
Samar-samar Daniel mendengar suara tangisan bayi, segera pria itu bangun dan berjalan cepat walau kepala nya terasa sedikit pusing.
Tok tok tok
"Kira? aku masuk ya?" tak ada sahutan membuat Daniel gelisah, lalu membuka handle pintu perlahan. Terlihat Kira masih tertidur lelap, dengan Debya masih dalam keadaan menyusu sambil terlelap didepan dada ibunya.
Daniel menoleh ke boks bayi, ternyata Delia yang menangis. Rupanya bayi itu menangis mungkin karena lapar. Daniel segera mengangkat tubuh Delia dari boks, dan berjalan perlahan menuju ke sisi Kira.
Glek
Susah payah Daniel menelan ludahnya, dia merutuki pikiran liarnya.
"Bu bangun, Delia haus ini" Daniel menggoyang pelan lengan Kira yang nampak begitu lelap. Wanita itu pasti sangat kelelahan.
Kira mengerjab matanya, lalu menoleh pada Debya yang masih lelap dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Daniel sedang menggendong Delia yang masih menangis walau tak sekencang tadi.
Kira masih belum sadar jika dada nya terbuka lebar, Daniel segera mengambil kain lampin dan menutupinya. Hingga sejenak Kira menatap tangan Daniel yang masih menahan kain di dadanya.
"Maaf aku tidak bermaksud lancang. Ini, susui delia dulu, dia menangis kencang tadi." Daniel memberikan Delia di pangkuan Kira, wanita itu duduk bersandar di sandaran ranjang.
Sementara Daniel mengangkat tubuh Debya lalu menimangnya sebentar, setelah Debya tak lagi menggeliat, Daniel menaruhnya di dalam boks bayi.
Daniel melirik nakas, di lihat nya teko kaca milik kira tinggal seperempat isinya. Daniel meraihnya lalu membawa keluar untuk mengisinya lagi.
__ADS_1
Daniel masuk dengan teko di satu tangannya dan sebuah toples sedang di sebelah nya. Rupanya dia membawakan beberapa bungkus roti di dalamnya.
Setelah menuangkan air putih, Daniel kembali menghampiri Kira.
"Mimun dulu." Daniel membantu mengarahkan gelas ke mulut Kira. "Memang sering seperti ini kalau malam? aku cari kan pengasuh mau, hanya buat jaga-jaga aja kalau kau ingin mandi atau makan." Ujar Daniel hati-hati, dia tidak ingin kata-kata nya menyinggung perasaan Kira.
"Sering, hampir tiap malam. Paling sering belakang ini, mungkin karena sudah mulai mengerti. Kalau lapar, Delia yang paling rewel. Menangis nya yang paling kencang," Adu Kira tanpa sadar.
"Seperti nya tidak usah saja, mungkin aku belum terbiasa sendiri mengasuh anak-anak. Dulu Justin yang selalu terbangun tengah malam, untuk mengganti popok dan menghangatkan asi." Curahan hati Kira menyentil relung hati Daniel. Justin begitu banyak berkorban untuk anak-anak nya.
Wajah wanita itu terlihat begitu lelah, kantung matanya besar. Terlihat kuyu dibalik wajah cantiknya, Daniel merasa sesak.
"Aku akan menginap di sini saja jika kau tidak keberatan, bagaimana?" Tawar Daniel memberanikan diri.
"Dia tidak akan bisa mengatur ku, dia tau posisi nya di rumah hanya karena kelicikannya. Aku lebih rela pulang pergi bekerja sejauh ini, asal bisa menemanimu dan anak-anak. Ijinkan aku menjadi pelabuhan terakhir mu, begitu pun kau. Aku masih sangat mencintai mu, tidak berkurang sedikit pun. Aku juga jatuh cinta pada ke dua malaikat kecil ini." Ungkap Daniel panjang lebar, menatap Kira dengan penuh harap.
"Aku bukan Kira yang dulu lagi. Kau bisa menjadi ayah dari triplets tanpa harus menikahi ku. Carilah wanita yang sepadan denganmu. Pernah dengar curhatan para pria mengenai istri-istri mereka? dimana wanita yang melahirkan banyak anak, tidak akan sama nikmat seperti sebelumnya. Aku tidak mau kau kecewa, aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mu dalam hal teman tidur." Papar kira menatap Daniel serius. Dia tidak ingin pria itu kecewa padanya kelak, lalu berakhir pada perpisahan dan membuat keluarga mereka kacau balau lagi.
Daniel menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan, pria itu menatap sendu pada wanita yang sangat di cintai itu dengan tatapan tak terbaca.
"Bagiku kenikmatan sebuah percintaan bukan soal dia masih perawan, dia belum pernah melahirkan, dia punya sedikit atau banyak anak. Tapi di setiap sentuhan nya itu, ada cinta dan kasih sayang yang ikut bekerja. Aku bukan pria munafik, tapi juga bukan pria brengsek yang mengukur kenikmatan bercinta dari sisi itu saja. Akan lebih nikmat jika kita melakukan nya bersama orang yang kita cintai. Mungkin perkataan terlalu vulgar kedengarannya, tapi kita sudah cukup dewasa untuk menyikapi nya." Daniel memaparkan dari sudut pandang nya. Bagaimana kenikmatan bercinta bukan hanya soal va*gi*na sempit atau masih perawan.
"Jika dulu kau yang melamar Justin, maka sekarang, aku yang akan melamar mu. Ayo kita menikah" tukas Daniel menatap manik Kira begitu dalam.
__ADS_1
Kira terkekeh pelan mengingat momen, dimana dirinya melamar Justin di pagi buta. Tidak ada yang romantis disaat itu, yang ada hanya air mata.
"Apa kau yakin? bagaimana dengan Tiara? aku tidak ingin di sebut perebut suami orang." Kira kembali meragu akan keputusan nya.
"Tidak perlu memikirkan nya, dia hanya istri siri yang tak pernah ku ingin kan. Setelah semua surat perusahaan aku dapatkan, maka segera dia akan ku ceraikan." Daniel bahkan tak sudi menyebut nama Tiara.
"Tapi jika memang tidak bisa, maka aku akan menyerahkan perusahaan itu padanya. Tidak masalah jika harus memulai dari awal, asal kau mau berjuang bersama ku saat aku sudah menjadi pengangguran nanti." Kekeh Daniel mencairkan suasana.
"Aku bahkan pernah hidup bertahun-tahun tanpa tas, baju, sepatu bermerk. Dan aku baik-baik saja, hidup sederhana justru mengajar kan ku arti kata nikmat dan syukur yang sebenarnya. Justin hanya berkebun dibelakang villa kami, menangkap ikan agar kami tidak sebal menatap sayur hijau di atas meja makan." Kira kembali terkekeh mengingat momen bahagia nya bersama Justin.
Daniel ikut terkekeh karena nya, namun sejenak Kira memudarkan senyum nya lalu menatap Daniel.
"Kenapa menatap ku begitu?" Tanya Daniel cemas, jika kata-kata nya, ada yang menyinggung wanita itu.
"Maaf," cicit Kira pelan.
"Untuk apa? apa salahmu?" tanya Daniel heran, dahinya mengkerut dalam.
"Membahas masa lalu ku dan Justin" ujar Kira memelan suara di ujung kalimatnya.
Daniel tersenyum gemas, dia bahkan tidak merasa kan cemburu sedikit pun pada Justin. Entah karena mereka berdua begitu intens berbagi pesan selama 3 bulan lamanya, atau karena dia berhutang banyak terimakasih pada pria itu.
"Aku tidak apa-apa, aku bahkan bersyukur, Justin hadir di saat yang tepat. Andai aku sempat bertemu langsung dengan nya, dia akan ku jadikan adikku. Dia pria hebat yang membawamu dan anak-anak pada kebahagiaan yang sempurna, aku hanya ingin melanjutkan misinya untuk membahagiakan kalian dengan cara ku sendiri. Maka ijin kan pria malang ini menjadi bagian hidup kalian, aku ingin menghabiskan hari-hari yang kumiliki untuk membuat kalian bahagia." Ujar Daniel terlihat begitu serius, sungguh lamaran yang tak romantis memang.
__ADS_1