
Klek
Joi dan Jovan menatap ke arah pintu, " Joi gimana dek? Tidak ada pendarahan kan? tadi di epis tidak?" Jeslyn memberondong orang tua batu itu dengan banyak pertanyaan.
"Mah? nanya nya satu-satu kenapa? kasian Joi jadi bingung mau jawab yang mana dulu." Omel Kirel seraya menghampiri brankar sang adik. "Selamat ya dek, sekarang udah resmi jadi wanita seutuhnya, jadi lah ibu yang baik dan juga istri yang patuh pada suamimu." ujar Kirel memberikan nasihat sembari mencium kening sang adik dengan sayang.
Lalu satu persatu keluarga mengucap Selamat pada Joi dan Jovan.
"Permisi bu, pak? ini ibu Joi mau di pindahkan ke ruang rawat inap" ujar perawat wanita itu ramah.
"Oh? silahkan sus, arahkan saja, brankar nya biar kami saja yang dorong," balas Jesen mewakili.
"Sini dedek nya biar sama aku aja di ranjang di, aku pangku, naikin dikit di, biar enak posisi mimi." Titah Joi, Jovan segera memberikan bayi perempuan nya di pangkuan sang istri. Lalu menaikkan sandaran brankar.
"Yang dua ini di gendong aja, kasian kalau di dorong jauh, berisik juga" Ucap Jeslyn menyarankan, lalu mengangkat satu bayi yang masih tertidur lelap. Disusul oleh satu bayi lagi yang di angkat oleh Amelia si oma, yang sejak tadi terus mengomel diluar karena dilarang masuk oleh sang suami. Alasan nya, supaya sang istri tidak menggangu momen spesial orang tua baru, Joi dan Jovan. Sontak saja Amelia uring-uringan tak jelas, hingga terus meneror Jeslyn dan yang lain agar segera tiba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lihat ini, dek? matanya, hidungnya, semua ambil eyang nya." Ujar Jeslyn menatap sang keponakan. Hidup bertahun-tahun bersama Reegan membuat Jeslyn sangat dekat dengan kakeknya tersebut.
"Sayang aku tidak sempat bertemu kakek" lirih Joi menatap si bungsu.
"Kakek, nenek, papa dan ibu selalu ada dihati kita, untuk itu usahakan hatimu selalu bahagia. Karena duka mu akan menjadi duka mereka juga" nasihat Kirel bijak, dia tau sebesar apa rasa rindu Joi pada kedua orang tua mereka. Begitu pun mereka berenam, apalagi hari-hari tinggal di rumah peninggalan orang tua nya, di mana mereka di besarkan hingga sekarang membesarkan anak-anak mereka sendiri.
Bayangan Daniel dan Kira, masih selalu mereka lihat di setiap sudut rumah, rasanya masih belum percaya. Jika kedua sudah kembali pulang ke rumah keabadian.
"Kakak benar, yang. Sekarang kita sudah jadi orang tua, jadi jangan sedih-sedih lagi ya. Papa sama ibu pasti juga ikut sedih kalau terus-terusan di tangisi. Sesekali rindu boleh menangis, tapi jangan selalu. Tidak baik juga." Sambung Jovan sambil menyuapi sang istri dengan telaten. Joi hanya mengangguk pelan, kini dia akan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Namanya sudah kalian siapkan belum?" tanya Amelia menyela sambil menggendong si tengah.
"Sudah mom. Yang sulung namanya Adrick, si tengah Abram dan si bungsu paling cantik sejagat raya ini, namanya Azalea." Jovan dengan bangga memamerkan nama anak-anaknya.
"Jadi ini kita panggil Rick aja yah, trus yang ini Bram dan si mungil cantik dan lucu ini, Lea." Ujar Debya bersemangat.
"Gimana yang?" tanya Jovan meminta pendapat istri nya, walau sebenarnya dia setuju-setuju saja, dengan nama panggilan yang diberi kan oleh kakak ipar nya tersebut. Namun dia merasa istri nya lebih berhak menentukan, bagaimana anak-anak nya di panggil.
"Aku setuju aja sih, bagus juga begitu." balas Joi menyetujui usul sang kakak.
"Jadi sudah bisa dipanggil nama nih. Hallo Rick ini aunty Jeslyn, yang paling cantik dan keceh diantara para aunty mu yang lusuh ini." Ujar Jeslyn bangga.
Bugh
"Auww! ih kasaaar.. " ucap Jeslyn dengan nada lebay sambil mengusap punggung nya yang baru saja ditimpuk oleh kemasan tisu. Untung saja tidak ada kotaknya, bisa benjol batin Jeslyn menggerutu kesal pada adik laknatnya.
"Makanya nikah, trus bisa deh punya yang lucu-lucu gini. Masa kalah sama Joi, sekali beranak langsung dapat 3 ekor" ujar Jeslyn asal. dan berhasil mendapatkan tatapan horor ibu bayi-bayi tersebut.
"Anak orang bu, bukan anak ikan. Enak aja kalau ngomong" ujar Joi sewot, anak nya dikata hewan apa, di sebut pakai ekor segala.
"Becanda dek, idih galak bener ibu nifas satu ini." Sungut Jeslyn seraya memindahkan Rick ke pangkuan Delia. Hatinya was-was, walaupun Delia sering ikut andil mengurus anak-anak mereka, tetap saja, status mempengaruhi kepercayaan nya.
"Aduh, lucunya. Jadi pengen bawa pulang deh rasanya" ucap Delia gemas sendiri, pipi bulat itu pun tak luput dari serangan bibir mungilnya.
"Udah dek, jangan di cium terus, tar Rick alergi kena lipstik mu" tegur Jesen yang juga ikut gemas dari tadi melihat keponakan nya.
"Yaelah kak, cuka cium doang mah. Aku gemes tau." Protes Delia tak terima, lipstik mahalnya di katai bisa menyebabkan alergi pada pipi keponakan nya.
__ADS_1
"Rumah kalian udah kelar 100%" tanya Jason yang sejak tadi hanya memperhatikan perdebatan saudara.
Sejenak Joi menatap sang suami, dia tidak ingin jawaban nya membuat Jovan merasa rendah diri. Namun Jovan hanya tersenyum menanggapi tatapan sang istri.
"Belum kak, tapi sudah mau beres kok" jawab Joi cepat "masih ada beberapa aja yang mau di benarin lagi sama tukang, tapi bukan yang area dalam rumah. Tinggal area luar sama dapur kotor nya aja, ya kan di?" Joi Kembali menatap suaminya, Joi tau betapa Jovan telah berusaha keras memenuhi kebutuhan nya selama ini. Juga membuat rumah impian nya menjadi kenyataan, walau dia tau, semua nya membutuhkan budget yang tidak sedikit.
Jovan tidak pernah mengeluh, pulang mengajar, Jovan akan lanjut bantu-bantu di perusahaan. Setiap hari seperti itu, namun tidak sekalipun suaminya memperlihatkan wajah lelahnya pada Joi.
Joi bersyukur, dirinya melahirkan tepat sebulan sebelum dia ujian kelulusan. Jadi dia bisa ikut langsung ujian tatap muka.
"Ya, tinggal poles bagian luar nya aja, sama nambah area dapur. Joi sekarang hobbynya masak, jadi butuh dapur yang luas, apalagi anak kami banyak." Terang Jovan menambahkan.
"Kakak hanya takut anak-anak tidak nyaman, kalau seandainya masih ada pengerjaan di dalam rumah. Berbahaya juga, kakak tidak mau terjadi apa-apa sama keponakan kakak." Ujar Jason menimpali, dia tak ingin membuat keduanya salah paham akan maksud pertanyaan nya.
"Ya kak, aku ngerti. Makasih udah bantu aku kemaren nyari kontraktor bangunan yang bagus dan sesuai budget aku." Ujar Jovan menatap sang kakak ipar penuh rasa terima kasih.
"Sama-sama, kita ini saudara, saling membantu itu suatu keharusan. Jangan sampai jarak membuat kita saling acuh satu sama lain, sering-seringlah bertukar kabar walau sesibuk apapun. Tali persaudaraan itu harus senantiasa di jaga, di luar sana banyak yang saudara seperti orang lain, dan orang lain malah rasa saudara. Mereka yang kami panggil sepupu selama ini, bukanlah mereka yang terlahir dari silsilah keluarga. Melainkan mereka yang terlahir dari persahabatan yang terjalin tulus dan saling mengasihi." Balas Jason tersenyum tulus.
Kini kebahagiaan mereka benar benar sempurna, Kirel merasa beban di pundak nya sedikit berkurang. Adik bungsunya kini telah menemukan kebahagiaan nya, begitu juga adik-adik nya yang lain. Meski Delia masih betah dalam kesendirian nya di usianya yang sudah menginjak 32 tahun, namun adiknya itu baik-baik saja. Kebahagiaan tidak di ukur oleh bagaiamana seseorang mendapatkan pendamping hidup. Namun bagaimana dia mensyukuri setiap dekit hidup nya, sebagai anugerah Tuhan yang tak terbatas.
Adelia bahagia dengan kesendirian nya, baginya, kebahagiaan pernikahan saudara-saudara nya, sudah mewakili segala ekspektasi nya akan hidup berkeluarga. Lalu kebahagiaan seperti apa lagi, yang dia cari?
∆Sekali lagi, othor ucapkan banyak terimakasih pada kalian semua. Maaf jika ekstra part ini terkesan buru-buru dan kurang mendalam alur cerita nya.
∆Author sedang berada di fase kritis untuk berfikir panjang dan melelahkan.(Kesehatan jantung othor sedikit menurun belakangan ini, mohon di maklumi ya🙏🙏) Seharusnya masih ada beberapa bab lagi, hanya saja kondisi othor yang kurang mendukung, menjadi kendalanya. Semoga ke depannya, othor bisa update lagi😘😘
∆Sehat-sehat selalu buat para Readers ku yang baik hati, Tuhan memberkati mu dan othor. Amin😇😇🤲🤲
__ADS_1