Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXXII


__ADS_3

Setelah drama warung bambu, mereka semua sampai di villa yang mereka tuju. Suasana benar-benar tidak bikin menyesal, belum lagi gadis desa yang sudah memanah jantung kedua sahabat itu. Membuat mereka tampak nya akan betah berlama-lama di sana.


"Woi, ini bantuin dong, berat nih. Kalo mikul si Tuti mah gue kuat." Tuti adalah gadis yang baru saja Alfan ajak kenalan di warung nasi tadi, selain Mina yang bekerja di warung tersebut ada Tuti juga, namun dia terlambat datang karena anaknya sakit. Janda kembang itu sudah membuat kinerja jantung Alfan tak karuan.


"Ck, segini doang lo make teriak-teriak. Malu sama janda." Omel Daniel kesal. "Pak Mumun, tolongin bayi tua ini, di bantuin dulu, aku mau angkat dus ini."


Kavin tadi lebih memilih membawa ransel dirinya dan Daniel dari pada angkat barang, pegel katanya. Kavin mah kalo soal ngeles, licin amat kaya sopir bajai.


"Ini kamar gue, diatas ada tiga. Pilih sendiri, gue gak mau di ganggu." Daniel memilih kamar yang ada di lantai bawah, dia tidak ingin Alfan atau Jason merusuh malam tenangnya. Bisa dipastikan keduanya akan merengek, meminta nya ikut ke pasar malam yang sialnya kenapa harus malam ini.


"Ini punya gue yang dekat tangga, lo yang sono, lo diujung lorong itu, ada balkon juga kayanya. Suka lo pasti." Ujar Alfan mengarahkan kedua sabitu nya itu, lalu masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.


Dia tidak sabar ingin ber SMSan ria dengan Tuti, janda kembang yang baru dia kenal tadi. Sayang tidak ada jaringan internet, jadi tidak bisa video call. Tak apalah, begini aja dia sudah senang. Mengingat senyum manis Tuti membuat otak Alfan traveling keliling desa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lo yakin gak mau ikut, lumayan mah lo bisa beli semvak di PM. Ada odong-odong juga kata nya si Tuti. Gue mau kesana sekalian temenin calon anak gue main." Ujar pria itu dengan level kepedean tingkat pedesaan.


"Belum tentu si Tuti mau sama lo, play boy cap minyak pijit." Gerutu Daniel, sejak tadi sore kedua sahabat nya itu menakutinya, tentang hantu dengan berbagai jenis dan dan nama hasil khayalan mereka sendiri. Namun berhasil membuat Daniel merinding, walau dia tampak biasa-biasa saja. Jaga image bro.


"Ya sudah ayo, ini karena gue gak tega sama lo pada ya. Bukan karena gue takut." Lalu berjalan mendahului ketiga sahabat nya menuju mobil, dan mengambil tempat duduk di depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kok rame gini ya, padahal kampung nya kaya kecil aja." Ujar Kavin heran.

__ADS_1


"Gak semua dari desa sini mas, banyak dari desa sebelah, dari sini lurus kedepan sana, ada tiga desa lagi." Ujar seorang bapak- bapak menyela ucapan kavin. Pria paruh baya itu sedang menggendong batita sekitaran 2 tahunan.


"Oh, gitu ya pak. Saya kira jalan depan langsung mentok aja gak ada terusan nya lagi." Balas Kavin tak enak.


"Gak, mas. Masih ada lagi desa paling mentok. 1 setengah jam dari sini." Jelas bapak itu ramah.


"Eh, adek nya mau naik odong-odong ya. Cantik bener, siapa namanya sayang?" Alfan menyela obrolan singkat Kavin dan bapak itu, dengan menyapa gadis kecil yang sedang di gendong tersebut.


"Ya, om. Ini mau naik odong-odong sama mbah kung. Nama nya Tiara, om." Jawab bapak itu sumringah, tampaknya sangat senang cucunya di sebut cantik.


"Wua, namanya aja cantik ini, pantas adeknya cantik. Gendong om sini, mau?" Alfan sepertinya sangat menyukai batita imut itu. Sampai menawarkan menggendong segala.


Dengan malu-malu Tiara mengulurkan satu tangan mungilnya pada Alfan, dengan wajah yang disembunyikan dibahu sang kakek. Alfan segera meraih tubuh mungil itu. Rasa hangat seketika menjalar dalam hatinya. Senyaman itu rasanya, sampai tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Jason langsung mendelik tak suka, enak saja, mobilnya mau dijadikan jaminan.


"Gak usah mas, saya percaya. Mas-mas ini kan yang nginep nya di villa pak Burhan ya. Kebetulan saya yang jagain villa itu sekalian bersih-bersih. Tadi anak saya sudah bilang, kalo ada pemuda dari kota katanya, saya tebak pasti masnya. Ada mampir di warung bambu yang ditengah desa ya, anak saya kebetulan kerja disana. Tadi si Tuti cerita cuma saya belum sempat naik, jadi tadi nitip makanan aja lewat pak Supri. Semoga mas-mas nya suka, makanan kampung buatan istri dan anak saya. Maaf kalau tidak sesuai selera, mohon maklum."


Bapak itu berujar panjang lebar, tanpa diminta. Alfan sejenak mematung, jika Tuti itu adalah Tuti yang di kenal tadi pagi, artinya anak yang dia gendong saat ini adalah anaknya Tuti, calon gebetan nya.


Itukah alasannya dia bisa begitu mudah menyukai anak kecil itu. Inikah yang sering orang sebut, jika menginginkan ibunya maka cintai juga anaknya. Ah, para pria di luar sana harus memahami pepatah itu, bagi yang jatuh cinta pada seorang janda seperti dirinya.


Diciumnya pucuk kepala Tiara dengan sayang, hati nya berdesir hebat. Aduh, Tuti. Aku tresno karo kowe karo anakmu sekalian. Batin Alfan bergumam.


"Ini beneran gak apa-apa saya bawa pak? Saya ajak jalan-jalan ke ujung sana ya pak." Tanya Alfan lagi sekalian minta ijin untuk membawa calon anaknya itu halan-halan ria.

__ADS_1


"Boleh mas, tapi takut nya ngerepotin. Tar kalo rewel ato minta apa gitu, gak usah di turuti ya mas. Balikin ke sini aja. Kebetulan saya yang jaga parkiran malam ini." Balas bapak itu sungkan, dia tidak ingin jika cucunya malah merepotkan orang-orang kota tersebut.


"Aman pak, teman saya suka anak-anak, ponakannya banyak, jadi udah biasa. Namanya juga anak-anak. Mari pak kita keujung sana dulu." Kavin menimpali perkataan bapak itu, dia ingin segera pergi dari sana. Matanya tanpa sengaja menangkap siluet orang yang sangat dia kenali. Walau tak mungkin, namun apa salahnya berharap. Begitulah pikir nya.


"Pelan Vin, lo kaya di kejar janda bolong aja." Daniel kesal karena sejak pergi dari hadapan bapak tadi, Kavin terus menarik tangannya tanpa arah dan tujuan.


"Diem, Daniel Wijaya. Lo akan nyesel kalo gak ikutin gue sekarang." Sentak Kavin dengan nada tinggi, membuat Daniel tercengang. Kavin adalah yang paling normal dan netral diantara mereka, tidak pernah sekalipun pria itu berkata dengan nada tinggi pada para sahabatnya. Namun Kavin yang dia lihat sekarang, bukanlah Kavin yang dia kenal.


"Lo kenapa sih, Vin? Kalo lo ada masalah lo tinggal cerita ke kita semua. Jangan main bentak-bentak kaya gini. Kita bukan anak kecil lagi." Balas Daniel yang juga mulai tersulut emosi, sementara Alfan memisahkan diri karena bertemu dengan ibu dari calon anak tadi.


"Hei, lo bedua kenapa? Kok aura nya gitu amat." Jason yang tak tau-tau, tiba-tiba mendapat kan tatapan tak bersahabat dari keduanya. Membuat kening pria itu mengkerut heran.


"Ada apa sih, kok pada tegang gini mukanya. Ayok ke pojok sana dulu, kita diliatin orang nih, gak enak. Baru datang juga udah buat onar." Jason menarik tangan kedua sahabatnya itu ke arah yang sepi.


"Ada apa sih, gak kelar loh, kalo pada diem-dieman kaya gini." Desak Jason lagi.


"Gue lihat Kira sama Papi Wijaya, daddy dan papa Satria. Persis di penjual sate ayam tadi, pas gue samperin udah gak ada. Itu makanan favorit nya Kira, kalo seandainya gue ngayal, gak harus disana juga gue liatnya." Ujar pria itu mengusap kasar wajahnya.


"Lo mungkin lagi kangen aja, pas ngeliat rombong sate itu. Kira kita kan suka banget makanan itu." Ujar Jason menepuk pelan bahu Kavin, dia juga sama rindunya pada sang ayah juga yang lainnya.


Sementara Daniel terdiam, mungkin kah orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali. Atau karena sahabat nya itu terlalu merindukan Kira nya.


"Maaf, gue gak tau tadi. Lo kenapa juga main tarik gue kaya narik sapi, kan lo bisa ngomong dulu." Bela Daniel.


"Mana sempet, itu aja gue udah cepet-cepetin melangkah, masih gak keburu juga." Kavin nampak semakin frustrasi, jika dirinya berkhayal, atau sedang merindukan sang adik. Kenapa harus semuanya dia lihat. Kenapa bukan adiknya saja yang dia lihat.

__ADS_1


__ADS_2