Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part LXXXIV


__ADS_3

"Bundaaa, adek nakal ni. Buku tetehnya dijauhin." Adu gadis remaja tersebut pada sang ibu.


Keyra kini bersekolah ditempat yang sama dengan Ken dan Cia. Kedua remaja itu tidak ingin, jika Keyra dimasukkan disekolah anak berkebutuhan khusus.


Sementara Al, bersekolah di Sidney, Taylors High school, sebuah sekolah menengah internasional. Sebenarnya dia tidak ingin berjauhan dengan gadis pujaan hatinya, Keyra. Namun dia juga ingin dirinya lebih layak untuk gadis tersebut.


Keyra anak yang cerdas, guru hanya perlu memberikannya soal lisan tanpa harus ditulis. Dan bisa dilakukan, jika semua anak sudah mengumpulkan tugas yang diberikan.


Keyra dan Cia berada dikelas yang sama, dengan Selin dan Andin serta genknya. Sang kakak berada dikelas sebelah. Karena Keenan mengambil kelas IPS, sedangkan Cia dan Keyra mengambil jurusan IPA.


"Adek, kok buku tetehnya dijauhin. Ayo kembali kan trus minta maaf sama teteh." Bukan sang bunda Yang datang, melainkan ayahnya.


"Maaf teh, abis killa bosan. Teteh gak bisa diajak main sih, malas killa temannya. Kenapa juga teteh pake buta segala, kesal kan Killa jadinya." Ujar anak perempuan itu polos, usianya baru menginjak 6 tahun. Killa merupakan anak bungsu dari Reegan dan Sarah.


Saat Keyra dan Keenan berusia 6 tahun, sang ibu kembali hamil, dan adik mereka juga kembar. Hanya saja keduanya laki-laki, yang diberi nama Kallandra Resar Sudibyo dan Kavindra Resar Sudibyo.


Saat kedua anak kembarnya berusia 4 tahun, Sarah kembali hamil. Kali ini bukan karena direncanakan seperti sebelumnya, namun karena Sarah lupa masa berlaku KB Implan nya, yang sudah sebulan habis.


Dan jadilah si kecil Killa, Killara Resar Sudibyo. Namun memiliki sifat yang sangat berbeda dengan keempat kakaknya. Wataknya keras dan juga sangat manja. Membuat Sarah dan Reegan hampir kewalahan menghadapinya, namun gadis kecil itu sangat penurut pada Angga dan juga Lusi. Karena semua yang dia inginkan akan selalu dipenuhi oleh kedua orang tersebut, dia juga disebut sebagai, anak bungsu keluarga Angga.


"Maaf ya dek, teteh gak bisa temanin adek main. Coba sini buku teteh nanti teteh kasih coklat mau, ada banyak di laci kamar kakak, nanti minta tolong sama kak Kalla atau kak Kavin ya. Ambil aja yang banyak, gak apa-apa."


Ingin sekali Reegan merengkuh tubuh anak gadisnya, yang berhati mulia tersebut. Namun mengingat jika Killa, putri bungsunya paling tidak suka berbagi kedua orangtuanya pada Keyra. Reegan pun mengurungkan niatnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Guys, liat nih. Si buta dari goa walet lagi mau makan bekal anak TK nya lagi nih. Liat tuh, ayam gorengnya aja disuwir-suwir gitu, kasian banget ya." Suara itu sangat Keyra kenali, namun dia tidak ingin menggubris nya.


"Ternyata selain buta, lo itu juga gak bisa ngunyah dengan benar. Apa jangan-jangan, gigi lo itu gigi palsu semua ya." Lalu terdengar riuh tawa, seperti biasa dirinya selalu menjadi bahan olok-olokan Selin cs.


"Eh, lo pada ngapain disini. Suhh, minggir orang cantik mau lewat." Cia yang baru datang dari kantin untuk membeli minuman dingin, malah mendapati Keyra sedang dijadikan bahan tertawaan. Dengan sengaja, Cia menyenggol keras lengan Selin, hingga gadis itu hampir terjengkang.


"Lo ya, awas aja lo. Belain aja trus teman tuna netra lo ini. Harusnya dia itu sekolahnya di SLB bukan disini." Ujar Selin nyolot.


"Berasa kita kaya lagi sekolah di SMA khusus orang-orang cacat gitu." Timpal Andin bersemangat.


"Siapa yang lo sebut cacat?!" Suara datar Keenan membuat kelas itu seketika hening.


"Kak? Udah gak apa-apa. Kakak udah makan? Bekalnya bawa gak? Sini makan sama-sama." Ujar gadis itu berusaha mengalihkan kemarahan sang kakak.


"Ada, ini kakak bawa. Ayuk duduk lagi, kenapa malah berdiri." Keenan menarik pelan tangan sang adik, kemudian membawanya duduk kembali. "Teteh juga, ayo makan." Ujar Keanan pada Cia. Keenan akan sangat berbeda jika sedang bersama sang adik.


Keenan terkenal sebagai remaja yang super dingin, cuek dan sekalinya ngomong. Omongannya gak pernah enak didengar telinga. Sifat datar itu diturunkan oleh sang ayah, sementara sisi lembutnya diturunkan dari bibit sang ibu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sorry bro, gue telat lagi ya." Ujar Reegan tak enak.

__ADS_1


Pasalnya tadi Killa merengek ingin ikut kekantor, bisa dipastikan pekerjaan nya tidak akan selesai jika sang anak ikut. Belum lagi Nindy yang akan menjadi baby siter nya seharian, itu juga akan menghambat pekerjaan Reegan.


Akhirnya, dia sampai di kantor jam 11, itupun hasil menyogok sang anak dengan menemaninya bermain di mall selama satu jam.


"Ck, bapak satu ini. Kerjaannya sekarang ngaret mulu." Celetukan Bintang membuat Reegan mendelik tak suka.


"Itu muka lo kusut gitu, kenapa? Apa jatah nikmat lo udah berkurang." Kekeh si Revalina pun mulai menimpali.


"Anak gue, Killa. Ampun gue. Beda Banget sama kakak-kakaknya. Dulu Keyra kalo ikut gue kerja, antengnya bikin gemes, paling penting, anaknya pengertian banget dari masih batita." Ujar Reegan seraya mengusap kasar wajahnya.


"Kalo gue ajak kekantor, Nindy pulang gak stroke aja udah untung. Mucilnya tu anak gak ketulungan. Kelakuannya, bikin gue spot jantung tiap jam. Kasian bini gue, banyak diamnya daripada ngeluh, malah bikin gue khawatir." Lanjutnya berkeluh-kesah.


"Udah lo bawa ke psikolog anak belum? Saran istri gue kemaren. Kasian juga sama Keyra, sering di kerjain sama adeknya. Takutnya malah kena fsikisnya." Ujar Bastian menimpali.


Dia menyayangi anak-anak Reegan begitu juga dengan sahabatnya yang lain, semenjak Killa berumur satu tahun. Anak itu sudah terlihat tantrum dan tidak bisa, tidak dituruti. Sejak saat itu hidup Reegan benar-benar warna warni, begitu juga dengan isi kepalanya.


"Mungkin karena dia liatnya, dia yang paling kecil jadinya sedikit manja. Saran gue sih gak usah sampe psikolog lah, takutnya malah dia ngerasa dibedain. Apalagi anaknya Tantrum gitu, takutnya gue dia malah ngamuk-ngamuk pas tau lo ajak kesana." Ujar Revan ikut memberikan saran menurut versi dan pandangannya.


"Lo gak tau aja seberapa gragasnya Si bungsu kita itu, coba lo sehari aja gantian ngasuh si Killa. Gue jamin, besoknya lo udah kita besuk di ICU." Seloroh Bintang mencairkan suasana, ketika melihat wajah Reegan yang Terlihat semakin berlipat.


"Kalo lo memang udah kewalahan, lo bisa nitip di rumah gue, Daniel cocok sama Killa. Gue liat tiap kali kita kumpul, cuma Daniel yang bisa ngatasin Killa kalo pas tantrum nya kambuh. 3-4 hari, liat perkembangan nya, kalo membaik. Lo bisa sering-sering nitip dirumah. Gue sama Sinta oke aja, senang malah, secara kita kan gak punya anak cewek." Ujar Bintang melanjutkan.


"Kalo itu gue sependapat. Kalo psikolog gue, no! Sorry Bas, gue tau maksud lo sama Marissa itu baik. Tapi mengingat mental pemberontak bungsu kita itu, gue ragu. Masih bisa lanjut praktek sambil pake kursi roda aja udah untung. Gue takutnya, besoknya malah kita semua yang pada sibuk ngelayat tu psikolog, akibat serangan jantung." Revan pun menimpali walau terkesan tak mendukung niat baik Bastian.

__ADS_1


"Gue sih ikut yang baiknya aja, itu juga ide Marissa. Gue sayang sama anak-anak lo pada, tanpa kecuali. Nitip dirumah Bintang gue oke aja, anggap aja terapi ala kita. Its ok, Van. Lo Gan, gimana?" Bastian menyetujui ide Bintang tanpa menyalahkan. Itu semua juga demi si bungsu mereka.


__ADS_2