
Seorang pria tengah melatih kakinya, agar bisa beradaptasi dengan kaki sambungnya. Walau sudah hampir sebulan, namun masih belum membuat nya terbiasa dengan keadaan nya saat ini.
"Tuan Wijaya? Harusnya anda tidak perlu terlalu memaksa kan diri seperti ini. Nanti anda akan terbiasa dengan sendirinya. Memang butuh waktu untuk bisa menyesuaikan nya, namun anda pasti bisa." Seorang dokter menghampiri tuan Wijaya dengan berjalan tergesa-gesa. Lalu membawa pria itu duduk kembali ke kursi rodanya.
"Aku hanya merasa tidak berguna dengan keadaan kakiku ini. Bagaimana mereka semua, apa sudah ada kemajuan?" Pria itu bertanya dengan wajah terlihat muram, sejak pria itu bangun dari tidur panjangnya sebulan yang lalu. Dia selalu menanyakan hal yang sama hampir setiap hari.
"Gadis itu sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan, semalam ujung jarinya bergerak, bisa jadi hanya refleks. Namun berdoa saja, agar gadis itu dan yang lainnya, bisa segera terbangun seperti anda." Jelas dokter itu memberikan sedikit harapan pada tuannya, semoga saja hasil penelitian rekannya, bisa membuahkan hasil yang mereka semua harapkan.
"Semoga saja, aku sangat mengharapkan nya." Ujarnya lagi dengan wajah sendu, namun terlihat binar harapan dikedua mata nya.
"Tuan, obat anda." Seorang perawat pria menghampiri mereka dengan sebuah nampan ditangannya. "Ini tuan, sarapan dan obat anda." Ujar nya lagi seraya meletakkan nampan Tersebut diatas meja dihadapan tuannya.
"Saya akan makan sendiri, terima kasih." Pria itu mengambil mangkuk yang berada ditangan perawat tersebut.
"Baiklah, jika anda butuh sesuatu, panggil saja saya. Saya ada diruang yang biasa anda kunjungi, tekan tombol ini. Maka saya akan segera datang. Jelas perawat tersebut dengan ramah, kemudian pamit undur diri pada tuannya, juga pada dokter Danu yang masih berada disana.
__ADS_1
"Apa nama nya ini, setiap hari aku selalu meminumnya tanpa pernah tau apa namanya." Tanya tuan Wijaya pada Dokter Danu, seraya menelisik isi gelasnya yang berwarna hijau pekat itu.
"Itu sejenis ekstrak dari daun tanaman herbal yang diracik oleh dokter Levita, sebagian besar ekstrak nya dia gunakan sebagai bahan penelitian untuk dijadikan sebagai obat dan cairan injeksi. Itu sudah kami gunakan lebih dari dua tahun ini, dan terbukti mempercepat proses penyembuhan pada luka dan mencegah terjadinya infeksi dan juga komplikasi." Jelas dokter Danu dengan penuh semangat dan rasa bangga. Terlihat sekali, jika dokter itu sangat mengapresiasi hasil penemuan rekannya tersebut.
"Pantas saja rasanya sedikit aneh, tapi terimakasih banyak. Atas semua kerja keras yang sudah kalian selama ini. Aku harap obat ini juga bekerja dengan baik pada mereka semua." Tuan Wijaya kembali melanjutkan sisa sarapannya. Dalam hatinya tak henti mengucap syukur, juga doa untuk mereka yang masih tertidur lelap, dalam mimpi yang tak berujung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu yakin akan tinggal lebih lama disini?"
"Aku dukung apapun yang menjadi keputusan mu, Sudah saatnya melepaskan, jika memang itu perlu untuk dilepaskan. Bukan salahmu jika semua itu terjadi, dan juga bukan salah siapapun. Kita semua berada diposisi tak menguntungkan, takdir tidak berpihak pada kita disaat kita membutuhkan nya. Tapi Tuhan sudah menyiapkan takdir lain yang lebih baik, untuk kita jalani." Pria itu menjeda Ucapan nya, seraya mengusap sudut matanya.
"Yang perlu kita lakukan sekarang, jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, belajar lah dari masa lalu, hargailah sesuatu yang sudah kamu miliki dan jagalah. Jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kalinya. Penyesalan itu penyakit hati yang tidak ada obatnya, jadi usahakan jangan sampai kamu mengalami nya berkali kali. Itu lebih sakit rasanya, daripada kamu sekarat menunggu maut menjemput." Ujar nya lagi, sambil menatap lurus, pada netra pria yang sedang duduk dihadapannya itu. Dengan tatapan tak terbaca. Dirinya juga pernah mengalami penyakit tersebut, yang membuat nya nyaris kehilangan istri dan juga anak-anak nya.
Ada perasaan bersalah menyeruak dalam hatinya, namun coba di abaikan. Biarlah seperti ini dulu, semua orang perlu belajar mengendalikan dirinya, belajar dari kesalahannya dan mampu menelaah mana yang baik mana yang tidak. Agar kedepan nya tidak serta merta, menelan bulat-bulat, apa yang mereka lihat dan dengar tanpa mencari tau kebenaran nya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Datanglah padaku jika membutuhkan bantuan, jangan sungkan. Datanglah kerumah, Kira mungkin tidak ada disana. Tapi kami masih keluarga mu, bukan?" Keenan kembali berujar. Pria itu nampak lebih ramah dari sebelumnya. Setelah kejadian lalu, banyak hal berubah dalam kehidupan mereka.
"Baik kak, aku pasti akan datang menemui kakak, bila aku membutuhkan bantuan tentang perusahaan. Aku juga akan main kerumah, aku selalu merindukan suasana rumah besar milik ayah itu." Balas Daniel terkekeh pelan. Lebih tepatnya, kerinduan nya tertumpu pada kenangan masa lalu. Dan itu selalu melekat kuat dalam sanubari sampai kapan pun.
"Ya, kamu benar. Rumah itu sudah tidak seceria dulu, suasana nya sudah berbeda sekarang. Kalla lebih memilih menetap di Singapura, tanpa pernah mau kembali. Dan Kavin, hanya pulang sesekali, untuk menjenguk ayah atau bermain bersama anak-anak ku. Dan, bunda. Lebih memilih pergi, untuk mengobati luka hatinya Dengan upayanya sendiri." Ujar pria dingin itu dengan wajah sendu, keadaan keluarga nya yang tercerai berai, membuat hatinya semakin terluka. Hanya saja dia lebih memilih untuk memendamnya seorang diri.
"Kadang aku merasa, terlahir sebagai anak tunggal, Keyra jarang sekali mampir ke rumah walau jarak kami tidak lah jauh. Dia lebih memilih menemui ayah di luar, dengan begitu hatinya tidak semakin sakit. Keyra masih selalu menyalahkan dirinya hingga saat ini. Anak itu berubah drastis, menjadi lebih pendiam, dan juga sedikit ketus." Keenan mencurahkan segala hal yang mengganjal dihatinya selama ini, tanpa dia sadari. Mungkin karena terlalu banyak beban yang menumpuk dipundaknya, tanpa ada satupun orang yang bisa dia ajak berbagi.
Daniel hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, dia tidak tau harus menanggapi nya seperti apa. Dirinya pun berada dalam rasa bersalah yang tak kalah besar, dari yang Keyra rasakan.
Kedua pria itu terdiam dengan tatapan kosong, mereka sedang berperang dengan perasaan dan pikiran mereka masing-masing.
Sementara di tempat yang jauh nun terpencil, seorang gadis baru saja membuka kedua matanya. Dirinya menjadi yang paling terakhir, terbangun dari tidur panjang tersebut.
∆Mohon dukungan disetiap part-nya, yaa. Seribu kata-lebih cukup menguras energi dan memeras pikiran, menyusun setiap kata menjadi sebuah kalimat, tidaklah segampang khayalan othornya😘😘
__ADS_1
∆Jadi ayo berikan dukungan sebagai support system, biar othornya tetap semangat update terus tiap hari, walau harus mencuri-curi sedikit waktu, nyambi ngemong bayik🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰