Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XCIII


__ADS_3

"Gimana kondisi anak saya dok, sudah lebih seminggu kenapa belum ada kemajuan sama sekali." Reegan bertanya dengan nada putus asa. Sudah 9 hari, putrinya belum kunjung sadar.


"Seharusnya sudah sadar jika menurut pantauan medis, kondisi Anak bapak sudah lewat dari masa kritis nya. Hanya saja ada sesuatu yang menahannya untuk tetap terlelap." Jelas dokter tersebut pada Reegan, yang nampak sangat gusar dihadapan nya.


"Maksud dokter anak saya sudah tidak koma, begitu? Tolong jelaskan secara rinci, jangan menggunakan istilah medis yang tidak saya pahami." Tanya Reegan berusaha memastikan.


"Anak bapak masih dalam keadaan koma, namun untuk sekarang putri bapak sudah bisa merespon jika diajak berbicara. Sering-seringlah bercerita jika sedang membesuknya, apa saja. Yang sekiranya bisa menstimulasi perkembangan otaknya." Dokter itu menjelaskan dengan sabar, pada ayah dari pasien nya sekaligus pemilik rumah sakit tempat nya bekerja.


"Baik dok, saya mengerti. Kalau begitu terimakasih banyak." Ujar Reegan kemudian berlalu dari ruangan sang dokter.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi seperti itu, bukankah biasanya Killa selalu menuruti apa yang abang bilang. Kok bisa sampe seagresif itu ngamuknya. Mami juga sampe kena imbasnya. Mami gak marah sih, cuma syok aja. Waktu liat ruang keluarga sampe sehancur itu keadaan nya. Kening Daniel juga luka gitu, mami kaget, apalagi ditangan Killa ada besi kail. Ngeri mami, kalo ingetnya." Ujar wanita itu bergidik ngeri.


"Papi juga gak habis mikir, kenapa kenakalan Killa kaya ada yang salah gitu. Kaya bebal banget anaknya, apa-apa kalo gak diturutin ngamuknya, Nauzubillah banget." Bintang menimpali perkataan sang istri.


"Padahal Daniel cuma ngasih coklat aja loh mi, sama pemulung itu. Gak nyangka Killa bakal semarah itu sama Daniel." Ujar bocah 11 Tahun itu menimpali obrolan kedua orangtuanya.


"Daniel suka aja berteman sama Kiran, anaknya cantik, baik trus sudah bisa nyari duit sendiri lagi. Daniel sengaja sering suruh kerumah ambil botol bekas minuman, biar bisa ngasihin dia coklat sama roti." Ujar anak itu lagi sambil tersenyum sendiri, membuat kedua orangtuanya saling pandang lalu ikut tersenyum.

__ADS_1


Ternyata putra bungsunya mereka itu sudah terkena virus baik, virus cinta monyet. Wajarlah usianya sudah memasuki 12 tahun, hanya saja mereka tetap harus memberikan batasan. Itu berlaku pada semua anak mereka. Yang sering disebut tangga nada oleh para sahabat Bintang.


Anak pertama Bintang berusia 15 tahun, anak kedua 13 tahun lalu yang terakhir 11 tahun lebih. Bintang mengejar target mencari anak perempuan, sayangnya sampai anak ketiga ternyata laki-laki juga. Namun mereka tetap mensyukuri, banyak orang diluar sana yang bahkan tidak memiliki satupun keturunan. Jadi tidak masalah bagi mereka, toh masih ada anak perempuan dari sahabat nya yang lain. Yang bisa mereka perlakukan seperti anak kandung mereka sendiri.


"Kamu kenal dimana nak?" Tanya sang ibu penasaran.


"Pas pulang sekolah mi, waktu pak Udin mau masuk gerbang. Daniel gak sengaja, liat Kiran lagi teduhan dari gerimis, dibawah pohon palem didepan tembok pagar rumah sebelah. Daniel samperin bawa payung pak Bayu dari pos satpam." Daniel bercerita dengan wajah berbinar.


"Trus aku kasihin payungnya sama coklat sisa Daniel dari sekolah. Senyuman nya itu kaya mirip sama bunda Sarah, teduh banget. Jadinya Daniel jadi sering suruh mampir, ambil botol bekas sama makanan juga." Lanjut Daniel sumringah.


"Jadi kamu sengaja suruh mami, beli air mineral kemasan botol itu, bukan karena kamu yang mau, tapi buat pancingan Kiran biar mampir kesini. Ya ampun nak, kamu tinggal bilang sama mami. Mami pasti sekalian belikan makanan juga. Masa Kiran kamu kasih coklat sisa sih, malu mami. Kasian Kiran nya makan sisa kamu." Ujar sama ibu kesal, sekaligus senang, anaknya punya jiwa sosial yang tinggi.


"Takut mami marah, makanya Daniel bohong maaf ya mi. Gak lagi. Itu juga coklat sisa karena cuma ada itu di tas Daniel. Tapi gak pernah lagi kok mi, Seringnya ngasih roti, coklat sama nasi tarokin ayam goreng di kotak makan." Wajah anak itu semakin cerah, setelah mengetahui sang ibu tidak memarahi nya, karena sering memberikan makanan pada teman barunya itu.


"Ck, gak anak gak ibu. Sama aja. Tu Dean sama Dion apa kabar, masa kalah sama adek udah punya calon gebetan." Celetuk sang ayah memancing ikan di air keruh.


"Jodoh aku masih dalam cangkang, pi. Belum netas Dion aja dulu, Sering Chattingan aku liat belakang ini." lanjut sang kakak menimpali.


"Kenapa aku, kalo kakak aja jodohnya Masih dalam cangkang, aku apa kabar. Baru otw pembuahan, masih jauh." Ujar remaja yang baru akan menginjak usia 14 tahun tersebut sekenanya, sambil terus fokus pada game online diponselnya.

__ADS_1


"Ck, jawaban kalian gak ada yang asyik. Mi masuk kamar yuk, kita otwkan adik perempuan buat ketiga pejantan kita ini." Ujar Bintang mengerling nakal pada sang istri.


"Udah tua pi, ingat umur. Tar kalo mami lahiran, yang jenguk bakal bilang gini. 'Cucu bapak cantik sekali'. Kan Ujung-ujungnya aku juga yang kena fitnah akibat ulah papi." Ujar Dean tanpa dosa, lalu berlari kearah tangga menuju kamarnya. Kabur ah sebelum kapitennya menenggelamkan kapal. Bisa berabe, alamat gak dapat uang sangu kalo udah gitu.


Sementara Bintang kesal bukan main mendengar ucapan sang anak. "Maksud kamu apa bilang gitu, papi gak setua itu ya. Enak aja, Liat nih otot-otot papi masih kencang, ngasihin kalian 10 adik lagi juga papi masih sanggup." Seru Bintang kesal, sementara yang diteriaki udah masuk kamar juga selimut tebalnya.


"Udah pi masuk kamar sana, mami kunci baru nyahok. Alamat ngisi kamar tamu papi malam ini." Celetuk si anak tengah. Membuat Bintang seketika panik. Pria itu berlari kencang Menuju kamar, yang untung nya belum dikunci oleh sang nyonya. Bisa kelar masa depan Bintang kalo itu sampai terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Banyak juga kamu dapet duitnya, sayang kamu masih kecil. Udah 12 taun aja, aku jual kamu. Lumayan, perawan ting ting. Bisa kaya aku." Ujar wanita tak punya hati nurani tersebut, tersenyum sendiri akan ide gilanya itu.


"Siapa yang mau kamu jual, Sa? Makin lama otak mu itu makin rusak, gak usah bawa-bawa Kira kalo rusak, rusak aja sendiri. Kira sini nak, mama Dara bawa nasi uduk. Belum makan kan? Duduk sini." Wanita itu menepuk sisi kursi kayu di teras rumah itu.


"Buat gue, gue laper. Tu anak setan bisa makan sisa sampah, biasanya juga gitu. Nanti kebiasaan kalo dikasih makan enak kaya gini." Wanita itu merebut nasi bungkus, yang baru di buka oleh Dara untuk Kira.


"Itu yang beli gue, pake duit gue kenapa lo yang sewot. Balikin gak, gue teriakin lo nyuri ya kalo gak dibalikin." Ancam Dara berhasil membuat Wanita laknat itu ciut.


"Nih, makan sama Bungkus-bungkusnya sekalian." Sasa meletak kan bungkusan nasi itu dengan kasar, hingga sedikit berhamburan.

__ADS_1


"Gue juga punya duit kalo cuma buat beli makanan receh kaya gitu, cuihh." Hinaan untuk menutupi ******** itu judulnya.


"Masih numpang makan sama balita aja bangga, itu urat malunya udah pada kerisut, akibat kebanyakan disiram benih kadaluarsa para lansia." Ujar Dara tak kalah menohok. Membuat wanita itu pergi dari sana dengan perasaan yang, entahlah. Nano nano.


__ADS_2