Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
(Kiddos of Jovan-Joi)


__ADS_3

"Ayaaangg..!" seru seorang pria dari arah kamar mandi, selalu seperti itu. Delia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan. Kesabaran nya di uji jika sudah begini. Punya suami berondong, ujiannya selalu menguras energi dan emosi.


"Ya! minta di gosok punggung lagi? tangannya tidak nyampe?" Delia masuk ke kamar mandi dengan pertanyaan rutinnya. Zero hanya terkekeh tanpa dosa.


"Sini ayang, gosok punggung aku dulu" Zero menepuk sisi bathub agar Delia mendekati nya.


"Udah busa semua, pasti modus lagi ini. Tidak tau apa, kalau istri nya ini sudah tua, tidak berendam air aja udah keriput gini." Omel wanita setengah abad itu melipat wajahnya kesal.


"Eits! siapa bilang," sanggah Zero tidak terima "ayang itu masih kenceng dan mulus kaya bokong bayi. Aku aja masih suka nambah sampe sekarang" lanjut nya tersenyum jahil, tangan kreatif nya mulai mengelus dada sang istri yang wajahnya semakin tidak enak di lihat.


"Ishh! kan, modus." Kesal Delia saat dirinya di tarik masuk ke dalam bathtub besar tersebut hingga basah kuyup. Zero tergelak renyah mendengar gerutuan sebal istri nya.


"Biar aku kuat menghadapi kenyataan hari ini, daddy menyiksa suami tampan mu ini untuk menangani proyek baru di Semarang. Ayang ikut ya? cuma 3 hari, anak-anak ada mom yang jaga sama pengasuh nya." Bujuk Zero melepaskan apa saja yang melekat di tubuh seksi sang istri.


Usia Delia boleh setengah abad, namun kekencangan kulit mulus nya, selalu membuat seorang Zero, terzero-zero setiap saat. Pria itu bahkan sering didera cemburu tak tau tempat dan aturan. Kebucinan nya sekelas dengan sang ipar, Jovano sang bucin gila tingkat akut.


Untuk mendapatkan Delia sebagai istri nya, Zero harus melakukan banyak cara licik. Berkat bantuan dan dukungan kedua orang tua nya, jalan Zero menuju pelaminan berjalan mulus. Semulus dada sang istri yang sedang di genggam nya saat ini.


"Mana bisa, pi. Anak-anak mana mau aku tinggal. Tau sendiri kan, kalau mereka dekat banget sama mami." Tukas Delia sambil memejamkan kedua matanya, tangah jahil sang suami kini bermain di area basah miliknya. Yang selalu dia rawat dengan berbagai ramuan herbal Kalimantan, ramuan turun temurun dari sang nenek yang berasal dari daerah tersebut. Ibunda Daniel.


"Yakin, tidak mau ikut?" Zero menghentikan aktivitas, membuat Delia mendengus kesal. Sementara Zero tersenyum penuh kemenangan, istri nya pasti sedang tanggung, dan dia akan membuat wanita itu menuruti kemauan nya.


"Pi,?" rengek Delia gusar "lanjut gih, anak-anak udah nunggu buat sarapan." Omel Delia dengan suara serak.


"Bilang dulu kalau mami mau ikut, baru aku lanjutkan. Impas bukan?" suami terkutuk, semoga saja makin cinta batin Delia mengumpat kesal.


"Ya, lanjutkan sekarang." Zero tersenyum dengan kemenangan nya, lagi-lagi dia mampu mempermainkan hasrat sang istri begitu mudahnya. Permainan penuh desah tersebut berakhir setengah jam kemudian.


"Lama bener sih!" ketus Zuly anak sulung pasangan Zero dan Delia dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Mami tadi minta di pijet papi, sini cium dulu. Papi mau ke Semarang loh, nanti siang. Sama mami" sambung Zero cepat dia tau anak-anak nya pasti siap menyerangnya lagi, dengan kata-kata yang menohok.


"Manja, apa-apa mami, apa-apa mami. Mami tidak ingin mencari kan kami papi baru, gitu? mami masih kaya anak kuliahan gini loh" Zuly mengerling pada sang ibu yang dibalas kekehan oleh Delia.


Sementara Zero mulai kebaran jenggot mendengar penuturan tak ada akhlak sang anak.


"Awas aja ya, kalau mami berani melirik pria lain. Papi bakar hidup-hidup itu laki-laki." Balas Zero geram.


"Udah makan, kau ini, sama anak sendiri di lawan, tidak malu gitu?" protes sang ibu menengahi perdebatan tak faedah, yang selalu saja terjadi saat Zero di satukan dalam satu ruang yang sama dengan anak-anak nya.


"Bukan aku loh, yang mulai. Zuly kaya ada dendam pribadi sama papi, heran" gerutu Zero mulai merajuk.


Delia menatap anak sulung nya dengan tatapan penuh makna, si anak mendengus melihat tatapan yang paling dia benci. Karena sama sekali tidak mampu untuk menolak nya.


"Maaf, pi" cicit Zuly tersenyum sejuta pesona, tidak lupa wajah imut blesteran nya pun di tampilkan semaksimal mungkin.


"Kau ini, tidak malu pada istri mu. Dia bahkan selalu memaklumi sikap manja mu yang semakin umur semakin makmur. Lihat Delia, bahkan semakin cantik dan menawan, kau tidak takut di salib berondong yang jauh lebih segala-galanya darimu." Ucapan kejam tak berperasaan sang ibu membuat Zero hampir tertelan sendoknya.


"Mom!" seru Zero tak terima, lalu melirik istri nya yang memang terlihat semakin cantik di usia nya kini. Zero terlihat mulai gelisah.


Delia yang peka segera mengamankan situasi, bisa gawat kalau suaminya sudah di rundung kegalauan begini. Alamat ke toilet pun, dirinya di intilin.


"Mom, tidak masalah. Aku suka jika suamiku bermanja-manja padaku, aku merasa menjadi istri yang berguna. Arti nya, suamiku ini sangat mencintai ku. Benarkan ,sayang?" kalau sudah keluar kata keramat nya, Zero hanya bisa mengangguk penuh kemenangan.


Sang ibu mencebik kesal, dia tau menantu kesayangan nya itu sedang menyelamatkan kebebasan nya yang sedang terancam, oleh sikap posesif putranya yang sedikit kurang waras.


Sarapan pagi kali ini tanpa di ikuti oleh kepala keluarga teragung, yaitu ayah mertua Delia. Pria paruh baya tersebut sedang ke luar kota dan baru akan pulang sore hari nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jovan melirik layar hp sang istri yan terus berkedip. Hatinya gusar, namun membukanya? Jovan masih ingat gengsi. Sementara Joi masih mandi, biasanya, wanita peka itu akan mengatakan, "Buka aja pesan nya/angkat aja telponnya" barulah dia bertindak.


Klek


Joi terlihat segar, Jovan menatap istrinya dengan tatapan penuh arti. Joi paham, langsung menuju nakas untuk mengecek ponselnya.


"Banyak pesan, kenapa tidak di buka saja. Siapa tau penting" Joi mengarah kan ponselnya pada sang suami, yang di sambut ogah-ogahan seperti biasa nya. Joi mengatup bibir nya menahan tawa, melihat tingkah kekanakan sang suami.


Dahi Jovan mengerut dalam, saat membaca pesan tak biasa di ponsel istri nya.


Endrew📩 apakah siang ini ada waktu, ibu pengacara? Aku ingin mentraktir mu makan siang, sebagai ungkapan rasa terimakasihku, atas kerja keras mu kemarin. dalam memenangkan kasusku🙂😊


Ubun-ubun Jovan mulai berasap membaca pesan tersebut, sementara Joi sibuk memoles wajah nya di depan cermin tanpa berniat untuk bertanya, siapa yang mengirim kan nya pesan.


"Endrew, siapa?" tanya Jovan datar.


Joi terlihat memikirkan sesuatu, "Ah, ya. itu klien kami, yang kemarin baru saja memenangkan hak asuh anak-anak nya dari mantan istrinya yang sedikit kurang sehat akal nya. Kenapa?" Joi balik bertanya dengan santai dan melanjutkan kegiatannya.


"Dia ingin mentraktir mu makan siang. Baik sekali klien mu ini, jarang ada klien sebaik ini. Aku jadi iri" tukas Jovan mulai sedikit naik oktafnya. Joi tau, jika suaminya sedang di dera cemburu pagi.


"Banyak yang baik, dan sering mengajakku makan siang, bahkan makan malam. Tapi yang sebaik dan membuat ku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Hanya suamiku, pak guru Jovan yang mesum ini." Joi beranjak dan mengelus dada bidang sang suami. "Hanya ada kau dan anak-anak kita yang super banyak itu di hati ku ini. Jangan marah lagi, oke. Sini, cium aku" Joi berjinjit dan kedua nya pun larut dalam ciuman yang menuntut lebih.


"Bukannya didi ada meeting penting pagi ini?" Joi melepaskan ciuman mereka, membuat Jovan merengut.


"Andai triplets sudah lulus SMA. Aku benar-benar ingin pensiun dini, agar bisa mengekori mu kemana-mana." Ujar Jovan mengelus pipi mulus sang istri.


"Aku tunggu, aku ingin lihat bagaimana kau akan repot membawa tas ransel yang berisi botol minum, jajanan dan kotak bekal kita." Kekeh Joi yang membuat Jovan pun ikut tertawa renyah.


Kehidupan mereka benar benar penuh warna, bagaimana tidak? sembilan anak, pasti rasanya nano-nano. Begitu lah keseharian kedua orang tua tersebut, yang harus sering melafalkan banyak doa, agar di beri umur yang panjang. Tidak perlu makan daging jika ingin menaikkan tekanan darah, cukup menghadapi kesembilan anak-anak mereka saja. Di jamin, tekanan darah keduanya akan langsung naik drastis. Namun itulah seninya, mereka enjoy sesuai nama sang ibu. Tidak pernah sekalipun wanita itu mengeluh kan persoalan anak-anak nya.

__ADS_1


__ADS_2