi, mohon maaf atas keterlambatan pelayanan kami. Saya permisi" ujar gadis itu kemudian berlalu dadi ruangan Sarah.


"Bunda makan ini aja ya, ada sayur tumisan. Ada ayam goreng yang udah di iris tipis-tipis juga" Reegan menatap sang istri menunggu tanggapan.


"Ya sudah, tapi nasinya pake yang ini. Aku bosen makan bubur setiap hari." Sarah menatap sang suami dengan penuh permohonan.


"Ya sudah, lauk nya make yang ini ya" kembali Reegan menego, dan di jawab anggukkan oleh Sarah.


klek


Keenan menatap haru pemandangan yanga ada di hadapannya itu. Mata pria itu sampai berkaca-kaca.


"Pada sarapan?" tanya Keenan memecah keheningan dalam ruangan tersebut. "Aku ada bawa roti sama cake buatan umi, nanti setelah anak-anak pulang sekolah, umi kesini bareng anak-anak" jelas Keenan sambil menata bawaannya di atas nakas.


Daniel yang baru keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangan, menyapa Keenan yang masih tampak sibuk menata roti bawaan nya.


"Kak? sendirian?" Daniel menatap ke arah pintu yangs sedikit terbuka.


"Sendiri. Umi nanti siang bareng anak-anak. Asha mana?" Keenan balik bertanya.


"Tuh, lanjut mandi" jawab Daniel kemudian kembali duduk di sofa Yang tadi dia dan Asha duduki.


"Lah? Trus kamu tadi abis ngapain dari dalam?" tanya keenan heran.


"Abis nyuci tangan. Tuan putri makannya di suapin, lauknya aku potong pake jari biar gak riweh pake sendok" jelas Daniel yang mengerti arah pertanyaan Keenan.


"Oh" Singkat, artinya pria itu mengerti.


"Bunda udah enak hari ini?" Keenan mencium pipi sang ibu dengan sayang.


"Udah, lebih baik setiap hari nya" jawab Sarah tersenyum lembut. "Rumi biar gak usah ke rumah sakit tiap hari, Ken. Bunda kasian dia bolak balik bawa anak-anak di jalan. Si kembar lagi lincah-lincahnya, bunda khawatir" ujar wanita itu lagi sambil menatap sang anak dengan tatapan tak enak dan cemas.

__ADS_1


"Gak apa-apa bun, lagian sama sopir. Aku mana ngasih umi jalan kemana-mana sendirian" jelas Keenan menenangkan sang ibu. " Lagian ada Elsye sama Eiden, amanlah mereka di jalan. Bunda gak usah cemas. Fokus sama kesehatan bunda aja, lusa udah mulai kemo kan? Harus kuat ya, ingat, kami selalu ada dan sayang sama bunda." Keenan Menatap sang ibu dengan harapan tinggi, dia berharap pengobatan itu berhasil walau tidak seratus persen.


"Ya, bunda udah siap. Kuat lah asal ada kalian yang selalu menyemangati dan menemani bunda" ujar Sarah membelai lembut pipi sang anak. Dirinya pun mengharapkan hal yang sama, doa nya kepada Tuhan selalu sama. Memohon kesembuhan bagi dirinya, agar keluarga nya tidak terlalu larut dalam kesedihan karena melihat kondisi nya.


__ADS_2