
"Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku tidak akan naik kelas nih" gumam Joice menatap halaman buku tugasnya. Gadis yang sudah mengenakan seragam putih-abu itu terlihat sangat cemas. Bukan perkara dia tidak pintar, hanya saja, di sekolah nya ada guru baru yang resek nya setengah mampus.
Semenjak kedatangan pak Jovano, sebagai guru wali kelasnya sekaligus guru yang membidangi mata pelajaran yang paling dia benci, fisika. Hari-hari Joi tidak pernah tentram. Ada saja alasan guru nya itu untuk memberi hukuman yang tidak masuk akal.
Seperti hari ini, dia harus menemani guru rese tersebut mengoreksi hasil ulangan harian teman-teman sekelasnya termasuk juga hasil ulangan nya sendiri. Yang bisa Joi pastikan sendiri hasilnya, di bawah nilai standar.
"Pak? pak Vano, ini sudah selesai, aku boleh pulang tidak? Ibu ku pasti riweh jika aku pulang terlambat lagi," mohon Joi dengan menampilkan wajah penuh siksaan.
Jovan terdiam, tangannya yang sibuk mencoret lembar tugas anak didik nya berhenti sejenak. Pria 25 Tahun itu memutar kursinya menghadap ke arah Joi, membuat gadis itu salah tingkah sendiri.
"Mau pulang sekarang? tapi kau belum makan, hanya ngemil, itu tidak baik. Makan dulu baru pulang, aku akan masak sebentar, jangan kemana-mana." Joi terkesima oleh kata-kata ajaib wali kelasnya tersebut, pasalnya, setiap hari pria itu selalu menampilkan wajah sangar, dingin dan datar. Tapi kali ini, bisa-bisanya guru killer tersebut berbicara begitu lembut padanya, jangan lupa senyuman nya yang... Uhh bikin meleleh jiwa remaja Joi.
Joi tersadar dari lamunannya, menepuk keningnya sendiri. Bodoh, dia itu hanya memanfaatkan kepolosan dan kebodohan mu saja. Untuk membantu meringankan pekerjaan nya. Kan lumayan, gratis. Batin Joi berteriak berontak, hati dan pikiran nya benar-benar tidak sejalan pikir nya.
Joi berjalan menuju dapur, dapat dia lihat gurunya tersebut begitu cekatan dalam memainkan peralatan dapur. Joi jadi malu sendiri, dia jarang ikut memasak bersama kakak-kakak nya.
"Apa kau hanya akan menatap ku hingga liur mu meleleh ke dagu?" dasar pertanyaan tidak ada akhlak. Mana ada liurnya menetes, sembarangan saja kalau bicara. Umpat Joi kesal.
"Bapak ini, sembarangan saja kalau bicara. Aku mau pulang saja, di rumah ku ada banyak makanan. Aku makannya banyak, kalau cuma segitu tidak akan cukup, apalagi harus berbagi dengan bapak." Oceh Joi panjang lebar.
"Makan disini saja, aku sudah memasak, hargai lah usaha orang lain untukmu." Balas Jovan ambigu.
Joi mengerutkan dahinya dalam, memangnya siapa yang menyuruh nya untuk memasak batin Joi.
__ADS_1
"Duduk saja di sana, ini sebentar lagi matang." Jovan kembali menyelesaikan masakannya tanpa peduli wajah berlipat Joi.
Setelah beberapa menit akhirnya masakan Jovan selesai. Dengan bangga, pria itu menghidangkan nya di atas meja.
"Kau harus makan yang banyak, kau itu masih dalam proses pertumbuhan." Ujar Jovan menaruh makanan di dalam piring Joi, ada mangkuk sup disamping piringnya, dan di dalam piringnya ada nasi dan ayam goreng yang sudah di iris tipis oleh Jovan. Pria itu menata rapi isi piring Joi, berharap gadis itu terkesan. Nyatanya, isi piring itu tetap saja berhamburan saat sendok 5 jari Joi bekerja. Jangan lup yang langsung dia tuang begitu saja ke dalam piring nya, sisanya dia seruput langsung di bibir mangkuk.
Jovan melongo tak percaya, gadis secantik Joi yang terlihat begitu feminim. Bisa segrangas itu saat makan. Jovan hanya bisa meneguk ludahnya kasar, makan malam yang boleh di katakan romantis dengan lilin aromaterapi, buyar oleh kelakuan absurd Joi.
"Apa kau tidak bisa makan lebih manusiawi lagi, kau tidak pernah di ajarkan table manner yang benar?" sarkas Jovan kembali ke mode dingin.
Joi tersedak hingga mata dan hidung nya perih, bagaimana tidak, sambal tomat buatan pria sangar itu, seperti nya menggunakan sekilo cabe.
Joi menatap nyalang Jovan yang terlihat acuh, "bapak kalau tidak suka saya makan seperti ini, harusnya bilang saja. Tidak usah membawa-bawa etika segala. Di rumahku kami di ajarkan sopan santun dan etika dengan baik." Jovan mematung, apa dia sudah keterlalun berbicara pada gadis itu, kenapa Joi sampai semarah itu padanya.
Joi mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu, saat akan membuka handle pintu. Ternyata pintu itu terkunci, pantas saja pak sangar itu acuh tak acuh.
"Pak, buka pintu nya saya mau pulang. Tidak baik anak perawan berlama-lama di apartemen seorang pria asing" ujar Joi sarkastik.
"Apa kau tidak lihat jika aku sedang makan? makanan mu masih banyak, habiskan. Aku tidak susah payah membuat nya untuk berakhir di tempat sampah." Jovan berkata tak kalah sadis. Joi ingin sekali melempar kepala gurunya tersebut dengan vas bunga, sayangnya, dia takut darah.
"Aku sudah kenyang, aku bisa makan di rumah. Tidak ada yang akan menegur cara makanku yang kampungan." Joi menjatuhkan bokongnya di atas sofa, dia lelah. Sepulangnya sekolah harus membuang waktu, untuk membantu pria tak tau terimakasih itu mengoreksi tugas.
Ini sudah kedua kalinya, Joi berbohong pada orang tuanya. Untung saja sahabat nya bisa di ajak bekerja sama dengan baik, maksud nya dengan lembaran rupiah berwarna merah. Joi mendengus kesal saat mengingat kelakuan sahabat kecilnya itu.
__ADS_1
Mata Joi sedikit mengantuk, sebisa mungkin dia tahan. Joi sejak kecil tidak suka bergadang, saat mencium aroma bantal dan bau embun malam hari. Maka matanya bisa otomatis terlelap tanpa bisa dia tahan. Untuk itu peran Dimas dalam hidupnya sangatlah penting.
"Habiskan makananmu, maaf atas ucapan ku tadi. Ayo, buka mulut mu" perintah Jovan menyodorkan sendok ke arah mulut mungil Joi.
"Sudah dingin, aku tidak berselera lagi. Nanti beras sama ayam bapak saya ganti, biar bapak tidak rugi." Ketus Joi melengos.
Jovan menarik nafas panjang melihat penolakan dan sikap Joi. "Ini nasi dan ayam baru, ayo makanlah, atau kau akan aku kurung semalam di apartemen ku." Ancam Jovan membuat mata Joi melotot marah.
"Bapak suka sekaligus memaksa, heran. Guru kok kelakuan nya kaya pedofil" ucapan Joi gantian membuat mata Jovan hampir melompat keluar.
"Bicara mu itu" kesal Jovan kesal bercampur malu.
Apa dia setua itu di mata Joi, usianya bahkan baru 25 tahun. Jika di bandingkan dengan usia Joi memang terpaut jauh, 8 tahun. Namun bukan alasan menyebutnya sebagai pedofil.
"Bapak kan memang sudah tua,saat aku lulus kuliah nanti, bapak sudah 49 tahun." Ucap Joi asal.
"Sembarangan" desis Jovan dongkol "saat kau lulus kuliah usiaku baru akan 30 tahun, itu usia yang matang dan pas untuk menikah. Jadi belum tua, pria semakin matang itu semakin mempesona. Kau bisa jatuh cinta padaku jika Terlalu membenciku berlebihan." Ujar Jovan percaya diri.
"Ityuuuh, anda terlalu percaya diri pak. Itu jauhkan dariku, aku mau makan di luar saja. Lebih enak dari masakan bapak, pintunya buka, aku mau pulang." Joi berdiri namun, tangan kekar Jovan menarik Joi hingga terjatuh di atas pangkuan pria rese itu.
"Bapak apaan sih, lepasin ih. Jangan deket-deket," Joi mendorong tubuh Jovan untuk melepaskan diri. Gadis itu bergegas menuju pintu dengan wajah memerah.
"Bukain pak.." rengek Joi memohon.
__ADS_1
Jovan yang masih duduk dengan satu tangan memegang piring, masih berusaha menetralkan debar jantung sialannya. 'Anak kecil, Jovan! apa kau mau di sebut pedofil seperti kayanya tadi.' Jovan merutuki pikiran kotornya, bagaimana pun dia pria dewasa. Joi duduk dipangkuan nya walau tak sengaja, telah memancing hal lain di tubuhnya. Belum lagi tanpa sengaja, hidung mancung nya menyentuh dada sintal Joi. Dia tidak mengira, gadis 17 tahun itu memiliki ukuran dada yang... woww! menggetarkan jiwa kelakian nya.