Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part CXXX


__ADS_3

Daniel menggerutu tak jelas, pria itu paling tidak suka menunggu. Jika tau dia akan disuruh menunggu selama ini, dia tidak anak seburu-buru ini datangnya.


Seorang pria tengah berlari kecil memasuki sebuah cafe, sambil memainkan kunci mobil nya. Dari jauh dia sudah bisa melihat wajah kusut sahabatnya. Pasti pria itu sedang mode kesal level dewa padanya, begitu lah pikirnya.


"Sorry bro, gue telat ya?" Sungguh sapaan dan pertanyaan yang minta di tampol.


Daniel mendelik tak suka pada sahabat laknat nya itu. "Lo kalo sekiranya, masih mau kening jenong lo itu pulang dalam keadaan baik-baik aja, gak usah bacot keong deh. Ngaret mulu, kebiasaan." Ujar Daniel jengkel.


Jason tergelak lucu sendiri, sementara Daniel semakin kesal di buat nya. Setelah bisa menguasai tawanya, Jason kembali ke mode serius. Karena sepertinya, sabitu nya itu sedang tidak dalam mood yang baik untuk di ajak bercanda.


"Alfan sama Kavin mana? Udah lo kabarin juga kan, kalo kita mau meet up di sini?" Tanya Jason sambil meraih buku menu di depan nya. Lalu memanggil seorang waitress.


"Belom nyampe, otw juga katanya, sama kaya lo tadi." Sindir Daniel masih dalam mode jutek-jutek manyun. Membuat Jason ingin kembali tertawa, namun berusaha dia tahan. Bisa berabe kalo sampai pria di depannya ini mengamuk.


Dua orang pria yang tak kalah tampan, dari kedua pria yang sudah lebih dulu nongky macho, di dalam cafe baru saja tiba. Keduanya sampai hampir bersamaan, di halaman cafe.


"Gue pikir gue sendiri yang lemot, taunya lo juga Fan." Kekeh Kavin pada sahabat rasa keluarga tersebut, yang disambut cengiran oleh Alfan. Lalu keduanya masuk beriringan ke dalam, dari jauh terlihat dua sahabat nya sudah duduk dan berbincang, di meja andalan yang di wariskan oleh para orang tua mereka.


"Hallo say, sorry eyke telat." Sapaan Alfan mendapatkan hadiah lemparan kotak tisu oleh Daniel. Rupanya mood pria itu sedang dalam kondisi buruk maksimum.


"Auwww, untung gue gesit. Kalo gak, bisa abis wajah cool gue kena barang laknat ini." Ujar Alfan sewot, kemudian duduk lalu meletakkan kembali kotak tisu tak berdosa tersebut ketempat nya.


"Lo bedua abis nyalon dimana dulu. Telat itu paling tidak 5-10 menit. Bukannya setengah jam bikin bete orang yang nunggu. Datang-datang juga, muka pada kilap semua kaya minyak goreng curah." Daniel mencecar kedua sabitu nya itu dengan kalimat yang niat banget.


Kavin mendengus kesal mendengar pujian sahabat tak berakhlak nya itu. Mulut nya kaya petasan, Merepet aja kalo udah ngomel.

__ADS_1


"Ck, gue abis ikut meeting. Alfan noh, yang harus nya, tapi main ngilang aja kaya Casper." Decak Kavin kesal.


Dirinya diangkat menjadi direktur utama, setelah kepergian sang paman. Dan sahabat nya itu sekarang menduduki kursi CEO mengganti kan sang ayah. Kakak laki-laki nya, Aldo. Pindah ke California, mengembangkan bisnis properti di sana. Sementara kakak tiri mereka, Aluna, lebih memilih menjadi ibu rumah tangga biasa agar bisa menemani sang ibu di rumah. Sedangkan suaminya juga punya bisnis sendiri walau tidak sebesar milik ayahnya. Bisnis restoran yang sudah ada beberapa cabang diberbagai kota.


"Paling godain sekretaris yang bumper depan belakang nya montok itu, pasti. Alfan kan hobby nya sama yang gede-gede." Ujar Jason menimpali. Lalu kemudian mereka tergelak. Kecuali si muka datar, Daniel.


"Gak lucu, gitu aja di ketawain." Ujar Daniel sewot sendiri.


"Wah, seperti nya pak Daniel salah masuk kelas teman-teman. Hari ini kelasnya seni tawa, anda bukannya kelas seni rupa. Rupa anda sangat tidak enak di lihat pak Daniel." Lalu mereka kembali melanjutkan tawa, saat melihat wajah Daniel semakin ditekuk sempurna.


"Gak lucu." Daniel kembali melempar Alfan dengan gulungan tisu, hingga mendarat tepat dalam mulutnya yang sedang tertawa lebar. Kini gantian Daniel yang berbahagia, pria itu tertawa bersama yang lain. Melihat Alfan memuntahkan tisu yang hampir larut terkena air liur nya.


"Anjiir, sabitu luknutc lo." Ujarnya kesal, sambil meludah keatas tisu bersih, yang dia gunakan untuk membersihkan sisa tisu, yang larut didalam mulutnya.


"Makanya jangan suka ngeledek temen, Muhidin. Iseng banget." Timpal Kavin, yang lebih netral di antara mereka.


"Itu abis, Muhidin? Kalo gak bagiin sini, maruk bener kalo makan."Ujar Jason ngeri, melihat porsi makanan yang dipesan oleh Alfan.


"Habis lah, gue gak sempet sarapan tadi pagi. Lagian energi gue abis kesedot sama si Savira. Tu cewe makin lama makin uuwuuu pokonya, jepitannya bikin gak nahan." Ujarnya lagi seraya senyum-senyum sendiri, mengingat momen kilat dirinya dan sang sekretaris tadi di ruangan nya.


"Kena Aids baru lo tau rasa." Ujar Daniel kesal dengan kebiasaan buruk sahabat nya itu, yang tidak bisa menahan godaan belahan dada dan paha mulus.


"Itulah gunanya pengamanan di buat bro, aman lah itu. Gue sudah hali nya dalam hal dunia perse*la*ng*ka*ng*an. Lo mau jadiin gue mentor, boleh." Balasnya dengan menaik tutunkan alis nya.


"Najis gue, ogah. Biar kata harus jadi perjaka tua, kalo jajan sembarangan. Gue gak ada gambaran, ngeri gue. Ngebayangin tu cewe udah pernah di lendirin sama orang lain, bisa ancur mood bercinta gue........" Lalu Daniel terdiam dengan ucapan yang menggantung, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ingatan nya berselancar pada masa lalu. Dia teringat sang kekasih hati, hati Daniel serasa ditikam ribuan pisau.

__ADS_1


Kavin yang peka anak situasi sahabat nya, segera mengalihkan topik pembicaraan.


"Ck, dasar Muhidin." Gerutu Kavin. " Lo pada ada waktu gak, weekend ini. Gue mau ajak hiking ke daerah selatan, katanya disana surganya pemandangan alam yang masih asri. Ada Villa deket sana bisa kita pake, Punyaan kenalan gue. Pak Burhan, lo inget gak Mudhidin?"


"Pak Burhan klien perusahaan kita itu? Inget banget, beberapa waktu lalu juga kebetulan gue iseng, nanya asal gelang kayu atau apa gitu, yang dipakai beliau. Katanya semacam jimat kepercayaan orang dikampung halaman nya, dan itu pemberian neneknya pak Burhan itu. Trus di tawarin nih gue, kalo mau berlibur, kesana aja, meski jalannya masih belom terlalu bagus. Tapi lumayan, udah disemenisasi walau udah pada bolong-bolong." Jawab Alfan panjang lebar, nampaknya pria itu begitu bersemangat menceritakan saran pak Burhan tersebut. Kepada para sahabatnya.


"Gue sih oke, asal gak lebih seminggu aja. Emang berapa jauh dari sini, dari kota maksud gue." Tanya Jason seperti nya mulai tertarik.


"11 jaman gitu, gue denger soal daerah sama jalannya yang terjal, bikin adrenalin gue tertantang. Coba kalo Kalla disini, jamin gue, dia orang pertama yang langsung bilang, ayo!" Kekehnya menerawang jauh, pada saudara kembarnya nya sangat dia rindukan tersebut. Tiga tahun, namun tak pernah sekalipun pria itu mau pulang ke tanah air. Agaknya, luka hati pria itu atas kehilangan sang adik begitu dalam dan tak terobati.


"Gue ikut aja kalo gitu, masa gue di tinggal sih." Timpal Daniel setengah menggerutu.


"Jangan ikut-ikut aja, lo gue ajak terjun bebas ke jurang, ikut juga lo?" Balas Si Muhidin gemes pada sabitu nya itu.


"Ya, gue ikut. Kapan? Sabtu sore, jadi nyampe subuh, lanjut tidur. Bawa sopir, tar gantian sama Jason nyopir nya." Ujar pria itu seenak bakso pedes nampol.


"Kok gue, jangan apa-yang berhubungan sama mobil, lalu gue mulu yang kena. Yang lain juga pada bisa nyetir, bukan gue doang." Protes Jason tak terima. Pasalnya para sahabat laknat nya itu, jika sesuatu yang berhubungan dengan kuda besi tersebut. Selalu saja dirinya yang disodorkan kan. Mentang-mentang dia CEO di perusahaan mendiang sang ayah, yang bergerak di bidang otomotif.


Kavin berdecak kesal, selalu saja hal mudah di ribetin. Dia berasa sedang ikut emak-emak arisan minyak goreng, yang kiri kanan mulutnya pada licin semua.


"Udah, gue aja tar yang gantian nyetir. Aman kan, jadi yang lain pada tau diri ya, perbekalan sekalian buat gue juga. Ongkos sopir itu mahal, apalagi sejauh itu, gak ada yang gratis di dunia dewasa ini, teman-teman." Ujar Kavin memberi solusi, sekalian membuatnya mendapatkan tatapan horor dari para sabitu nya.


"Kenapa? Di sana itu gak ada toko sembako lengkap. Ada nya dikota kabupaten, itupun jaraknya kurang lebih 4jaman dari desa itu. Jadi dimohon mobil yang bagasi nya gede, itu yang dipake." Ujar nya lagi lalu melirik, Jason.


Jason semakin kesal dibuatnya, padahal teman-temannya pun punya mobil yang serupa, kenapa harus dia lagi dia lagi.

__ADS_1


"Yaa, tenang aja kawan-kawan, Jason ini orang kaya. Soal mobil mah, kecil. Tinggal tunjuk aja mau pake yang mana. Besok, jari kalian tinggal empat gue bikin." Ujar semakin sewot semaksimal mungkin. Namun bukannya kesal, Ketiga sahabat terlaknat itu malah tertawa keras. Jason pun hanya bisa menggerutu tak jelas.


__ADS_2