Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CLIV


__ADS_3

Sinta masih menangis di pelukan pria yang sudah sejak kemarin tak sabar untuk dia jumpai. Apalagi saat melihat Asha yang hanya mematung menatap nya, seolah tak kenal. Hati wanita itu seperti tercubit. Sedih rasanya mengetahui kondisi Putrinya itu, dulu dia hanya tau jika Asha menjadi korban ledakan dan tembakan. Hanya itu saja, tidak ada yang bilang kejadian sesungguhnya.


Dia berharap Daniel mencintai dan menjaga gadis malang kesayangan nya itu, dengan segenap jiwa raga nya.


"Masih mau lanjut nangisnya, hmm?" Bintang tak berkutik, saat istri nya yang sejak datang hingga sekarang masih memeluk nya dengan erat. Dia juga merindukan wanita cerewet nya itu. Sangat. Untuk itu, dia tak menyela apapun yang wanita itu katakan dan lakukan.


"Issh papi.. Mami masih kangen tau." Sinta bersungut kesal dengan suara manja khas dirinya.


Bintang terkekeh pelan mendengar suara yang lama sudah tidak dia dengar. "Ya, papi juga kangen. Tapi kangennya di pending dulu buat nanti malam, bisa?" Bintang bernegosiasi. "Yang lain juga pada kangen sama mami tuh, di samperin gih." Pria itu kembali melanjutkan kalimatnya.


Sinta seketika tersadar dengan situasi sekitar mereka, di mana kini dirinya dan sang suami, sedang menjadi bahan tontonan oleh para sahabat dan anak cucu mereka.


Wanita itu nyengir tak berdosa, dirinya khilaf sampai tak menyadari, jika di sana ada banyak orang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.


"Ck, aku loh yang nyambut di depan tadi, dilewatin begitu saja seolah gak liat. Taunya, saudari Sinta memang hanya melihat keberadaan suami tercintah nya sajooh." Nabila berdecak sebal. Dirinya dengan begitu antusias menyambut sahabat nya itu malah di lewati Begitu saja, tanpa sapaan, tanpa menoleh pun, wanita itu main ngeloyor tanpa peduli senyum lebar di bibirnya.


"Hehehe, aku kebelet kangen sama si papih. Maaf ya, sini yuk. Kita peluk Teletubbies dulu." Kekeh Sinta tak enak. Kelima personil Teletubbies itu lantas berpelukan melepas rindu yang tak terkira. Menumpuk sekian tahun, dalam perasaan sakit akan kehilangan. Kini tidak lagi, semua luka itu sudah pulih seketika. Hati mereka sudah sembuh, walau ke depan nya nanti akan ada banyak rintangan. Mereka sudah kembali berkumpul, bersama akan mereka hadapi dunia tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah dan tanpa luka yang selalu membayangi kehidupan mereka semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Apa Reegan sama sekali tidak ada kesempatan, Sar? Dia juga banyak menderita sejak kejadian dulu. Aku tau banyak dari Daniel. Ayah nya itu menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk menyesali diri. Entah bagaimana jika tidak ada Revan, mungkin pria tua itu akan kita lihat hanya fotonya saja yang bersandar di batu nisan." Sinta mengakhiri cerita nya dengan sebuah kekehan. Dia sangat ingin keduanya kembali bersama seperti mereka semua. Tidak adil rasanya, jika mereka berbahagia namun keduanya masih larut dalam luka masa lalu.


Sarah menghembus nafas kasar. Sinta trus memperhatikan wanita yang duduk di sebelahnya itu. Sekarang Sarah sangat asing baginya, juga ketiga wanita yang juga duduk diseberang meja mereka. Wajah teduhnya memang tidaklah berubah, namun malah itu yang membuat mereka merasa, jika Sarah banyak berubah. Kadang wanita itu tanpa sadar berbicara dangan nada datar dan dingin, lalu seketika mengubah ekspresi wajah nya dengan cepat. Seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Entahlah. Mungkin lebih baik begini saja." Ujar Sarah tanpa ekspresi.


Sinta dan yang lainnya hanya bisa saling menatap, dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam kepala mereka. Jawaban yang sangat tidak mereka harapkan.


"Aku harus melihat Asha, tadi dia ingin belajar membuat kue bolu pelangi. Aku masuk duluan." Sarah melanjutkan kalimatnya masih dengan ekspresi yang sama. Datar, tanpa emosi.


"Ya, masuklah. Akan lebih baik jika Asha banyak menghabiskan waktu dengan mu juga ayahnya. Fsikisnya harus kita jaga dengan baik, bukan?" Ucapan Nabila yang bermaksud untuk menggerakkan hati Sarah, ternyata hanya di tanggapi dingin oleh wanita itu. Yang melanjutkan langkahnya tanpa berkomentar apapun.


"Apa hanya aku yang merasa, jika Sarah bukan lagi Sarah kita yang dulu." Nabila berucap dengan mata berkaca-kaca.


...----------------...


"Ini sudah belum Bun, kok lama banget masaknya ya. Kenapa gak di oven aja tadi." Gadis itu sudah tidak sabar ingin mencoba kue buatannya yang dibantu oleh sang ibu, tentu saja ditambah resep rahasia wanita itu.


Sarah dan Keyra hanya tersenyum menanggapi celotehan Asha. Sementara Reegan tengah mendokumentasikan momen tersebut dengan sebuah kamera, dalam bentuk video. Dengan harapan bisa sedikit mengobati rasa rindunya akan kebersamaan keluarga mereka. Sesekali Reegan mengusap air matanya, dan itu tak luput dari perhatian Keenan dan Kalla yang saat itu tengah berada di di dapur.

__ADS_1


Keenan Menatap iba pada sang ayah, begitu juga dengan Kalla. Entah bagaimana caranya, mereka menyatu kan kedua orangtuanya. Melihat bagaimana sikap dingin yang di tunjukkan oleh sang ibu, Keenan tak punya keberanian meski untuk sekedar menyinggung nya. Ibunya nampak berubah, begitu lah pikir nya. Hanya sekali dalam setahun, ibunya ingin di temui. Ya itu di hari raya natal. Selebihnya, sang ibu akan menolak kehadiran mereka dengan berbagai alasan yang tak mereka pahami. Apa yang sudah wanita itu alami selama tidak bersama mereka.


"Yah, sini. Video nya dari dekat, biar gambar nya jelas. Ini liat kuenya, di videoin gih. Sebelum aku buat kue nya tinggal nama." Ujar Kalla yang sudah bersiap mencomot kue bolu tersebut.


Namun sebelum sempat dia ambil, tiba-tiba punggung tangan nya terasa panas dan ngilu. Ternyata spatula Spongebob mendarat indah di kulit tangannya yang mulus.


"Auww, sakit dek. Pelit amat sih, ini tuh kakak cobain dulu. Enak apa gak, biar nanti yang mau makan gak ragu lagi." Sungut Kalla pada adiknya, walau sebenarnya dia tidaklah marah. Tangannya kembali akan mencomot potongan kue tersebut.


Pletak


Kali ini Keyra dan Keenan yang bersamaan menghadiahi punggung tangan mulus itu, dengan ketokan sendok makan. Setelah melihat wajah kesakitan Kalla, keduanya tertawa terbahak. Kalla Menatap horor pada kedua kakak laknat nya itu.


"Mau nyoba konon, kamu kalo udah nyomot satu, belum abis di piring belum kelar nyobain nya." Kali ini Keyra yang bersungut pada sang adik. Yang hanya di balas cengiran oleh Kalla, si biang rusuh dan si pecicilan keluarga tersebut.


Air mata Reegan semakin deras keluar, entah kapan suasana seperti ini bisa mereka lakukan dan rasakan kembali. Hatinya selalu merasa sesak saat melihat sikap acuh sang istri, yang seolah dirinya tak ada di sana. Reegan meletakkan kamera yang sedang merekam tersebut diatas meja dapur, tanpa mematikan nya. Dan dalam posisi yang masih merekam kegiatan anak-anaknya juga.... sang istri yang sejak tadi tak sekalipun menoleh padanya.


Bergegas Reegan menuju pintu belakang, dirinya butuh waktu untuk sendiri sekarang. Sesampai di sana Reegan menumpahkan air mata nya sejadi-jadinya. Pria itu tergugu dalam keadaan berjongkok, di sebuah pohon mangga dibelakang villa tersebut.


Sebuah tangan kokoh menepuk bahu Reegan lalu meraih nya dalam pelukan. Ternyata Keenan mengikuti sang ayah saat keluar tadi. Pelukan hangat sang anak membuat hati Reegan berdesir hebat. Rasa sedihnya sedikit menguap.

__ADS_1


Sementara di sudut lain tempat itu, seseorang memperhatikan keduanya dengan hati yang tak kalah terluka dan sakit. Di usapnya kedua sudut matanya, lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang hancur tak terkira. Biarlah begini saja, dia tidak sanggup memberikan rasa sakit atas kehilangan nya kelak, ditengah rasa bahagia yang sedang mereka nikmati sekarang. Biarlah perginya dalam kesendirian, dengan begitu, keluarga dan para sahabat nya, tidak terlalu merasakan kehilangan jika waktu nya sudah tiba.


Dia hanya berharap, Tuhan selalu menjaga keluarga dan para sahabatnya. Disaat dia sudah kembali pulang ke rumah keabadian nya kelak. Putrinya hidup bahagia, sudah itu saja. Itu sudah cukup untuk dirinya.


__ADS_2